Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
5.Pisah Kamar


__ADS_3

Aku mengunci kamarku yang baru. Mulai malam ini, aku putuskan akan pindah ke kamar ini. Saat ini suamiku sedang tidur karena kelelahan. Aku bergegas mandi, aku akan pergi keluar untuk membeli pil kontrasepsi, bagaimana pun, aku gak sudi hamil anak penjahat tersebut.


Bila ada kesempatan nanti. Aku pasti akan kabur darinya. Sakit hatiku karena dia hanya berpikir bahwa aku adalah pemuas nafsu dan pabrik anak untuk dirinya. "Aku gak sudi, membuat kamu bahagia dengan kehadiran seorang anak!" umpatku kesal. Setelah mandi. Aku langsung menggunakan pakaian yang ada di kamar baruku, aku gak perduli pakaian siapa ini. Yang penting aku menggunakan saja. Aku malas untuk masuk ke kamar kami. Dimana penjahat itu sedang pulas tertidur karena kelelahan setelah menghukumku dengan brutal. Dasar memang penjahat kelamin!


Aku meminta tolong kepada supir suamiku untuk mengantarkan ku ke apotek, aku harus segera membeli pil kontrasepsi, aku gak boleh terlambat. Aku gak mau kalau aku sampai hamil anaknya. Tidak akan pernah sudi. Walaupun dia Om Om yang tampan, tapi kelakuan dia tidak tampan sama sekali. Aku benci dengan dia!


"Berani-beraninya dia, mau menjadikan aku sebagai pabrik anak buat dia! Itu hanya ada dalam mimpimu, bung!" monologku saat berjalan ke depan rumah kami,aku mencari supirnya suamiku.


Saat aku sibuk mencari supir, di dapur aku melihat dua orang ART, "BI, di mana supir kita?" tanyaku. Mereka mendekatiku dan menunduk padaku.


"Di carport Nyonya, tadi kelihatan nya sedang mencuci mobil." jawab seorang dari mereka. Aku tidak tahu siapa namanya.


"Baiklah, terima kasih. Oh ya, ngomong-ngomong, namaku Delia, bukan Nyonya! jangan lupa itu!" ucapku sebelum ke luar rumah.


Di carport aku lihat seorang pria tanggung, dari umurnya, mungkin sekitar 28 tahun. Wajahnya lumayan, ga jelek-jelek amat. Kalau mau di bandingkan, suamiku itu memang paling ganteng di rumah ini.


"Aduh, otakku udah geser kayanya, malah muji penjahat itu sebagai orang paling ganteng! " Rutukku kesal.


"Pak, tolong antar saya sebentar ke apotek, ya?" ucapku tanpa basa basi.


"Baik, Nyonya! Sebentar, saya ambil kuncinya dulu. Tadi saya taruh di dalam!" supir itu lalu masuk, aku belum mengenal orang-orang yang ada di rumah ini. Suamiku belum memperkenalkan mereka. Nanti saja lah, aku berkenalan dengan merekanya, aku lagi buru-buru untuk membeli pil kontrasepsi. Takut terlambat! Jangan sampai aku hamil anak orang sialan itu! Gak sudi!


Tak lama, supir suamiku sudah keluar dengan membawa kunci mobilnya. Aku langsung duduk di kursi depan, tapi di larang oleh supir itu.


"Maafkan kelancangan saya, Nyonya. Tolong Nyonya duduk di belakang saja. Nanti kalau Tuan tahu, dia marah pada saya. Tuan itu orangnya sangat posesif, paling tidak suka, kalau karyawan pria dia dekat dengan istrinya. Tolong saya ya, Nyonya! Saya masih butuh pekerjaan soalnya." ucapnya, aku terkejut sebenarnya, aku langsung pindah ke belakang, aku juga kasihan sama Mas Mas itu, pasti dia punya keluarga di kampung yang harus di nafkahi.

__ADS_1


"Baiklah, ayo gegas berangkat! Sebelum majikan kamu itu bangun!" ucapku.


"Baik, Nyonya!" ucapnya.


Supir yang ternyata bernama Burhan itu langsung tancap gas. Kami pergi ke apotek yang dekat saja, takut kalau suamiku keburu bangun. Dia tidak boleh tahu, kalau aku membeli pil kontrasepsi.


Setelah mendapatkan apa yang aku mau, aku meminta air mineral kepada penjaga apoteker, meminta mereka mengajariku cara menggunakan pil kontrasepsi tersebut. Aku gak paham soalnya.


"Ikutin saja petunjuk yang ada di sana, Kak!" ucapnya. Aku membeli banyak sekalian, buat persiapan. Aku gak tahu kapan lagi bisa keluar dengan bebas seperti sekarang.


Setelah meminum pil tersebut, aku berpamitan, "Terima kasih, Kak!" aku langsung keluar. Malu dilihatin mereka. Entah apa yang mereka pikirkan. Melihat remaja seperti diriku membeli pil kontrasepsi sebanyak ini.


Aku menyembunyikan pil tersebut di dalam tas yang aku bawa. Aku gak mau kalau sampai orang rumah melihat aku membeli pil ini.


"Maaf, Nyonya! Panggil Pak Burhan, nanti Tuan menggorok leher saya, kalau Nyonya memanggil saya Mas!" ya Tuhan! Sekejam apa suamiku, sampai Pak Burhan segitu takutnya kepadanya.


"Baiklah, apapun itu! Cepat kita pulang! Kalau Tuanmu bangun, dan tidak mendapati ku di rumah, dia bisa mengamuk juga padaku." ucapku.


Kami langsung masuk ke mobil ketika urusanku selesai. "Pak Burhan, kalau di tanya Tuan, bilang tadi saya pergi ke taman gitu, habis cari udara segar! Ingat itu, ya?" ucapku dengan serius. Aku takut kalau suamiku tahu aku pergi ke apotek untuk membeli pil kontrasepsi.


"Memang tadi Nyonya beli apa di apotek?" tanyanya pelan sambil fokus menyetir.


"Aku membeli vitamin, tubuhku kurang fit. Ini sudah musim hujan. Aku butuh vitamin supaya tidak mudah sakit!" dustaku. Aku harus merahasiakan pada siapapun tentang pil kontrasepsi ini. Jangan sampai ada yang tahu.


"Oooooooo !" ujarnya. Aku lega, karena tampaknya dia percaya kepadaku. "Syukurlah!" monologku.

__ADS_1


Setelah sampai ke rumah, aku langsung masuk ke dalam kamar yang tadi siang aku pilih akan menjadi kamarku. Kamar tamu. Rumah masih sepi. Kelihatannya suamiku yang Om Om Tampan itu masih belum bangun.


Aku cepat-cepat menyembunyikan pil kontrasepsi yang tadi aku beli di tempat aman. Jangan sampai orang rumah tahu tentang pil itu. Bisa tamat riwayatku nantinya.


Aku sangat lelah, setelah menyembunyikan pil tadi di laci lemari pakaian, aku memutuskan untuk tidur saja. Gara-gara suamiku yang seenaknya saja, aku harus pergi keluar tadi. Walaupun tubuhku aslinya sangat lelah, setelah dia gempur dengan brutal. Dasar penjahat kelamin!


"Enaknya tidur di sini, nyaman!" tanpa waktu lama, aku sudah terlelap. Aku gak perduli lagi dengan pria itu. Yang penting aku hari ini sudah mendapatkan apa yang aku mau.


Aku lupa mengunci kamarku, sehingga suamiku bisa masuk ke kamar ini. Dia membangunkan aku dalam nyenyakku.


"Bangun!" ucapnya, tapi aku tak perduli.


"Bangun baik-baik! Atau aku gendong seperti tadi siang, dan kamu aku kasih hukuman lagi!" ucapnya dengan keras.


Demi mendengar apa yang dia katakan, aku terlonjak bangun. "Aku ngantuk! Jangan ganggu aku! Pergi kau!" Hardikku tanpa membuka mataku.


"Bermain denganku, huh?" ucapnya sambil menarik selimut yang aku pakai.


"Tidurlah di kamarmu! Aku mau tidur di sini! Mulai malam ini, kita pisah kamar! Aku gak sudi satu ranjang dengan penjahat kelamin macam kamu! Keluar dari kamarku sekarang!" ucapku sambil melotot kepadanya.


"Kau kira, kau itu siapa huh? Tuan di rumah ini adalah aku! Kaisar! Cuma aku yang boleh merintaj di rumah ini! Cepat bangun dan ikut aku ke kamar kita!" ucapnya tidak kalah garang denganku.


"Aku tidak mau!" tantangku. Masih keukeuh dengan pendirianku. Selama aku benar, tidak ada seorangpun yang bisa membuat aku takut.


Dia langsung menarik tubuhku, lalu menggendong ku ala Bridal style. Aku meronta-ronta tapi dia gak perduli sama sekali. Dia melampiaskan hasratnya sampai shubuh padaku, benar-benar penjahat kelamin!

__ADS_1


__ADS_2