
Zahra dan Satria yang keluar dari kamar mendapatkan kenyataan bahwa kediaman itu begitu sunyi dan sepi.
Satria kemudian pergi ke dapur menemui Kepala pelayan yang sedang sibuk mengatur para pekerja.
" Di mana tuan rumah ini?" tanya Satria kepada kepala pelayan tersebut.
" Tuan Satria dan nyonya Delia ada di lantai 3. Kalau kalian ingin menemui mereka silakan saja. Tadi Tuan Kaisar sudah memerintahkan kepada saya untuk mengantar kalian kalau ingin bertemu dengan mereka!" ucap kepala pelayan dengan penuh hormat kepada Satria.
" Bagaimana Sayang? Apakah kita akan menemui mereka ataukah kita lebih baik istirahat saja dulu?" tanya Satria kepada Zahra yang saat ini sedang menata foto keluarga yang terpajang di dinding ruang tamu.
" Biarkan saja mungkin Delia masih merindukan cucu kita setelah lama tinggal dengan kita." ucap Zahra sambil menatap suaminya.
" Kondisi kehamilan Nyonya Delia memang masih riskan. Tubuhnya juga sangat lemah. Sehingga sehari-hari Nyonya Delia hanya tinggal di dalam kamar. Jadi kalau kalian ingin bertemu dengan Nyonya Delia, kalian bisa menemuinya di dalam kamar!" ucap kepala pelayan menerangkan tentang kondisi Delia saat ini.
" Apakah Kaisar selalu menemani Nyonya kalian?" tanya Zahra penasaran.
" Bener Nyonya Tuan Kaisar bahkan membawa semua pekerjaannya ke dalam rumah dan memanage perusahaan dari sini!" kecap kepala pelayan menerangkan kepada Zahra yang tampak tersenyum puas dengan keterangannya.
" Apakah Delia dan Kaisar sudah makan siang?" tanya Satria.
" Tuan Kaisar sudah meminta kepada kami untuk membawakan makan siang mereka!" ucapnya lagi.
" Silakan Tuan dan Nyonya untuk makan siang. Karena kami sudah menyediakannya untuk kalian berdua!" ucap kepala pelayan mempersilahkan kepada Satria dan Zahra untuk makan berdua di ruang makan.
Pada saat Satria dan Zahra sedang sibuk makan siang. Tampak Kaisar dan Deka turun dari lantai atas.
__ADS_1
Melihat kakek dan neneknya. Deka pun langsung melorot dari pelukan Kaisar dan berlari ke arah mereka.
" Jangan berlari Deka! Nanti kalau kau jatuh kau yang akan merasakan sakitnya!" tegur Kaisar ketika melihat putranya tampak begitu bahagia melihat kakek dan neneknya.
" Hati-hati Sayang. Kau jangan berlari terlalu kencang! Kakek dan Nenek tidak akan kemana-mana kok!" ucap Satria langsung meninggalkan makanannya dan menyambut pelukan Deka yang dia rindukan.
" Maafkan ya Pah dan Mah. Karena saya tidak fokus untuk menyambut kedatangan kalian berdua di rumah ini. Keadaan Delia saat ini sangat mengkhawatirkan. Jadi saya tidak tega untuk meninggalkan Delia sendiri di kamar!" ucap Kaisar merasa tidak enak kepada kedua mertuanya yang Sejak kedatangan mereka belum disambut dengan baik olehnya.
" Tidak apa-apa. Kau santailah dengN kami. Kami bisa mengerti kondisi kalian. Kami berdua juga masih lelah dan belum bisa untuk mengunjungi Delia di lantai atas!" ucap Satria sambil mencium pipi Deka yang saat ini sudah ada di dalam pelukannya.
Kaisar melirik makanan Satria yang langsung ditinggalkan begitu saja ketika kedatangan Deka. "Papa lanjutkanlah dulu makannya. Biar Deka bermain dengan saya dulu. Kebetulan sebentar lagi saya akan berangkat ke kantor. Karena tadi asistenku menelepon bahwa ada klien dari Amerika yang ingin bertemu denganku secara langsung!" ucap Kaisar sambil meminta Deka dari tangan Satria. Agar mertuanya bisa melanjutkan makan siangnya yang bisa dikatakan terlambat.
" Ayo jagoan Daddy! Kau bersama Daddy dulu. Kasihan kakek kalau tidak makan nanti kakek sakit!" ucap Kaisar berusaha membujuk putranya untuk bersama dengan dirinya.
"No Daddy! Deka ingin bersama dengan kakek!" tolak Deka sambil mengeratkan pelukannya kepada Satria.
" Ayo Sayang sekarang kau bermain dengan nenek biarkan kakek untuk makan dulu!" ucap Zahra sambil mengambil Deka dari pelukan suaminya dan menyuruh Satria untuk melanjutkan makan siangnya.
Kaisar melihat Deka begitu menurut kepada kedua mertuanya. Dia pun merasa senang sekali sehingga dia bisa bekerja di kantor dengan tenang. Karena ada orang yang bisa dipercaya untuk menjaga istri dan anaknya.
" Baiklah Pah, Mah! Kaisar pergi dulu ke kantor. Khawatir kalau klien menungguku terlalu lama!" ucap Kaisar berpamitan kepada Zahra dan Satria yang hanya menganggukkan kepalanya.
" Daddy hati-hati di jalan jangan lupa bawakan sisa untuk Deka!" ucap Deka melorot dari pangkuan Zahra dan menarik tangan ayahnya untuk berjongkok. Deka lalu mencium pipi ayahnya dengan lembut yang membuat Kaisar sangat bahagia dengan perlakuan Deka yang penuh dengan cinta kasih terhadapnya.
" Terima kasih jagoan Daddy yang sudah mencium Daddt. Daddy jadi bahagia sekali!" ucap Kaisar sambil menghujani Deka dengab ciuman di pipi gembulnya yang begitu sangat menggemaskan. Mendapatkan ciuman bertubi dari ayahnya, Deka tertawa terbahak karena merasakan geli dengan ciuman Kaisar.
__ADS_1
Setelah merasa puas memberikan rasa cintanya kepada Deka. Kaisar kemudian berpamit kepada kedua mertuanya untuk segera pergi ke kantor dan menemui klien yang sudah menunggunya di sana.
" Alhamdulillah. Kaisar tampak begitu mencintai istri dan anaknya kita bisa tenang melepaskan mereka tinggal di Indonesia!" ucap Zahra sambil melirik kepada suaminya yang masih sibuk dengan makan siangnya yang tadi tertunda gara-gara kehadiran Deka.
" Apakah jagoan nenek sudah makan siang?" tanya Zahra kepada DK yang saat ini sedang memeluknya dengan erat.
" Tentu saja! Papa sudah menyuapiku makan di kamar bersama dengan Mama!" WeChat DK dengan mata bintangnya yang bersinar begitu terang di hati Zahra.
" Sudah selesai belum makanmu Pah ayo kita temui Delia Mama sudah rindu dengan anak kita dan juga calon cucu kita!" ucap Zahra sambil melihat ke arah suaminya yang sudah selesai dengan makan siangnya.
" Mama sedang tidur Nek! Tadi setelah minum obat dia mengantuk!" ucap Deka memberitahukan kepada neneknya.
" Bagaimana kalau kita bertiga jalan-jalan dulu untuk melihat-lihat kediaman ini? Setelah itu kita bisa tidur siang juga. Karena sebetulnya kakek juga sangat mengantuk dan ingin tidur setelah perjalanan panjang kita dari Amerika!" ucap Satria mengusulkan kegiatan kepada mereka setelah selesai makan siang.
" Ayo! Deka akan membimbing kalian untuk melihat seisi mansion ini!" ucap bocah kecil itu dengan penuh kebahagiaan. Kemudian dia menarik tangan kakek dan neneknya untuk melihat mansion milik kedua orang tuanya yang begitu mewah dan juga elegan.
Satria dan Zahra tampak mengagumi interior maupun eksterior dari penampilan Mansion milik Satria.
" Tampaknya Kaisar memiliki selera yang sangat bagus. Lihatlah mansion ini begitu mewah dan juga menenangkan!" ucap Zahra sambil melirik kepada suaminya yang saat ini sedang menatap sebuah pohon bambu yang begitu familiar di hatinya.
" Ada apa-apa Pah?" tanya Zahra merasa heran melihat suaminya yang terus menatap pohon bambu itu.
" Dulu waktu Ibuku masih hidup. Dia pun sangat suka menanam pohon bambu!" ucap Satria sambil melirik kepada istrinya yang masih bingung melihat ekspresi sedih sang suami.
" Melihat bambu itu membuat saya jadi ingat dengan almarhum ibuku yang juga menyukai pohon bambu!" ucap Satria menjawab keheranan dari istrinya karena melihat dirinya yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
" Kalau Papa rindu, bukankah kita bisa mendatangi makam ibumu?" tanya Zahra sambil memegang tangan suaminya yang terasa begitu dingin.
" Yah besok kita akan mendatangi makam ayah dan ibuku!" ucap Satria sambil mengulas senyum kepada Zahra.