
Keesokkan paginya, Delia, Kaisar dan juga kedua orang tuanya bersiap-siap untuk pergi menuju Rumah Sakit milik Bramantyo Group yang ada di Amerika.
"Semoga hasilnya tidak membuat kita kecewa!" Doa Zahra. Sehingga membuat semua orang jadi melirik ke arahnya.
"Apakah Mamah meragukan kalau Delia adalah darah daging kita?" tanya Satria sambil meremas tangan istrinya yang tampak gugup.
"Bukan seperti itu Pah! Hanya saja kan, terkadang ada saja kesalahan atau semacamnya. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja?" ucap Zahra pelan.
"Tenang saja Mah! Kalau kita memang benar-benar keluarga hasilnya pasti tidak akan membohongi kita!" ucap Delia sambil tersenyum kepada ibunya.
"Ya sayang! Mama juga percaya. Tenanglah, sayang! Mama aja gugup saja!" ucap Zahra menenangkan dirinya sendiri.
Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit dan di sana sudah dipersiapkan semuanya oleh Satria dan juga sekretarisnya.
"Mari berdoa untuk hasil yang terbaik!" ucap Kaisar sambil tersenyum kepada Delia yang saat ini tampak gugup juga seperti Zahra.
Setelah diambil sampel Zahra, Satria dan juga Delia. Akhirnya mereka Langsung kembali ke kediaman. Delia dan Kaisar bersiap untuk kembali ke Indonesia.
"Maafkan saya, tapi kami harus segera kembali Indonesia. Karena banyak sekali urusan yang saya pending di sana?" ucap Kaisar berpamitan kepada kedua mertuanya.
"Apakah boleh kalau kami meminta Deka untuk tinggal di sini bersama kami? Nanti setelah hasil tes keluar, kami akan antarkan ke Indonesia!" tanya Zahra mencoba untuk berdiskusi dengan Kaisar agar dia bisa bercengkrama lebih lama bersama dengan cucunya yang sangat dia sayangi.
"Kalau saya terserah Delia, Mah! Kalau dia mengizinkan, maka saya pun tidak masalah!" ucap Kaisar sambil tersenyum kepada Delia.
Delia memutar bola matanya dengan malas. Karena dia tahu akal bulus sang suami.
__ADS_1
"Bukankah kau yang paling bahagia kalau Deka ada di sini? Ayolah sayang, kau tidak usah bersandiwara!" ucap Delia sambil memukul bahu Kaisar. Sehingga membuat Kaisar tertawa karena memang hanya Delia yang selama ini selalu mengerti tentang dirinya luar dan dalam.
"Baiklah itu artinya kalau kalian mengizinkan kalau Deka untuk sementara tinggal bersama kami kan? Tenang saja, Papa dan Mama pasti akan menjaganya dengan baik!" ucap Satria sangat bahagia sekali ketika cucunya diperbolehkan untuk tinggal bersamanya untuk sementara waktu.
"Iya Pah tidak apa-apa. Saya yakin mereka pun pasti merindukan kakek neneknya yang selama ini tidak pernah dia miliki?" ucap Delia dengan mata berkaca-kaca sehingga membuat Kaisar ikut merasakan kesedihan sang istri yang akan kembali berpisah dengan kedua orang tuanya setelah dipertemukan kembali, karena mereka hampir 20 tahun lamanya berpisah.
"Baiklah, kami harus segera berangkat sekarang. Karena banyak sekali urusan yang menunggu saya di Indonesia!" ucap Kaisar sambil berpamitan kepada kedua mertuanya.
"Tenanglah Delia. Kami berdua juga akan kembali ke Indonesia, akan tetapi kami harus mengurus semua hal-hal tentang pengalihan perusahaan dan juga menyerahkan perusahaan ke manajemen profesional agar kami bisa tenang tinggal di Indonesia!" ucap ibunya Delia sambil tersenyum kepada putrinya yang masih terisak karena sedih akan berpisah lagi dengan mereka.
"Apakah itu benar Mah? Itu berarti kita tidak akan berpisah lagi kan? Delia masih sangat merindukan kalian!" ucap Delia sambil memeluk ibunya dengan penuh haru. Delia merasa sangat bahagia karena ternyata kedua orang tuanya akan kembali ke Indonesia demi dirinya.
"Ya sayang! Karena kami juga sudah rindu dengan Indonesia. Sudah terlalu lama kami menetap di sini. Nenek dan kakekmu juga pasti sudah merindukan kami dan pasti akan senang kalau bertemu dengan Deka!" ucap Zahra sambil mengelus pipi Delia.
"Ayo sayang! Jangan terlalu lama, kasihan pilotnya sudah menunggu kita dari tadi!" ucap Kaisar sambil mencolek pinggang Delia. Dia mengingatkan istrinya untuk segera bergegas berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Baiklah, Pah Mah! Kami pulang dulu. Kami titip Deka bersama kalian dan kami tunggu kalian di Indonesia!" ucap Delia sambil berpamitan kepada kedua orang tuanya.
"Oh ya Pah! Tolong untuk bebaskan Stella, kasihan Papa Adrian. Pasti sekarang dia sedang khawatir tentang Stella. Delia mohon Pah?" ucap Delia sambil menatap tajam kepada Satria ayahnya.
"Sayang! Apa yang kau lakukan? Bukankah tadi malam kita sudah sepakat dan berdiskusi bahwa kita akan membiarkan Stella untuk mendapatkan hukumannya? Kenapa kok tiba-tiba seperti ini?" tanya Kaisar karena dia tidak senang dengan apa yang dilakukan oleh Delia saat ini yaitu mengampuni Stella.
"Tolong ya Pah! Labulkan permintaan Delia untuk membebaskan Stella. Kami pergi dulu Pah?" ucap Delia. Kemudian dia langsung menarik tangan kaisar yang tampaknya sedang marah kepadanya karena dia membangkang tentang memaafkan Stella.
Bahkan sampai mereka sampai di jet pribadi, Kaisar tetap diam dan Acuh terhadap Delia.
__ADS_1
Delia tampak melirik sekilas kepada Kaisar tetapi Kaisar lebih memilih untuk memejamkan matanya. Karena saat ini dia sedang malas untuk ribut dengan sang istri.
"Maafkan aku sayang! Aku hanya memikirkan bagaimana perasaan Papa Adrian saat ini, dia pasti saat ini sedang sedih memikirkan Stella. Kalau kau marah padaku. Tolong kau untuk memaafkan aku!" ucap Delia berusaha untuk membuat Kaisar mau melihat kepadanya.
"Kau memikirkan papa angkatmu, tapi kau tidak memikirkan perasaan suamimu. Kau sungguh egois!" ucap Kaisar dengan nada ketus, karena dia saat ini sedang jengkel dan kesal dengan istrinya yang terlalu baik hati dan selalu memaafkan kesalahan orang dengan mudah.
"Maafkan Aku sayang! Aku pun memikirkan perasaanmu sayang. Hanya saja__ mungkin__ Entahlah yang jelas. Tolong maafkan aku!" ucap Delia pelan, sambil mencoba untuk menggenggam tangan suaminya.
Sepintas lalu, Kaisar tampak tersenyum ketika melihat usaha Delia untuk meminta maaf kepadanya.
"Baiklah! Memang salahku memiliki seorang istri yang berhati baik sepertimu. seorang wanita mulia yang selalu bisa memaafkan kesalahan orang lain walaupun sebesar itu!" ucap Kaisar kemudian dia membuka kedua tangannya meminta sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya.
Delia tersenyum ketika mendengarkan ucapan suaminya. Dia sangat bahagia karena ternyata Kaisar bisa mengerti apa yang dia pikirkan saat ini.
"Tapi, setelah kita sampai di rumah kau harus memberikan hadiah yang besar untukku!" ucap Kaisar sambil melirik genit kepada sang istri yang tampak memutar bola matanya dengan malas.
"Ah selalu ada udang dibalik pintu, Hahaha!" ucap Dahlia sambil tertawa bahagia karena ternyata sang suami tidak marah terhadapnya saat ini. Delia meletakkan kepalanya dalam pelukan sang suami yang selama ini selalu berhasil menenangkan dirinya.
"Saya berharap keluarga kita baik-baik saja dan terbebas dari orang-orang jahat yang ingin memisahkan kita berdua!" doa Kaisar pada hari itu.
"Saya pun berharap semoga kita bisa selalu melewati semua kesulitan yang ada di hadapan kita!" ucap Delia.
"Saya percaya kalau kekuatan cinta kita akan selalu menyatukan kita dan mempertemukan kita kembali!" ucap Kaisar sambil mengecup bibir Delia dengan lembut.
"Sudah sayang, tolonglah! Kau pasti nanti kebablasan! Malu sayang, dari kemarin kita selalu jadi bahan perbincangan para pramugari kita!" ucap Delia sambil berusaha menjauh dari jangkauan Kaisar.
__ADS_1