Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
85. Masih Berhati nurani


__ADS_3

Dengan perasaan malas ibunya Stella akhirnya mau membawa ayahnya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Stella terus menangis ketika dia melihat darah yang terus mengucur di dahi ayahnya.


Ibunya Stella memutar bola matanya dengan malas. Ketika dia melihat Stella terus saja menangis. Menangisi keadaan suaminya yang tampak pucat wajahnya.


"Sudahlah Stella ayahmu tidak akan mati itu hanya luka kecil saja kau tidak usah begitu berlebihan!" ucap ibunya Stella sambil melihat ke luar melalui jendela mobil.


"Mama betul-betul tidak punya hati nurani. Bagaimana mungkin mama bisa Bersikap tenang seperti itu melihat Papa seperti ini mah?" tanya Stella sambil menatap tajam kepada ibunya yang duduk di samping sopir.


"Masih pagi kau sudah membuat drama seperti ini Stella? Kau ini bukan sedang memainkan drama sebagai anak sholehah kan?" tatap ibunya kepada putrinya.


"Ya ampun Mah! Walaupun Stella jahat terhadap orang lain, tetapi tetap saja Papah itu adalah orang tuaku. Dia nanti yang akan menikahkanku. Kalau dia meninggal, Lalu siapa yang akan menikahku nanti?" ucap Stella dengan marah kepada ibunya.


Walaupun dirinya memang terkesan cuek selama ini kepada ayahnya. Tetapi Stella menyayangi ayahnya. Karena ayahnya selama ini selalu sayang padanya.


Walaupun rasa sayang Ayahnya lebih besar terhadap Delia. Tetapi tetap saja ayahnya menyayanginya. Tidak seperti ibunya yang selalu saja manfaatkan dirinya untuk selalu mendekati pria-pria kaya yang menjadi sasaran ibunya untuk menjadi pacar Stella.


Begitu sampai di rumah sakit, Stella langsung memasukkan ayahnya ke UGD agar segera bisa ditangani oleh dokter.


Selama satu jam mereka menunggu ayahnya ditangani hingga akhirnya dokter keluar dengan wajah sumringah.


"Alhamdulillah Ayahanda baik-baik saja. Dia hanya kekurangan darah. Dan kami memiliki cukup banyak darah di bank darah rumah sakit ini, yang dibutuhkan oleh Beliau!" ucap Dokter tersebut kemudian dia meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa Ayahmu itu harus selamat? Lebih bagus kalau dia mati!" ucap ibunya Stella kemudian dia meninggalkan Stella di rumah sakit seorang diri.


"Dasar Mamah memang perempuan jahat. Dia menginginkan kematian Ayahku. Aku tidak akan membiarkan dia melakukan itu!" ucap Stella mengeram. Ketika melihat kepergian ibunya begitu saja tanpa berkata apapun kepadanya.


Walaupun Stella terlihat nakal di luar. Tetapi dia memiliki hati yang baik. Setidaknya dia masih memiliki hati nurani untuk memikirkan tentang kesehatan ayahnya saat ini.

__ADS_1


Hanya karena pengaruh ibunya yang selalu mencekoki dia dengan hal-hal buruk sehingga membuat Stella ikut terkontaminasi dengan keburukan itu.


"Aku harus segera mengurus administrasi papa! Aku juga harus menghubungi Delia agar dia tahu kalau Papa saat ini sedang di rumah sakit!" kemudian Stella pergi ke ruang administrasi untuk mengurus tentang ayahnya yang akan dirawat di rumah sakit.


Setelah semua urusan administrasi selesai, Stella kemudian segera menghubungi Delia. Stella memberitahukan tentang keadaan ayahnya saat ini yang sedang dirawat di rumah sakit.


"Halo! Delia kau sekarang ada di mana? Aku hanya ingin memberitahumu kalau saat ini Papa sedang dirawat di rumah sakit dan dia menginginkan kau ada di sini!" dusta Stella hanya untuk membuat Delia dan Kaisar datang ke rumah sakit.


"Papah sakit apa? Bukankah kemarin dia baik-baik saja?" tanya Delia seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Stella.


Bagaimanapun Stella selama ini selalu berbuat jahat kepadanya. Tidak mungkin Delia percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Stella.


"Papa terjatuh dan kepalanya terkena ujung meja. Jadi mengeluarkan banyak darah di keningnya. Tapi syukurlah dokter sudah menanganinya dan sekarang dia sudah mulai membaik!" ucap Stella memberikan kabar informasi tentang ayahnya.


"Baiklah, sebentar lagi aku akan ke sana. Karena aku akan menunggu suamiku dulu pulang dari kantor!" ucap Delia akhirnya menyetujui untuk datang ke rumah sakit.


Entah apa yang dirasakan oleh Stella saat ini. Sebenarnya dia selalu merasa iri dengki terhadap Delia. Kakak angkatnya yang telah diadopsi oleh ayahnya sejak kecil.


Sejak kecil Delia selalu menunjukkan bahwa dia selalu superior di atas dirinya. Padahal Delia hanyalah anak orang yang tidak punya yang dipungut oleh ayahnya karena merasa kasihan tetapi sejak kecil Delia selalu memiliki Aura kekuasaan yang tinggi.


Bahkan ayahnya Stella sangat menyayangi Delia melebihi pada Stella. Itulah yang selalu membuat Stella selalu merasa cemburu kepada Delia sejak dulu.


Ibunya selalu mengompor-ngompori untuk dia membenci Delia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Delia yang saat ini baru saja pindahan ke Mansion milik Kaisar. Dia sedang menunggu suaminya untuk pulang kerja.

__ADS_1


Tampak sekarang Delia sedang menghubungi suaminya yang masih sibuk bekerja di kantornya. "Apakah kau masih lama pulangnya?" tanya Delia ketika panggilannya diangkat oleh kaisar.


"Kenapa sayang? Apa ada masalah? Kalau kau ingin aku pulang sekarang, aku bisa pulang sekarang!" ucap Kaisar dengan nada khawatir terhadap istrinya.


"Aku tidak ada masalah. Tetapi tadi Stella menghubungiku dan mengatakan kalau Papaku saat ini sedang di rumah sakit!" ucap Delia memberitahukan apa yang tadi disampaikan oleh Stella kepadanya.


"Stella itu perempuan yang sangat licik. Kita jangan sampai terjatuh lagi ke dalam jebakan wanita licik itu!" ucap Kaisar memperingatkan kepada Delia.


"Kau benar. Terakhir kali Stella sudah berhasil membuat kita berpisah selama hampir berbulan-bulan lamanya. Aku juga takut sebetulnya untuk berurusan lagi dengan perempuan itu. Tapi ini tentang kesehatan Papaku. Aku tidak bisa Abai begitu saja! Bagaimanapun dia yang sudah merawatku sejak kecil. awalaupun mungkin dia tidak pernah menganggapku sebagai putrinya. Tapi tetap dia adalah Papaku satu-satunya di dunia ini!" ucap Delia dengan pelan.


Kaisar mengerti bahwa istrinya memiliki hati yang baik dan tidak pernah mendendam kepada siapapun.


"Baiklah kau tunggu sebentar ya? Aku akan menyelesaikan sedikit pekerjaanku dan aku akan segera menjemputmu untuk kita pergi ke sana bersama!" kemudian Delia langsung menutup panggilan teleponnya.


Setelah itu Delia mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke rumah sakit sambil menunggu Kaisar.


Deka masih terlelap di atas ranjangnya dan Delia tidak tega untuk mengganggu putranya yang masih terlelap.


Delia mencium pipi Deka yang gembul dan menggemaskan. Dia sangat mencintai putranya yang selalu menemaninya dalam setiap situasi dan kondisi.


Dekalah yang selama ini menguatkan dirinya untuk terus bertahan dalam keadaan tersulit sekalipun. Ketika dirinya berjauhan dengan sang suami selama bertahun-tahun. Hanya karena kesalahpahaman yang membuat hatinya sakit dan memilih untuk pergi dari hidup Kaisar.


"Aku sangat yakin kalau Stella saat ini tidak berbohong. Tidak mungkin dia bermain-main dan kesehatan Papa!" ucap Delia bermonolog kepada dirinya sendiri.


Bagaimanapun selama ini Stella memang selalu mencari masalah dengannya. Jadi sangat wajar kalau Delia tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Stella.


Hubungan mereka selama ini memang selalu buruk. Sejak Delia bisa mengingat sesuatu. Dirinya selalu dikerjai oleh Stella dan Ibunya. Dan ayahnya lah yang selalu menolong dia dan berusaha untuk menyelamatkan dari kejahatan mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2