Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
113. Kau adalah kekasihku!


__ADS_3

Kyoto merasa terkejut ketika mendapatkan kenyataan itu. Dia hendak melepaskan bibirnya, tetapi Takeshi tidak berniat untuk melakukannya sehingga mereka akhirnya kembali bersitegang, walaupun tidak seheboh seperti waktu di ruangan parkir.


"Sudah pergi sana ke ruanganmu dan jangan mengganggu kami ingin makan siang!" ucap Kaisar menyadarkan mereka berdua agar segera meninggalkan ruangan VVIP yang sekarang ditempati oleh Kaisar dan Delia.


Kyoto menatap tajam kepada Kaisar lalu kepada Takeshi. Kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan mereka bertiga.


"Eh tunggu! Kenapa kau malah pergi ke dapur? Ayo kita pergi ke ruangan kita dan menyantap makan siang kita. Kau pasti sudah lapar kan?" ucap Takeshi berusaha untuk menggamit lengan Kyoto dan menariknya ke ruangan yang tadi dikatakan oleh Delia.


"Lepaskan! Maumu sebenarnya apa sih? Perasaan kita baru bertemu beberapa jam yang lalu, tapi kenapa kau melakukan hal seperti ini padaku?" ucap Kyoto dengan nada ngegas sehingga membuat Takeshi ngeri-ngeri sedap dibuatnya.


"Ayo kita bicarakan di ruangan kita saja sayang! Jangan membuat kita menjadi pusat perhatian orang-orang Apa kau ingin menjadi viral di media sosial?" Tanya Takeshi sambil dia mengarahkan pandangan Kyoto ke sekelilingnya.


Dan benar saja, saat ini mereka berdua sedang menjadi pusat perhatian para pengunjung yang sedang makan siang di restoran milik Delia.


Kyoto menggeram dengan sangat kesal menatap kepada Takeshi yang Sejak pertemuan mereka berdua selalu membuat harinya menjadi berantakan.


Takeshi mengikuti Kyoto yang masuk ke dalam ruangan yang tadi dikatakan oleh Delia.


"Tolong siapkan paket komplit yang paling enak di restoran ini dengan porsi untuk dua orang dan kau antarkan ke ruanganku!" ucap Takeshi sambil menunjuk ke ruangan yang sudah ditempati oleh Kyoto saat ini.


Dengan perasaan penuh percaya diri. Takeshi kemudian masuk ke dalam ruangan itu, di mana Kyoto sudah menunggunya dengan wajah cemberut.


"Cepat katakan padaku! Sebenarnya apa maumu dariku huh?? Dan jangan pernah lagi menggangguku! Kau benar-benar membuatku muak!" ucap Kyoto sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam kepada Takeshi yang saat ini masih berdiri di depan pintu.


"Ayolah kita makan dulu! Pasti karena kau lapar. Oleh karena itu membuatmu jadi selalu marah-marah seperti ini!" ucap Takeshi sambil mengulas senyum di bibirnya lama menatap Kyoto dengan lembut.

__ADS_1


Kyoto yang melihat hal itu, dia hanya membuat dia merasa kesal kepada Takeshi yang seperti tidak tahu malu sama sekali.


"Cih! Apakah kau tidak punya pekerjaan selain menggangguku? Bukankah kau datang ke Indonesia untuk mengurus bisnis keluargamu, huh? Kenapa kau sejak tadi terus saja mengikutiku?" ucap Kyoto dengan tatapan tajam yang membunuh.


Tapi bukan seorang Takeshi Yamada namanya, kalau dia gentar menghadapi amarah seorang Kyoto.


"Aku masih memiliki waktu dua hari untuk bersantai. Sebelum aku masuk ke kantor dan melaksanakan semua tugasku di perusahaan!" ucap Takeshi sambil duduk di hadapan Kyoto.


"Lalu, kau sendiri? Apa yang kau lakukan di restorannya Delia? Bukankah kau dipercaya oleh ayahmu untuk menangani perusahaan beliau?" tanya Takeshi dengan mengarahkan tatapan matanya menyelidiki seorang Kyoto.


"Bukan urusanmu! Aku melakukan apapun yang kuinginkan dan tidak ada urusannya denganmu sama sekali!" ucap Kyoto dengan nada ketus dan marah yang luar biasa.


"Katakan padaku sayang, kenapa kau dari tadi berbicara seperti itu padaku? Tidak tampak bersahabat sama sekali!" ucap Takeshi.


"Kenapa aku harus bicara sopan padamu huh? Bukankah kau sendiri tidak pernah menghargaiku sebagai perempua?" ucap Kyoto masih dengan nada jengkel dari suaranya yang bisa ditangkap oleh Takeshi.


"Apa maksudmu? emangnya kita punya urusan apa? Aku tidak ingin punya urusan apapun denganmu. Apa kau dengar?" ucap Kyoto dengan nada ngegas. Pokoknya tidak ada ampun untuk seorang Takeshi.


"Tentu saja urusan pernikahan kita sayang! Apalagi yang bisa menjadi urusan kita berdua, hmmmm?" Ucap Takeshi sambil mengulas senyum di bibirnya.


"Cih! Siapa yang mau jadi istrimu bung? Hello! Cepatlah bangun kau dari mimpimu! Larena aku sama sekali tidak menginginkanmu!" ucap Kyoto dengan nada semakin meninggi. Akan tetapi Takeshi tetap tenang menghadapi wanita itu, yang sudah mirip dengan sapi gila kalau sedang marah.


'Aku harus membuat dia menjauh dengan Kaisar dan Delia. Tidak akan aku biarkan dia mengganggu rumah tangga Delia. Delia sudah terlalu banyak menderita selama ini dan aku tidak akan membiarkannya untuk mengganggu mereka berdua!' batin Takeshi sambil terus menatap kepada Kyoto yang masih mencak-mencak.


"Heh! Kenapa kau melamun? Cepat katakan sebetulnya, apa maumu? Dan pergilah dari hidupku! Karena aku tidak ingin melihat manusia ajaib lagi seperti kau di dalam hidupku!" ucap Ki oto dengan kata-kata yang nyaris tanpa disaring dia tidak peduli Apakah Takeshi akan merasa sakit hati atau tidak.

__ADS_1


Ketika Takeshi hendak menjawab perkataan Kyoto, tiba-tiba saja ruangan mereka dibuka oleh pelayan dan makanan yang tadi dipesan oleh Takeshi pun datang.


"Maaf Tuan Takeshi! Lalau saya mengganggu urusan kalian. Saya hanya mengantarkan makanan yang tadi Tuan pesan!" ucap pelayan itu dengan sopan kepada Takeshi.


Pelayan itu tahu bahwa Takeshi adalah teman dekat dari pemilik restoran tempatnya bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarga mereka saat ini.


"Tidak apa-apa! Cepatlah letakkan makanan itu di meja! Dari tadi aku sudah sangat lapar. Coba kau Lihatlah kekasihku, dari tadi dia mengamuk terus. Gara-gara kau lama sekali menyuguhkan makanannya!" ucap Takeshi sambil melirik sekilas kepada Kyoto yang saat ini sedang melotot menatapnya.


Kyoto hanya diam dan menunggu pelayan itu keluar dari ruangan. Sebelum akhirnya dirinya akan memuntahkan segala kemarahan yang ada di dadanya.


"Siapa yang kau bilang kekasihmu hah? Aku tidak pernah merasa menjadi kekasihmu!" ucap Kyoto dengan nada tinggi.


"Tentu saja kamu sayang, memang siapa lagi?" Ucap Takeshi dengan senyum jahilnya


Dia tidak peduli sama sekali ketika melihat kemarahan di mata Kyoto saat ini.


"Jangan panggil-panggil aku sayang? Aku bukan sayangmu! Dan aku juga bukan Kekasihmu!" sengit Kyoto menebarkan Aura membunuh di ruangan itu.


"Kau adalah kekasihku!" ucap Takeshi.


Kyoto memutar bola matanya dengan malas kemudian dia memilih untuk mulai memakan makanan yang tadi dibawakan oleh pelayan ke dalam ruangan itu.


"Kita sudah berciuman lebih dari dua kali hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Dan kau tidak mau untuk mengakui sebagai kekasihku kau benar-benar keterlaluan!" ucap Takeshi dengan suara yang memelas sehingga membuat Kyoto langsung memerah pipinya seperti kepiting rebus. Karena menahan malu yang luar biasa.


"Kau yang dari tadi nyosor terus padaku! Bukan aku yang menginginkannya!" ucap Kyoto dengan gugup kemudian dia mengalihkan pandangannya dari Takeshi.

__ADS_1


"Kenapa kau melarikan diri sayang? Bukankah tadi kau begitu gagah melawanku?" ucapkan sih menggoda Kyoto yang kini menatapnya.


"Sudah diamlah! Aku sudah lapar dan aku ingin makan. Kalau kau tidak diam juga, maka akan ku lemparkan semua makanan ini ke wajahmu!" sengit Kyoto menebarkan Aura pembunuhan di dalam ruangan itu.


__ADS_2