
Kaisar kemudian melanjutkan tidurnya yang tadi sempat tertunda. Karena harus mengikuti istrinya. Kaisar sekarang sudah merasa tenang karena sudah mengetahui dimana keberadaan istri dan anaknya saat ini.
"Percuma aku menyewa detektif mahal gak ada gunanya! Pada akhirnya aku mengetahui keberadaan istriku sendiri tanpa bantuan mereka!" sungut Kaisar kesal kepada para detektifnya yang tidak becus bekerja.
Berbulan-bulan diperintahkan untuk mencari istri dan anaknya. Mereka masih belum juga mendapatkan kabar berita.
"Lebih baik aku memecat mereka semua! Keberadaan mereka tidak ada gunanya! Aku hanya buang-buang uang saja, untuk manusia tidak berguna seperti mereka. Lebih baik aku mendonasikan uangnya kepada fakir miskin daripada untuk membayar orang-orang malas itu!" ucap Kaisar dengan kesal.
"Setidaknya, aku senang! Delia dan putraku kini ada di dekatku. Jadi aku bisa mengawasi dari jauh!" ucap Kaisar bermonolog kepada dirinya sendiri.
Setelah merasa lelah, Kaisar kemudian memutuskan untuk tidur. Karena besok dia harus menghadiri rapat di kantornya, bersama para eksekutif perusahaan Kaisar Corporation perusahaan yang dia pimpin sejak 20 tahun yang lalu.
Perusahaan yang diwariskan oleh ibunya kepada Kaisar dan dengan kecemerlangan serta kemampuannya.
Kaisar berhasil mengembangkan perusahaan itu sehingga menjadi sebuah perusahaan yang menggurita di negeri ini dan memiliki beberapa cabang sampai ke luar negeri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Delia yang skarang sudah sampai di restorannya. Delia langsung menemui karyawannya yang tadi dia titipin putranya. Sebelum ke perusahaannya Farel.
"Baiklah Bi! Terima kasih banyak. Sekarang bibi boleh pulang, biarkan Deka bersama saya!" Ucap Delia sambil memeluk Deka yang sekarang sedang terlelap.
"Baiklah, Nyonya Delia! Selamat malam saya pulang dulu!" kemudian karyawan Delia yang berumur paruh baya itu. Dia lalu pulang ke rumahnya dan meninggalkan Delia sendiri di restoran itu.
Delia memang tinggal di restoran. Dia memilih sebuah kamar yang berada di belakang restorannya.
Delia tidak mau kerepotan harus bolak-balik ke sana kemari. Apabila tinggal berpisah dengan restoran tempatnya bekerja. Itu akan sangat menyita waktunya.
Setelah kini Delia tinggal seorang diri. Dia kembali mengingat apa saja yang sudah terjadi antara dirinya bersama dengan Kaisar, sang suami. Semenjak tadi mereka bertemu.
__ADS_1
Pipi Delia berubah kemerahan. Karena dia seketika mengingat kemesraan dirinya bersama Kaisar. Sewaktu dirinya berada di apartemennya Kaisar.
"Apakah dia benar-benar marah padaku? Sehingga dia sudah tidak peduli padaku lagi?" Delia bertanya kepada dirinya sendiri
Seketika Delia mengingat Kaisar yang tadi meninggalkannya begitu saja dan tampaknya sudah tidak memperdulikannya.
Tiba-tiba saja air mata Delia berlinang deras. Seketika hatinya merasakan sakit. Ketika dia memikirkan bahwa Kaisar sudah tidak menginginkannya lagi.
"Mungkin, mulai sekarang aku harus mulai berusaha untuk melupakan dan melepaskan dia!" gumam Delia sedih.
Rasa cinta yang terlalu besar menghasilkan rasa cemburu yang terlalu besar di dalam hatinya. Sehingga membuat Delia selalu berpikiran negatif terhadap Kaisar.
Hanya sekedar memikirkan Kaisar sedang bersama perempuan lain. Hal itu sudah membuat Delia darahnya mendidih. Karena rasa cemburu yang membuncah di dadanya.
"Sangat wajar sih, kalau Kaisar punya banyak fans dan banyak wanita yang menggilainya. Mengingat Dia memiliki segalanya yang diimpikan oleh hampir setiap wanita!" ucap Delia sambil menatap langit-langit kamarnya.
Tiba-tiba saja Deka menangis. Zehingga membuyarkan lamunan Delia saat ini. Tentang suaminya sendiri.
Dengan telaten Delia mendiamkan Deka yang kini menangis dalam pelukannya. Delia lalu membuatkan susu untuk Deka. Karena Deka terbangun karena lapar.
"Mama! Deka rindu sama Papa!" tiba-tiba saja Deka mengucapkan kata sakral itu, dengan mulut mungilnya, dengan bahasa cedalnya.
"Iya, sayang! Nanti Mama pasti akan mencari Papa untuk Deka, kamu sekarang tidur ya?" ucap Delia sambil mengelus kepala putranya.
Tampak bulir air mata mengalir di pipi Delia. Kesedihan yang begitu besar yang sedsng dia rasakan. Sehingga membuat Delia lupa dengan rasa kantuk yang tadi menyerangnya.
Sehingg pada akhirnya, di seperempat malam itu, Delia memutuskan untuk salat Tahajud dan meminta petunjuk kepada Allah dengan apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Ya Allah tunjukkanlah jalanMu kepada hambamu yang sedang bingung ini. Kalau memang kebersamaanku bersama Kaisar memberikan kebaikan. Maka permudahlah segalanya Ya Allah! Ringankanlah hati hamba ini, dalam menerima apapun yang dimiliki oleh suamiku dengan segala kurang dan lebihnya. Jadikan hamba pantas untuk berada dari sampingnya! Dan tolong Ya Allah! Tolong kuatkanlah hati hamba sebagai seorang istri. Ketika melihat suami hamba yang digila oleh banyak wanita! Kalau dia memang adalah takdirku di kehidupan ini. Ya Allah, tolong bawakanlah kembali suamiky untukku. Dan aku pasti akan menerimanya kembali dalam hidupku! Demi rumah tangga kami dan juga demi putra kami yang merindukan ayahnya!" doa Delia malam itu dengan khusuk dan penuh pengharapan kepada Allah. Penguasa atas segalanya. Tuhan yang maha pembolak balik hati setiap hambanya.
__ADS_1
Setelah selesai memanjatkan doa kepada Allah. Delia kemudian tidur bersama dengan Deka yang sudah mulai tenang dan kini mulai lelap dalam tidurnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Kaisar yang tertidur dengan lelap. Tiba-tiba dia bangun dan seketika hatinya seakan terusik. Seakan-akan ada seseorang yang tengah memanggil namanya.
"Ya Allah perasaan macam apa ini? Kenapa hatiku rasanya seperti tertusuk duri? Sungguh sakit dan sedih sekali. Ada apa denganku?" ucap Kaisar frustasi.
Kaisar meraup wajahnya dengan kasar. Kaisar kemudian bangun dari tidurnya dan duduk di tepi ranjangnya.
Sungguh kasihan sekali nasib Kaisar saat ini. Dia seorang CEO berwajah tampan sempurna, parasnya yang paripurna.
Setiap malam harus tidur sendirian. Kaisar berjauhan dengan istrinya. Setiap malam harus berendam air dingin, karena harus menahan hasrat yang ada di dalam dirinya.
Kalau pria yang tidak memiliki iman dan takwa yang kuat. Kaisar pasti sudah lari ke bar ataupun ke tempat maksiat.
Melepaskan hasrat gila dengan berbagai jenis perempuan-perempuan liar yang berada di sana. Tetapi Kaisar meredam semua hasrat dalam dirinya dengan kekuatan cintanya untuk Delia. "Demi Delia aku harus bertahan dan memperjuangkan cintaku padanya. Aku harus membuktikan bahwa aku layak untuk menjadi suaminya!" kata itu seperti sebuah mantra yang menguatkan diri Kaisar.
Ketika hasrat lelakinya telah mulai menyerang kepalanya. Sehingga dia selalu berhasil melewati hari terberat dalam hidupnya. Ketika berjauhan dengan sang istri. Sehingga tidak terjatuh ke dalam lembah dosa.
Semua itu karena Delia yang pikirannya masih labil dan masih belum menerima kelebihan Kaisar yang terlalu meluber kemana-mana.
Perasaan cemburu dalam hati Delia, yang manjauhkan istri dengan suaminya. Menjauhkan anak dengan ayahnya.
Kaisar masih termenung di tepi ranjang. Dia masih memikirkan apa yang saat ini ada di hatinya. Bingung dan aneh.
"Apakah Delia saat ini sedang merindukanku? Sehingga tiba-tiba saja perasaanku seakan memikirkannya?" monolog Kaisar terhadap dirinya sendiri.
Kaisar kemudian langsung bangkit dari duduknya. Dia lalu mengambil jaket dan juga kunci mobilnya. Dengan penuh kemantapan Kaisar langsung keluar dari apartemennya dan melajukan mobilnya menuju tempat Delia dan putranya saat ini berada.
__ADS_1
Di malam buta jam 03.00 pagi, seorang Kaisar sekarang melajukan mobilnya. Kaisar tidak memperdulikan angin malam yang begitu dingin dan menusuk kulitnya hingga ke tulang. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah dia harus segera menemui Delia dan mendekapnya dalam pelukannya.