
Setelah mereka sampai di kediaman Kaisar. Zahra dan Satria langsung masuk. Kaisar yang kini menggendong Deka langsung membawanya naik ke lantai atas untuk bertemu dengan Delia.
" Tolong persiapkan kamar untuk Mertuaku. Aku akan menemui istriku dulu di atas. Karena istriku pasti sudah merindukan Deka, putra kami!" ucap Kaisar memberikan perintah kepada kepala pelayan yang sedang menyambut kedatangan mertuanya.
" Mari Tuan dan Nyonya Saya sudah menyiapkan kamar untuk kalian.
Zahra dan Satria hanya mengikuti arahan kepala pelayan untuk mengikutinya.
" Syukurlah kehidupan Putri kita tampaknya baik di tempat ini. Bisa kulihat bahwa Kaisar sangat mencintai Delia!" ucap Zahra sambil tersenyum kepada suaminya.
" Bener Nyonya! Tuan Kaisar memang sangat mencintai Nyonya Delia. Bahkan satu minggu ini. Tuan Kaisar sudah memecat dua orang pelayan yang telah berani-beraninya menatap kepadanya!" ucap kepala pelayan melapor kepada Zahra mengenai kelakuan Kaisar dalam mencintai Nyonya rumahnya.
" Apakah segitunya Kaisar mencintai putri kami?" tanya Satria sambil menggelengkan kepalanya.
" Benar Tuan. Pokoknya kalau ingin selamat dan bekerja lama di rumah ini. Bagi pelayan waniga jangan sampai berani menatap Tuan Kaisar. Bagi pelayan laki-laki jangan sampai menatap Nyonya Delia!" ucapnya pelan.
" Ya ampun kelakuan mertua dan menantu ternyata sama saja!" ucap Zahra sambil tertawa dan melirik kepada suaminya yang saat ini sedang menatapnya dengan horor.
" Maksud Anda nyonya?" tanya kepala pelayan menatap Zahra tidak mengerti.
" Iya kelakuan Tuanmu sama persis seperti suamiku ketika muda dulu!" ucap Zahra sambil tertawa.
Satria hanya menggelengkan kepalanya. Ketika istrinya menceritakan tentang kelakuan dirinya ketika di usia mudanya.
" Ya Tuhan! Ini sungguh sangat luar biasa. Bagaimana mungkin menantu dan mertua memiliki satu karakter yang sama terhadap pasangan mereka?" ucap kepala pelayan tersebut sambil terkekeh dan melirik kepada Satria yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.
Kepala pelayan kesulitan menelan salivanya. Ketika dia melihat Satria yang menatapnya dengan penuh ancaman.
__ADS_1
" Maafkan saya Tuan dan Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu. Semoga kalian merasa betah tinggal di mantion ini. Kalau anda butuh apapun Anda bisa menekan bell extension." ucap kepala pelayan sambil menunjuk sebuah bel yang ada di dekat tempat tidur yang ada di dalam kamar.
" Terima kasih atas pelayananmu!" ucap Zahra mengiringi kepergian kepala pelayan yang dinilai sangat friendly di matanya.
" Sejak dulu mama tidak pernah berubah juga. Selalu saja gampang dekat dengan siapapun! Berhati-hatilah Mah jangan sampai nanti sikap baik mama malah akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang memiliki niat jahat terhadap kita!" ucap Satria sambil menatap tajam kepada istrinya yang saat ini hanya tersenyum kepadanya.
" Ya ampun sayang kita ini sudah tua renta, sudah bau tanah. Kau masih juga memiliki sifat posesif yang begitu kental!" ucap Zahra sambil mencium bibir suaminya yang dari tadi terus cemberut.
Tentu Satria tidak akan mau melepaskan kesempatan itu. Dia pun langsung mengecup bibir istrinya lebih lekat dan lebih dalam.
Setelah keduanya selesai mengungkapkan rasa cinta yang ada di dalam hati mereka. Satria pun langsung tertawa bahagia.
" Ada apa-apa sayang? Tadi kau cemberut dan sekarang kau tertawa sangat bahagia. Kau sungguh benar-benar mengherankanku. Kelakuanmu ini melebihi cuaca yang ada di atas dunia ini!" ucap Zahra merasa heran dengan suaminya.
" Aku merasa bahagia karena memiliki istri yang begitu mencintaiku dan sangat memperdulikan perasaanku!" ucap Satria sambil memeluk pinggang istrinya yang masih ramping dan juga padat.
" Tidak apa-apa kan sayang? Kalau aku genit terhadap istri sendiri. Kalau aku genit kepada wanita lain baru kau boleh marah padaku!" ucap Satria sambil menarik tubuh istrinya untuk tidur di atas ranjang.
" Sayang aku sangat merindukanmu. Setelah kita melakukan perjalanan yang begitu panjang!" ucap Satria dengan suara berat sambil mengendus-ngendus leher istrinya.
" Papa itu sudah tua tapi tidak dikurangi juga sifat genitnya!" ucap Zahra sambil melayani keinginan suaminya untuk bercumbu rayu di atas ranjang.
" Usia kita belum juga masuk usia 60 tahun. Apakah sudah bisa dikatakan dengan tua?" tanya Satria terus menghujani sang istri dengan ciuman mautnya yang membuat Zahra tidak bisa berkutik sama sekali.
" Cucu kita saja sudah mau dua. Apakah kita sudah tidak layak untuk disebut tua?" tanya Zahra sambil menatap sayu kepada suaminya yang sedang mencari kenikmatan untuk mereka berdua rengkuh saat ini.
Satria segera beranjak dari tempat tidur telah mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
" Papah mandi dulu ya sayang?" ucap Satria mencium kening istrinya yang kini tergolek lemas di ranjang. Satria langsung pergi ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban dari sang istri yang masih kelelahan setelah melayani keinginannya.
Di kamar mandi Satria segera beres-beres dan membersihkan badannya dari sisa bercinta dengan istri tercintanya agar dia bisa segera tidur karena tubuhnya sangat lelah setelah bertarung melawan istrinya selama satu ronde di atas ranjang mereka.
Setelah selesai mandi besar. Satria kemudian melanjutkan dengan salat zuhur. Setelah itu dia membangunkan istrinya yang tampak terlelap sangat kelelahan.
" Sayang bangunlah. Ayo salatlah dulu. Nanti kau boleh melanjutkan tidurmu!" ucap Satria sambil berbisik di telinga istrinya.
" Tubuh ke lelah Pah!" ucap Zahra sambil memicingkan kelopak matanya dan menatap suaminya yang sudah segar dan terlihat sangat tampan setelah mandi. walaupun usianya sudah mulai senja.
" Tidak heran Delia memiliki kecantikan yang luar biasa. Pasti itu diwariskan darimu sayang!" bisik Satria di telinga istrinya.
" Deka juga sangat tampan. Dia terlihat sama persis sepertimu. Sayang, dia pasti akan mewarisi ketampananmu suatu saat nanti!" ucap Zahra sambil memeluk tubuh suaminya dengan erat.
" Ayolah sayang kau pergi mandi dan salat zuhur dulu atau kalau tidak, aku akan kembali menyerangmu lagi!" ancam Satria sambil menatap horor kepada Zahra.
" Kau selalu saja menggunakan senjata yang sama sejak puluhan tahun yang lalu!" ucap Zahra misuh-misuh. Kemudian mau tidak mau dia pun langsung bangkit dan berusaha untuk bangun dari tempat tidur.
Satria melihat istrinya tanpa kesulitan untuk bangun dari kasur dia pun Kemudian berinisiatif untuk menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
" Kau duduklah saja disitu sayang. Aku yang akan melayanimu!" ucap Satria sambil mengisi bathtub dengan air hangat sampai merendam tubuh istrunya. Sementara Zahra hanya bisa menatap apapun yang dilakukan oleh suaminya dengan perasaan penuh cinta kasih.
" Sayang! Apa kau tahu? Setiap hari aku semakin bertambah mencintaimu!" ucap Zahra sambil mencium bibir suaminya yang saat itu kebetulan lewat di depan kepalanya. Satria yang sedang memasukkan aromaterapi ke dalam bathtub dia hanya pasrah ketika istrinya memberikan ciuman hangat untuknya.
Setelah selesai mandi. Satria kemudian mengangkat tubuh istrinya dari bathtub dan memberikan handuk untuknya.
" Kau wudhulah. Aku akan mempersiapkan peralatan salat untukmu!" Ucap Satria meninggalkan Zahra yang sudah bersiap untuk mengambil air wudhu.
__ADS_1
Setelah salat Zahra dan Satria kemudian keluar kamar berniat untuk menemui Delia.