Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
44. Toleransi Terakhir Seorang Kaisar


__ADS_3

"Ada apa, Delia?" tanya Takeshi tampak bingung, dengan Delia yang selalu melamun, sejak masuk ke ruang tunggu penerbangan. Delia menatapnya sejenak.


"Tadi, di pintu pemberangkatan, aku melihat Kaisar sedang bersama dengan Sofia. Jadi, keputusanku untuk pergi dari dia, itu sangat benar. Aku meninggalkan dia, untuk kebahagiaan dia bersama Sofia, wanita yang dia cintai. Biarkanlah mereka hidup bahagia tanpa aku dan Putraku!" ucap Delia dengan sedih.


"Ya Tuhan! Apa itu benar? Kenapa tadi kamu diam saja? Kalau kau tadi bilang, aku pastikan mereka tidak akan mengganggu kehidupan kamu lagi!" ucap Takeshi geram.


"Udah, Lupakan saja! Aku ke Turkey, untuk memulai kehidupan baru di sana. Aku, tidak ingin terganggu dengan mereka lagi. Setelah semuanya fix, aku akan mengajukan gugatan perceraian kepada pengadilan. Saat ini, biarkan saja. Aku akan berusaha membangun karier dulu!" ucap Delia sambil menatap Takeshi yang kini menatapnya dengan iba. Delia memejamkan mata untuk bisa melupakan apa yang tadi dia lihat, tapi selalu gagal.


Bayang-bayang itu terus saja mengejar Delia. Bayangan ketika Kaisar tertawa saat berdiri di hadapan Sofia. Bayangan saat Kaisar bercinta dengan Sofia. Bayangan itu seperti menghantui benaknya. Menyakiti perasaannya. Membunuhnya secara perlahan. Delia saat ini benar-benar kesakitan. Delia sangat sedih saat ini, sehingga tanpa terasa air matanya mengalir tanpa bisa dia kendalikan.


"Delia, jangan tangis dong! Saya jadi ikut sedih, ini!" Takeshi mengelus rambut Delia. Delia hanya membenamkan wajahnya di dada Takeshi saat ini. Perasaan sakit hatinya, berusaha dia tekan.


"Apa kau bisa peluk aku? Aku sangat butuh hal itu!" ucap Delia, semakin kencang isaknya. Tetapi tak bersuara. Namun, dada Takeshi kini sudah basah oleh air mata Delia. Takeshi dengan penuh kesabaran, dia memeluk Delia. Dielus-elus punggung Delia. Berusaha menguatkan wanita yang sedang sakit itu. Deka saat ini sedang tidur, di pangkuan Takeshi. Sehingga Takeshi bisa santai.


"Menangis lah! Setelah itu, kamu harus tegar dan kuat! Lupakan saja, segala sesuatu yang membuat hati kamu terluka. Tidak perlu mengingatnya lagi. Kau lepaskan dan lupakan. Mulailah, hidup baru yang kau rencanakan saat ini, dengan penuh kebahagiaan dan kebanggaan. Apa kau mengerti, Delia?" Delia hanya mengangguk pelan, Isak tangis Delia kini semakin Lirih, saat ditengok oleh Takeshi, Delia ternyata sudah terlelap.


"Baguslah kalau dia tidur. Dengan begitu, dia bisa melupakan apa yang terjadi hari ini. Dan semoga saja, dia akan berhasil melewati semua cobaan ini dan keluar sebagai pemenang!" Takeshi menatap ke jendela. Saat ini, hatinya sedang gamang.

__ADS_1


"Apa benar, kalau saat ini, Sofia telah kembali bersama dengan Kaisar?" entah kenapa, tiba-tiba hati Takeshi merasakan sakit yang tidak terperi, Takeshi meletakkan Delia untuk kembali ke kursi miliknya.


Bagaimanapun juga, ada rasa tidak nyaman. Ketika Delia terlelap di dalam pelukannya. Hatinya berdebar-debar, seakan bertalu-talu, bagaikan genderang yang mau perang. Delia kini lelap dengan tangannya sebagai bantal.


Takeshi pun akhirnya memutuskan untuk tidur juga. Karena sudah lelah juga. Melakukan perjalanan panjang, Jepang menuju Turki. Sungguh melelahkan sekali. Takeshi mulai mengantuk. Untung saja, Deka Yamada. Bayi mungil itu sangat tenang, walaupun usianya beberapa minggu saja. Tetapi Deka sangat pengertian dan tidak rewel. Selama dalam perjalanan. Sehingga Takeshi tidak repot.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di bandara tampak Kaisar yang sedang mengantarkan Sofia untuk pergi ke Amsterdam. Saat tadi Delia melihat tangan Kaisar sedang mengelus kepala Sofia, itu adalah saat Sofia meminta tolong kepada Kaisar, untuk mengambil sesuatu di matanya, yang terasa sangat mengganggunya. Sofia meminta Kaisar untuk meniup matanya yang kelilipan.


Kaisar sama sekali tidak merasa curiga dengan apa yang diinginkan oleh Sofia. Padahal itu hanyalah akal-akalan Sofia saja. Sejak dari awal masuk ke bandara, Sofia sudah melihat kehadiran Delia dan Takeshi.


"Ya udah, cepat sana masuk! Tuh, pesawat kamu sudah mau berangkat!" ucap Kaisar kepada Sofia.


"Apakah kamu tidak ada keinginan untuk menyusul aku ke sana?" tanya Sofia dengan manja.


"Please Sofia! Jangan mulai menggodaku lagi. Aku sama sekali tidak tertarik. Aku mau mengantarkanmu kali ini, karena kamu bilang, ini adalah yang terakhir kali. Ini adalah batas toleransiku terhadap kamu, karena aku mengingat, aku dulu pernah memiliki hubungan dekat denganmu. Kau nggak usah ngelunjak, minta hal-hal yang aneh-aneh! Udah! Cepat masuk sekarang! Berangkatlah, nanti kau bisa ketinggalan pesawat lagi. Aku juga sedang banyak sekali urusan yang harus segera Aku selesaikan!" ucap Kaisar.

__ADS_1


Sofia mamayunkan bibirnya. Tampak tidak senang dengan jawaban Kaisar. Tetapi, Sofia pun tahu diri, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya saat ini karena Kaisar. Tampaknya, Kaisar memang belum bisa memaafkannya dan belum bisa menerimanya sebagai orang penting dalam hidupnya. Sofia memutuskan untuk lebih bersabar lagi dalam menghadapi Kaisar.


"Baiklah aku pergi dulu ya? Nanti kalau ada liburan lagi, aku akan datang ke sini lagi. Untuk menjengukmu. Ya.... kalau kamu senggang, Aku ingin kamu juga datang untuk aku, ke Amsterdam. Ya, setidaknya mengenang masa lalu kita bukan?" ucap Sofia tersenyum.


"Udah, gak usah bicara ngawur! Masuk sana!" Kaisar mengusir Sofia, setelah Sofia menghilang di koridor, Kaisar akhirnya kembali ke apartemennya. Sofia memang sengaja datang ke Jepang, dalam rangka menemui Kaisar.


"Aku heran, saat aku menjalani hubungan dengan dia. Sofia adalah pribadi yang sangat arogan dan banyak maunya. Selalu egois dan tidak pernah perduli dengan aku. Sekarang, kenapa dia jadi sangat perhatian begitu? Apakah dia sedang berusaha untuk menjerat aku lagi, ke dalam pelukannya?" tanya Kaisar pada akhirnya.


"Aku akan segera menyelesaikan urusanku di Jepang. Aku akan segera menemukan istri dan anakku. Dan segera kembali ke Indonesia. Pekerjaan di sana menumpuk gara-gara urusan ini. Entah bagaimana asistenku mengurus perusahaanku!" desah Kaisar frustasi.


Kaisar memejamkan matanya, saat ini dirinya sangat lelah, lahir batin. Kaisar ingin tidur sejenak, selama perjalanan menuju ke apartemennya. "Bangunkan saya, kalau kita sudah sampai di apartemen!" perintah Kaisar kepada supir sementaranya. Ya, sementara Kaisar ada di Jepang.


Pihak management perusahaannya Kaisar yang ada di Jepang, memberikan semua fasilitas terbaik untuk owner mereka. Sehingga merasa betah berada di Jepang.


Perusahaan di Jepang yang dimiliki oleh Kaisar, memang diserahkan kepada manajemen profesional. Untuk hal pengelolannya karena mengingat kesibukan Kaisar yang di Jakarta begitu padat. Sehingga dia tidak mampu untuk menghandle semuanya. Oleh karena itu Kaisar, lebih baik mempercayakan pengelolaan perusahaannya di Jepang kepada pihak profesional, warga lokal asli Jepang sebagai karyawan dan jajaran dewan direksi.


"Tuan, kita sudah sampai!" ucap supirnya.

__ADS_1


"Terimakasih, Pak! Bapak boleh pulang untuk istirahat. Tinggalkan saja mobilnya di tempat parkir. Serahkan kuncinya kepada Security. Siapa tahu, nanti saya butuh. Jadi tidak usah merepotkan Bapak nanti!" ucap Kaisar, lalu meninggalkan supirnya tersebut.


__ADS_2