
"Aku akan lihat apakah kau berani untuk melakukannya!" ucap Kaisar dengan mata tajam melihat ke arah Delia.
Delia kesulitan menyerang salivanya melihat amarah di mata Kaisar, sang suami.
"Kenapa setelah lama tidak bertemu, kau masih saja egois dan suka memaksakan kehendakMu?" tanya Delia dengan terbata-bata.
Kaisar mendekati Delia dan menggenggam tangannya. Kemudian dengan lembut Kaisar menciumnya. Menatap wajah sang istri dengan lekat.
"Apa kau tidak tahu? Aku hampir gila hanya untuk mencarimu kemana-mana. Bahkan Jepang telah aku jungkir balikan hanya untuk mencarimu!" ucap Kaisar dengan menatap tajam Delia. Delia terus mundur, menghindari Kaisar, yang saat ini matanya merah padam.
"Kau akan lihat, kalau kau berani mencoba untuk menggunakan pil kontrasepsi itu, akan kupastikan restoranmu ini rata dengan tanah!" ancam Kaisar dengan suara yang tinggi.
"Kau seorang laki-laki, tetapi kau hanya pintar mengancam seorang wanita! Dan, dan kau senang sekali merusak sesuatu. Apakah begitu gaya hidupmu selama ini?" hardik Delia dengan amarah di hatinya.
"Aku bersikap sesuai dengan apa yang Kuterima. Kalau kau menurut padaku, maka aku akan memberikan segalanya untukmu. Tapi kalau kau membangkang, akan ku pastikan kau menerima harga untuk itu!" ancam Kaisar sambil mencium bibir Delia dengan lembut dan menuntut.
Delia yang saat ini sedang marah dan tidak ingin melakukan sesuatu yang romantis dengan Kaisar. Akhirnya Delia menendang dan menginjak kaki Kaisar. Sehingga Kaisar meringis karena menahan sakit di kakinya.
"Ya Tuhan! Apa yang kau lakukan pada suamimu, Delia!" jerit Kaisar, sangking sakitnya. Dia ditendang dan di injak kakinya, oleh sang istri istri saat dia belum siap untuk menerimanya. Bisa bayangkan bagaimana sakitnya? Sakitnya sampai ngilu ke ulu hati.
"Siapa suruh kau sukanya maksa-maksa? Dan, kau, Kau sangat suka sekali melakukan hal-hal sesuka hatimu!" ucap Delia dengan pipi yang merah merona. Karena malu.
__ADS_1
Ketika Kaisar sedang sibuk mengibasi kakinya yang tadi diinjak oleh Delia. Delia pun meninggalkan kamar itu dan pergi menuju restoran, untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk operasional hari itu.
"Gara-gara Kaisar, semua pekerjaan jadi terbengkalai begini. Kapan dia akan pergi dari rumahku?" gerutu Delia sembari bekerja.
"Nyonya, semua sayur yang datang ini, apakah di taruh di kulkas atau bagaimana?" tanya seorang karyawan kepada Delia.
"Lakukan saja seperti biasanya. Kenapa kau perlu bertanya untuk hal sekecil itu?" ucap Delia dengan nada tinggi.
"Hah gara-gara Kaisar, moodku jadi hancur begini. Padahal ini masih pagi!" akhirnya Delia memilih untuk pergi saja dari restoran, dan memandikan Deka yang kebetulan bangun.
"Putra Mama sudah bangun! Bagaimana tidurnya sayang?" ucap Delia, kemudian menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. Kaisar hanya melihat interaksi antara istri dan putranya.
Tiba-tiba saja mata Kaisar berderai dengan air mata. Ada perasaan haru karena dirinya diberikan kesempatan untuk kembali berkumpul dengan anak dan istrinya, yang selama berbulan-bulan ini, telah menghilang dari pandangannya.
"Rupanya perasaan seorang ayah itu seperti ini ya? Ketika melihat Putra mereka. Apakah pria itu pun, merasakan kebahagiaan ketika Kelahiranku?" tiba-tiba saja, Kaisar mengingat tentang ayah kandungnya. Yang sejak kecil telah meninggalkannya beserta ibunya. Demi untuk menikah dengan ibunya Takeshi.
"Laki-laki itu, sepertinya tidak bahagia dengan Kelahiranku. Oleh karena itu, dengan sangat mudahnya dia meninggalkanku dan ibuku!" Kaisar dengan penuh amarah yang tergambar di wajahnya.
"Apa yang kau lihat? Kenapa kau tampaknya sangat emosi seperti itu? Ketika melihat kami. Apakah kau benci dengan kami berdua?" tiba-tiba saja Delia sudah ada di hadapan Kaisar. Dan menatapnya dengan lekat. Kaisar dibuatnya gelagapan.
"Aku, Aku tidak marah gara-gara kalian. Aku hanya sedang mengingat masa laluku dengan ayah kandungku. Aku begitu bahagia melihat Putraku. Aku sedang berpikir. Apakah Ayahku juga bahagia dengan Kelahiranku?" ucap Kaisar sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Kaisar kemudian menatap ke arah luar melalui jendela yang ada di kamar itu.
"Ayahmu menyayangimu kok! Kalau dia tidak menyayangimu, dia tidak mungkin merawatku selama aku lari darimu. Dan dia juga, telah memberikan nama belakang keluarganya untuk cucunya!" ucap Delia sambil menatap sendu Kaisar, sang suami. Yang saat ini sedang melotot ke arahnya.
"Kau tidak punya hak apapun, untuk bicara tentang dia. Aku dan Dia tidak memiliki hubungan apapun. Dan jangan pernah sekali-kali, kau mengatakan bahwa Putraku adalah cucunya. Aku tidak sudi!" ucap Kaisar dengan mata menyala. Delia sampai ketakutan melihatnya.
"Aku tidak tahu, masa kecil seperti apa yang telah kau lalui bersama dengan ayahmu. Tapi yang aku tahu, saat ini, ayahmu dan juga saudara lelakimu. Dia juga menyayangi putra kita dan dia menganggapnya sebagai cucunya. Apakah kau tidak bisa, mencoba untuk berdamai dengan masa lalu?" ucap Delia sambil mendekati Kaisar yang saat ini sedang terduduk lesu di atas sofa.
Setelah selesai memandikan dan juga memberikan pakaian baru untuk Deka, Delia pun mendekati Kaisar, yang masih meraup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Dengarkan aku Kaisar! Tidak ada kebaikan apapun di dalam sebuah dendam. Alangkah indahnya, sebuah hidup. Apabila dipenuhi dengan cinta kasih dan kasih sayang. Tolong berusahalah, untuk memaafkan ayahmu. Karena dia sudah berusaha, seumur hidupnya untuk memohon maaf kepadamu dan juga ibumu yang sudah meninggal!" ucap Delia sambil menggengam tangan Kaisar.
"Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku maupun dia! Kau hanyalah orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupku. Berani sekali kau berkata hal seperti itu kepadaku! Selamanya Aku dan dia, tidak akan pernah ada hubungan! Aku tidak akan pernah memaafkan dia!" ucap Kaisar dengan mata berapi-api.
Demi mendengarkan kata-kata yang telah diucapkan oleh Kaisar yang tanpa dia sadari, hati Delia merasakan sakit yang tiada terperi.
"Bukankah bagimu, aku hanyalah orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupmu? Maka kau tidak akan keberatan bukan? Kalau aku menuntut perceraian darimu!" ucap Delia dengan mata berapi-api.
"Apa maksudmu? Bukan hal seperti itu yang aku maksud!" ucap Kaisar dengan gugup.
"Sudahlah! Lebih baik kau segera pergi dari rumahku. Tidak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan. Kau segera saja urus tentang perceraian kita, dan kita tidak usah bertemu lagi. Layaknya orang asing yang tidak saling mengenal!" ucap Delia sambil menatap tajam ke arah Kaisar.
__ADS_1
"Bukan hal seperti itu yang aku maksud! Dan kau harus ingat, aku tidak akan pernah menceraikanmu selamanya. Kau akan menjadi istriku. Aku tidak akan membiarkan Putraku hidup tanpa seorang ayah! Cukup aku yang merasakan sakitnya hidup tanpa seorang ayah. Apa kau tahu?" ucap Kaisar sambil mengguncangkan tubuh Delia.