
"Malam ini ada purnama sayang! Aku ingin bermandikan cahaya rembulan!" Mata Delia tampak berbinar.
"Apa kau sangat menginginkannya?" Delia mengangguk penuh semangat. "Baiklah! Ayo kita ke sana. Kita bersenang-senang di sana!" Kaisar lalu mengikuti apapun kemauan sang istri.
"Aku makin mencintai kamu, sayang!" Delia memegang tangan Kaisar dengan erat, mata mereka bertaut sejanak. Tadinya Kaisar akan mencium sang istri, tetapi ada biibi yang datang bersama beberapa pelayan yang lain,embawa beberapa peralatan untuk makan malam.
"Mas tidak sabar dengan makan malam romantis ala DeKa!" ucap Kaisar sudah mulai bercahaya matanya. Ya, mata Kaisar tidak sesuram tadi siang, setelah berjuang melewati kritis emosi tadi siang, akhirnya Kaisar mulai pulih sedikit demi sedikit.
"DeKa? Apa itu??" tanya Delia mengerutkan keningnya.
"Delia dan Kaisar!" Kaisar mencubit pipi Delia dengan gemas. Tangan Kaisar masih melingkar di perut Delia.
"Wow! Bagus juga! Apa anak kita kelak kita kasih nama itu, sayang?" tanya Delia antusias. Kaisar menarik tangan Delia menuju tepi rootrof, di sana ada taman bunga dengan berbentuk rumah kaca. Dahulu tempat itu adalah favorit dirinya kalau bersedih atau ingin melarikan diri.
"Tempat ini cantik sekali, sayang!" Delia tampak takjub luar biasa dengan keindahan di dalam rumah kaca tersebut.
"Rumah kaca ini adalah buatan Mamah, beliau sangat mencintai bunga, khususnya bunga sakura.

Visualisasi bunga sakura
" Kenapa?" tanya Delia, ketika kembali melihat kesedihan dimatanya. Kaisar mencium kening Delia, tangannya kini memeluk Perut Delia, sekarang Delia paham, kenapa Kaisar selalu posesif dengan anak yang ada dalam perutnya, Kaisar terlalu mencintai calon anak mereka. Karena sejarah hidupnya, yang hidup tanpa ayah. Jadi dia ingin menjadi seorang ayah yang baik.
Kaisar ingin menunjukkan kepada ayahnya, bagaimana caranya seorang pria, harus mencintai istri dan anaknya.
__ADS_1
"Karena Papahku orang Jepang asli!" ucap Kaisar pelan.
"Oh... maafkan aku, sayang! Sudah bikin kamu jadi sedih lagi, aku tidak akan banyak bertanya mulai sekarang!" Delia mencium telapak tangan Kaisar. Kaisar memejamkan matanya. Tidak pernah dia merasakan ketenangan sedemikian rupa.
"Tuan, Nyonya, makan malam sudah siap!" ucap bibi, Delia melihat ke belakang, ah.. makan malam yang sangat romantis walaupun tercetus secara tiba-tiba.
Si bibi juga memutarkan lagu romantis untuk menyertai makan malam mereka berdua. Bunga-bunga dan juga lilin di sepanjang jalan, hati Delia berbunga-bunga jadinya.
"Terimakasih, BI!" ucap Kaisar, lalu menarik Delia untuk duduk di kursi yang telah disediakan oleh Kaisar.
"Sama-sama, Tuan! Semoga kalian suka dengan makan malam yang kami persiapkan! Maaf kalau kurang berkenan, karena ini begitu mendadak, maaf sekali lagi!" Kaisar malah tersenyum.
"Kalian semua saya perbolehkan untuk berlibur dan bersenang-senang di luar, ajaklah Burhan kemanapun kalian mau. Bibi bisa menggunakan kartu yang biasa digunakan untuk membeli kebutuhan rumah tangga ini! Gunakan dengan bijak, ok?" demi mendengar ucapan Kaisar, si bibi sampai terharu.
"Terima masih, Tuan?! Nikmatilah makan malam kalian, kami permisi!" kemudian para pelayan dan semua karyawan yang bekerja di rumah itu pergi keluar, sesuai instruksi Kaisar. Delia tersenyum manis, mencium bibir Suaminya sekilas. Kaisar tampak protes.
"Gawat kenapa, sayang?" Kaisar sudah panik.
"Gawatlah! Aku bisa makin jatuh cinta kepadamu! Kalau kamu terlalu baik jadi orang!" ucap Delia dengan wajah polosnya, Kaisar menghembuskan nafas lega.
"Aku sudah panik tadi, sayang! Kamu selalu saja jahil!" Kaisar mencubit hidung Bangir sang istri.
"Ayo kita makan! Ala DeKa!" Kaisar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan sang istri yang tambah absurd saja. Udara dingin di atas rootrof semakin mencekam, Kaisar yang takut istri dan anaknya merasa kedinginan, ingin segera menyudahi makan malam ini, tetapi Delia tidak mau, ingin duduk-duduk di taman kaca yang banyak bunga sakura di sana.
"Kita sudah makan malam, kita ke kamar saja, yuk!" ajak Kaisar, menarik tangan istrinya. Tapi Delia menolak keras.
__ADS_1
"Kita jarang-jarang ada di sini, sayang! Purnama itu juga gak setiap hari dagang! Aku ingin kita bermandikan cahaya rembulan, ayo kita duduk-duduk di sana!" tunjuk Delia ke samping rumah kaca itu, disana ada sebuah kursi gantung yang sangat ciamiknya. Delia sangat suka.
Kaisar hanya mengikuti apapun keinginan Delia. Ya, malam ini mereka berdua tampak seperti dua sejoli yang sedang berkencan. Berkencan? Ah, Kaisar baru sadar, bahwa dirinya dan Delia sama sekali belum pernah berkencan sebelumnya.
"Maafkan, Mas, sayang!" ucap Kaisar mulai sendu lagi.
"Eh, ada apa?" tanya Delia keheranan. Kaisar melingkarkan tangannya ke perut Delia, mengelus-elus secara lembut. Tempat favorit Kaisar sejak Delia benar-benar hamil.
"Mas ingat, kalau kita selama ini belum mempunyai kencan sama sekali, layaknya pasangan normal lainnya." ucap Kaisar dengan suara pelan, ada rasa sesal di sana.
"Tidak apa-apa, sayang! Bagiku, bersama kamu setiap hari adalah kencan terbaik dalam hidupku!" ucap Delia dengan senyum manisnya, sekilas Delia mengecup bibir Kaisar.
"Istriku ini, semakin hari jadi makin pinter menggombal! Aku jadi makin tergila-gila di buatnya!" Kaisar lalu menghujani Delia dengan ciuman mautnya.
Ditengah malam itu, disertai cahaya purnama yang Gilang gumintang, sepasang suami istri yang sedang mereguk manisnya cinta dan kebersamaan, yang tengah di mabuk asmara, menghabiskan malam panas bersama. Malam yang kelak akan menjadi kenangan terindah di antara mereka. Delia dan Kaisar saling memeluk dan mencium, setelah selesai dengan olahraga mereka malam ini.
"Malam ini akan menjadi sejarah untuk kita!" ucap Delia sambil menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
"Bagi Mas, setiap waktu bersama denganmu adalah saat paling indah dan berharga!" Kaisar mengecup kening Delia.
"Debai, baik-baik saja? Maaf ya, kalau tadi Mas terlalu bersemangat tengokin debai nya!" Kaisar memasang wajah menyesalnya, Delia tambah gemes jadinya.
"Anak kita anak yang baik, dia tidak pernah menyusahkan Mamahnya. Dia hanya sedikit usil, karena mengerjai Papahnya waktu itu, yang membuat Mas sampai sakit selama satu bulan gara-gara morning sick!" Delia menatap lembut wajah suaminya yang kini terasa menghangat tatapannya, ah, Delia benar-benar telah jatuh pada pesona Om Om Tampan yang ada di hadapannya.
Delia berusia 20 tahun dan Kaisar berusia 35 tahun, jadi wajar bukan? Kalau Kaisar di panggil Om Om oleh Delia?
__ADS_1
"I love you so much, Om Om Tampanku!" tiba-tiba Delia berteriak sangat keras, Kaisar sampai menggeleng dengan kelakuan istrinya. 'Untung saja para pekerja di rumah sudah saya ungsikan tadi!' bathin Kaisar.