Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
24. Kaisar Mulai Pulih


__ADS_3

Secara perlahan, Kaisar mulai mau berbicara, walaupun masih sebatas kata-kata pendek dan terbata-bata, tetapi Delia sangat senang, setidaknya, suaminya tidak seperti tadi siang, waktu pertama kali datang dari luar.


"Sayang, gimana kalau kita jalan-jalan sebentar ke luar?" tanya Delia hati-hati, takut suaminya tidak berkenan.


"Mas hanya ingin kamu peluk, ga berminat melakukan yang lainnya!" ucap Kaisar sambil meremas tangan Delia.


Delia berdesir hatinya. Sejak mereka sepakat untuk menjalani rumah tangganya secara normal, Kaisar seakan tidak bisa lepas dari Delia. Delia merasa sebagai seorang wanita yang paling beruntung. Rasanya Delia jatuh cinta setiap hari kepada suaminya tersebut.


"Kita seharian ini sudah di ranjang, sayang! Aku dan anak kita bosan rasanya." Delia mengelus perutnya yang mulai membuncit. Mendengar kata-kata anak, seketika Kaisar menangis, ya, perasaan Kaisar saat ini sedang kalut. Mengingat masa kecilnya yang bisa dikatakan nyaris tak berayah sama sekali.


Ayahnya, tidak pernah sekalipun berpikir untuk melihat atau mencari dirinya. Kaisar selama hidupnya tidak pernah merasakan cinta seorang ayah. Dengan sendu dan berderai air mata, Kaisar mencium perut Delia.


"Anak Papah, baik-baik di perut Mamah, ya? Papah janji kalau kamu sudah lahir, Papah pasti akan mencintai kamu dan Mamahmu. Tidak akan meninggalkan kalian, tidak akan meninggalkan kalian, tidak akan pernah, Papah pasti akan selalu mencintaimu!" ucap Kaisar tersendat-sendat, Delia menangkap kesedihan yang begitu mendalam dalam suara Kaisar. Derai air matanya menghiris hati Delia.


"Entah apa yang sudah kau lalui, percayalah, aku dan anak kita akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kita selalu bersama!" Kaisar semakin menjadi, Isak tangisnya semakin membuat pilu. Sepanjang mengenal Kaisar, baru kali ini, Delia melihat Kaisar seperti ini.


"Jagalah anak kita, aku janji sama kamu, sayang! Aku tidak akan pernah membuat kami dan anak kita menangis!" Kaisar semakin mengeratkan pelukannya. Delia hampir sesak nafas, "Maaf, sayang!" Lalu Kaisar melonggarkan pelukannya, dan mencium anaknya lagi. Ya, tempat favorit Kaisar sekarang adalah perut Delia, bukan bibir lagi.

__ADS_1


Delia sampai merasa cemburu dengan anaknya sendiri yang belum lahir, Delia kadang merasa konyol dengan dirinya sendiri. "Kau lebih mencintai anak kita daripada aku, kalau anak kita lahir, kau sudah dipastikan akan melupakan aku!" Delia melengos pergi.


Kaisar menarik tangan Delia, tidak mau ditinggalkan.


"Aku akan lebih mencintaimu, sayang! Karena aku berterimakasih kepadamu, sudah memberikan seorang jagoan untukku!" Delia tersenyum, merasa bahagia akhirnya suaminya mulai pulih.


"Ah, aku senang sekali. Akhirnya kau sudah membaik!" Delia mencubit pipi Kaisar. "Au.. di larang KDRT, sayang!" Delia tertawa-tawa demi melihat ekspresi Kaisar yang begitu lucu.


"Punya suami setampan Om Om, apakah aku tega untuk berbuat KDRT, Hmmmmm?" Delia malah menggoda Kaisar dengan menggelitik pinggang Suaminya. Kaisar yang tadi sempat drop dan hilang akal, kini semakin membaik.


"Sayang, apa kau bisa menceritakan, apa yang terjadi denganmu di makam Mamah?" tanya Delia sambil menatap wajah Kaisar dengan intens. Seketika Kaisar terdiam sejenak, raut mukanya aneh, Delia mengalami kesulitan untuk membaca, disana bisa di lihat, ada kemarahan yang begitu besar, ada kesedihan yang mendalam, ada putus asa yang memilukan.


"Aku bertemu dengan papahku, di makam mamah!" Delia terhenyak sejanak. Ada masalah apa sebenarnya, kenapa Kaisar mengatakan itu dengan mimik marah dan sedih.


"Bukankah senang, bertemu dengan Papahmu?" tanya Delia, Kaisar melotot, tampak akan marah, tapi ketika matanya melihat perut Delia yang sudah mulai membuncit, hati Kaisar tenang kembali.


"Dia Papah yang jahat! Apa kau tahu? Sepanjang hidupku, aku tidak ingat, bahwa aku seorang anak yang berayah. Selama ini, aku sudah menganggap bahwa diriku seorang yatim, tak berayah!" suara Kaisar parau, agak tersekat di tenggorokan. Delia bisa menangkap kesedihan yang mendalam, Delia tidak tega untuk bertanya lebih banyak lagi. Tapi Kaisar tampaknya masih ingin bercerita. Delia hanya mendengarkan saja, tidak berani berkomentar lagi.

__ADS_1


"Ayahku, meninggalkan Mamahku demi wanita lain, yang dia anggap kaya raya. Pria materialistis itu, tidak perduli dengan jerit dan tangis anak istrinya. Dia hanya ingin kesuksesan dirinya, sehingga dengan tega, menikahi perempuan yang lebih kaya dari Mamahku, di belakang Mamah. Mereka memiliki seorang anak laki-laki, mereka tertawa-tawa di atas derai air mata ibuku. Sepanjang hidup ini, aku tidak akan pernah melepaskan mereka!" Mata Kaisar penuh dengan kilatan emosi, marah dan dendam.


Delia sampai bergidik ngeri. "Sayang, aku baru tahu kalau kehidupan yang kamu jalani, ternyata begitu memilukan. Maafkan, selama ini aku memperlakukan kamu seperti seorang penjahat. Aku janji, aku akan semakin berusaha, untuk menjadi seorang istri dan ibu yang baik untuk anak-anak kita, kamu jangan bosan, untuk mengingatkan aku!" Delia kemudian membenamkan wajahnya di pelukan Kaisar. Menyesap keharuman dan ketenangan di dada suaminya yang bidang dan berotot. Kaisar mencium kening Delia dengan penuh haru dan bahagia.


'Aku akan selalu berusaha memberikan cinta yang banyak, untukmu dan anak kita!' ucap Kaisar dalam hati.


'Aku pasti akan berusaha mencintai kamu, sayangku, cintaku!' janji Delia dalam hati.


Tiba-tiba Delia melompat, hati Kaisar sudah mencelos, merasa khawatir terjadi sesuatu dengan anak yang ada dalam perut Delia. " Hati-hati Sayang aku takut kenapa-napa dengan anak kita!" Kaisar berdiri dan mendekati Delia mengecek apakah terjadi sesuatu dengan anaknya yang masih ada dalam perut Delia.


"Aku baik-baik aja sayang! Anak kita juga baik-baik aja! Nggak usah khawatir, ya?" Delia menarik tangan Kaisar untuk pergi keluar kamar Kaisar tanpa keheranan dengan kelakuan dia ini sehingga tidak tahan untuk bertanya.


"Kita mau ke mana, Sayang? Ini sudah mau malam. Apakah tidak sebaiknya, kalau kita menonton televisi saja? Bukankah tadi kau bilang bosan?" tanya Kaisar.


Delia menggelengkan kepalanya, kemudian menatap Kaisar. Mata Delia yang berbinar-binar, membuat hati Kaisar merasakan kebahagiaan. Ya, ketika bersama dengan Delia, Kaisar merasa hatinya sangat hangat dan merasa sangat dicintai oleh perempuan itu.


"Kita mau kemana? Jangan berlari, Mas takut kenapa-kenapa dengan anak kita, sayang!" Delia tersenyum.

__ADS_1


"Aku ingin kita makan malam di rootrof sayang!" Delia kemudian mencium bibirnya Kaisar. Kaisar terkesiap dengan Istrinya yang sejak hamil menjadi sangat agresif.


"Bibi, tolong siapkan makan malam kami di rootrof, ya?" tanpa menunggu jawaban, Delia sudah menarik suaminya ke lift, biar lebih aman. "Kita mau apa di sana? Nanti kamu masuk angin!" Kaisar menahan langkah Delia.


__ADS_2