Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
56. Haruskah?


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan restoran ini, kalau aku pergi dari sini? Kenapa sih, kamu selalu saja egois dan selalu saja ingin menang sendiri?" sengit Delia, benar-benar merasa kesal dengan Kaisar, sang suami.


"Kau bisa menunjuk salah satu dari karyawanmu, yang kamu percayai. Untuk dijadikan seorang manajer dan kamu bisa serahkan semuanya kepada pihak profesional untuk mengawasi. Kau hanya tinggal menerima laba dari usaha restoran ini!" ucap Kaisar dengan begitu fasih kepada sang istri.


"Tapi ini adalah usaha pertamaku dan aku sangat menikmatinya. Kenapa kau selalu merusak semua kebahagiaanku?" kesal sekali rasanya hati Delia saat ini.


"Kau Lihatlah! Ada berapa banyak perusahaan yang di bawah manajemen Kaisar corporation di seleuruh dunia? Apakah kau melihat aku menetap di negara itu? Aku menyerahkan semuanya kepada manajemen profesional. Aku hanya datang ketika ada masalah dan menyelesaikan itu!" ucap Kaisar, sambil duduk di sofa yang ada di kamar Delia.


"Aku tahu kalau bicara masalah bisnis. Kau pasti adalah ahlinya. Karena kau adalah seorang pengusaha mumpuni di bidangmu. Tapi bagiku restoran ini sudah seperti anakku sendiri!" ucap Delia.


"Dia tidak akan mungkin lebih berharga dariku kan? Suami kamu?" ucap Kaisar sambil memeluk sang istri. Delia terkesiap sejenak.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" tanya Delia, pasrah pada akhirnya.


"Aku hanya menginginkan kamu selalu siap sebagai istriku, melayani segala kebutuhan diriku!" ucap Kaisar, mulai lagi dengan hobby yang suka mengendus aroma tubuh Delia.


Delia sampai merinding dengan kelakuan suaminya yang mesum itu. "Kau kenapa suka sekali melakukan hal itu? Geli tahu!" protes Delia, berusaha menyingkirkan wajah Kaisar dari ceruk lehernya.


Kaisar bahkan sudah membuat beberapa kismark di sana, Delia mendesah frustasi di buatnya. Kaisar, dia selalu berhasil membuat Delia tidak berdaya dengan pesonanya.


"Ahhhh... kau, kau selalu saja nakal!" ucap Delia, ketika sang suami sudah berhasil membuat dirinya terbaring di atas ranjang. Wajah Delia saat ini semakin merona, malu rasanya, karena dirinya selalu saja kalah kalau melawan Kaisar.


Sejak pertemuan dengan Kaisar, dirinya telah tiga kali, jatuh ke situasi semacam ini. Kaisar selalu saja berhasil membuat dirinya jatuh dalam pesonanya. 'Suami mesum!' keluh Delia dalam hatinya.


Setelah puas, Kaisar kemudian memeluk tubuh sang istri dalam kuasanya. "Inilah tugasmu sebagai istriku. Aku tidak akan pernah membiarkan kamu cape bekerja, aku akan memenuhi segala kebutuhan kamu!" ucap Kaisar sambil mencium kening Delia.

__ADS_1


Hati Delia berbunga-bunga saat ini, tapi ketika mengingat dirinya harus meninggalkan Turki dan juga restoran yang sudah dua tahun dia kelola, rasanya Delia juga tidak rela.


"Apa kau tidak bisa, kalau kau saja yang tinggal di Turki?" akhirnya Delia membuka suaranya.


"Semua pusat Kaisar corporation itu di Indonesia. Aku datang ke Turki hanya untuk membereskan permasalahan yang terjadi saat ini dan Alhamdulillah sudah hampir 60% berhasil aku selesaikan." ucap Kaisar.


"Tapi aku tidak sanggup meninggalkan restoran ini, aku terlalu mencintainya!" ucap Delia, tetapi Kaisar malah menatapnya dengan tajam.


"Tidak mungkin kan? Rasa cintamu terhadap restoran ini, melebihi besarnya rasa cintamu kepadaku?" pertanyaan Kaisar membuat Delia menjadi jengah dan kesal.


"Apa hubungannya? Kenapa sih kau selalu begitu?" protes Delia sambil bangkit dari ranjang. Dan pergi ke kamar mandi.


"Tentu ada hubungannya! Kalau kau rela meninggalkan restoran ini demi aku, tentu aku akan sangat bahagia!" ucap Kaisar.


"Kenapa aku yang harus berkorban untukmu? Kenapa bukan kau saja?" tanya Delia di dalam kamar mandi.


Delia tidak menjawab apa yang dikatakan oleh suaminya. Dia memilih lebih fokus untuk mandi agar bisa segera pergi ke restoran dan membantu karyawan-karyawannya saat ini.


Begitu selesai, Delia langsung mengganti pakaiannya dengan pakaian formal, khas untuk bekerja. Karena dia ingin profesional dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pemilik restoran itu.


"Aku akan membangunkan sebuah restoran, yang sama persis dengan restoran ini. Jadi kau bisa tetap mengelolanya di Indonesia!" ucap Kaisar sebelum Delia meninggalkan kamar itu.


"Pergilah ke restoran! Kalau kau ingin makan!" ucap Delia singkat dan kemudian langsung meninggalkan Kaisar.


Kaisar tampak bengong di tempatnya. Ketika melihat reaksi sang istri yang tampak mengacuhkan tawarannya tadi.

__ADS_1


"Aku benar-benar bingung, bagaimana untuk menaklukkan Istriku itu. Dia terlalu keras dan sangat sulit tentang ditaklukan!" ucap Kaisar merasa frustasi.


Kaisar lebih memilih untuk melawan musuh bisnisnya, daripada melawan Delia. Setidaknya itu jauh lebih baik. Ketika dia melawan musuh-musuhnya di dunia bisnis, dia bisa menggunakan segala cara, untuk menang. Tetapi menghadapi Delia? Tidak bisa dirinya untuk lakukan dengan menggunakan rumus dan strategi yang selama ini selalu dia gunakan dalam rangka menghancurkan musuh-musuhnya.


"Aku harus memikirkan cara, untuk membuat Delia bersedia meninggalkan restoran ini secara sukarela!" ucap Kaisar.


Tiba-tiba ponsel Kaisar berdering dan ternyata itu adalah dari Sekretaris sementara dirinya, selama tinggal di Turki.


"Ada apa lagi? Kenapa kau sangat hobi sekali menggangguku?" sengit Kaisar dengan emosi begitu mengangkat telepon tersebut.


"Maafkan saya Tuan, ini, hmmmm, Tuan Benjamin saat ini ada di kantor Tuan. Dia ingin menemuimu!" ucap sekretarisnya dengan suara terbata-bata.


"Mau apa lagi, Pak Tua itu menemuiku? Tidak bosan dia mengemis padaku!" bentak Kaisar.


"Maafkan saya Tuan! Tapi Tuan Benjamin memaksa untuk bertemu denganmu!" ucapnya lagi. Kaisar meraup wajahnya dengan kasar, lalu menarik nafas dalam.


"Katakan saja kepada Pak Tua itu! Kalau aku sudah kembali ke Jakarta!" ucap Kaisar dengan marah.


"Tapi saat ini, Tuan Benjamin sedang menatap ke arahku. Bagaimana aku bisa mengatakan hal seperti itu? Tolonglah Tuan datanglah ke kantor sebentar saja, untuk menemui beliau!" ucapnya penuh dengan permohonan. Kaisar sampai marah di buatnya.


"Kau berani sekali memerintahkanku untuk melakukan sesuatu? Besok kau lebih baik tidak usah kembali masuk kerja, karena aku memecatmu!" ucap Kaisar langsung menutup panggilan telepon tersebut.


Nafas Kaisar saat ini memburu. Dia merasa sangat marah dengan sekretarisnya tersebut. Yang tidak bisa mengusir seseorang yang bernama Benjamin itu.


"Tua bangka itu, sepertinya sudah bertekad untuk membuat marah diriku. Dia seperti yang sudah bosan hidup!" kesal Kaisar.

__ADS_1


Dengan kemarahan yang memuncak di dalam hatinya. Kaisar pun kemudian pergi meninggalkan restoran tersebut, dia tidak memperdulikan panggilan Delia yang memintanya untuk makan siang dulu.


"Ada apa dengan pria aneh itu? Dia datang dan pergi sesuka hatinya!" kesal Delia.


__ADS_2