
"Dengarkan aku! Aku tidak meminta hal yang mewah atau sesuatu yang sulit sulit kau berikan. Aku hanya memintamu untuk menjadi istriku dan nenjadi ibu dari anakku yang baik. Apakah itu sangat berat?" tanya Kaisar kepada Delia.
Delia tampak menembuskan nafasnya, tampak sekali bahwa dia sangat frustasi melihat Kaisar yang selalu saja memaksakan kehendak terhadap dirinya.
" Apakah kau tahu? Kalau kelakuanmu ini membuatku jadi ilfil padamu?" tanya Delia sambil menatap tajam ke arah Kaisar.
"Kelakuan apa maksudmu? Aku tidak paham. Apakah permintaanku sangat berat?" tanya Kaisar sambil mencoba untuk menggenggam tangan Delia, tetapi Delia selalu berusaha untuk menepiskannya.
"Kelakuan kamu yang suka mengamuk dan menghancurkan barang, itu yang buatku jadi ilfil dan malas tinggal bersamamu!" ucap Delia kemudian berniat meninggalkan Kaisar.
Tetapi tiba-tiba saja Kaisar memeluk tubuh Delia dari belakang. Dia mengendus-ngendus tengkuk Delia sehingga Delia merasakan kegelian karena perbuatan Kaisar tersebut.
"Apa yang kau lakukan padaku? Cepat lepaskan, lepaskan aku?" Delia berusaha untuk memberontak dari pelukan Kaisar.
"Kau ini sudah seperti kucing saja, hobbymu mengendus-ngendus terus. Cepat lepaskan aku. Aku tidak suka!" ucap Delia terus berusaha melepaskan dirinya dari Kaisar.
Tetapi Kaisar sama sekali tidak berniat untuk melepaskannya. Kaisar kini malah mulai mencium tengkuk Delia dengan tidak sabar.
"Apa yang mau kau lakukan? Kenapa kau selalu seperti ini padaku?" Delia menggeram frustasi dengan kelakuan suaminya.
"Aku kan sudah bilang kepadamu, bahwa aku sudah kecanduan dengan aroma tubuhmu. Aku tidak bisa hidup tanpa itu!" ucap Kaisar kini kembalikan tubuh Delia dan mulai mencium bibirnya.
Kalau Kaisar sudah dalam mode seperti ini, Delia menjadi serba salah dan tidak bisa mengelak lagi dari keinginan suaminya. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, Kaisar akhirnya membopong tubuh Delia ke atas kasur, yang sejak tadi seperti terus melambai-lambai kepadanya.
__ADS_1
"Aku paling tidak senang, kalau kamu sudah melakukan hal seperti ini!" tetapi tubuh Delia mengatakan lain daripada mulut Delia.
Tubuh Delia yang menggeliat penuh dengan kenikmatan dan mendesah, itu adalah saksi dan bukti bahwa Delia menikmati segala cumbuan yang diberikan oleh suaminya.
"Apa kau tahu, kau selalu bisa menjadi penyembuh dari setiap lukaku. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu. Tolonglah aku, sayang! Kau kembalilah bersamaku dan kita mulai hidup dengan lembaran baru kita!" cap Kaisar diantara sela-sela aktivitasnya yang mengundang keringat dan penuh kenikmatan.
"Bukankah kau pernah mengatakan, bahwa kau akan menceraikanku. Setelah 5 tahun dari pernikahan kita atau ketika aku sudah memberikan anak untukmu. Dan di saat itu sudah jatuh takakmu untukku!" Ucap Delia dengan terisak.
"Apa, talak? Aku tidak pernah menalakmu dan perjanjian itu pun adalah di antara aku dan kedua orang tuamu. Bukan du antara aku denganmu!" ucap Kaisar sambil menatap tajam ke arah Delia.
Kata-kata Delia tadi benar-benar menurunkan mood-nya untuk bercumbu dengan sang istri.
"Kalau kau ingin kembali lagi padaku, lebih baik kita melakukan ijab kabul kembali. Agar pernikahan kita statusnya menjadi jelas. Dan kau juga harus merobek surat perjanjian yang kau berikan kepada kedua orang tuaku!" ucap Delia memberikan syarat kepada Kaisar apabila ingin kembali kepadanya.
Kaisar turun dari ranjang milik Delia dan tidak melanjutkan lagi aktivitasnya tadi. kata-kata Delia yang mengatakan bahwa status pernikahan mereka tidak jelas membuat Kaisar menjadi merasa bersalah dan merasa tidak berhak untuk menyentuh istrinya itu.
"Bersiaplah! Aku akan mencarikan seorang Ustadz untuk menikahkan kita kembali!" ucap Kaisar kepada Delia, kemudian dia langsung meninggalkan Delia sendiri di dalam kamar.
Delia terhenyak sejenak, karena Kaisar yang meninggalkannya dalam keadaan yang sedang tangguh. Delia mendesah frustasi, ketika melihat suaminya yang selalu melakukan apapun sekehendak hatinya.
"Dasar psikopat! Selalu saja kau membuatku jadi pusing!" ucap Delia sambil cemberut, kemudian dia pun memunguti pakaiannya yang berserakan di atas lantai dan langsung pergi ke kamar mandi.
"Dia benar-benar tidak pernah menghargai orang lain! Selalu saja berbuat seperti itu!" ucap Delia misuh-misuh, masih kesal dengan kelakuan Kaisar yang meninggalkannya begitu saja di atas ranjang mereka.
__ADS_1
Begitu selesai mandi dan mengenakan pakaiannya. Delia pun langsung menemui Takeshi yang masih asyik bermain dengan Deka di taman yang ada di samping restoran miliknya.
Tampaknya Kaisar tidak keberatan. Kalau putranya bermain dengan Takeshi. Oleh karena itu, dia tidak membuat keributan ketika tadi lewat di sana, ketika melihat Takeshi yang sedang asyik bermain dengan Deka, putranya. Kaisar hanya menatap sekilas kemudian langsung meninggalkan tempat itu.
Bahkan Takeshi merasa keheranan dengan apa yang dilakukan oleh Kaisar tersebut. Yang sungguh di luar kebiasaannya.
"Halo Deka, ini Mamamu, sayang. Bagaimana kabarnya? Dari tadi kau bermain terus sama Uncle Takeshi. Apa kau tidak bosan Takeshi bermain dengan Deka seharian?" tanya Delia sambil memangku Delia dalam pelukannya.
"Aku jauh-jauh dari Jepang ke Turki, memang sengaja ingin bersama dengan Deka. Jadi aku akan benar-benar memanfaatkan waktu tersebut untuk bisa bermain dengan Deka, sepuasku!" ucap Takeshi sambil menatap Deka yang kini sedang tersenyum ke arahnya.
"Deka sungguh sangat beruntung sekali, karena memiliki Uncle seperti kamu, yang baik dan juga menyayanginya!" Delia memuji Takeshi, sehingga Takeshi pun hanya bisa tersipu malu.
"Kau bisa saja. Dalam membuatku merasa senang. Aku memang menyayangi Deka. Apalagi kan selama dia dalam perutmu dan saat kamu melahirkan dia, aku yang selalu mendampingimu. Jadi tidak heran, kalau kami memiliki ikatan batin yang kuat, satu sama lain!" ucap Takeshi sambil menggenggam tangan Deka dan menciumnya dengan penuh kasih sayang.
"Ayo kau makan siang dulu bersamaku. Kau pasti sangat lapar, setelah bermain dengan Deka seharian!" Delia kemudian mengajak Takeshi ke restorannya, untuk bisa menikmati makan siang di sana bersama dengan dirinya.
Tampak beberapa orang karyawan, yang sedang berbisik-bisik di belakang Delia.
"Wah majikan kita hidup yang sangat beruntung ya? Dia dikelilingi oleh orang-orang tajir dan tampan!" ucap salah seorang karyawan Delia sambil menatap iri Delia yang saat ini sedang makan bersama dengan Takeshi. yang super tampan tentu saja.
"Tapi kalau suaminya nanti datanglah, dan melihat kemesraan itu. di antara Nyonya Delia dan Tuan Takeshi, restoran kita pasti menjadi korbannya lagi!" ucap karyawannya Delia yang lain sambil menatap sinis ke arah Delia.
Delia mendengarkan semua percakapan karyawan itu. Tetapi dia hanya pura-pura tidak mendengarkannya. Delia tetap asyik makan makanan yang kini sudah terhidang di hadapannya.
__ADS_1