Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
67. Geram


__ADS_3

"Kau tenanglah, aku pasti akan memberikan pelajaran kepada mereka. Orang-orang yang sudah berani menyakitimu!" ucap Kaisar dengan geram.


"Sudahlah! Ayo kita istirahat saja. Daripada kita membicarakan mereka, pasti tidak akan pernah ada habisnya. Dan juga tidak berguna sama sekali. Biarkan saja mereka hidup dengan cara mereka sendiri, yang penting kita bertiga hidup bahagia bukan?" ucap Delia memberikan senyum terbaiknya kepada sang suami.


"Kau memiliki hati yang begitu baik Delia. Aku sungguh merasa beruntung sekali menjadi suamimu!" ucap Kaisar sambil mengecup bibir Delia. Delia terhanyut dalam pesona seorang Kaisar dan akhirnya dia pun menyerahkan segalanya di hari pertama mereka kembali ke Indonesia.


Cunta Delia dan Kaisar selalu membara setiap harinya, karena mereka kini semakin menyadari, bahwa mereka tidak bisa hidup tanpa salah satu dari yang lainnya.


" Terima kasih karena kau telah memberikan kebahagiaan dan begitu nyata dalam kehidupanku!" ucap Kaisar setelah Mereka menyelesaikan ibadah terindah dalam hidup manusia di dunia ini.


Delia yang merasakan tubuhnya lelah akhirnya pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang telah basah oleh keringat karena perbuatan Kaisar sang suami.


"Kau setiap hari semakin ganas saja, aku sampai tidak bisa mengimbangimu!" ucap Delia sambil berlalu dari hadapan Kaisar.


Kaisar terkekeh mendengarkan keluhan sang istri kemudian dia pun mengikuti Delia ke kamar mandi.


" Kau mau apa? Keluarlah, Aku ingin mandi sendiri!" ucap Delia sambil mendorong tubuh Kaisar untuk keluar dari kamar mandi.


" Oh Ayolah sayang aku merindukan untuk mandi bersama denganmu!" ucap Kaisar dengan penuh permohonan kepada sang istri.


Tetapi Delia keukeuh untuk menolak keinginan tersebut.


"Kalau mandi denganmu, tidak akan cukup setengah jam. Pasti bisa sampai 2 atau 3 jam, dan itu tidak akan menjadi solusi apapun untukku. Itu hanya menambah sakit di badanku!" sengit Delia sambil mendorong tubuh Kaisar untuk keluar dari kamar mandi.


Akhirnya Kaisar pun mengalah, karena dia tidak ingin membuat istrinya menjadi marah.


Di dalam kamar mandi, Delia mulai menangis lagi. Delia mengingat kembali, segala perlakuan kedua orang tua angkatnya, yang selalu tidak adil terhadap dirinya, dan juga anak kandung mereka.


"Di mana sebenarnya keberadaan orang tua kandungku sendiri? Aku sungguh ingin bertemu dengan mereka! Hiks hiks!" air mata Delia terus mengalir di pipinya sehingga tidak menyadari bahwa dia telah lama berada di kamar mandi.

__ADS_1


Terdengar Kaisar yang mulai tidak sabar menunggu, dia mulai menggedor-gedor pintu dan bertanya tentang keadaan Delia.


"Sayang, kenapa kau lama sekali di dalam sana? Apakah kau baik-baik saja?" tanya Kaisar dengan nada yang khawatir.


"Aku tidak apa-apa, tadi perutku sakit. Karena itu aku jadi lama untuk keluar dari kamar mandi. Tunggulah sebentar lagi!" Delia kemudian menghapus air matanya dan mulai mandi. Setelah selesai, Delia pun keluar dari kamar mandi.


Kaisar memperhatikan wajah istrinya dengan seksama. Kemudian dia menarik tubuh Delia yang hanya menggunakan handuk saja ke dalam pelukannya.


"Lepaskan aku! Biarkan aku menggunakan pakaianku dulu. Kau, pergilah mandi juga, pasti kau juga lelah!" ucap Delia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan sang suami.


Tetapi Kaisar malahan semakin mengeratkan pelukannya. "Percayalah, aku akan selalu ada di sisimu. Kau harus kuat dalam menghadapi apapun. Sayangku, jangan lemah demi aku dan demi Putra kita!" ucap Kaisar kemudian mencium kening sang istri


Delia terisak tanpa merasa terharu dengan cinta yang begitu besar yang diberikan oleh Kaisar kepadanya.


"Terima kasih untuk cintamu padaku. Tolong maafkan aku, yang selama beberapa tahun lalu, telah membuatmu kesakitan, dengan pergi tanpa kabar dan berita!" isak Delia dalam tangisnya.


Kaisar kemudian mencarikan pakaian ganti untuk Delia dan memintanya untuk menggunakan pakaian itu.


Sementara dirinya sendiri, kemudian pergi ke kamar mandi dan dia pun membersihkan tubuhnya yang lengket karena sisa-sisa percintaan mereka.


"Aku pasti akan selalu melindungimu, Delia. Aku tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia di atas air matamu!" janji Kaisar sambil menatap cermin yang ada di hadapannya.


"Aku pasti akan membuat perhitungan dengan mereka semua, yang sudah berani memberikan kehidupan bagai di neraka kepada istriku, saat mereka tinggal bersamanya!" Kaisar benar-benar geram ketika mengingat betapa wajah istrinya sangat membengkak. Pasti karena terlalu banyak menangis ketika di kamar mandi tadi.


Setelah menyelesaikan ritual mandi. Kaisar pun, kemudian keluar dari kamar mandi. Kaisar mendapati istrinya sudah tertidur pulas di atas ranjang.


"Dia pasti sangat lelah lahir dan batin. Pasti sangat menyakitkan, ketika tidak dianggap oleh orang yang kita anggap keluarga! Kasihan sekali nasib istriku ini!" ucap Kaisar kemudian mencium kening Delia.


Kaisar kemudian menggunakan pakaian tidurnya dan ikut bergabung dengan Delia dan tidur siang.

__ADS_1


Kaisar sudah meminta kepada sekretarisnya, untul mengatur pertemuan nanti malam bersama dengan ayah dan ibu angkat dari Delia. ini mata Delia sedang terpejam tetapi Kaisar masih bisa merasakan kesedihan di dalam hati sang istri.


Sementara itu di kediaman ayah dan ibu angkat Delia terjadi kehebohan.


"Untuk apa Kaisar minta bertemu dengan kita mah!" tanya Bima seakan tidak senang.


"Pasti mau memberikan oleh-oleh kepada kita kan mereka baru kembali dari Turki!" ucap Stella dengan mata yang berbinar-binar.


"Kau jangan bermimpi! Selama ini, Kaisar tidak pernah menganggap keluarga kita bagian dari keluarganya. Bagaimana mungkin dia mengingat untuk memberikan hadiah untuk kita? Itu hanya ada di dalam kepalamu!" sengit Bima sambil menatap adiknya.


Stella misuh-misuh dan mengerucutkan bibirnya. "Kalian ini selalu saja ribut membuat kepala ayah rasanya mau meledak saja!" tegur ayahnya sambil berlalu dari hadapan mereka.


Sang ayah lalu meninggalkan Bima dan Stella ayah angkatnya Delia pun berbicara dengan istrinya. "Kira-kira. Menurut mama, untuk apa Kaisar ingin bertemu dengan kita?" tanya Ayah angkatnya ke Delia kepada sang istri.


"Mama mana tahu? Memangnya Mama ini seorang dukun yang bisa menebak pikiran orang lain?" jawab istrinya dengan cemberut.


"Semuanya gara-gara Mama sama Stella yang sangat hobi sekali berbelanja barang branded sehingga membuat keuangan keluarga kita menjadi kacau balau!" protes Ayah angkatnya Delia kepada istrinya.


"Memangnya Papa mau kalau Stella dan Mama direndahkan oleh para sosialita itu?" tanya istrinya sambil mendekati suaminya.


"Lebih baik, Mama tidak usah bergaul dengan mereka. Mereka tidak membawa kebaikan untuk kita! Mereka hanya membuat kita jadi bangkrut. Karena selalu membuat Mama berbelanja barang-barang yang tidak dibutuhkan!" sengit suaminya kemudian meninggalkan istrinya.


"Sebaiknya Mama mulai menghilangkan kebiasaan Mama yang konsumtif itu. Mulailah memikirkan masa depan keluarga kita, Mah!" ucap suaminya sambil pergi meninggalkan sang istri.


"Bukankah suaminya Delia itu orang kaya? Keapa Papa tidak bisa meminta uang kepadanya?" ucap istrinya kepada sang suami.


"Ketika Delia tinggal bersama kita. Mama selalu menyakiti hatinya. Apakah mungkin Delia akan membiarkan suaminya memberikan uang untuk kita? Coba Mama pikir dengan otak Mama!" ucap suaminya kepada sang istri.


"Sepertinya Mama tidak pernah benar, di mata papa!" ucap istrinya kepada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2