
Delia terus mundur dan menghindari dari kontak fisik yang akan dibuat oleh Farel terhadap dirinya.
"Kau semakin cantik saja. Apa kabarmu Delia?" tanya Farel sambil tersenyum.
Farel tidak marah, ketika melihat Delia yang terus berusaha untuk menghindarinya.
"Kau tidak usah banyak bergaya! Cepat serahkan saja uang untuk pembayaran makan siang itu dan aku akan segera pergi dari sini!" ucap Delia dengan nada dingin.
Delia tidak ingin menghabiskan waktu berlama-lama untuk berbicara dengan Farel. Karena hatinya masih sakit ketika mengingat masa lalu yang begitu kelam diantara keduanya.
"Kenapa kau buru-buru sekali, Delia? Apakah kau tidak ingin bernostalgia bersamaku?" Farel dengan senyumnya yang begitu manis.
Senyum yang dulu sempat menjadi kembang tidur Delia. Di masa putih abu-abunya. Laki-laki yang begitu mempesona dan selalu menjadi rebutan teman-temannya di sekolah.
Delia masih ingat, bahwa Farel dahulu selalu menjadi incaran para gadis di sekolahnya.
Tetapi, entah dengan alasan apa. Ternyata Farel malah memilihnya untuk menjadi kekasihnya. Dulu selepas SMA Delia pernah bertunangan dengan Farel, dan berniat akan menikah muda bersamanya.
Namun suatu insiden yang sangat mengejutkan terjadi di antara mereka berdua. Sehingga akhirnya membuyarkan semua rencana pernikahan Delia dan Farel.
Hal itulah yang membuat Delia akhirnya memutuskan untuk pergi mondok di pondok pesantren yang ada di Jawa Timur. Delia ingin mengobati rasa hati sakit hatinya karena peristiwa itu. Delia memergoki Farel sedang tidur bersama dengan Stella di sebuah hotel.
Padahal waktu itu, usia Stella baru 16 tahun. Baru naik ke kelas tiga. Karena Delia dan Stella hanya terpaut umur 1 tahun. Dan Farel berusia 17 tahun waktu itu.
Apa yang mereka berdua lakukan benar-benar telah membuat Delia patah hati dan marah. Sehingga akhirnya melarikan diri ke Jawa Timur, dan mondok di sana.
"Cepat kau berikan saja uang pembayaran makanan itu! Jangan kau mengambil waktuku terlalu banyak!" ucap Delia dengan suara ketus. Karena Delia tidak ingin berlama-lama berada di hadapan Farel. Laki-laki yang telah menjadi mimpi buruknya di masa putih abu-abunya.
"Ayolah Delia! Kenapa karaktermu masih belum juga berubah? Kau masih galak dan juga Ketus!" ucap Farel sambil tersenyum ke arah Delia.
__ADS_1
"Cih!" ucap Delia kesal.
Farel hanya tertawa melihat reaksi Delia saat ini, yang tampak jijik melihat dirinya lagi, setelah bertahun-tahun lamanya tidak bertemu dengannya.
"Tetapi memang itulah pesonamu sejak dulu kau selalu bisa membuatku merasa penasaran denganmu!" Farel sambil tersenyum miring.
"Hentikan semua omong kosongmu kau mau bayarnya atau tidak?" ucap Delia final karena dia sudah merasa sangat jengkel melihat apa yang saat ini sedang dilakukan oleh Farel.
"Kau kirimkan saja pembayaran pesanan makanan kamu ke rekening restoranku kalau kau tidak membayarnya, maka aku akan menuntut perusahaanmu dengan tindakan penipuan?" ucap Delia final lalu meninggalkan Farel dalam bengongnya.
Farel tampak berlari mengikuti Delia. Tetapi Delia tidak memperdulikannya sama sekali. Delia langsung masuk ke mobilnya dan langsung pergi dari perusahaan Farel.
"Bu laki-laki itu masih mengikuti kita!" karyawan Delia yang tadi mengikutinya ke perusahaan Farel.
Delia melihat di spion memang ada sebuah mobil yang keluar dari perusahaan Aditama.
"Laki-laki Brengsek itu memang layak untuk dihajar!" Delia dengan kemarahan yang sangat besar.
"Emangnya siapa bapak itu, Bu? Kenapa sepertinya Ibu sangat benci sekali kepada dia? Padahal orangnya ganteng sekali loh bu!" karyawan Delia sambil tersenyum.
"Ganteng saja tidak cukup! Kalau akhlaknya minus!" ucap Delia sambil melirik sinis kepada karyawannya.
Karena sejujurnya, Delia paling tidak senang kalau ada orang yang memuji Farel di hadapannya.
"Kau Lebih baik diam tidak usah banyak bicara kalau kau masih menginginkan pekerjaanmu!" Delia tanpa tedeng aling-aling sehingga membuat karyawannya itu langsung ketakutan.
Karyawannya itu merasa heran, dengan Delia saat ini. Yang tiba-tiba saja berubah menjadi menakutkan. Padahal selama ini, Delia adalah seorang wanita yang baik hati yang selalu ramah kepada karyawannya.
"Maafkan saya bu, kalau saya sudah lancang dan menyinggung perasaan Anda!" ucap karyawan Delia itu sambil menundukkan kepalanya. Karena dia sudah takut melihat ekspresi wajah Delia yang tidak bersahabat sama sekali.
__ADS_1
Delia tampak menarik nafasnya dengan dalam. Kemudian menghembuskannya secara perlahan. Delia mengelus dadanya seakan sedang menyebarkan dirinya sendiri.
"Maafkan saya, Ayu! Saya saat ini memang sedang marah dan saya tidak ingin kamu mengatakan hal-hal yang omong kosong tentang laki-laki itu. Apa kau mengerti?" ucap Delia sambil melirik Ayu yang langsung mengangguk kepadanya.
Delia langsung turun dari mobilnya begitu mereka sampai di restoran miliknya.
Dari kejauhan kini tampak Farel yang sedang memarkirkan mobilnya dan hendak masuk ke dalam restoran milik Delia.
"Delia! Tunggulah sebentar. Kenapa kok ini? Kita perlu bicara!" ucap Farel begitu dia melihat Delia sudah dekat dengan dirinya.
Farel menggamit lengan Delia dan berusaha untuk menariknya ke dekat dirinya. tapi dengan cekatan Delia langsung menghindar dari Farel sehingga Farel gagal dalam usahanya untuk membuat Delia dekat dengan dirinya saat ini.
"Apakah anda gak ngerti bahasa Indonesia? Anda bisa mengirimkan pembayaran itu melalui rekening restoranku. Kenapa Anda ada di sini? Siapa yang mengundangmu di sini, hah? Pergi sana!" usir Delia.
Delia benar-benar sudah sangat marah melihat Farel yang sampai mengejarnya ke restoran. Tapi Farel tidak bergeming sama sekali. Farel kini malah masuk ke dalam ruangan Delia dan memperhatikan isi seluruh ruangan tersebut.
Farel tampak mengagumi dekorasi ruangan kerja milik Delia. Delia sangat jengkel sekali melihat kelakuan Farel yang sepertinya tidak memperdulikan apapun yang dia katakan.
"Pergi kataku sekarang juga! Kalau kau tidak pergi juga, maka aku akan menelpon kantor polisi. Dengan laporan tindakan tidak menyenangkan, karena kau sudah menerobos tempatku tanpa izin!" ucap Delia sambil mengaitkan kedua tangannya di depan dada.
Tetapi Farel tampak mengacuhkan apa yang dikatakan oleh Delia. Sehingga membuat Delia tambah kesal dan jengkel dengan kelakuan Farel saat ini.
"Oh,Ayolah, Delia! Apakah begitu caramu menyambut seorang tamu? Bukankah tamu itu harus dihormati?" ucap Farel sambil tersenyum kepada Delia. Kini dia bahkan duduk di sofa yang ada di hadapan Delia.
Delia sangat geram sekali melihat apa yang dilakukan oleh Farel. Deperti yang tidak memperdulikan apapun yang dia katakan. Walaupun sekeras apapun, tidak dipedulikan sama sekali oleh Farel.
"Tamu seperti apa dulu, yang harus dihormati, Hah? Kalau tamu seperti kamu, itu layak untuk dimasukkan ke dalam penjara!" siap Delia sambil melotot ke arah Farel yang malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresinya yang begitu lucu di matanya.
"Tampaknya selain kurang ajar, kau juga gila ya hah?" ucap Delia sambil meninggalkan Farel di ruangannya dan pergi ke depan untuk menghubungi kantor polisi.
__ADS_1