Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
86. Sebuah Fakta


__ADS_3

Setengah jam kemudian, Kaisar sudah datang menjemput Delia di mansion milik Kaisar.


"Apakah kau sudah siap untuk kita berangkat ke rumah sakit?" tanya Kaisar sambil mencium bibir Delia sekilas.


Sejak kembalinya Delia ke Mansion miliknya dan kembali tinggal bersama. Perasaan Kaisar selalu bahagia.


Bagi Kaisar Delia adalah mood booster yang paling manjur, yang selalu bisa membuat dia bersemangat dalam melakukan apapun.


"Aku sudah siap! Tetapi bagaimana dengan Deka, sayang? Dia masih tertidur, aku tidak tega untuk membangunkannya saat ini!" ucap Delia sambil melirik kepada Deka yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Tenang saja kita bisa meninggalkan Deka bersama dengan Baby Sister. Nanti aku akan mencarikan satu untuk Deka! sementara biarkan mereka bersama dengan pembantu! Aku akan berpesan kepada salah satu dari mereka untuk menjaga Deka. Selama kita pergi ke rumah sakit!" ucap Kaisar berusaha menenangkan istrinya yang saat ini sedang bingung.


"Baiklah aku percayakan semuanya padamu!" ucap Delia sambil tersenyum bahagia kepada suaminya.


Perpisahan yang terjadi antara mereka berdua selama ini, telah menjadikan mereka semakin dewasa dan bisa saling memahami bahwa mereka berdua tidak bisa berpisah maupun berjauhan satu sama lain.


"Ayo kita berangkat. Jangan sampai nanti terlalu malam kita kembali ke rumah!" ucap Kaisar sambil menggamit lengan istrinya dan menggenggamnya dengan erat.


Mereka berdua berjalan beriringan dengan penuh perasaan damai dan kebahagiaan.


"Alhamdulillah sejak kepulangan Nyonya Delia ke manstion ini, Tuan Kaisar hidupnya semakin bahagia dan bersemangat ya!" ucap pembantunya kaisar yang saat ini sedang menatap mereka berdua ketika akan meninggalkan mansion untuk pergi ke rumah sakit menjenguk ayahnya adalah Delia.


"Ya! Mereka berdua itu saling mencintai tetapi mereka harus banyak menjalani ujian cinta! Alhamdulillah mereka akhirnya sukses melewati ujian tersebut dan sekarang mereka hidup bahagia bersama!" ucap yang lain.


Sementara itu Delia dan Kaisar yang sekarang sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung mendatangi ruangan di mana ayahnya Stella saat ini sedang dirawat.


"Bagaimana keadaan papah, apakah sudah lebih baik?" tanya Delia begitu berhadapan dengan ayah angkatnya yang sudah mulai siuman dari pingsannya.


Stella saat ini sedang pergi keluar sehingga dia tidak tahu kedatangan Delia saat ini.

__ADS_1


"Keadaan papa baik-baik saja. Kenapa kalian bisa ada di sini? Maafkan Papa karena sudah merepotkan kalian!" ucap ayah angkatnya Delia sambil menatap kepada Delia.


"Delia, Papa mau jujur padamu. Papa ingin memberitahukan sesuatu padamu! Ini tentang kedua orang tuamu!" ucap ayah angkatnya Delia sambil menundukkan kepalanya. Tampak bulir bulir air mata menetes di kelopak matanya yang mulai keriput karena usia tua.


"Tentang kedua orang tuaku, maksud Papa apa?" tanya Delia seakan tidak mempercayai apa yang dia dengarkan dari ayahnya.


"Ya, tentang kedua orang tuamu. Papa rasa kamu sudah berhak untuk mengetahui tentang kebenarannya." Delia duduk di dekat ayah angkatnya.


Kemudian Delia menggenggam kedua tangan laki-laki yang sudah hampir 25 tahun lebih merawatnya.


"Delia akan tetap menyayangi papa. Walaupun sudah menemukan orang tua kandung ku sendiri!" ucap Delia dengan menitikan air matanya yang sulit dia bandung.


Ada setitik kesedihan di hatinya bahwa ternyata dia masih memiliki kedua orang tua di dunia ini. Entah kenapa selama ini kedua orang tuanya tidak pernah menemuinya.


"Kedua orang tuamu masih hidup Delia!" ucap Ayah angkatnya Delia sambil menatap lurus ke depan. Tampak sangat berat dia untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.


"Tolong kau jangan membenci kedua orang tuamu. Karena mereka tidak bersalah sama sekali!" ucap ayah angkatnya Delia.


Delia mendekati ayah angkatnya. Kemudian dia memeluknya dengan erar. Delia berusaha untuk menghapus kesedihan di hati ayah angkatnya saat ini.


Ayah angkatnya kemudian mengambil ponsel miliknya. Kemudian tampak dia mengotak atik galeri ponselnya. Dia menunjukkan sebuah foto ke hadapan Delia.


"Mereka adalah kedua orang tua kandungmu. Mereka saat ini tinggal di Amerika dan menetap di sana!" ucap Ayah angkatnya Delia.


Kaisar mendekat kepada Delia dan melihat foto yang ditunjukkan oleh ayah angkatnya Delia saat ini.


"Tuan Satria Bramantyo?" ucap Kaisar terkejut melihat foto yang ditunjukkan oleh ayah angkatnya Delia kepada istrinya.


"Kau mengenalnya sayang?" tanya Delia.

__ADS_1


"Tentu saja aku mengenalnya. Siapa yang tidak kenal dia? Dia adalah seorang hebat dan handal!" ucap Kaisar merasa takjub bahwa ternyata istrinya adalah anak seorang konglomerat. Putri seorang Satria Bramantyo!


Kisah Satria dan Zahra bisa di baca di novel Author yang berjudul "Gelora Cinta Zahra"


"Bagaimana anda bisa menjadi orang tua angkat Delia?" tanya Kaisar tak pernah kecurigaan kepada ayah angkatnya Delia.


"Nama saya yang sesungguhnya adalah Adrian. Saya mengganti nama saya agar bisa menyembunyikan identitas saya yang sesungguhnya dari Tuan Satria!" ucap Ayah angkatnya Delia sambil menundukkan kepalanya. Tampaknya dia berat sekali untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya.


"Kenapa Anda bersembunyi dari Tuan Satria?" Kaisar terus mencecar Adrian agar mau dan bersedia menceritakan kejadian yang sesungguhnya tentang sejarah hidup istrinya.


"Saya menculik Delia dari tuan Satria!" rasanya bagaikan terkena sambar petir di siang bolong.


Delia sangat terkejut ketika dia mendapatkan sebuah kenyataan yang diakui oleh ayah angkatnya sendiri.


"Papa pasti bohong kan? Tidak mungkin hal seperti itu benar!" Delia langsung menangis ketika mendengarkan kenyataan itu.


"Kenapa anda melakukan hal sekeji itu?" Kaisar dengan menatap tajam kepada ayah angkatnya Delia yang ternyata bernama asli Adrian.


Sungguh hebat sekali dia telah berhasil dengan baik dalam hal menyembunyikan nama aslinya selama ini.


"Ayo cepat katakan yang sejujurnya atau Aku tidak akan mengampunimu akan kupastikan besok perusahaanmu sudah tinggal nama saja!" Kaisar paling tahu apa yang paling ditakutkan oleh laki-laki yang ada di hadapannya itu dan dia menggunakannya dengan sangat baik.


"Tuan Satria sudah menuduh saya menjadi seorang penghianat. Waktu itu saya sangat marah sekali dan tanpa berpikir panjang, saya langsung membawa pergi putrinya yang saat itu sedang bermain dengan kakaknya!" ucap Adrian sambil menundukkan kepalanya tidak berani menatap Delia yang saat ini sedang menangis tersedu-sedu.


"Bagaimana mungkin Tuan Satria bisa menuduhmu sebagai seorang penghianat? Memangnya apa yang telah terjadi?" tanya Kaisar menuntut sebuah kebenaran yang disampaikan oleh Adrian untuk mengorek sejarah yang sesungguhnya tentang istrinya.


"Tuan Satria berpikir bahwa saya telah bekerjasama dengan Nyonya Stella, ibu tirinya yang selama ini selalu berusaha untuk membunuhnya, tetapi selalu gagal." ucap Adrian sambil menatap ke arah luar.


Matanya menitikkan air mata. Tatapan matanya seakan sedang menerawang kejadian puluhan tahun yang lalu.

__ADS_1


Kejadian yang sangat sulit untuk dilupakan seumur hidupnya. Kejadian saat dia pergi dan membawa lari Delia dari kediaman Bramantyo.


__ADS_2