Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
139. Kaisar Siuman


__ADS_3

Setelah berhasil operasi mereka. Kaisar dan Takeshi di bawa ke ruang perawatan VVIP dalam satu ruangan. Hal itu dilakukan agar mereka mudah untuk mengurus kedua pasien tersebut.


" Baguslah kalau mereka disatukan jadi kita bisa merawatnya secara bersamaan!" ucap Kenzi kepada Delia.


" Iya Pah akan sangat merepotkan kalau kita memisahkan mereka berdua harus lari kesana kemari!" ucap Delia mengulas senyum kepada ayah mertuanya.


' Ya Allah semoga setelah semua masalah ini keluarga kami bisa kembali berdamai!' doa Delia dalam hatinya ambil terus memperhatikan mereka yang ada di dalam ruangan suaminya.


Tampak ibunya Takeshi masih marah dengan apa yang terjadi kepada putranya yang sampai saat ini belum juga siuman.


" Kalau sampai kenapa-napa dengan Putraku aku akan menuntutmu!" kecap ibunya tak kasih sambil melirik kepada Delia dengan mata penuh kemarahan.


" Masalah donor itu. Saya pun tidak tahu kalau ternyata Takeshi yang menjadi pendonornya. Kalau seandainya sejak awal saya tahu. Mungkin saya akan membujuk Takeshi untuk tidak melakukan itu!" ucap Delia mengatakan hal yang sebenarnya kepada ibunya Takeshi.


" A... A... Aku ada di mana?" tiba-tiba suara Kaisar terdengar lirih dan mengejutkan mereka semua.


" Kau sudah bangun sayang?" Delia langsung mendekat kepada kaisar yang tampak kebingungan.


" Aih kenapa dadaku begitu sakit?" tampaknya Kaisar belum mengingat tentang operasi yang baru saja dia jalani bersama dengan Takeshi.


" Tenanglah kau tidak apa-apa operasinya berjalan dengan lancar!" ucap Delia kepada suaminya yang sedang memperhatikannya.


" Lihatlah dia sudah sadar tetapi kenapa Putraku belum sadar juga sampai sekarang?" tanya ibunya Takeshi dengan mata berapi-api.


" Sudahlah mah! Bisakah kau mengendalikan emosi mu?" ucap Kenshi berusaha menenangkan istrinya yang masih mengamuk sejak tadi.


" Aku tidak akan terima kalau sampai Putraku kenapa-napa aku pasti akan menuntut mereka semuanya!" ibunya Takeshi benar-benar hilang kontrol karena dia merasa khawatir dengan keadaan putranya yang hingga saat ini masih juga belum bangun.


" Tenanglah tante. Jangan mengamuk terus. Kasihan Takeshi kalau sampai dia mendengar apa yang dikatakan tante kepada kakaknya. Dia pasti akan kecewa dan merasa sedih!" ucap Kyoto berusaha untuk menenangkan ibunya Takeshi.

__ADS_1


" Bagaimana aku bisa tenang kalau Putraku sampai saat ini belum juga siuman belum juga sadar! Bagaimana kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan?" tanyanya sambil menatap tajam ke arah Kyoto.


" Kita harus banyak berdoa kepada Tuhan. Jangan dengan emosi. Emosi tidak akan memberikan apapun. Hanya ada amarah dan juga kebencian yang mendalam!" ucap Kyoto berusaha menasehati ibunya Takeshi yang tampaknya mulai mendengarkan apa yang dikatakan oleh calon menantunya.


" Duduklah di sini Tante dan mari kita berdoa sama-sama. Agar Takeshi bisa melewati masa kritis Ini dan segera bangun!" ucap Kyoto sambil menarik tangan ibunya Takeshi.


Ibunya tak kasih yang memang merasa senang dengan Kyoto dia pun menurut dan diam tidak mengamuk lagi seperti tadi.


" Apakah kedua orang tuamu masih ada di Jakarta ataukah sudah kembali ke Jepang?" tanya ibunya Takeshi kepada Kyoto.


" Kedua orang tuaku akan kembali ke Jepang satu minggu lagi. Setelah semua persiapan pernikahan beres. Mereka akan kembali dulu ke Jepang untuk mengurus pekerjaan di sana mereka akan datang kembali pada saat hari H pernikahan kami berdua!" ucap Kyoto sambil tersenyum kepada ibunya Takeshi.


" Bagaimana kalian bisa menikah kalau sampai saat ini Takeshi belum juga sadar? Apa yang akan terjadi dengan pernikahan kalian? Kalau sampai ada apa-apa dengan Takeshi?" tanya ibunya Takeshi kembali mengingat tentang keadaan putranya.


" Tenanglah tante waktu pernikahan kan juga masih lama karena kemarin kita undurkan!" ucap Kyoto berusaha untuk menenangkan calon mertuanya yang tampak akan mengamuk lagi.


" Baik saya akan mengajak tante untuk jalan-jalan. Siapa tahu dengan begitu hatinya akan lebih tenang!" ucap Kyoto sambil tersenyum kepada ibunya Takeshi.


" Apakah kau tahu kau adalah seorang calon menantu idamanku sejak dulu saya sudah memperhatikan tentang keluargamu tidak tahunya kita benar-benar akan menjadi keluarga!" ucapnya pelan.


" Iya Tante! Ayo kita berjalan-jalan cari angin dan refreshing agar tidak terlalu spaneng dan terus berpikir tentang Takeshi!" ucap Kyoto sambil menggandeng tangan calon mertuanya.


Mereka berdua kemudian meninggalkan rumah sakit dan pergi ke area perbelanjaan.


Kyoto benar-benar menghibur hati wanita paruh baya itu yang saat ini sedang sedih tentang keadaan anaknya.


Sementara itu Kaisar tampak sedang menatap kepada ayahnya.


" Terima kasih karena kalian sudah menemani kami dan sudah memberikan donor ginjal Untukku Aku tidak akan melupakan Budi ini!" ucap Kaisar dengan penuh rasa berterima kasih kepada ayahnya.

__ADS_1


" Alhamdulillah kalau kau sudah bisa menerima kami sekeluarga sebagai bagian dari keluargamu!" ucap ayahnya.


" Aku sadar bahwa memelihara dendam itu tidak baik mungkin Penyakit ini adalah teguran dari Allah karena selama ini aku tidak pernah memaafkan Ayahku sendiri.


Ucap Kaisar sambil tersenyum ke arah Kensi yang saat ini sedang menggenggam tangannya. Tampak air mata mengalir dari kelopak matanya yang tua dan semakin keriput karena dimakan usia.


" Semoga hubungan kita akan semakin baik dan kita bisa melewati semuanya dengan damai!" ucap Kenshi kepada Kaisar.


" Amin Semoga kita bisa melalui semua ini!" akhirnya mereka pun memutuskan untuk melupakan masa lalu yang sudah lewat dan memulai era baru dalam Kedamaian.


Walaupun ibunya Takeshi masih belum menerima putranya yang telah mendonorkan ginjalnya kepada kaisar. Tetapi dia cukup senang setelah mengetahui bahwa suaminya sekarang sudah dimaafkan oleh anak tirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu minggu kemudian mereka pun sudah diperbolehkan untuk pulang tetapi mereka tidak dibolehkan untuk bekerja keras karena mereka masih dalam tahap observasi dan harus selalu cek kontrol ke rumah sakit mengenai Keadaan fisik mereka setelah menjalani transpalasi ginjal.


" Alhamdulillah Pah kalau kakakku sekarang sudah mau menerima kita sebagai keluarganya sekarang kita bisa bernapas tegak dan tidak perlu lagi untuk merasa waspada dengan keberadaan Kaisar!" ucap Takeshi yang tampak masih lemah.


" Setidaknya dia tahu berterima kasih dengan mau berdamai dengan keluarga kita dan tidak lagi mencari masalah seperti dulu!" ucapnya sambil menatap tajam kepada Kensi.


" Sudahlah Mah! Saya sendiri yang telah memutuskan untuk mendonorkan ginjalku kepada kaisar tidak ada seorangpun yang memaksaku!" ucap Takeshi berusaha untuk menenangkan ibunya yang tampaknya masih kesal karena kini putranya telah kehilangan satu ginjal.


" Mulai hari ini kehidupanmu sudah tidak akan sama kesehatanmu tidak akan sama karena kau telah kehilangan satu ginjalmu!" ucapnya kesal sambil menata putranya yang seakan tidak merasakan menyesal ataupun marah kepada Kaisar.


" Dia adalah kakakku. Kalau misalkan bukan aku yang menolongnya saat itu. Maka pasti Papah yang akan maju ke depan Apakah mama siap kalau harus kehilangan Papa?" tanya Takeshi kepada ibunya yang masih tampak marah dengan hal itu.


" Papa mau itu sudah tua mau gaya-gayaan mendonorkan ginjalnya Apa dia sudah bosan hidup?" tanyanya kesal.


" Itulah mah yang saat itu aku pun pikirkan. Kalau misalkan aku tidak mau mendonorkan ginjalku. Sudah pasti Papah yang akan melakukannya dan saya tidak mau kalau sampai papa kenapa-napa!" ucap Takeshi sambil menggenggam tangan ibunya yang terasa Berkeringat dingin.

__ADS_1


__ADS_2