Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan

Terpaksa Menikah Dengan Om Om Tampan
121. Iba awal benih cinta di hari Kyoto


__ADS_3

Kyoto terus menatap wajah Takeshi yang saat ini masih memejamkan matanya.


'Aku baru tahu di balik wajah usil dan juga tengilnya. Ternyata dia seorang laki-laki yang setia dan begitu mencintai kakakku!' batin Kyoto sambil terus melihat ke arah Takeshi yang masih belum sadarkan diri.


" Pah kita bawa Takeshi ke rumah sakit saja? Mama benar-benar khawatir dengan keadaan Putra kita! Mama takut kalau Takeshi kembali lagi seperti dulu sewaktu dia kehilangan Akira secara tiba-tiba!" ucap ibunya Takeshi sambil menatap kepada suaminya yang saat ini sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh istrinya.


" Kyoto! Apakah kau punya kayu putih atau parfum yang keras untuk bisa membantu Takeshi agar cepat siuman?" tanya ayahnya Takeshi sambil menatap kepada Kyoto.


" Saya tidak tahu om, karena saya pun jarang ada di sini. Biasanya saya hanya tinggal di apartemen saya sendiri!" ucap Kyoto sambil melirik kepada ibunya.


ibunya Kyoto mengerti tentang lirikan Sang Putri dan dia pun segera pergi keluar kamar untuk mengambil kayu putih di kotak obat yang tersedia di rumahnya.


" Gunakanlah ini!" ucap ibunya Kyoto sambil menyerahkan sebuah kayu putih kepada Kenshi yang langsung dia arahkan di bawah hidung Takeshi agar putranya kembali sadar dari pingsannya.


Tidak lama kemudian tampak Takeshi mulai membuka matanya dan melihat ke sekeliling.


" Ada apa denganku? Kenapa kalian mengelilingiku seperti ini?" tanya Takeshi sambil memegang kepalanya yang terasa sakit dan juga berat.


" Tadi kamu pingsan sayang. Mama sangat khawatir dengan keadaanmu!" ucap ibunya Takeshi sambil memeluk putranya yang masih tampak linglung.


" Pingsan? Ya Tuhan pasti karena saya terlalu lelah dan kekurangan istirahat akhir-akhir ini!" ucap Takeshi sambil berusaha untuk bangkit dari tempat tidurnya.

__ADS_1


" Tidak apa-apa kau Istirahatlah di sini. Biar kedua orang tuamu juga menginap saja dulu untuk malam ini. Tidak baik untuk melakukan perjalanan tengah malam seperti ini!" ucap ayahnya Kyoto sambil menatap kepada Kenshi yang seperti merasa keberatan dengan usulnya.


" Tidak apa-apa kami pulang saja tidak enak kalau harus merepotkan kalian!" ucap Kenshi sambil melirik kepada istrinya.


" Benar saya juga tidak terbiasa untuk tidur di tempat asing! Lagi pula kediaman kami tidak terlalu jauh dari rumah ini. Jadi mungkin lebih baik kami untuk pulang saja!" ucap ibunya Takeshi sambil menata putranya yang seperti tidak sabar untuk segera pulang dari rumah orang tua Kyoto.


" Baiklah kalau seperti itu keinginan kalian. Tidak apa-apa. Mari saya antar untuk menuju mobil kalian. Jangan sampai nanti kalian sampai ke rumah terlalu malam!" ucap ayahnya Kyoto sambil mengantarkan kedua orang tua Takeshi ke dalam mobil mereka.


" Maafkan Kalau kami sudah merepotkan insya Allah nanti kami akan kembali datang untuk membahas tentang rencana pernikahan anak-anak kita!" ucap ibunya Takeshi sambil menatap putranya yang tampak begitu lemas.


" Pah tolong pegangi tangan Takeshi dengan benar, jangan sampai nanti dia jatuh. Mama tidak mau kalau terjadi apa-apa dengan Putra kita!" ucap ibunya Takeshi tanpa khawatir dengan keadaan putranya yang masih lemas.


Kyoto hanya menatap kepergian Takeshi dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya saat ini.


Kyoto langsung pergi ke kamarnya sendiri dan merenungkan apa saja yang terjadi hari ini bersama dengan Takeshi.


Hari yang begitu panjang yang dia lewati bersama seorang laki-laki yang ternyata adalah orang yang pernah dicintai oleh almarhum kakaknya.


" Kak Apakah kau melihat kalau aku bertemu dengan lelaki yang kau cintai? Bagaimana pendapatmu Kak Apakah aku harus menerima pernikahan yang sudah diatur oleh orang tua kita?" tanya Kyoto sambil menatap foto kakaknya yang tergantung di dinding kamarnya yang bernuansa putri kerajaan.


Sewaktu kecil Kyoto memang pernah menempati kamar itu. Oleh karena itu tidak heran kalau nuansa kamarnya masih nuansa kamar anak kecil.

__ADS_1


Tampak Kyoto menatap langit-langit kamarnya dan merenungkan kembali keputusan apa yang akan diambil olehnya. Ketika besok kedua orang tuanya akan memutuskan untuk melanjutkan rencana pernikahannya bersama dengan Takeshi.


" Mungkin akan bagus kalau aku menerima saja rencana pernikahan itu! Mengingat pernikahan itu juga adalah impian dari Kak Akira sewaktu dia masih hidup!" ucap Kyoto bermonolog dengan dirinya sendiri.


" Please Kak, berikan aku petunjuk! Apakah aku harus menerima laki-laki yang kucintai sebagai suamiku ataukah aku harus menolaknya?" tanya Kyoto terus menatap potret sang kakak yang sedang tersenyum kepadanya.


" Oh aku sangat mengantuk. Lebih baik aku tidur saja biarlah hal ini besok lagi dipikirkan!" akhirnya Kyoto pun memilih untuk tidur saja karena percuma juga dia memikirkan tentang rencana pernikahan itu.


Kyoto benar-benar tidak bisa memutuskan apakah akan melanjutkan ataukah membatalkan karena saat ini dia memang benar-benar tidak tahu dengan perasaannya sendiri terhadap seorang Takeshi yang baru dia temuin tadi pagi.


Memang ada perasaan berdebar di hatinya ketika tak kasih menciumnya tadi siang.


" Ah, pria mesum itu!" wajah Kyoto memerah ketika dia mengingat kejadian itu.


" Kenapa dia begitu mudah melakukan hal seperti itu kepadaku? Padahal baru bertemu pertama kali denganku!" tanya Kyoto seperti merasa ragu dengan seorang Takeshi.


" jangan-jangan Dia seorang Casanova yang hobinya berburu wanita cantik!" ucap Kyoto saya akan merasa jengkel dengan pikirannya sendiri.


" Ya Tuhan! Jangan katakan kalau aku sedang cemburu kepada pria mesum itu! Tetapi kalau memang benar dia adalah jodoh dalam hidupku dan merupakan calon suamiku. Semoga hatiku ditautkan dengannya. Tetapi kalau tidak. Biarkanlah rencana pernikahan ini gagal begitu saja!" doa Kyoto pada malam itu sebelum dia benar-benar jatuh pulas dalam tidur. Karena kelelahan dengan pikirannya sendiri dan juga kejadian hari ini yang sangat menguras emosi dan juga tenaganya.


Sementara itu, Takeshi yang saat ini sudah berada di dalam kamarnya. Dia masih tampak kebingungan. Dia masih belum bisa untuk menerima kenyataan. Bahwa ternyata Akira sudah meninggal dan tidak akan pernah bisa dia temui lagi selama hidupnya.

__ADS_1


" Kenapa kau begitu tega padaku Akira? Selama ini kau au telah membiarkanku hidup dalam ketidaktahuanku akan dirimu dan tiba-tiba hari ini aku mengetahui bahwa kau sudah meninggal!" ucap Takeshi sambil menatap potret dirinya bersama Akira saat mereka masih bersama dalam satu ikatan cinta yang saling mendukung satu sama lain.


__ADS_2