
Sava menangis.
"Di mana dia? Tadi dia di sini. Kenapa dia kembali menghilang?", ucap Sava disela tangisannya.
Rafif dan Azzam saling bertatapan lalu menghampiri Sava.
"Kamu salah lihat gak?", ucap Rafif.
Sava menggeleng kepala.
"Gak mungkin Sava berhalusinasi", jawab Sava.
"Bisa saja kan karena kamu begitu merindukannya", balas Rafif.
Rafif terus menggoda Sava agar tidak kepikiran terhadap Fariz.
Keluarga Sava tinggal beberapa hari di rumah Sava dan Fariz. Sava dan mamanya tidur sekamar sedangkan papa, Rafif dan Azzam tidur sekamar di kamar tamu.
"Ini seharusnya menjadi kamar ku dan Fariz. Harusnya kami berdua di sini. Harusnya dia ada di sini saat aku pertama kali tidur di sini", batin Sava.
Sava menutup matanya berusaha untuk tidur tetapi Fariz terus terbayang dipikirannya.
Mama Sava mendekati Sav mengelus-elus kepala Sava.
"Maaf ya nak. Hidupmu sungguh berat. Kami bukan orang tua yang baik. Kalau saja kami gak memaksamu menikah kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan sekarang. Kamu bisa mencintai siapapun. Tapi kami melakukannya demi kebaikanmu. Demi kebaikan kita semua", kata mama Sava.
Sava tetap menutup matanya. Menahan tangis. Ia tak ingin membuat orang tuanya bersedih.
///
Sejenak Sava bisa mengurangi rasa kesepian bersama keluarganya. Keluarga Sava terus menemani dan menghiburnya dalam beberapa hari ini.
"Sava. Sava", teriak Tika.
"Eh ada teman Sava", sahut papa Sava.
"Savanya ada om?", tanya Tika.
"Ada di dapur sama mamanya", jawab papa Sava.
"Ada apa? Suara kamu terdengar sampai ke dapur", sahut Sava.
"Hehe sengaja. Kalau bisa terdengar sampai ke sudut ruangan", balas Tika.
Sava menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya satu ini.
"Lagi masak apa? Ada makanan gak?", tanya Tika.
"Datang-datang nyari makanan ya", ucap Sava.
"Kan tamu. Suguhin makanan dong", balas Tika.
"Kalian kenapa ke sini?", tanya Sava.
"Oh jadi karena ada keluarga kamu di sini kami tidak diperlukan lagi begitu?", ucap Tika.
"Sensi banget sih. Ponsel aku mana? Pasti kalian yang sembunyikan", balas Sava.
Tika melirik ke Rania dan Kanaya.
__ADS_1
"Gak tahu", jawab Tika.
"Gak usah bohong. Aku sudah tahu beritanya semua. Gak usah di tutup-tutupin lagi. Kalian sengaja menyembunyikan ponselku", balas Sava.
"Kasih saja. Sudah tahu begini", bisik Rania.
"Gak bisa. Kamu gak boleh buka sosial mediamu", ujar Tika.
"Kenapa?", tanya Sava.
"Nanti kamu membaca komentar jahat yang bisa membuatmu sedih", jelas Tika.
Sava tersentak. Tak menyangka dirinya juga berbawa-bawa dalam masalah. Ternyata ini salah satu alasan sahabatnya menyita ponselnya.
"Komentar apa?", tanya Sava polos.
"Kamu masih gak tahu? 1 sekolahan sudah tahu berita hubunganmu dengan Fariz. Ya walaupun mereka gak tahu hubungan suami istri. Jadi berita itu tersebar sampai ke luar sekolah. Fans Amel bahkan banyak menghujatmu. Kamu harus berhati-hati. Jangan membaca komentar itu. Biarkan saja. Tutup akunmu sementara", jelas Tika.
Kanaya mendekat ke Sava lalu berkata, "Sebaiknya kamu gak usah memegang ponsel dulu. Ini demi kebaikanmu. Kita tunggu masalahnya selesai. Atau siapa dalang dibalik ini semua dan apa tujuan Amel".
"Baiklah kalau begitu. Tapi aku masih bisa menonton berita ya. Jangan melarangku atau menghalangiku lagi", jawab Sava.
"Iyaa. Kamu hanya bisa mencari berita tentang Fariz dari televisi", jawab Kanaya.
Sahabat Sava menghabiskan waktu bersama di rumah Sava dan Fariz. Bercerita serta bercanda gurau. Bahkan mereka ikut makan malam bersama keluarga Sava.
"Sedang ada tamu ya?", ujar Rafif menghampiri meja makan.
"Eh ada Rania", kata Rafif begitu tahu ternyata tamunya adalah sahabat Sava.
"Kak Rafif dari mana? Kenapa berpakaian rapi seperti itu?", tanya Tika.
"Habis ngantor dong", jawab Rafif membanggakan diri.
"Iya walau masih bawahan dan masuk karena koneksi", jawab Rafif.
"Memangnya kakak kerja di mana?", tanya Tika.
"Monang Grup", jawab Rafif santai.
"Apa?", ucap Sava, Tika, Rania dan Kanaya bersamaan.
Tika, Rania dan Kanaya menatap ke arah Sava.
"Loh. Sava juga gak tahu?", ucap Kanaya.
Sava menggelengkan kepalanya.
"Gimana ceritanya kakak bisa kerja di sana?", tanya Sava.
"Sewaktu kamu dan Fariz berkunjung ke rumah, kakak bicara ke Fariz memintanya apa kakak bisa kerja di perusahaan keluarganya. Gak berapa lama dia menghubungi kakak untuk menemui seseorang. Ya sudah. Jadilah kakak bekerja di Monang grup", jelas Rafif.
"Ra, kamu yakin gak mau sama kak Rafif? Sepertinya dia mulai tobat", bisik Tika ke Rania.
"Apaan sih Tika", balas Rania malu-malu.
"Jadi kapan kalian mulai magang?", tanya Rafif.
"Belum tahu kak. Lagian yang lulus cuma Sava dan Kanaya", jawab Tika.
__ADS_1
"Tika dan Rania ngapain dong?", balas Rafif.
"Yah kuliah saja dulu. Palingan nanti sambil cari-cari lowongan juga", jawab Tika.
"Iya gak apa-apa belajar dulu yang benar. Mending Rania mengurus anak kakak saja", ucap Rafif.
"Ngapain juga Rania harus mengurus anak kakak", sahut Sava.
"Iya kan anak kakak dan Rania", jawab Rafif.
Rania tersedak mendengar gombalan Rafif. Sedangkan Tika tertawa terbahak-bahak.
"Jangan mimpi deh kak. Jangan gangguin sahabat Sava. Jangan samakan sahabat Sava sama seperti cewek-cewek kakak", ucap Sava.
"Siapa yang sama? Orang beda gitu. Rania tunggu kakak sukses ya. Nanti kakak datang ke rumah kamu buat meminangmu", ucap Rafif.
Wajah Rania tersipu malu, Tika tak henti terus tertawa, Sava menggeleng kepalanya tak habis pikir dengan ucapan kakaknya, dan Kanaya tersenyum menahan tawa.
///
"Kak, kasih tahu Sava kabar Fariz gimana?", tanya Sava.
"Mana kakak tahu", jawab Rafif.
"Kakak kan kerja di perusahaan keluarganya. Pasti sering bertemu Fariz kan? Gimana kabarnya?", balas Sava.
"Jabatannya di situ petinggi. Menggantikan ayahnya. Lah kakak hanya bawahan yang gak pernah berurusan langsung dengannya", jelas Rafif.
"Bohong ih. Gak mungkin gak pernah ketemu. Bawa Sava dong ke sana. Sava mau ketemu Fariz", ucap Sava memelas.
"Jangan aneh-aneh deh Sava. Kamu mau kakak dipecat?", ucap Rafif dengan menaikkan sedikit nada suaranya.
Sava mengerucutkan bibirnya.
"Kita pulang nanti malam", ujar Rafif.
"Loh kenapa? Bukannya di sini terus menemani Sava?", tanya Sava.
"Kita gak bisa terus-terusan di sini. Kita juga ada pekerjaan dan kegiatan lain. Mulailah Sava mandiri. Bukannya kamu bilang mau magang? Itu bisa menghilangkan rasa bosanmu", jawab Rafif.
"Temani Sava dong sampai masuk kerja", balas Sava.
"Persiapin diri saja. Mulai membiasakan diri. Kuatkan dirimu. Tunggulah suamimu di rumah. Belajarlah jadi istri yang baik", sahut mama Sava.
"Iya kak. Kalau ada waktu dan kesempatan kita berkunjung lagi", ucap Azzam.
"Hmm. Baiklah", jawab Sava.
Sava kembali kesepian setelah kepulangan keluarganya. Tapi ia berusaha untuk tegar.
Pada suatu malam tidur Sava terganggu dengan sesuatu yang menimpa perutnya.
*****************************************
Terimakasih banyak sudah mendukung The Beauty Of Marriage.
Sesuai janji author besok akan up gila-gilaan.
Jangan lupa untuk terus memberikan Vote dan ucapan Selamat Tahun Baru
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏🙏
😊😊😊