The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 117


__ADS_3

Sava masih mendengar bisik-bisik para pegawai wanita Shinee Frameworks memuji-muji ketampanan Fariz.


"Kenapa dia harus datang ke lobi sih!" gerutu Sava.


Fariz tersenyum lebar melihat kedatangan Sava. Ia pun melangkah mendekati Sava.


"Sudah selesai? Bisa kita pergi?"


"Kamu kenapa datang ke lobi sih? Dan juga ini jam berapa? Aku minta jam 11, kan? Kenapa kamu datang terlalu cepat?" Sava menjadi kesal ke Fariz dan mulai menyalahkan atas kedatangan Fariz.


"Kenapa jadi marah-marah, hmm?" Fariz membalas Sava dengan senyuman lalu mencubit hidung Sava, Fariz juga merapikan rambut Sava.


"Wahh. Siapa wanita itu? Dari divisi mana? Apa hubungan mereka? Pacarnya? Mesra sekali" kata seorang pegawai wanita.


"Beruntungnya dia punya pacar tampan dan perhatian seperti itu," sahut pegawai wanita yang lain.


Mood Sava tiba-tiba berubah. Ia tersenyum menatap Fariz.


"Ayo pergi!" Kata Sava memeluk lengan Fariz.


"Di mana Hamdan? Tadi aku suruh tunggu di sini," ujar Fariz.


"Hubungi saja dia. Tanyakan dia di mana atau suruh menjemput ke sini," sahut Sava.


"Baiklah."


Fariz menatap Sava sambil menahan tawa. Sava menyuruhnya untuk menghubungi Hamdan tetapi Sava masih memeluk erat lengannya.


"Kenapa menatapku? Hubungi Hamdan sana," ujar Sava.


"Hmm... Iya. Tapi." Fariz menunjuk lengannya yang sedang dipeluk Sava dengan dagunya.


Sava berdehem menutupi rasa malunya lalu melepas pelukannya dari lengan Fariz.


"Sepertinya aku harus cepat-cepat melepas gips ini," sindir Fariz.


"Cepat hubungi Hamdan!" seru Sava.


Fariz tertawa lalu menghubungi Hamdan. Dan akhirnya Hamdan datang menjemput.


"Kita langsung ke rumah Sakit?" tanya Hamdan.


"Iya. Aku harus cepat-cepat melepas gips ku," sahut Fariz sambil melirik Sava yang duduk di sebelahnya.


"Semoga saja dokternya mengatakan lenganmu masih harus digips," sindir Sava.


"Kamu yakin?" Kata Fariz mencubit dagu Sava, Sava menjulurkan lidahnya mengejek Fariz.


"Kamu." Fariz mendekatkan wajahnya ke wajah Sava lalu melirik ke arah depan tempat Hamdan berada.


"Awas kamu," bisik Fariz.


Tak berapa lama mereka tiba di Rumah Sakit.


Fariz mengodorkan lengannya ke Sava, tetapi tidak ada reaksi dari Sava. Lalu Fariz menyikut Sava.


"Ada apa?" tanya Sava.


"Kamu gak mau menggandengku lagi?" Kata Fariz menyodorkan lengannya ke Sava. Sava tak menghiraukan Fariz, ia berjalan mendahului Fariz.


"Kamu yakin gak mau menggandengku? Kamu gak ingat dokter yang menanganiku itu dokter wanita?" sindir Fariz.


Langkah Sava terhenti. Melihat Sava berhenti sudut bibir Fariz terangkat lalu ia mendekati Sava.


Sava menunduk malu begitu Fariz ada di sampingnya. Perlahan diulurkannya tangannya untuk memeluk lengan Fariz.


"Ayo temui dokter," ajak Fariz.


Mereka pun berjalan menuju resepsionis. Setelah proses administrasi selesai Sava dan Fariz diarahkan perawat menuju suatu ruangan pemeriksaan.


Beberapa menit kemudian muncullah sang dokter. Gips Fariz dilepas oleh dokter juga dibantu perawat.


"Hmm. Baguslah Fariz pakai kaus tanpa lengan. Jadi tidak perlu membuka pakaiannya," batin Sava.


"Silahkan gerak-gerakkan lengannya pak. Kalau dirasa masih sakit kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut," ujar sang dokter.


Fariz menggerak-gerakkan bahunya dengan gerakan memutar. Lalu menggerakkan lengannya ke atas dan ke bawah, setelah itu ke samping. Saat akan menggerakkan lengannya ke depan, Fariz menarik Sava lalu memeluknya.


"Aman dokter, lengan saya sudah tidak apa-apa," kata Fariz masih posisi memeluk Sava.


Wajah Sava memerah tetapi juga berseri. Ia senang atas perlakuan Fariz di depan wanita lain.


"Baiklah. Anda sudah sembuh. Kalau ada keluhan datanglah kembali," sahut sang dokter.


"Lepaskan aku," bisik Sava.


"Ayo pulang." Fariz melepas pelukannya lalu memakai kembali jasnya.


"Kami permisi dokter. Terimakasih banyak," kata Sava berpamitan.


"Sudah selesai, kan? Aku balik ke kantor ya," kata Sava ketika mereka masuk mobil.


"Apa? Ke kantor? Gak bisa. Kamu sudah permisi untuk pulang, kan? Buat apa kembali ke kantor!" seru Fariz.


"Jadi kita mau ke mana? Kalau pulang ke rumah mending aku ke kantor. Kalau urusanku cepat selesai maka proses pengunduran diriku juga cepat," jelas Sava.


"Ah, sial. Aku harus bagaimana. Sialan itu sudah tahu Sava bekerja di sana. Aku gak bisa membiarkannya pergi ke sana," batin Fariz.


"Fariz. Fariz. Fariz," panggil Sava.

__ADS_1


"Kamu mau aku cepat mengundurkan diri, kan? Biarkan aku kembali ke kantor ya," bujuk Sava.


Fariz tak menghiraukan Sava, ia memalingkan wajahnya menghadap ke luar jendela.


"Apa yang kamu khawatirkan? Aku diculik, begitu?"


Masih tak ada tanggapan dari Fariz. Sava pun menghela napas kasar.


"Silahkan kalau kamu mau menjagaiku atau bahkan mengawalku." Mendengar ucapan Sava kali ini Fariz akhirnya menoleh dan menanggapi Sava.


"Kamu serius? Aku boleh mengawalmu langsung? Aku boleh ikut masuk ke ruang kerjamu?" tanya Fariz.


"Hah? Kamu mau ikut masuk ke ruang kerjaku? Tentu saja tidak boleh. Dan apa? Kamu mau mengawalku langsung? Bukan menyuruh seseorang?" sahut Sava.


"Aku tidak mempercayai siapapun. Aku harus mengawasimu langsung," jawab Fariz.


"Tapi itu jelas tidak boleh!" seru Sava.


"Kalau begitu kamu tidak boleh pergi."


"Ehm. Tuan, nona, tujuan kita sekarang ke mana?" sela Hamdan.


Fariz menjawab, "Pulang." Sedangkan Sava menjawab, "Ke kantorku."


Sava dan Fariz saling menatap sinis satu sama lain.


"Fariz!" Sava mulai marah.


"Apa?" sahut Fariz tak mau kalah.


"Huh!" Sava melipat tangannya lalu mengabaikan Fariz dengan mengalihkan wajahnya menghadap jendela.


Hamdan memberi kode ke Fariz untuk mengalah ke Sava.


"Baiklah. Hamdan yang akan mengawalmu," ujar Fariz.


"Hah? Kenapa saya?" sahut Hamdan.


"Siapa lagi? Gak ada waktu untuk menyuruh orang lain saat ini."


"Bagaimana non?" tanya Hamdan.


"Baiklah," sahut Sava.


"Tapi kamu harus mengikuti ke mana pun Sava pergi. Jangan biarkan pria mana pun mendekatinya."


"Jangan terlalu berlebihan. Hamdan tidak akan bisa masuk sampai ke ruang kerjaku," sahut Sava.


"Apa yang tidak bisa. Hamdan, kamu mengerti maksudku, kan?"


"Iya tuan," jawab Hamdan.


Sava masih tak mau menatap Fariz sampai mereka tiba di restoran.


Sava turun sendiri dari mobil dan memilih duduk di mana pun ia suka tanpa menunggu Fariz dan Hamdan.


Fariz menggeleng kepala melihat sikap Sava yang sedang merajuk, lalu ia pun menyusul Sava.


"Saya duduk di sana saja ya tuan," ujar Hamdan.


"Di sini saja," sahut Sava.


Hamdan menatap bingung ke arah Fariz. Fariz memberi kode untuk menurutinya.


Tak ada suara selama mereka makan. Hanya ada keheningan.


Fariz menahan dirinya untuk tidak marah. Karena memang sikapnya terlalu berlebihan dalam melindungi Sava.


Selesai makan mereka langsung bergegas pergi ke Shinee Frameworks, perusahaan tempat Sava bekerja.


Fariz menarik tangan kiri Sava. Sava meronta ingin menariknya kembali tetapi ia menyerah saat Fariz menautkan jarinya dengan jari Fariz.


"Kamu jangan marah gitu dong," bujuk Fariz.


Tak ada jawaban dari Sava.


"Iya. Iya. Aku salah. Aku terlalu berlebihan. Tapi aku melakukannya karena ingin melindungi mu."


"Tapi tidak sampai ke ruang kerjaku juga, kan? Dan apa? Melarang pria lain menggangguku? Tak ada pria yang menggangguku di kantor Fariz. Semua hanya rekan kerja. Bagaimana kalau aku akan berbicara membahas perkerjaan dengan rekan kerja pria di kantorku? Jangan terlalu berlebihan. Apa tanggapan orang lain nanti melihatku dengan Hamdan? Kamu baru saja dari kantorku tadi, sekarang ada Hamdan," jelas Sava.


"Hamdan akan melakukannya dengan hati-hati. Tidak akan sampai mengganggumu. Hanya kalau dirasa tidak aman dia akan mendekat," sahut Fariz.


"Terserahlah. Aku juga akan berhenti. Aku tidak peduli apa tanggapan orang lain," gumam Sava.


Sesampainya mereka di Shinee Frameworks, Sava dan Hamdan turun. Fariz mengambil alih kemudi.


Sava menuju ruangannya, sedangkan Hamdan menjumpai seseorang.


"Sava? Kenapa kembali?" tanya rekan kerja Sava.


"Iya bu, saya mau menyelesaikan tugas saya." Sava langsung duduk di meja kerjanya agar tidak ditanyai lebih jauh.


Beberapa rekan kerjanya saling berbisik membicarakan Sava, tetapi Sava tidak perduli.


Tanpa Sava sadari, Hamdan datang ke ruang kerjanya bersama seseorang.


"Siapa pak?" tanya salah satu pegawai.


"Rekan bisnis perusahaan kita. Bos besar menyuruhku untuk membawanya berkeliling," jawab seseorang yang datang bersama Hamdan.

__ADS_1


Sekitar 1 jam sebelum pulang kerja, Hamdan menunggu Sava di lobi. Lalu ia menghubungi Fariz.


Setelah Sava tiba di lobi, Hamdan mengikutinya dari belakang.


"Nona, Tuan sudah menunggu," kata Hamdan dengan jarak cukup jauh.


Sava melirik Hamdan sekilas lalu mencari mobil Fariz. Fariz sudah menunggu dibangku penumpang.


"Bagaimana hari ini? Aman?" tanya Fariz.


"Aman tuan," jawab Hamdan.


"Aku tadi tidak melihat Hamdan," sahut Sava.


"Aku sudah bilang dia akan melakukannya dengan hati-hati, kan? Tidak ada yang akan curiga," sindir Fariz.


"Iya. Iya. Aku percaya," sahut Sava dengan nada terpaksa.


"Jangan membatahku lagi." Fariz mencubit gemas hidung Sava.


Laporan hari ini aman. Tetapi berbeda dengan keesokan harinya.


Al sudah menunggu Sava di lobi. Sava melirik Hamdan sekilas lalu ia berjalan ke arah lift. Al menghampiri Sava.


"Sava, aku mau bicara," ujar Al.


Ting. Lift terbuka.


Sava dan Al masuk dalam lift, kebetulan hanya ada mereka berdua.


Tiba-tiba pintu lift terbuka kembali saat akan tertutup rapat. Terlihat sosok Hamdan di depan lift. Hamdan ikut bergabung. Sava dan Hamdan berpura-pura tidak saling mengenal.


"Aku mau bicara sama kamu," kata Al lalu melirik Hamdan.


Setelah pintu lift terbuka di lantai yang dituju, Sava dan Al keluar. Sava berjalan menuju ke pintu tangga darurat lalu turun 1 lantai.


"Mau bagaimana pun, aku tidak akan bisa terlepas dari pengawasan Fariz. Mau dia mendengar percakapan kami terserah," batin Sava.


Setelah melirik Hamdan ada di atas, Sava pun membuka pembicaraan. "Ada apa Al? Apa yang mau kamu bicarakan?"


"Kamu memblokir nomorku? Kenapa kamu menghindariku? Dan kenapa kamu berhenti bekerja? Apa Fariz yang menyuruhmu? Jangan biarkan Fariz menghambat mimpi dan kebahagiaanmu Sava. Aku akan membatalkan surat pengunduran dirimu," jawab Al.


"Itu keinginanku sendiri. Aku ingin menjadi seorang istri yang baik. Tidak ada sangkut pautnya dengan Fariz. Aku bisa meraih mimpiku dengan cara lain. Fariz selalu mendukungku apapun yang aku lakukan. Kebahagiaan katamu? Kebahagiaanku ada di Fariz. Mimpiku saat ini adalah membina hubungan keluarga yang sesungguhnya dengan Fariz. Aku tahu kami menikah terlalu cepat. Kami menikah terlalu muda. Tapi aku sudah menerima takdirku, aku menerima takdirku yang sudah menjadi seorang istri disaat usia muda seperti ini. Aku ingin menjaga pernikahan kami. Karena apa? Karena aku mencintai Fariz. Aku memblokirmu karena aku tidak ingin kamu ikut campur dengan hubungan rumah tangga kami. Aku selama ini sudah mengganggapmu temanku. Tapi setelah percakapan kita terakhir kali itu membuatku harus bertindak menjauhimu sebelum terjadi hal lebih jauh. Maka dari itu, aku memblokirmu. Sudah cukup jelas? Apa ada lagi yang ingin kamu tanya?"


Al membatu, ia tak menyangka apa yang dikatakan Sava.


"Aku harus kembali bekerja," kata Sava lalu ia meninggalkan Al.


Sava lega karena tidak berpapasan dengan Hamdan.


Tak berapa lama Sava duduk di depan meja kerjanya, Hamdan muncul dan berbincang-bincang dengan beberapa rekan kerjanya.


Tiba-tiba Hamdan mendekati meja Sava.


"Boleh pinjam pulpen?" tanya Hamdan.


Sava menatap Hamdan bingung. Dengan sedikit lancang Hamdan membuka tas Sava lalu mengambil sebuah pulpen lalu ia pergi. Sava semakin bingung dengan pulpen yang diambil Hamdan karena memang bukan pulpen miliknya, ia pun mengerutkan kening menatap Hamdan.


Seharian ini Hamdan terus di ruang kerja Sava, berbincang-bincang dengan beberapa rekan kerja Sava.


Saat Fariz datang menjemput dan bertanya tentang keadaannya hari ini, Hamdan menjawab baik-baik saja.


"Hah? Baik-baik saja? Apa maksud Hamdan? Dia tidak akan melaporkan ke Fariz bahwa aku tadi berbicara dengan Al? Dia sebenarnya berpihak ke siapa?" batin Sava.


"Besok hari terakhirmu, kan?" tanya Fariz.


"Iya. Mereka akan mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan untukku. Jadi Hamdan tidak perlu mengikutiku. Mereka akan curiga Hamdan ada dimana-mana," sahut Sava.


"Baik, aku lepaskan karena itu hari terakhirmu bekerja. Aku akan suruh Deshi menemanimu saat kalian akan pergi berpesta."


"Hm," jawab Sava malas.


Keesokan harinya.


Seperti janji Fariz, Hamdan tidak mengikuti Sava kali ini.


Sava sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia hanya menyelesaikan beberapa administrasi dan membereskan barang-barangnya. Serta menghadiri pesta perpisahan yang dibuat oleh rekan kerjanya.


Di sisi lain Fariz sedang sibuk dengan pekerjaannya. Hamdan datang menyodorkannya sebuah pulpen.


"Ada apa? Ada yang perlu aku tanda tangani?" kata Fariz lalu menekan tombol diujung pulpen.


Sebuah suara keluar dari pulpen yang digenggam Fariz.


Fariz menekan ujung pulpen itu kembali.


"Apa ini?" tanya Fariz.


"Alan mengajak nona Sava berbicara lalu saya menaruh pulpen ini ke dalam tas nona Sava. Ini adalah hasil percakapan mereka," jelas Hamdan.


Wajah Fariz terlihat menahan amarah, ditekannya ujung pulpen itu kembali dan mendengarkan rekaman.


Setelah semua rekaman percakapan Al dan Sava diputar, Fariz memutar kembali rekamannya tetapi hanya pada saat Sava berkata, "Mimpiku saat ini adalah membina hubungan keluarga yang sesungguhnya dengan Fariz. Aku tahu kami menikah terlalu cepat. Kami menikah terlalu muda. Tapi aku sudah menerima takdirku, aku menerima takdirku yang sudah menjadi seorang istri disaat usia muda seperti ini. Aku ingin menjaga pernikahan kami. Karena apa? Karena aku mencintai Fariz."


Berkali-kali Fariz memutarnya sambil tersenyum. Setelah ia merasa puas ia tertawa sangat keras


"Hahaha... Akhirnya."


"Hamdan, dimana Sava mengadakan pesta perpisahannya? Ayo kita susul."

__ADS_1


__ADS_2