The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 58


__ADS_3

Setelah bel sekolah berbunyi Sava buru-buru keluar.


Saat Fariz akan keluar sekolah ada penampakan istrinya di depan gerbang sedang bersembunyi-sembunyi. Fariz tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


Saat Sava melihat mobil Fariz berjalan keluar sekolah, Sava sudah buat ancang-ancang untuk bisa segera masuk ke dalam mobil Fariz.


Fariz menghentikan mobilnya tepat di hadapan istrinya. Tiba-tiba suara Sava terdengar dari belakang, "Cepat jalan".


"Kamu ngapain jongkok di situ? Jangan bilang kamu mau duduk di belakang? Aku bukan supir. Cepat duduk di depan", ucap Fariz.


"Jalankan saja mobilnya. Begini lebih aman", balas Sava.


"Gak mau", jawab Fariz cuek.


Terpaksa Sava pindah dengan cara mengendap-endap. Ia sudah berada di samping Fariz tapi masih dalam posisi berjongkok.


Fariz menggeleng kepala lalu menjalankan mobilnya.


///


Mobil Fariz memasuki area parkir sebuah mall.


"Kenapa kita ke sini?", tanya Sava heran.


"Aku gak bawa baju dan celana pantai. Kita juga perlu membeli beberapa perlengkapan", jawab Fariz.


Sava hanya mengikut ke mana pun Fariz melangkah.


Sebelum berbelanja Fariz mengajak Sava makan siang.


///


Sesampainya mereka di rumah ternyata semua persiapan sudah siap. Tinggal menunggu Sava dan Fariz. Tidak menunggu waktu lama akhirnya mereka langsung berangkat.

__ADS_1


Sekitar 1 jam lebih untuk menempuh perjalanan mereka, dan hari sudah petang. Setelah membereskan barang mereka pun istirahat. Tiba-tiba Fariz menarik tangan Sava kemudian berbisik, "Ikut aku".


Fariz memberikan Sava sebuah baju kaos. "Pakai ini", perintah Fariz.


Sava menatap Fariz tajam dalam hatinya berkata, "Mau apa lagi dia".


"Kamu pakai. Aku tunggu di luar. Kita lihat sunset", ujar Fariz lalu meninggalkan Sava.


"Mau lihat sunset harus ganti baju segala. Tapi gapapa yang penting bisa lihat sunset", gumam Sava.


"Apa ini? Ini bukannya baju yang sama dengan yang dia pakai? Hm. Bilang aja mau kapelan", ucap Sava sambil senyum-senyum.


Setelah Sava keluar betapa terkejutnya ia melihat semua orang menggunakan baju yang sama. Wajah Sava yang tadinya tersenyum berubah kecut.


Ternyata Fariz juga membeli semua anggota keluarga Sava baju kaos yang sama seolah mereka adalah 1 grup.


"Sava dan Fariz pergi saja jalan-jalan lihat sunset. Kalau sudah selesai kami akan hubungi kalian. Kami kan sedang dihukum", ucap Rafif menyindir padahal sengaja biar Sava dan Fariz berduaan.


Fariz malah meraih kamera ditangan Sava lalu menggenggam tangannya. Sava terkejut dengan sikap tiba-tiba Fariz.


Fariz terus menggenggam tangan Sava sambil terus berjalan di tepi pantai. Mereka berhenti saat menemukan sepasang kursi pantai.


Sava menoleh saat terdengar suara bunyi kamera. Ia melihat Fariz mengabadikan pemandangan sekitar pantai.


"Berdiri di sana. Aku akan mengambil fotomu", ujar Fariz.


"Gak usah", jawab Sava singkat.


"Aku akan menjadi fotographer khusus buatmu selama di sini", ucap Fariz.


"Kamu gak mau? Kamu cuma mau Hamdan melakukannya? Mau aku suruh dia ke sini?", lanjutnya yang berhasil mendapat tatapan tajam Sava.


Fariz tertawa lirih lalu menarik Sava untuk mengambil posisi.

__ADS_1


Fariz terus saja mengambil gambar Sava. Sedangkan Sava tidak sanggup untuk menatap ke arah Fariz. Ia terus mengalihkan pandangannya. Berpura-pura bermain air.


Saat matahari akan terbenam Fariz meletakkan kamera dengan posisi mengahadap Sava yang sudah diatur dengan pengatur waktu. Tiba-tiba Fariz mendekat ke arah Sava lalu merangkul bahu Sava.


Sava terkejut dengan tindakan Fariz. Ia menatap ke arah Fariz lalu saat mereka saling menatap mereka sama-sama mengalihkan pandangan.


Ternyata Fariz mengatur kamera dapat mengambil banyak gambar sekaligus. Maka setiap gerakan mereka telah diabadikan dalam kamera.


Beberapa hasil foto yang berhasil diambil antara lain:


Fariz merangkul Sava dengan muka terkejut Sava.


Fariz merangkul Sava dengan Sava menatap Fariz.


Fariz merangkul Sava sambil saling menatap satu sama lain.


Fariz merangkul Sava dengan keduanya membuang pandangan mereka ke samping.


Fariz sudah melepas rangkulannya.


Hanya Fariz yang melihat hasil gambarnya. Tiba-tiba saja ia blushing. Fariz tidak menyangka kamera itu dapat mengabadikan setiap gerakan mereka.


Sama hal nya dengan Sava. Ia tiba-tiba merasa canggung. Akhirnya keluar ide konyol Sava agar mereka dapat segera kembali ke villa.


"Ayo kita kembali. Mereka sudah menghubungiku", ucap Sava lalu berjalan meninggalkan Fariz.


Fariz menarik tangan Sava lalu berkata, "Villanya bukan ke arah sana".


"Oh ya? Baiklah", ucap Sava menarik kembali tangannya.


Fariz menahannya dan sekarang malah saling menautkan jari-jari mereka.


"Nanti kamu hilang. Di sini gak ada Hamdan, Deshi atau pengawal", ucap Fariz.

__ADS_1


__ADS_2