
"Hari ini kita sudah boleh pulang kan?", tanya Sava.
"Besok", jawab Fariz.
"Bukannya hari ini? Aku sudah berkonsultasi dengan psikolog. Jadi kita menunggu apa lagi?", balas Sava.
"Hari ini ada persidangan dan pemakaman Amel. Marabahaya sedang menunggu kita di luar sana", jelas Fariz.
Sava termenung sejenak. Lalu ia mendekati Fariz dan memeluk lengannya.
"Kamu masih dendam dengan Amel? Dia sudah meninggal. Gak bisakah kamu memaafkannya?", ucap Sava.
Fariz menarik lengannya lalu menatap tajam ke Sava.
"Amel sudah meninggal. Biarkan tuhan yang menghukumnya. Kita sebaiknya memaafkannya, dia sudah gak ada di dunia ini. Ya walaupun dia mengakhiri hidupnya dengan cara yang salah. Kasihan keluarga dan penggemar yang ditinggalkannya. Mereka pasti sedih dan malu. Aku tahu kesalahan Amel. Dia merusak nama baikmu dan Monang Grup. Tapi berkat Amel kita jadi tahu ada masalah dengan tim produksi film. Kalau bukan karena Amel mungkin akan banyak korban selanjutnya. Sekarang nama baikmu dan Monang Grup sudah kembali. Lagian kan percuma, Amel sudah tiada. Tidak bisakah kamu cabut tuntutan untuk Amel? Kamu lihat sendiri, aku jadi korban. Aku gak mau nanti-nanti akan terjadi hal seperti ini lagi", jelas Sava.
Hati Fariz terenyuh mendengar ucapan Sava. Fariz tak menyangka istrinya begitu berjiwa besar. Istrinya benar-benar seorang wanita hebat. Ia mulai menyesali perbuatannya selama ini.
"Aku akan pertimbangan dengan pengacara. Tapi orang yang telah menculikmu harus tetap dihukum", sahut Fariz.
Sava tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Jadi, kita pulang hari ini kan?", tanya Sava.
"Tunggu aku bicarakan dengan pengacara. Setelah itu kita pulang", jawab Fariz.
"Hu. Aku bosan. Bau rumah sakit gak enak", ucap Sava.
"Aku sudah menyuruh Hamdan membeli mainan balok seperti punya Tika", ucap Fariz.
"Buat apa? Di rumah kan ada. Kenapa gak ambil di rumah saja?", balas Sava.
"Dia sedang di kantor. Kalau ke rumah lagi akan memakan waktu. Jadi aku suruh beli sekalian menuju ke sini", jawab Fariz.
"Kamu ini selalu membuang-buang uang", lirih Sava.
"Kamu bosan kan? Sama. Aku juga", ucap Fariz.
"Iya tapi gak perlu membeli mainan segala. Kamu cari ide buat aku gak bosan", balas Sava.
"Sudahlah. Lagian kan kemungkinan kita akan pulang setelah aku bicara dengan pengacara", jawab Fariz.
"Kamu selalu menang", gumam Sava.
Akhirnya Hamdan datang. Fariz bercerita ke Hamdan soal keinginan Sava. Tak berapa lama pengacara juga datang.
"Jadi pak Fariz mau mencabut tuntukan ke artis itu?", tanya pengacara.
"Iya. Itu bisa kan? Itu gak berpengaruh ke kasus tim film kan?", balas Fariz.
"Iya bisa pak. Amel dituntut karena menyebarkan informasi pribadi bapak. Kalau bapak ingin mencabut tuntukan itu bisa saja. Karena kasusnya berbeda", jawab sipengacara.
"Tolong diproses dan Hamdan umumkan ke publik kalau kita mencabut tuntutan ke Amel", sahut Fariz.
"Siap", jawab Hamdan.
__ADS_1
Pengacara dan Hamdan meninggalkan rumah sakit. Fariz kembali ke ruang inap Sava.
"Kamu dari mana saja? Kenapa lama sekali?", tanya Sava.
"Aku habis berbicara dengan pengacara", jawab Fariz.
Mata Fariz terfokus ke benda yang sedang dipegang Sava.
"Kamu sudah menulisi semua?", ucap Fariz dengan raut wajah kesal.
"Belum semua. Mungkin separuh", jawab Sava.
"Stop. Jangan bergerak. Jangan menulis apapun lagi. Kenapa kamu gak menungguku? Ini gak adil", ucap Fariz sambil mengumpulkan balok mainan.
"Aku kan belum menulisnya semua. Hanya sebagian", balas Sava.
Fariz menatap tajam Sava lalu pergi duduk di sofa. Ia sedang memikirkan apa saja hukuman yang cocok.
Sava kesal melihat Fariz mengabaikannya.
"Kenapa kamu gak tidur saja? Kamu ini juga sedang terluka. Kamu gak tidur semalaman. Kamu juga seharusnya dirawat. Kenapa malah menyuruh mamaku pulang", ucap sava.
"Aku tidur kok. Bahkan tidurku sangat nyenyak. Mending kamu bersiap untuk kita pulang", sahut Fariz.
"Benarkah?", kata Sava semangat.
"Iya", jawab Fariz.
Sava berkemas-kemas untuk pulang sedangkan Fariz masih asyik memikirkan hukuman.
Fariz menyalakan televisi dan mencari berita soal Amel.
"Pihak Monang Grup telah mencabut tuntutan. Kondisi rumah duka saat ini dihiasi isak tangis atas kepergian artis baru, Amel. Amel ditemukan tak bernyawa sore kemarin dengan melakukan bunuh diri. Perwakilan dari pihak mendiang ingin mengucapkan beberapa kata ke publik"
"Kami memohon maaf atas apa yang telah dilakukan Amel. Terimakasih kepada masyarakat yang telah mendukung dan mendoakan Amel. Kami juga sangat berterimakasih kepada pihak Monang Grup telah mencabut tuntutan dan memaafkan Amel. Terimakasih banyak dan semoga Amel tenang disisinya"
Televisi dimatikan Fariz.
"Akhirnya. Semoga kamu tenang di sana Amel", batin Sava.
"Sudah beres-beresnya? Ayo kita pulang", ucap Fariz.
///
"Savaaa", teriak Tika, Rania dan Kanaya.
"Kalian di sini?", tanya Sava.
"Iya kami mau menjengukmu tapi suami es mu melarang", jawab Tika.
"Lalu bagaimana kalian bisa di sini?", balas Sava.
"Kami menonton berita kalau kalian sudah mencabut tuntutan ke Amel. Jadi kami menyuruh Shadiq mencari tahunya", jawab Rania.
Fariz dan Sava menatap ke arah Shadiq.
__ADS_1
"Hah? Aku? Iya. Aku punya nomor Hamdan. Jadi aku menghubunginya. Katanya kalian akan pulang hari ini. Jadi kami ke sini", sahut Shadiq.
"Kenapa kalian ke sini sih? Sava masih sakit. Kalian mengganggu saja", ujar Fariz.
"Gimana ceritanya Sava sampai diculik? Dan kamu juga Fariz, tanganmu kenapa di gips?", tanya Tika.
Sava dan Fariz menjelaskan bagaimana Sava diculik dan bagaimana bisa Fariz mendapatkan luka di tangannya.
"Oh jadi ini ulah penggemar berat Amel? Karena dia gak rela idolanya bunuh diri jadi dia mau membunuh Sava? Nyawa dibalas nyawa begitu?", ucap Tika.
"Wahh. Gila. Ada ya orang seperti itu?", sahut Rania.
"Apa hebatnya Amel", ujar Kenzie.
Tika tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Tanya Fariz. Bagaimana bisa Amel memacari Fariz? Harusnya kata-katamu tadi itu bagusnya kamu ucapkan ke sahabatmu sejak dulu".
Wajah Sava tiba-tiba murung.
"Aku istirahat dulu ya", ucap Sava.
Fariz ikut berdiri.
"Kalian ini memang pembuat masalah", kata Fariz lalu mengikuti Sava.
"Memangnya aku salah bicara?", sahut Tika.
"Sudahlah. Mending kita main game. Ini ada mainan balok", ucap Kanaya.
Langkah Fariz terhenti. Ia berbalik badan.
Balok mainan sudah berserakan diatas meja.
"Stop", teriak Fariz lalu berlari mendekat.
Fariz mengumpulkan balok mainan yang ada di atas meja. Tapi sayangnya beberapa sudah digenggam Kanya.
"Memberi pelukan ke lawan main", kata Kanaya membaca tulisan balok yang ada ditangannya.
Fariz langsung merampas balok ditangan Kanaya. Tika dengan sigap mencuri 1 balok dari Fariz. Karena salah satu tangan Fariz digips ia susahan mengumpulkan balok mainan itu.
"Memberi kecupan ke lawan main", teriak Tika dangan nada suara menggelegar.
Semua orang tertawa. Wajah Fariz memerah.
Akhirnya Fariz berhasil mengumpulkan semua balok. Lalu kabur.
"Jadi itu balok mainan khusus untuk pasangan suami istri ini ya", kata Shadiq mengejek.
"Apa yang kalian lakukan hah? Apa yang sudah kalian lakukan dibelakang kami?", ucap Tika.
"Jangan menutupinya dari kami? Kami sudah tahu rahasia rumah tangga kalian", sahut Rania.
"Jangan kabur. Ke sini kalian", teriak Tika.
************************************
__ADS_1
Jangan lupa Vote 😊😊😊