
"Aku masih punya 1 permintaan dari permainan sewaktu di rumah orang tuamu. Jadi aku katakan akan membuat permintaan hitam di atas putih agar kamu gak bisa mengelak lagi. Jadi tanda tangani. Apa perlu aku bubuhi dengan materai? Atau apa perlu aku menjelaskan tugas seorang istri? Di belakang aku sudah melampirkan 40 tugas seorang istri yang sudah aku cari", jelas Fariz.
Sava mengerutkan keningnya mendengar Fariz bicara dan sekarang ia membaca 40 tugas istri yang dibarusan jelaskan Fariz.
"Bukannya aku sudah bilang gak boleh melibatkan fisik?", kata Sava dengan tatapan tajam.
Fariz membulatkan matanya. Hatinya berdegup kencang.
"Aku akan menunggumu", sahut Fariz gugup.
"Menunggu apa? Pergilah. Buatkan permintaan yang lain", ucap Sava.
"Kamu menolaknya? Kenapa? Cepat tanda tangani. Dan kita akan tidur sekamar mulai hari ini. Sebenarnya aku ingin memberikan ini setelah kamarku direnovasi. Tapi kamu berulah terpaksa aku memberikannya sekarang. Jadi aku akan tidur di sini", kata Fariz.
"Aku berulah? Memangnya apa yang aku lakukan? Kamunya yang berubah. Kenapa kamu gak bersikap dingin tidak perduli seperti biasa hah? Bukannya kamu gak menginginkan pernikahan ini? Kenapa kamu gak menolak perjodohan ini seperti kakakmu Farhan. Aku memang gak pantas berada di keluarga ini. Kamu kembalilah bersikap seperti kita pertama bertemu. Jangan melarangku bertemu siapa yang ingin aku temui termasuk Al", ucap Sava emosi. Ia berdiri dan hendak ke luar Fariz menahannya. Menyudutkannya ke dinding.
"Dari mana kamu mendengar tentang Farhan?", tanya Fariz.
Sava tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya.
"Jangan menyebut-nyebut pria lain di depanku. Siapa bilang aku gak cemburu? Aku cemburu. Bahkan terhadap anak kecil aku cemburu. Aku gak suka melihat pria lain ada di sekitarmu", kata Fariz emosi.
Sava membulatkan matanya tak percaya Fariz akan sejujur ini. Sesekali Sava melirik Fariz.
"Ah sial. Kenapa aku harus mengatakannya di sini disaat seperti ini", ucap Fariz sambil menarik-narik rambutnya sendiri.
"Aku berubah karenamu. Kenapa kamu gak berdiam diri saja di rumah. Tanpa melakukan apapun. Tanpa muncul di hadapanku. Ku pikir pernikahan ini akan berjalan biasa seperti yang aku harapkan sampai orang tuaku sadar gak seharusnya memaksa kita menikah. Lalu memberikan kita pilihan untuk menentukan jalan hidup kita masing-masing. Kenapa? Kenapa kamu malah membuatku jatuh cinta padamu?", ucap Fariz.
Sava tak percaya apa yang barusan didengarnya. Akhirnya ia kembali menghadap Fariz, menatap Fariz lekat. Ia tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya terus menatap Fariz. Mereka saling beradu pandang.
Fariz mendekatkan wajahnya ke wajah Sava. Tak ada pemberontakan dari Sava. Fariz semakin mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan.
Tiba-tiba saja Sava cegukan.
Fariz memberi jarak ke Sava. Sava menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Kamu kenapa?", tanya Fariz heran.
Sava terus saja cegukan.
"Kenapa tiba-tiba cegukan disaat seperti ini?", tanya Fariz lagi.
"Itu salahmu kenapa aku cegukan. Harusnya kamu meminta izin kalau kamu mau menciumku atau setidaknya memberitahuku. Aku jadi terkejut seperti ini", jawab Sava.
__ADS_1
Suasanya menjadi canggung.
Fariz mendadak salah tingkah, ia menggaruk-garuk kepalanya.
"Sava. Sava", teriak Farhan memanggil Sava.
Sava mengambil kesempatan ini untuk kabur dari Fariz.
Fariz mengekori Sava. Sava menuju dapur lalu meneguk air minum. Lalu ia kembali ke kamarnya. Farhan menahan Fariz.
"Sava kenapa?", tanya Farhan.
"Dia gak enak badan. Kakak mau apa di sini? Kakak mending pulang saja. Besok-besok datang lagi", jawab Fariz lalu meninggalkan Farhan.
///
"Bunda. Bunda", teriak Farhan.
"Ada apa Farhan? Bunda di dapur", sahut sang bunda.
"Bunda, Sava sakit bunda", ucap Farhan.
Bundanya langsung menghentikan kegiatan memasaknya dan menyuruh pembantu meneruskannya.
"Jangan bunda. Farhan saja di usir Fariz. Tadi Farhan ke rumah mereka. Sava dan Fariz ke luar dari ruangan yang sama. Tapi Sava menutup mulutnya dengan tangannya dan wajahnya memerah. Mereka menuju dapur, tak berapa lama Sava kembali ke kamarnya", jelas Farhan.
"Apa? Apa Sava mual dan muntah?", tanya bunda Farhan.
Farhan menggerakkan bahunya.
"Tapi mereka gak melakukannya kemarin. Kalau pun iya itu terlalu cepat untuk diketahui. Panggil Hamdan dan Deshi ke sini. Kita harus tanya mereka", lanjutnya.
Hamdan dan Deshi akhirnya datang.
"Bagaimana perkembangan hubungan Sava dan Fariz?", tanya bunda Fariz.
"Kami belum pernah bertemu sejak liburan kemarin nyonya", jawab Deshi.
"Kami dilarang datang sampai senin besok", sahut Hamdan.
"Jadi kalian gak tahu apa yang dilakukan mereka?", tanya bunda Fariz.
Hamdan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Nona Sava mengabari saya saat beliau ke luar rumah", jawab Deshi.
"Jadi ke mana saja dia? Apa yang dilakukannya?", tanya ibu mertua Sava.
"Setelah kepergian Nona dan Tuan liburan bersama temannya, nona Sava hanya mengabari saya kemarin beliau bertemu temannya bernama Al. Hanya itu info yang saya ketahui", jelas Deshi.
"Al? Laki-laki? Sava punya teman laki-laki? Selidiki siapa Al", ujar nyonya Moan.
"Kita sudah tahu siapa Al bun", sahut Farhan.
"Dia anak om Martua. Alan", lanjut Farhan.
"Apa? Dia di indonesia? Bagaimana bisa dia dekat dengan menantu bunda?", tanya bunda Farhan.
Farhan menceritakan semua yang diketahuinya tentang Al.
"Hmm jadi begitu. Biarkan saja mereka. Alan bisa kita jadikan untuk menyadarkan sibodoh Fariz. Tapi tetap terus pantau mereka. Jangan sampai menantu bunda kenapa-kenapa", ucap sang bunda.
///
"Ah sial. Dia mengambil kunciku. Harusnya aku menduplikatkan kunci kamarnya lebih banyak", gumam Fariz di depan pintu kamar Sava.
Sedangkan Sava sedang membenamkan wajahnya ke bantal sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Aku gak salah dengarkan? Tadi Fariz bilang dia mencintaikukan?", gumam Sava sambil senyum-senyum sendiri.
"Kenapa tadi aku malah cegukan. Ah bodoh", ucap Sava sambil menyentuh bibirnya.
Kalimat yang diucapkan Fariz terus terngiang-ngiang di kepala Sava.
"Tunggu. Katanya kenapa aku membuatnya jatuh cinta padaku? Dia tidak mengatakan aku mencintaimu? Ah kenapa kalimatnya ambigu sekali. Apa maksud ucapannya? Tapi kenapa dia mendekatkan wajahnya? Dia mau menciumku kan? Aah sial. Kenapa aku malah cegukan. Kalau aku gak cegukan apa dia akan menciumku?", kata Sava bergelut dengan pikirannya sendiri.
Sava meraih map yang diberikan Fariz lalu membacanya dengan teliti.
"Kenapa tugas seorang istri yang dilampirkannya banyak melibatkan fisik seperti ini. Dasar mesum", kata Sava.
Sava meletakkan kembali map itu. Merasa kesal dengan Fariz. Tetapi Sava terus melirik ke arah map.
"Baik. Aku tanda tangan. Tapi aku akan serahkan kalau Fariz mengungkapkan isi hatinya padaku. Dan harus mengatakan dia mencintaiku", gumam Sava lalu menyimpan map itu.
*********************************
Jangan lupa votenya 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1