
Sava jalan mengendap-edap ke luar kamar Fariz sampai masuk kamarnya dan Tika.
"Lo dari mana Va? Gue kira lo hilang", ucap Tika cemas begitu Sava masuk kamar.
"Tumben lo bangun pagi. Gue dari balkon siapa tahu bisa lihat sunrise", sahut Sava.
"Iya nih gue tidur cepat semalam. Habis capek banget", jawab Tika.
"Untung saja", batin Sava.
"Ke bawah yuk. Gue lapar", kata Tika menarik lengan Sava.
Mereka ke dapur dan memakan beberapa lembar roti.
Tak beberapa lama Rania dan Kanaya menyusul.
"Sarapan apa kita?", tanya Rania.
Tika menyodorkan roti.
"Gue gak kenyang ah makan roti. Masak nasi goreng yuk", ucap Rania.
"Boleh juga", sahut Tika.
"Lo makan berapa roti? Nasi goreng masih masuk ke perut lo?", tanya Kanaya.
"Masuk dong", jawab Tika santai.
Kanaya menggeleng-geleng kepalanya.
"Masak nasinya banyakin. Kita buatin untuk mereka juga", ucap Kanaya.
"Kalian belum mandi ya?", tanya Rania.
"Selagi menunggu nasinya matang, kalian mandi. Kami bisa siapin bahan-bahannya. Nanti kalian yang masak", jelas Rania.
"Oke", jawab Sava dan Tika serentak.
Setelah Sava dan Tika mandi mereka memasak nasi goreng. Lalu tugas Tika membangunkan semua orang.
Klontang. Klontang. Klontang.
"Bangun. Bangun", teriak Tika di depan kamar Shadiq dan Kenzie.
Shadiq menyahut Tika lalu membuka pintu kamarnya.
Klontang. Klontang. Klontak.
Tiba-tiba Fariz ke luar dengan tatapan tajamnya. Mendadak Tika menghentikan aksi memukul wajan.
"Duh. Itu muka seram banget dah", batin Tika.
Tika mendekati kamar Amel.
"Bangun woi. Anak gadis bangun sudah siang ini", teriak Tika.
Tika mencoba membuka pintu kamar Amel dan ternyata tidak di kunci. Tika masuk tetapi tidak menemukan Amel di dalam. Ia memeriksa kamar Amel dan ternyata barang-barang Amel sudah tidak ada.
"Woi ini kamar Amel kan?", teriak Tika.
"Iya", sahut Shadiq.
"Amelnya gak ada. Barang-barangnya juga gak ada", jelas Tika.
Semua mata tertuju ke Fariz. Tetapi Fariz tidak perduli. Ia asyik meracik tehnya.
"Fariz", panggil Shadiq.
"Apa?", sahut Fariz.
__ADS_1
Fariz mengalihkan pandangannya menghadap Shadiq ke yang lain yang sedang menatapnya.
"Mana aku tahu dia di mana. Kenapa tanya ke aku. Tanya ke orangnya langsung", kata Fariz.
"Kalian bertengkar lagi?", tanya Shadiq.
Fariz mengerutkan keningnya.
"Aku lihat tadi malam kalian bicara", jelas Shadiq.
"Karena aku bicara padanya tadi malam jadi aku tahu di mana dia?", balas Fariz kesal.
Kenzie menyikut Shadiq. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Hubungi saja orangnya", sahut Rania.
Shadiq akhirnya menghubungi Amel.
"Gimana? Di mana dia?", tanya Tika.
"Dia di jemput manajernya dini hari tadi karena ada jadwal mendadak", jelas Shadiq.
"Setidaknya memberi kabar kek. Buat kita khawatir saja", sahut Tika.
"Ya sudah kita sarapan yuk. Keburu dingin gak enak", ucap Rania.
"Setelah sarapan kita pergi bermain ke pantai yuk", ajak Tika.
"Kami belum mandi", sahut Kenzie.
"Gak usah mandi. Mandi air laut saja", ucap Tika sambil tertawa.
Kenzie membalasnya dengan tatapan tajam.
"Menunggu kalian mandi memakan waktu. Setelah bermain barulah kalian mandi. Kan sama saja nanti juga setelah bermain air laut pasti mandi bersih lagi", jelas Kanaya.
"Ya sudah. Kami menurut saja", sahut Shadiq.
Shadiq merebahkan badannya sambil terus menonton teman yang lain bermain. Sesekali Shadiq memperhatikan Fariz.
"Lo kenapa gak gabung?", tanya Shadiq.
"Malas saja", jawab Fariz cuek.
"Lo ada masalah dengan Sava?", tanya Shadiq penasaran karena Shadiq merasa Fariz terus memperhatikan Sava.
"Hah?", sahut Fariz.
"Gue lihat lo mengawasi Sava terus", ujar Shadiq.
"Gak", jawab Fariz sambil mengalihkan pandangannya.
"Apa karena tadi malam? Lo jujur deh. Lo tergoda kan?", ucap Shadiq.
Fariz terdiam.
"Kamu jangan ketularan gila Kenzie ya. Sava sudah bersuami. Cepat buang perasaanmu itu", nasehat Shadiq.
"Apa maksudmu?", tanya Fariz.
"Kamu menyukai Sava. Aku bisa lihat dari tatapanmu", jawab Shadiq.
Fariz terdiam.
"Aku menyukainya? Apa itu benar? Bagaimana memastikan perasaanku ini? Ah sial aku gak bisa bicara dengan siapapun", gerutu Fariz dalam hati.
"Kamu dan Amel bagaimana?", tanya Shadiq menyelidiki.
"Kami putus", jawab Fariz.
__ADS_1
"Kenapa? Bukannya Amel sudah menjelaskan bagaimana masalahnya?", lanjut Shadiq.
"Aku capek begini terus. Dunia kami berbeda. Lebih baik kami putus", jelas Fariz.
"Bagaimana dengan perasaanmu? Apa kamu gak mencintainya lagi?", tanya Shadiq.
"Apa kamu tahu cinta? Coba deskripsikan padaku agar aku tahu apa aku mencintainya atau tidak", sahut Fariz.
"Sudahlah", ujar Shadiq. Ia merasa tersinggung karena belum pernah pacaran.
Shadiq kembali bergabung dengan yang lain.
Semakin lama cuaca semakin panas.
"Gue istirahat dulu ya", ujar Tika.
"Kalau gak kita semua kembali saja", sahut Shadiq.
"Aku setuju. Cuaca juga makin panas", jawab Kanaya.
Akhirnya mereka sepakat kembali ke villa.
Fariz menarik Sava agar mereka sedikit menjauh dari yang lain lalu Fariz berbisik, "Sepertinya kamu bersenang-senang".
"Tentu saja. Aku di sini memang untuk bersenang-senang", sahut Sava
"Tapi aku gak bersenang-senang", lirih Fariz.
Sava ikut sedih melihat suaminya murung.
"Salah sendiri gak mau bergabung", ujar Sava.
"Kenapa kamu gak mengajakku?", balas Fariz.
"Tadikan mereka mengajakmu", jawab Sava.
"Aku mau bersenang-senang denganmu", sahut Fariz.
"Aku gak tahu harus senang atau sedih saat ini. Aku senang dia mau bersenang-senang denganku tapi bagaimana kalau ada niat tersembunyi", batin Sava.
"Ya sudah nanti malam kita bersenang-senang", ucap Sava.
"Janji?", kata Fariz semangat.
Sava mengangguk.
///
Mereka membersihkan diri lalu beristirahat. Tiba-tiba saja Tika mengeluh sakit kepala.
"Sava. Kepala gue sakit banget", ucap Tika sambil memijit kepalanya.
"Sakit kenapa? Mana yang sakit", tanya Sava sambil mengecek kondisi Tika.
"Badan lo hangat. Lo demam ya?", tanya Sava lagi.
Tika hanya menggeleng lemah.
"Gue panggil yang lain ya", sahut Sava.
Akhirnya semua orang berkumpul untuk melihat kondisi Tika.
"Kenapa Tika?", tanya Shadiq.
"Tadi dia mengeluh sakit kepala. Badannya juga hangat. Apa dia demam?", sahut Sava.
"Sepertinya Sava dehidrasi. Suruh dia minum yang banyak. Kalian pergi ke apotek dan kami akan memasak bubur dan menjaga Tika. Kalau sakit kepala Tika belum reda suruh dia minum obat", jelas Kanaya.
"Baik. Aku dan Kenzie akan pergi. Biar Fariz menjaga di sini", sahut Shadiq.
__ADS_1
"Aku akan memasak bubur. Kalian jaga Tika kalau bisa kompres tubuhnya serta lap keringatnya", ujar Sava.
Mereka melaksanakan tugas masing-masing. Shadiq dan Kenzie pergi ke apotek, Kanaya dan Rania merawat Tika lalu Sava pergi ke dapur untuk memasak bubur. Sedangkan Fariz malah mengekori Sava ke dapur.