
"Pelan-pelan makannya. Jangan buru-buru," ujar Fariz.
Sava terdiam. Ia sedang berpikir. Memutar isi kepalanya untuk mencari cara agar tidak memandikan Fariz.
Fariz bingung melihat Sava mengaduk-aduk makanannya tanpa memasukkan ke dalam mulut. Diraih Fariz sendok Sava lalu mendekatkan piring ke hadapannya.
"Mau apa?" tanya Sava heran.
"Kamu terus mengaduk-aduk makanannya. Gantian aku yang akan menyuapimu," jawab Fariz.
"Tanganmu terluka. Mana bisa menyuapi aku," balas Sava.
Fariz berusaha menyendok makanan dalam piring tetapi selalu saja ada lauk yang tertinggal.
Sava meraih kembali piring dan sendoknya, lalu menyantap makanannya.
Fariz terus menempeli Sava. Ia sabar menunggui Sava selesai makan.
"Kenapa terus mengikutiku? Aku mau cuci piring," ujar Sava.
"Kamu gak mendengarkan aku tadi? Aku mau mandi," balas Fariz.
Sava mencari pelastik dan pembungkus makanan (Pelastik Wrap) serta selotip.
"Ayo. Mau mandi kan?" ucap Sava.
"Itu buat apa?" tanya Fariz heran.
"Menutupi lukamu," jawab Sava
Sava berjalan menuju kamar mereka. Sedangkan Fariz mengerutkan kening sambil mengikuti Sava.
"Buat apa pelastik itu?" tanya Fariz lagi.
"Kamu mau mandi? Lukanya harus di tutupi agar tidak basah," jawab Sava.
"Kenapa gak kamu mandikan saja aku?" balas Fariz.
Sava menatap tajam Fariz.
"Dasar mesum," batin Sava.
Sava mulai membuka pakaian Fariz. Lalu membungkus lukanya.
"Lukamu hanya dibagian lengan atas dan sedikit mengenai bahu. Kenapa harus pakai penyangka tangan segala," ucap Sava.
"Tapi dokter bilang jangan menggunakan lengan kiriku untuk sementara. Bagaimana aku bisa mandi," balas Fariz.
"Kamu masih punya tangan kanan. Arahkan saja showernya jangan mengenai lengan kirimu. Kamu kan bukan kidal," ucap Sava.
"Huh. Kenapa dia susah sekali digoda sih," batin Fariz.
"Sudah sana mandi," kata Sava sambil mendorong Fariz ke arah kamar mandi.
Sava lega setelah Fariz masuk ke kamar mandi. Sava menuju lemari untuk menyiapkan pakaian Fariz.
"Pakai apa ya? Karena tangannya terluka lebih mudah memakai kemeja. Tapi terlalu formal memakai kemeja saat di rumah," gumam Sava menatap pakaian Fariz.
Sava mengambil beberapa pakaian lalu meletakkannya di atas ranjang.
"Biarkan dia yang memilihnya."
Sava pergi ke ruang kerja untuk membereskan beberapa pekerjaannya yang tertinggal.
Tak berapa lama terdengar suara teriakan Fariz memanggil Sava.
"Sava. Sava," kata Fariz memanggil Sava.
"Kenapa berteriak-teriak sih. Harusnya dia bisa memakai pakaiannya sendiri", batin Sava.
Ceklek
Suara pintu terbuka.
Sava menatap ke arah pintu. Terlihat Fariz masih menggunakan handuk yang melilit pinggangnya. Sava langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu belum memakai pakaian?" tanya Sava panik.
"Itu karena kamu gak ada di kamar. Aku sudah memanggilmu tapi kamu tidak menyahut. Aku takut kamu menghilang," jawab Fariz.
Fariz menghampiri Sava lalu memeluknya.
Sava menutup rapat matanya lalu berkata, "Pakai pakaianmu."
"Pakaikan," jawab Fariz manja.
"Ta- tapi, setidaknya pakai celanamu," lirih Sava.
Fariz tertawa setelah sadar ia ke luar hanya menggunakan handuk.
"Kamu ngapain di sini? Apa ini?"
Fariz meraih berkas yang ada di meja Sava.
"Shinee Frameworks," lirih Fariz.
"Kamu gak boleh kerja lagi. Kamu di rumah saja. Jadi ibu rumah tangga yang baik. Mengurus suami dan anak-anak." Fariz murka melihat Sava masih ingin bekerja.
"Aku masih ingin bekerja. Kita sepakat aku akan bekerja sampai masuk kuliah nanti. Masih ada waktu 1 bulan. Kenapa sekarang menyuruhku berhenti? Kamu gak adil!" seru Sava.
"Walaupun aku bekerja, aku tetap menjalankan tugasku. Dan kita belum punya anak. Siapa yang mau aku urus", lirih Sava.
Fariz berdehem lalu menarik lengan Sava dan membawanya ke kamar mereka.
"Ini pakaianku?" tanya Fariz melihat ada pakaian di atas ranjang.
"Iya. Tapi aku gak tahu kamu mau pakai yang mana. Kamu pilih saja sendiri," jawab Sava.
Fariz memilah pakaian pilihan Sava. Lalu ia memilih sebuah kaus longgar berwarna biru dan celana pendek selutut.
__ADS_1
"Ini saja," ujar Fariz.
"Pakai celanamu," balas Sava.
"Lepaskan dulu pelastik-pelastik ini. Sangat tidak nyaman", cetus Fariz.
Sava pun membukakan pelastik-pelastik yang membungkus lengan kiri Fariz, setelah itu Fariz masuk ke kamar mandi.
Tak berapa lama Fariz kembali dan mendekat ke Sava.
Sava kesulitan saat ingin memasukkan pakaian ke kepala Fariz.
"Menunduklah," pinta Sava.
Fariz tersenyum menahan tawa karena tubuh mungil istrinya tidak dapat menyeimbangkan tingginya.
"Jangan mengejekku," cetus Sava.
"Ti- tidak," sahut Fariz.
Setelah Fariz selesai berpakaian Sava beranjak mendekati lemari.
"Mau ke mana lagi? Jangan meninggalkan aku terus," kata Fariz panik melihat Sava pergi jauh darinya.
"Aku juga mau mandi, Fariz. Kenapa kamu seperti anak ayam kehilangan induknya sih. Kamu sangat aneh akhir-akhir ini. Selalu saja menempel padaku", seru Sava.
Seketika hening.
Sava menatap tajam Fariz sedangkan Fariz mengerucutkan bibirnya.
Tiba-tiba Fariz berkata, "Iya aku mau menempelimu terus. Aku mau kamu selalu di sampingku. Setiap aku membuka mata aku mau kamu selalu ada di hadapanku. Kalau bisa aku akan mengikatmu agar tidak bisa pergi ke mana-mana tanpaku."
Sava langsung berlari ke kamar mandi.
Sava menyentuh dada sebelah kirinya merasakan detak jantungnya. Jantung Sava berdegup kencang.
"Apa maksud perkataannya? Dia tidak sedang mengungkapkan isi hatinya, kan?" batin Sava.
"Aakk. Apa yang aku pikirkan. Kenapa pipiku memerah seperti ini," jerit Sava di depan cermin wastafel.
Toko tok tok.
"Sava," panggil Fariz.
"I-iya?" sahut Sava.
"Apa yang terjadi di dalam sana? Kenapa kamu berteriak?" tanya Fariz.
"Hah? Itu. Ada kecoak," sahut Sava.
"Kamu gak apa-apa, kan?"
"Iya aku baik-baik saja," jawab Sava.
Sava membuka keran air agar Fariz pergi menjauh dari kamar mandi.
Setelah mendengar suara air Fariz pun menjauh.
"Aduuh. Bagaimana aku ke luar? Pasti simesum itu masih di kamar," batin Sava.
Sava membuka sedikit pintu kamar mandi, lalu mengeluarkan kepalanya.
Pandangan Sava dan Fariz bertemu.
"Aduh. Benarkan. Ada dia," batin Sava. Sava kembali menutup pintu kamar mandi.
Fariz tertawa lirih melihat tingkah Sava. Terpikir oleh Fariz untuk menggoda Sava.
Fariz membuka pintu kamar lalu menutupnya kembali, tetapi ia masih di dalam kamar. Lalu Fariz berjalan ke samping pintu kamar mandi.
"Suara pintu? Peka juga dia ternyata", gumam Sava.
Sava membuka pintu kamar mandi. Setelah melihat Fariz tidak ada di atas ranjang, Sava pun ke luar dari kamar mandi.
Sava duduk di depan meja rias dengan hanya memakai handuk yang melilit di tubuhnya.
Sava memulai ritual seorang wanita setelah selesai mandi. Walau bukan untuk bermake up.
Sava memakai handbody dan pelembab. Sava membersihkan telinga dan hidungnya. Sava bahkan memeriksa ketiaknya, melihat apakah bulu-bulu halus sudah mulai tumbuh.
Sava berjalan mendekati lemari, mengambil pakaian yang akan dipakainya dan meletakkannya di atas ranjang. Sava juga memilih pakaian dalam yang akan di pakainya.
Tanpa disadari Sava ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi.
Setelah memakai pakaian dalam, Sava berbalik menuju ranjang karena akan memakai pakaiannya yang ia taruh sebelumnya di atas ranjang.
Perasaan Sava tidak enak. Seperti ada bayangan hitam sedang memperhatikannya. Perlahan Sava melirik ke arah bayangan hitam yang dirasanya sedang memperhatikannya.
"Aaaakkkk," teriak Sava.
Sava langsung menarik selimut lalu berjalan mundur untuk bersembunyi dalam lemari.
"Aw," rintih Sava. Sikunya terbentur ke pintu lemari.
Fariz yang awalnya tersenyum menahan tawa berubah menjadi cemas. Ia berlari mendekati Sava.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Fariz cemas.
"Jangan mendekat!" teriak Sava.
"Apa ada yang terluka?"
Fariz melangkahkan kakinya mendekati Sava.
"Stop!"
Sava menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tetapi ia malah jatuh terhuyung ke lantai.
Dengan sigap Fariz menahan tubuh Sava agar tidak terluka.
__ADS_1
Sava membatu. Tangan kanan Fariz menyentuh langsung punggungnya.
Ingin rasanya ia mendorong Fariz agar menjauh, tetapi ia takut selimut yang menutupi tubuhnya malah terlepas.
Sava merasa tubuhnya melayang. Karena takut jatuh ia melingkarkan tangannya ke leher Fariz.
Sava akhirnya sadar kalau tubuhnya sedang digendong Fariz. Perhatian Sava langsung tertuju ke selimutnya. Selimut yang menutupi tubuh Sava sedikit melorot. Dengan sigap Sava menahannya dengan kedua tangan. Tangan Sava sebelumnya dilingkarkannya ke leher Fariz berpindah ke depan dadanya menahan selimut yang melorot.
"Buat apa ditutupi? Aku sudah melihat semuanya." Ujar Fariz lalu meletakkan tubuh Sava ke atas ranjang.
Sava membatu. Tubuhnya lemas tak berdaya.
"Pakai pakaianmu. Aku akan ke luar," kata Fariz.
Fariz berjalan menuju pintu sambil senyum-senyum.
Setelah mendengar suara pintu menutup akhirnya Sava tersadar.
"Aakkk, bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Dia? Dia bilang melihat semuanya?"
Sava menggeleng lalu memukul-mukul kepalanya dengan tangannya. Sava tak terima tubuh polosnya dilihat oleh suaminya sendiri dengan cara seperti ini. Sava bahkan menangis sambil menghentak-hentakkan kepala, tangan dan kakinya ke kasur.
///
Fariz terus menatap jam dinding dan pintu kamar.
"Apa dia sedang mengurung diri? Atau dia malu melihatku?"
Fariz tertawa mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
Fariz mendekatkan telinganya ke pintu kamar untuk mendengar suara Sava dalam kamar. Tetapi tidak ada suara apapun yang didengar Fariz.
Fariz beralih ke celah lubang kunci. Ia mulai mengintip apa yang sedang di lakukan Sava.
"Ah. Tidak kelihatan apapun," gumam Fariz.
"Baiklah, aku akan tunggu sampai kamu ke luar."
Fariz masuk ke ruang kerja. Memeriksa beberapa pekerjaan yang tertinggal. Fariz juga menghubungi Hamdan.
"Bagaimana perkembangan sidang kemarin?"
"Berjalan lancar. Pengadilan masih memproses hukuman apa yang pantas untuk para tersangka dan kapan akan diadakan sidang akhir"
"Kabari aku perkembangannya"
"Baik tuan"
"Oh iya. Cari cara agar Sava mengundurkan diri dari Shinee Frameworks"
"Nona Sava mau mengundurkan diri? Kenapa?"
"Lebih tepatnya cari cara agar Sava dipecat dari Shinee Frameworks"
"Kenapa tuan? Bukankah Alan tidak terlibat dalam proses penculikan nona Sava?"
"Tidak ada hubungannya dengan Alan atau siapapun. Aku tidak ingin Sava bekerja. Dia harus terus di sisiku"
"Akan terjadi perang besar ini"
"Apa katamu?"
"Tidak. Tidak. Sebaiknya tuan membujuk nona Sava. Jangan memaksanya. Aku yakin nona Sava akan menurut"
"Bagaimana cara membujuknya?"
"Jujur saja. Tinggal bilang kalau tuan ingin nona Sava selalu ada di sisi tuan"
"Sudah"
"Apa?"
"Sial. Sudah ku katakan padanya"
"Lalu apa respon nona Sava?"
"Dia diam saja"
"Hmm begitu ya. Tunggu saja. Mungkin nona Sava sedang berfikir"
"Kalau dia tetap mau pekerja bagaimana?"
"Saya yakin nona Sava akan menurut. Nona Sava istri yang sangat baik. Dia akan patuh"
"Ingat. Tuan jangan memaksanya. Jangan bersikap otoriter"
"Baiklah. Ya sudah kalau begitu. Kabari aku kalau ada perkembangan"
Panggilan terputus.
"Aku akan mengikuti saran Hamdan," batin Fariz.
Tanpa disadari waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.
Fariz ke luar dari ruang kerja, lalu mencari Sava di setiap sudut rumah. Kecuali kamar mereka.
"Sava tidak ada dimana-mana. Apa dia masih mengurung diri dalam kamar?" batin Fariz.
Fariz mendekati pintu kamar, mendekatkan telinganya dan juga mengintip dari celah kunci seperti yang dilakukannya sebelumnya.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Sava. Akhirnya Fariz memutuskan membuka pintu kamar.
Ceklek
Fariz mengerutkan kening melihat Sava. Ternyata Sava sedang tidur.
Sava tertidur sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Perlahan Fariz menarik bantal yang menutupi wajah Sava. Wajah Sava sembab.
__ADS_1
"Dia nangis? Kenapa? Apa yang terjadi? Siapa yang membuatnya menangis?"
Fariz bertanya-tanya dalam hati.