The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 56


__ADS_3

"Kalau kita kalah nanti kamu yang aku suruh memenuhi permintaan mereka", ucap Sava.


"Kalau kita menang bagimana?", balas Fariz.


"Kalau kita menang aku akan kabulkan permintaanmu", ucap Sava.


"3 permintaan", ujar Fariz.


"Apa? Tidak bisa. Itu terlalu banyak", balas Sava.


"Baiklah 2 permintaan. Kalau kita urutan ke 2 kamu harus ikut hukumannya tapi aku akan menagih 1 permintaan padamu. Bagaimana?", ucap Fariz dengan senyum licik.


"Oke. Setuju", jawab Sava.


///


Uang pasangan keluarga cemara semakin menipis. Rafif pun mulai panik.


"Gadai. Gadai. Gadai", teriak Azzam dan Fariz.


Pasangan keluarga cemara mulai menggadaikan harta-hartanya sampai akhirnya benar-benar bangkrut.


Rafif menatap uang milik pasangan fantastic duo dengan pasangan pasutri bergantian dan mulai membanding-bandingkannya.


Terlintas ide licik di otak Rafif. Ia membisikkan sesuatu ke papanya.


"Setelah semua tanah terjual permainan berakhir", ucap Rafif.


Semua pemain menatap jumlah tanah yang belum terjual. Hanya tersisa 3.


"Cepatlah. Hari semakin larut", kata mama Sava.


"Akhiri sekarang saja", ucap Sava. Sava mulai panik, kalau ternyata timnya menang ia harus memenuhi permintaan suaminya. Sava takut entah nanti Fariz akan meminta hal aneh padanya.


"Ku ubah saja peraturannya agar cepat selesai. Siapa yang berhenti di salah satu daerah maka harus membelinya", ujar Rafif.

__ADS_1


Semua sepakat. Rafif dan papanya pun saling pandang.


///


Permainan berakhir. Saatnya menghitung jumlah kekayaan.


Rafif ditunjuk sebagai juri dadakan.


Semua peserta tegang menunggu hasil. Semua menatap lekat ke Rafif.


Jumlah aset kedua pasangan hampir sama. Tetapi jumlah uang tunai pasangan pasutri lebih banyak dibanding pasangan fantastic duo.


"Pemenang akhir permainan adalah pasangan pasutri", ucap Rafif.


"Yeyyy kita menang", ucap Fariz kegirangan sambil memeluk Sava. Tiba-tiba tubuh Sava memanas. Rasa takut, panik serta terkejut bercampur.


"Hitung ul", kalimat protes Azzam terputus oleh dekapan papanya serta tatapan tajam Rafif.


Tiba-tiba mama Sava berkata, "Sava kamu sakit nak? Kenapa mukamu memerah? Apa kamu demam? Apa tubuhmu juga hangat?".


"Badanmu hangat. Apa kamu sakit?Di mana yang sakit? Ayo ke dokter", ucap Fariz sambil menggoyangkan tubuh Sava ke sana ke mari untuk mencek kondisi tubuh Sava lalu akhirnya menarik tangannya.


Sava menarik tangannya dari Fariz lalu berkata, "Menjauh dariku".


Fariz terkejut. Ia membulatkan matanya lalu menatap tajam Sava.


"Aku hanya perlu istirahat. Aku akan tidur di kamar mama sama papa", ujar Sava.


"Kamu mau menularkan orang tuamu? Orang tua sakit itu susah diobati. Jangan menyusahkan orang lain. Ayo ke kamar kalau kamu mau istirahat", balas Fariz.


"Ah. Bagaimana ini. Kenapa dia sangat keras kepala. Dasar gak peka. Aku bisa berubah menjadi zombie dalam semalam kalau kita kembali 1 kamar", batin Sava.


"Gak mau. Badanku sakit semua kalau tidur denganmu", kalimat Sava berhasil membuat semua orang menatap Fariz dengan ekspresi terkejut.


"Aku salah apa? Kenapa menatapku seperti itu? Hei apa yang kamu katakan. Bicara yang jelas", ucap Fariz sambil menyikut Sava.

__ADS_1


Sava pun akhirnya sadar ucapannya tadi membuat orang salah paham.


"Maksud Sava itu karena tempat tidurnya sempit", jelasnya.


Rafif dan papanya saling tatap dan saling memberi isyarat. Akhirnya Rafif angkat bicara.


"Kasih hukumannya dulu. Tapi kalau mau dilupakan silahkan kami terima dengan senang hati. Tapi hukuman tidak berlaku untuk besok", ucap Rafif.


"Hukumannya kak Rafif dan Azzam tidur di luar biar Fariz tidur di kamar kalian", ujar Sava.


"Hei kita belum sepakat dengan hukumannya. Gak sah. Gak sah", balas Fariz.


"Kamu mau hukuman apa? Biarkan aku mengambil 1, sisanya terserahmu", ucap Sava.


"Gak bisa. Kak Rafif dan Azzam bukan 1 tim", jelas Fariz.


"Kalau begitu semuanya tidur di luar. Adilkan", ucap Sava.


"Tega banget. Di luar banyak nyamuk kak", ucap Azzam.


"Bagaimana kalau besok kita ke pantai menginap di sana. Aku punya kenalan yang punya villa dekat pantai. Jadi kita buat acara manggang-manggang. Hukumannya adalah kalian yang mempersiapkan semuanya", kata Fariz menawarkan ide.


"Setuju", jawab tim kalah serentak.


"Karena semua sudah setuju ayo kita istirahat", ujar papa Sava.


Satu persatu anggota keluarga masuk kamar. Tinggallah Sava dan Fariz.


"Jadi kamu mau tidur di luar?", ujar Fariz memecah keheningan.


Sava diam.


"Kamu bisa tambah sakit kalau tidur di luar. Ayo masuk. Aku akan tidur di bawah nanti", ucap Fariz menarik tangan Sava. Sava akhirnya menurut.


Sava langsung naik tempat tidur dan melemparkan bantal ke Fariz.

__ADS_1


Akhirnya Fariz tidur hanya beralaskan ambal tipis tanpa selimut.


__ADS_2