
"Apa maksudmu?", tanya Sava.
"Kamu sedang merayu ku dengan cara seperti ini", jawab Fariz mengulang apa yang dilakukan Sava.
"Kamu harus tahu aku ini pria dewasa. Jangan merayuku atau kamu akan menyesal", lanjut Fariz menggoda Sava.
"Si. Siapa yang menggodamu. Katamu hanya melakukannya dengan orang yang kamu cintai. Menjauh dari ku", ucap Sava kesal dengan mendorong tubuh Fariz.
Fariz memicingkan matanya lalu menarik Sava kembali dalam pelukannya.
"Aku suka seperti ini", kata Fariz mengelus rambut Sava.
"Apa gak ada baju lain yang bisa kamu pakai? Sangat gak nyaman saat kulitku menyentuh gaunmu", ucap Fariz.
"Sudah ku bilang menjauh dariku", balas Sava.
"Aku mau pergi ke mana lagi? Ranjang ini sangat sempit", sahut Fariz.
"Aku akan melilit tubuhku dengan selimut", ujar Sava.
"Lalu aku bagaimana? Bagaimana kalau aku kedinginan?", tanya Fariz.
"Kamu itu laki-laki. Kedinginan semalam saja gak akan membuatmu membeku", jawab Sava.
"Kamu menyingkirlah. Aku mau ke kamar mandi", kata Sava.
"Kamu pasti mau mengelak", balas Fariz.
"Kamu gak percaya? Kamu boleh ikut", ucap Sava.
"Oke", sahut Fariz.
Sava menatap tajam ke Fariz
Fariz pun tertawa.
"Jangan lama-lama. Kalau dalam 10 menit kamu gak ke luar akan ku dobrak pintu kamar mandinya", ujar Fariz.
Sava tidak menjawab Fariz. Ia buru-buru lari ke kamar mandi.
10 menit berlalu.
"Sava. Sava", teriak Fariz.
"Diamlah. Perutku mulas", sahut Sava.
Tak berapa lama Sava keluar dengan jubah mandi.
"Dari mana kamu mendapatkannya?", tanya Fariz.
"Kamu gak lihat aku dari mana? Memangnya aku punya kantong ajaib?", jawab Sava.
"Kenapa gak lepaskan saja gaun sialan itu", ujar Fariz.
"Jangan gila", sahut Sava.
"Buang gaun itu jauh-jauh. Aku gak suka melihatnya", bentak Fariz.
"Bunda yang memberikannya. Bunda menyuruhku memakai ini", balas Sava.
Fariz terdiam. Hening seketika.
"Kenapa masih berdiri di situ. Tidurlah", ucap Fariz.
"Kamu bergeserlah sedikit", kata Sava.
"Gak mau", jawab Fariz cuek.
"Aku mau tidur di mana?", tanya Sava.
"Di sini", jawab Fariz menepuk-nepuk sisi kasur yang kosong.
"Itu terlalu di pinggir. Kalau aku jatuh gimana?", balas Sava.
"Aku akan memelukmu agar tidak jatuh", sahut Fariz.
Sava pasrah saja dari pada ia harus tidur di lantai dingin. Sava tidur memunggungi Fariz
"Kenapa memunggungiku?", tanya Fariz.
__ADS_1
"Rasanya sangat aneh kalau aku tidur dengan menatapmu", jawab Sava.
Fariz membalikkan tubuh Sava sehingga mereka saling bertatapan.
"Kenapa kamu gak mau menatap suami tampanmu? Kamu gak lihat banyak gadis yang mencoba ingin menatapku?", ujar Fariz.
Sava menundukkan kepalanya tak tahan dengan tatapan Fariz.
Fariz tertawa lalu membenamkan kepala Sava di dadanya.
"Tidurlah", kata Fariz.
///
Pagi hari bunda Fariz membangunkan Sava dan Fariz.
"Fariz. Sava", teriak bunda dari depan pintu kamar.
Sava membangunkan Fariz karena tubuhnya di dekap Fariz. Tapi Fariz malah semakin mempererat dekapannya.
"Sebentar lagi. Aku masih mengantuk", gumam Fariz.
"Hei. Bangunlah. Bunda memanggil kita", ucap Sava.
"Sebentar bun. Kita sudah bangun", teriak Sava.
"Kamu bisa lanjut tidur tapi lepaskan aku", kata Sava ke Fariz mencoba melepaskan diri.
Pintu terbuka
Terlihatlah pemandangan Fariz memeluk erat Sava.
"Ups. Bunda mengganggu ya. Kalian boleh lanjutkan tidurnya", kata bunda Fariz meninggalkan Sava dan Fariz.
"Bunda sudah pergi?", bisik Fariz.
"Kamu sudah bangun?", tanya Sava.
"Hmm. Aku sengaja melakukannya. Pasti itu yang ingin dilihat bunda. Dengan sengaja mengatur kita untuk tidur bersama setidaknya kasih hadiah kecil dengan pemandangan sepasang suami istri tidur saling berpelukan. Kalau kita terlihat baik-baik saja bunda pasti kecewa", jelas Fariz.
"Oh begitu. Lalu kenapa kamu masih memelukku?", sahut Sava.
///
Ketika sarapan bunda Fariz berbisik-bisik dengan Fariz.
"Kalian melakukannya?", tanya bundanya.
"Melakukan apa bun", jawab Fariz.
"Jangan buat bunda penasaran", balas bunda.
"Bunda sudah melihatnya tadi. Apa lagi yang mau Fariz jelaskan", ucap Fariz.
Bunda Fariz tersenyum mengingat pemandangan tadi.
"Nanti ajak Sava berkeliling", bisik bunda Fariz.
"Fariz capek bun. Ngantuk", jawab Fariz.
"Kalian melakukannya atau gak sih?", tanya bunda penasaran.
"Bunda melihat semuanya tadi", jawab Fariz.
"Kenapa Sava baik-baik saja?", kata bunda dengan nada bicara normal mulai emosi.
Semua mata tertuju ke bunda Fariz lalu berganti ke Sava.
"Sava kenapa? Sakit?", tanya Ayah Fariz.
"Sava baik-baik saja yah", jawab Sava.
Farizpun mendapatkan cubitan di perutnya.
"Kalian gak melakukannya. Kenapa? Hah?", bisik bunda ke Fariz
"Bunda sendiri yang ngomong melakukannya dengan cinta", sahut Fariz.
"Jadi kamu gak mencintai Sava?", tanya bundanya.
__ADS_1
Fariz terdiam. Matanya terbuka lebar. Sikutan bundanya menyadarkannya.
"Kami akan melakukannya perlahan. Bunda jangan memaksa kami", ucap Fariz.
"Apa mereka belum saling mencintai?", batin bunda Fariz dengan raut wajah sedih.
Setelah sarapan Fariz membawa Sava jalan-jalan.
"Rencana bunda berhasil?", tanya ayah Fariz.
"Sepertinya gak", jawab bunda Fariz.
"Tapi tadi pagi bunda melihat sendiri ke kamar", ujar ayah.
"Iya mereka tidur berpelukan. Tapi belum tentu terjadi sesuatu. Fariz tadi bilang mereka akan melakukannya perlahan dan dengan cinta", jelas bunda.
"Apa menurut ayah mereka belum saling mencintai?", tanya bunda.
"Ayah rasa mereka saling mencintai. Sewaktu acara syukuran nenek mereka saling mencari satu sama lain. Terus ayah sering melihat tatapan Fariz ke Sava itu berbeda", jelas ayah.
"Farhan setuju sama ayah. Kalau Farhan dekat Sava pasti Fariz mencari cara agar Sava menjauh dari Farhan", sahut Farhan.
"Tuh kan benar. Ayah juga merasa sepertinya Fariz sangat cemburu ke Farhan", ucap ayah.
"Kalau Sava?", tanya bunda.
"Farhan gak tau gimana perasaan Sava. Tapi dia selalu menurut apapun yang dikatakan Fariz. Jadi Farhan bingung Sava mencintai Fariz atau takut pada Fariz. Bunda tahu sendiri sifat anak bunda", jawab Farhan.
"Bagaimana kalau kita hubungi besan saja? Pasti mereka tahu sifat anak mereka. Apalagikan kemarin Sava dan Fariz berkunjung ke sana jadi kita tanya apa saja yang mereka lakukan", ucap bunda Fariz.
"Ide bagus bun", jawab Farhan.
Akhirnya bunda Fariz menghubungi orang tua Sava.
"Apa kata mereka bun", tanya Farhan.
"Katanya mereka itu lebih seperti orang pacaran. Bukan suami istri. Suka malu-malu. Ngambek-ngambekan. Tapi Fariz cukup perhatian dan romantis. Duuh bunda gak nyangka anak bunda sudah dewasa", jelas bunda sambil senyum-senyum.
"Fariz kenapa bun?", tanya Farhan.
"Fariz memberikan keluarga Sava hadiah begitu mengunjungi rumah Sava. Membawa keluarga Sava pergi berlibur. Kata kakaknya Sava Fariz selalu perhatian ke Sava, peduli pada Sava. Fariz gak bisa jauh-jauh dari Sava. Katanya lagi Fariz dan Sava itu tidur 1 kamar selama di sana. Dan itu atas permintaan Fariz. Fariz gak mau merepotkan keluarga Sava. Fariz gak mau diistimewakan. Mereka bahkan heran sifat Fariz yang kita sebutkan ke mereka malah sebaliknya", jelas bunda.
"Tuh bun. Anak bunda sudah jatuh cinta beneran ke Sava", sahut ayah.
"Terus Sava gimana bun?", tanya Farhan.
"Mereka yakin Sava mencintai Fariz", jawab bundanya.
"Jadi gimana?", tanya ayah.
"Mereka itu belum menyadari kalau mereka saling mencintai. Mereka belum yakin dengan perasaan mereka. Jadi sampai sekarang gak ada yang mau mengungkapkan. Jadi Farhan terus buat Fariz cemburu. Kalau rencana kita gak berhasil kita beralih ke Sava. Kalau bisa minta bantuan kakaknya Sava", jelas bunda.
"Siap bos", jawab Farhan.
***************************************
Visual Pemain The Beauty Of Marriage
Choi Jung Woo as Ayah Fariz
Kim Mi Kyung as Bunda Fariz
Yang suka nonton drama korea pasti kenal dengan ayah bunda Fariz alias Choi Jung Woo dan Kim Mi Kyung.
Lee Il Hwa as Mama Sava
Sung Dong Il as Papa Sava
Author suka pasangan orang tua dalam drama ini. Beberapa kali Lee Il Hwa dan Sung Dong Il di pasangkan dalam drama sebagai pasangan orang tua.
Sowon Gfriend as Amel (Pacar Fariz)
Author memilih Sowon karena cocok dengan ciri-ciri Amel.
__ADS_1