
126
Dua insan sedang dimabuk cinta tampak termenung. Keduanya menatap lurus ke arah plafon kamar.
"Teori dengan praktek jauh berbeda. Kita coba lain kali," kata Sava tiba-tiba.
Fariz dan Sava menutupi tubuh mereka dengan selimut. Hanya ada keheningan di dalam kamar. Sesekali Sava melirik ke arah Fariz, Fariz sedang dalam suasana hati kacau, ada setan mesum merasuki pikirannya. Sava ingin menghibur, tetapi ia tak tahu bagaimana menghibur suami esnya ini.
Fariz mengalihkan pandangannya ke arah Sava, lalu menatap tajam Sava.
"Ayo, kita coba lagi," sahut Fariz.
Sava membalas tatapan tajam Fariz.
"Jangan bercanda," kata Sava lalu memunggungi Fariz.
Bukan Fariz namanya, jika tidak bisa mendapatkan yang ia inginkan.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Sava.
"Aku ingin mencari tahu sesuatu," jawab Fariz santai.
"Kau gila?" balas Sava.
Tanpa sengaja Sava menendang Fariz. Fariz terhentak, kesadarannya pulih kembali. Diraihnya pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu memakainya.
"Aku mau cari angin," kata Fariz pamit ke balkon.
Di balkon, Fariz menonton film edukasi hubungan suami istri.
Farhan mendengar suara aneh dari sebelah kamarnya, yang kebetulan juga sedang berada di balkon kamar miliknya. Dicarinya di mana arah suara berasal, dan terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Fariz! Kapan kamu datang?" teriak Farhan.
"Bunda, Fariz menonton film yang aneh-aneh." Farhan berteriak memanggil bundanya, ia mengadu apa yang barusan dilihatnya.
"Hei, pria lajang. Diamlah! Menikahlah, jika kau ingin tahu," sahut Fariz.
"Apa?"
Farhan tak percaya adiknya mengatakan hal itu ke padanya. Bukankah harusnya posisinya terbalik? Siapa di sini posisinya lebih tua? Ia tak malu kalah, dibalasnya Fariz dengan candaan lain.
"Oh, ya? Lalu kau bagaimana? Pria beristri? Haha. Buat apa kamu menonton itu?" balas Farhan.
"Aku hanya ingin mempelajari gaya baru," jawab Fariz cuek.
"Jadi... Kalian sudah melakukannya?" tanya Farhan penasaran.
"Tentu saja," sahut Fariz lalu masuk kembali ke dalam kamar.
Sava sudah memakai pakaian lengkap. Direbahkan Fariz tubuhnya di samping Sava, lalu melingkarkan tangannya di perut Sava.
"Kenapa kamu sudah memakai pakaianmu?" tanya Fariz.
"Aku mau tidur. Kamu sendiri sudah memakainya," sahut Sava.
"Kita coba lagi ya," bujuk Fariz.
Fariz mencium-cium tengkuk Sava untuk membuat Sava kegelian. Bukannya kegelian, tetapi Sava malah memarahi Fariz.
__ADS_1
"Fariz, stop!" seru Sava.
Sava berbalik badan menghadap Fariz, ia menatap tajam Fariz.
"Ternyata, selama ini kamu penyebab leherku merah-merah," lanjutnya sambil menunjukkan leher.
Fariz terkejut melihat leher Sava dipenuhi tanda merah olehnya. Fariz menjawab Sava dengan senyuman paksa, ia takut Sava berfikir yang tidak-tidak tentangnya.
"Benar, kan?" tanya Sava dengan nada sedikit tinggi.
"Iya, benar," jawab Fariz tak kalah kuat.
"Aku tidak tahan setiap melihatmu. Aku sengaja pulang telat agar tidak bisa berpapasan denganmu. Aku tidak bisa menahannya, apa kau tahu bagaimana rasanya, hah!" seru Fariz.
Fariz tak perduli apa yang dipikirkan Sava, diungkapkannya semua apa yang ada dipikirannya. Mau Sava marah, merajuk atau apapun itu, Fariz pasrah.
Cup
Sava mencium bibir Fariz sekilas.
"Aku suka kamu yang jujur seperti ini," kata Sava sambil tersenyum.
"Kamu licik, bagaimana bisa kamu menyembunyikan perasaanmu?" tanya Fariz.
"Perasaan apa?" tanya Sava.
"Perasaanmu padaku."
"Apa? Jadi kamu tidak tahu sampai aku mengungkapkannya tadi?" balas Sava.
Fariz mengangguk polos.
"Kamu menyukaiku semenjak tahu aku calon suamimu, kan? Bagaimana ceritanya? Aku penasaran."
"Kenapa kamu menyembunyikannya selama ini?" Fariz penasaran.
"Karena aku takut menerima kenyataan kalau kamu tidak bisa membalas perasaanku, aku takut kamu tidak menyukaiku. Aku ini wanita, wanita itu hanya bisa menunggu. Kamu sendiri bagaimana? Kapan rencanamu mengungkapkan isi hatimu jika tidak aku mulai tadi?"
"Maksudmu, kamu tahu bagaimana perasaanku?" balas Fariz.
"Dasar bodoh. Aku membuatku menunggu lama." Sava memukul-mukul dada Fariz.
Fariz menahan tangan Sava, lalu ia naik ke atas Sava.
"Aku terima godaanmu," kata Fariz sambil menunjukkan senyum licik.
"Siapa yang menggodamu?" Sava mengelak.
"Kali ini, kamu tidak bisa mengelak," ujar Fariz menarik paksa piaya Sava.
"Fariz!" teriak Sava.
Tok tok tok.
"Sava," panggil seseorang dari depan pintu kamar.
"Sial. Siapa yang mengganggu tengah malam begini?" Fariz marah, ia sampai menumbuk-numbuk kasur, gigi atas dan bawahnya menyatu seakan sedang mencabik sesuatu.
"Itu pasti bunda," lirih Sava.
__ADS_1
Sava melepaskan diri dari Fariz, ia merapikan penampilannya sebelum membukakan pintu. Sedangkan, Fariz duduk dengan raut wajah menahan amarah.
"Ada apa, bun?" sahut Sava.
"Kata Farhan, Fariz datang ke sini?" tanya bunda.
Bunda Fariz menatap isi kamar, mencari sosok anak bungsunya. Sosok yang dicari telah ditemukan, bunda mendekat lalu memeluknya.
"Kapan datang, nak? Kamu baik-baik saja selama kami tinggalkan, kan?"
"Bunda, mau apa ke sini sih? Menggaggu saja," bisik Fariz.
"Kata Farhan kamu datang dan menyiksa Sava karena tidak mau pulang. Bunda juga mendengar Sava berteriak, jadi bunda khawatir," jawab bunda.
"Kamu apain Sava, hah?" tanya bunda.
"Belum diapa-apain bunda," jawab Fariz geram.
"Apa maksud perkataanmu?"
Bunda mimicingkan mata, lalu berdiri menghampiri Sava. Disentuhnya bahu kiri Sava dan berkata, "Kamu tidak apa-apa, kan? Apa Fariz berbuat jahat padamu? Beritahu bunda."
Sava menggelengkan kepalanya. Akibatnya, rambut yang tadinya digerai ke depan terkibas menampilkan leher jenjang Sava. Ibu mertuanya pun terkejut, matanya melotot melihat ke arah leher Sava. Dengan sigap Sava menutup lehernya dengan rambutnya.
Bunda beralih ke Fariz, lalu menepuk keras punggungnya.
"Sakit, bunda. Kenapa Fariz tiba-tiba dipukul?" rintih Fariz.
Bunda tertawa lirih, lalu mengusap-usap punggung Fariz.
"Jadi, bunda menggangu?" bisik bunda.
Fariz mengerti ke mana arah pembicaraan ibunya itu. Raut wajahnya berubah seolah sedang merajuk dan memelas.
"Iya, bunda menggangu. Harusnya tadi kami akan membuat cucu untuk bunda. Tidak jadi deh," jawab Fariz.
Wajah sang bunda berseri-seri begitu mendengar mereka membuat cucu untuknya. Ia kembali memeluk Fariz.
"Kamu harus sabar, jangan memaksa Sava. Lihatlah, Sava tadi menjerit-jerit," balas bunda.
"Belum Fariz apa-apain, bunda," sahut Fariz.
"Tidak diapa-apain bagaimana? Leher Sava merah-merah begitu," balas bunda.
"Iya, tetapi tidak sampai tahap itu. Bunda sudah mengganggu."
Fariz geram terhadap bundanya. Ia mengusap-usap kasar wajahnya dan juga menarik-narik rambutnya.
"Aku tidak ingin durhaka, tetapi dalam kondisi saat ini aku ingin bunda cepat-cepat pergi. Bisa tidak sih bunda pergi saja," batin Fariz.
"Silahkan kalian lanjut, bunda mau kembali tidur," kata bunda Fariz sambil mengedipkan mata ke arah Fariz.
Fariz mengantarkan bundanya ke luar, lalu mengunci pintu. Ia berjalan menuju ranjang sambil menarik lengan Sava.
"Kita tidur saja ya," kata Sava memelas.
"Tidak bisa. Kamu yang menggodaku tadi," sahut Fariz.
"Aku tidak menggodamu." Sava menunduk tersipu malu.
__ADS_1
Fariz menunduk, mengintip wajah tersipu malu Sava. Akhirnya, mulutnya melengkung membentuk senyuman. Dituntunnya Sava untuk berbaring di sampingnya.
"Ayo tidur," kata Fariz sambil memeluk Sava.