The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 35


__ADS_3

Mereka tiba di rumah utama di sambut oleh ayah dan bunda Fariz. Sedangkan neneknya sudah tiba lebih dulu dan sedang beristirahat.


Bunda Fariz memeluk serta mencium Sava. Bundanya juga melakukan hal yang sama ke Fariz tapi dicegah Fariz. Ia malu dipeluk dan dicium bundanya di depan orang saat sudah besar begini. Bundanya tau itu. Hal itu dibalas dengan cubitan kecil di perutnya.


"Ayo masuk dulu. Kita cerita-cerita di dalam", ucap bunda.


"Kita langsung pulang saja bunda. Istirahat. Besok harus sekolah", ujar Fariz.


"Tapi kalian hutang cerita ke bunda", balas bunda.


"Hmm baiklah. Tapi bunda antar kalian", lanjut bundanya menarik Sava menuju ke paviliun.


///


"Ini rumah kalian. Bunda dan ayah sudah mengatur isinya. Setiap pagi bi Ijah akan datang untuk memasak dan bersih-bersih. Setelah pekerjaannya selesai ia akan pulang. Ada 2 satpam yang menjaga paviliun ini jadi kalian akan aman. Kalau kalian perlu sesuatu datanglah ke rumah utama. Bunda pulang dulu. Selamat beristirahat", kata bunda Fariz.


Sava dan Fariz masuk. Sava menyukai rumah yang akan ia tempati itu. Sederhana, tidak banyak perabotan. Terdiri 2 lantai. Di lantai bawah ada ruang tamu merangkap menjadi ruang menonton karena ada tv di sana. Lalu di belakang ada dapur beserta meja makan dan kamar mandi beserta ruang mencuci. Di lantai atas ada 2 kamar dengan pintu saling berhadapan. Diantara kedua kamar itu ada 1 set sofa menghadap ke pintu luar menuju balkon.


Sava membuka pintu kamar dari salah satu kamar di lantai atas yang saling berhadapan, dipintu kamar itu tertulis namanya.


Kamar Sava bernuansa sangat girly. Semua serba pink. Mulai dari dinding hingga perapotan kamar. Kamarnya luas. Hampir 3 kali dari kamarnya di rumah. Terdapat tempat tidur queen size, ada meja belajar dan di sebelahnya ada komputer 1 set beserta tablet grafis miliknya. Ada lemari pakaian dan juga rak buku dan juga kamar mandi. Ada sofa kecil beserta meja di atas ambal. Sava benar-benar menyukai kamarnya. Ia bahkan melompat-lompat kecil di atas kasur empuknya.

__ADS_1


Sava membereskan barang-barangnya. Ternyata barang-barang Sava sudah ada di sini. Sava menghubungi keluarganya untuk memberi kabar dan mengucapkan terimakasih sudah menyiapkan barang-barangnya.


"Hallo ma"


.....


"Iya Sava sudah sampai. Sekarang Sava sedang di kamar. Barang-barang Sava kapan dibawa ke mari ma? "


.....


"Makasih banyak ma. Maafkan Sava merepotkan"


.....


.....


"Kenapa sepi? Apa yang lain sudah tidur? "


.....


"Sava beli oleh-oleh. Tapi sepertinya Sava belum bisa ke rumah. Jadi nanti Sava suruh Deshi mengantarkannya"

__ADS_1


......


"Hmm"


.....


"Iya ma. Sava ngerti. Kalau gitu mama istirahat, Sava juga besok mau sekolah"


.....


Setelah telepon terputus air mata Sava menetes. Ia merindukan keluarganya. Ia tidak menyangka jalan hidupnya akan seperti ini. Terlebih lagi mendengar nasehat ibunya barusan. Ia harus menerima takdirnya menjadi seorang istri diusianya yang masih 17 tahun.


///


Pagi hari.


Sava duduk di meja makan menunggu Fariz. Setelah Fariz datang ia pun mulai memakan sarapannya.


Deshi melihat Sava sudah selesai sarapan ia pun menghampiri Sava lalu berkata, "Ayo nona saya antar ke sekolah".


Sava menurut dan mengikuti Deshi.

__ADS_1


"Aku berangkat", ujar Sava ke Fariz.


Fariz tidak menjawab Sava, ia hanya melirik Sava sekilas.


__ADS_2