The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 79


__ADS_3

"Bagaimana ini?", ucap Sava panik.


"Ya sudah kita tidur di sini", jawab Fariz.


Sava mundur perlahan menjauh dari Fariz.


"Ini bukan pertama kalinya kita tidur bersama. Kenapa kamu takut?", tanya Fariz.


"A. Aku gak takut", jawab Sava gugup lalu ia memberanikan diri duduk di tepi ranjang.


"Mereka niat sekali membuat kita tidur di ranjang kecil begini", lirih Fariz.


"Ini sebesar ranjangku. Ranjang di kamarmu saja yang terlalu besar", sahut Sava


"Di mana jasku?", tanya Fariz baru sadar melihat bahu Sava terbuka.


"Jatuh di mana tadi? Seperti aku terus mengenakan", gumam Sava.


"Kamu di mana dan ngapain saja?", ucap Fariz.


"Aku hanya bermain api unggun dengan kak Farhan. Ah apa karena di depan api aku gak merasa kedinginan jadi gak sadar jasnya jatuh", ucap Sava.


"Jadi. Kamu. Gak. Memakai. Jasku. Saat. Bersama. Kak. Farhan?", kata Fariz menekan serta menaikkan nada biacaranya.


"Sepertinya begitu", jawab Sava santai.


Fariz mengepalkan jarinya menahan marah.


Tiba-tiba saja ponsel Sava berbunyi.


"Hallo"


.....


"Iyaa. Makasih banyak semua"


.....


"Kabar Sava baik"


.....


"Baik. Semuanya baik. Kami sedang berlibur di villa bersama keluarganya"


.....


"Iya. Kalian juga semoga selalu sehat"


Panggilan telepon berakhir.


Ponsel Sava kembali berbunyi.


"Ada apa?"


.....


"Hahaha. Iya maaf. Aku di suruh untuk cepat pulang"


.....


"Oh ya? Nanti aku cek grup"


.....


"Oke. Makasih banyak"


Panggilan telepon kembali berakhir.


Sava memeriksa isi pesan dalam ponselnya. Ternyata sudah banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya.


Sava asyik dengan ponselnya, ia tersenyum hingga tertawa lirih.


"Siapa saja yang menghubungi mu? Kenapa kamu tertawa begitu", tegur Fariz.


"Hm? Ya. Banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun", jawab Sava.


"Hari minggu nanti teman-temanku mengajak bermain bersama dengan temanmu", ujar Sava.


"Hm. Ya. Aku tahu", balas Fariz.


"Apa kamu ikut?", tanya Sava.

__ADS_1


Fariz menganggukkan kepalanya.


"Kalau aku gak ada bisa jadi si Kenzie mengambil kesempatan dalam kesempitan", batin Fariz.


"Tapi. Katanya kita akan menginap di villa Shadiq. Kamu tahu itu kan? Bolehkan kalau menginap? Apa kamu tahu ada siapa saja? Apa akan aman? Gak akan ketahuan kan?", ucap Sava.


"Apa? Villa Shadiq?", ujar Fariz.


"Iya. Kenapa? Gak boleh?", balas Sava.


"Shadiq punya villa di mana lagi? Aku tahunya yang dekat pantai kemarin kami datangi. Apa penjaga villanya nanti akan mengingat ku dan Sava? Ah kalau pun ketahuan biarkan saja. Aku juga capek memikirkan cara untuk memberitahu mereka", batin Fariz.


"Hati-hati saja. Kemungkinan kita akan ke villa kemarin sewaktu bersama keluargamu", ucap Fariz.


"Itu villa Shadiq?", tanya Sava.


"Ya. Dan aku gak tahu dia memiliki villa di mana lagi. Itu salah satunya", jawab Fariz.


Sava menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


Ponsel Sava kembali berbunyi pertanda ada panggilan masuk.


Sava melirik Fariz lalu ia mencoba menjauhkan diri.


"Siapa?", tanya Fariz.


"Teman", jawab Sava.


"Kenapa kamu menjauh? Kalau kamu gak mau aku curiga jawab di sini", ujar Fariz.


"Hallo"


.....


"Aku gak nyangka kalau kamu tahu aku ulang tahun"


.....


"Ya begitulah. Ada yang mau aku bahas denganmu. Nanti aku kabari lagi"


......


"Iya. Sudah dulu ya aku sedang ada acara"


"Siapa?", tanya Fariz.


"Teman", jawab Sava cuek.


"Siapa temanmu? Itu suara laki-laki", balas Fariz.


"Memangnya wanita menikah gak bisa punya teman pria?", ucap Sava.


"Berani melawan", kata Fariz lalu merampas ponsel Sava.


Tak mau mendengar kata-kata kasar Fariz, Sava menarik selimut menutup seluruh tubuhnya.


"Aku sudah katakan kemarin jangan dekat-dekat dengan pria yang yang kau sebut-sebut Al itu. Kenapa gak mendengarkanku hah", kata Fariz marah.


"Kenapa kamu melarang-larangku bergaul? Dan kenapa kamu begitu membenci Al? Dia pria yang baik", balas Sava membentak Fariz.


"Kamu belum tahu siapa aku untukmu?", kata Fariz menarik selimut yang menutupi Sava lalu menatapnya. Sava dan Fariz saling memberi tatapan marah dengan keadaan kepala Fariz di atas Sava.


"Memangnya kenapa kalau kamu suamiku?", bentak Sava.


Entah dorongan dari mana Fariz mencium paksa bibir Sava. Sava meronta, mendorong tubuh Fariz tapi tak ada hasil. Fariz telah menangkup kedua pipinya. Akhirnya Sava hanya bisa meneteskan air matanya.


Air mata Sava yang mengenai pipi Fariz akhirnya menyadarkan Fariz. Fariz pun melepaskan ciumannya. Ditatapnya mata Sava penuh amarah dengan berlinang air mata. Setelah itu Sava membuang muka.


Sava menutup matanya menahan amarah dalam dirinya. Menahan tangisannya.


Tak tega melihat Sava menangis Fariz menarik tubuh Sava dalam pelukannya. Sava mendorong tubuh Fariz tapi Fariz malah semakin mempererat pelukannya.


"Maaf", lirih Fariz.


Hati Sava terenyuh mendengar ucapan Fariz. Ia pun diam dalam dekapan Fariz.


Setelah merasa Sava mulai tenang Fariz melonggarkan pelukannya lalu mengusap-usap rambut Sava.


"Aku mengenal Al. Dia itu saudara sepupuku. Kami memanggilnya Alan. Ayahnya lebih dulu meninggal dunia dari kakek. Keluarga menyokong penuh keuangan mereka. Tapi setelah kakek meninggal ibunya gak puas dengan harta yang diberikan ke mereka. Jadi ibunya merencanakan penculikan. Harusnya penculik itu menculikku tetapi kak Farhan mengorbankan dirinya. Penculik meminta tebusan yang sangat besar. Orang tuaku tahu dalang dibalik penculikan itu adalah ibunya Alan. Akhirnya dengan negosiasi kak Farhan dilepaskan lalu mereka mendapat anak perusahaan di luar negeri. Selama ini mereka tinggal di luar negeri. Aku baru tahu dia ada di Indonesia karenamu", jelas Fariz.


Sava terdiam mendengar penjelasan Fariz. Ternyata ada alasan dibalik ia membenci Al.

__ADS_1


"Hei. Kenapa kamu diam? Apa kamu tertidur?", kata Fariz lalu menundukkan kepalanya menatap Sava.


Sava mendongakkan kepalanya menatap Fariz lalu berkata, "Tapi Al itu baik. Dia sering membantuku".


Fariz mendorong kepala Sava agar kembali terbenam dalam pelukannya.


"Kamu gak tahu saja sifat aslinya. Dia itu sangat jahat. Sewaktu kecil aku sering di bully. Dia sangat cemburu padaku. Aku anaknya sangat aktif dan cerdas. Usia kami berjarak sekitar 3 tahun tapi aku seperti teman sebayanya. Dia mencuri-curi kesempatan untuk menjahatiku. Sampai saat kak Farhan masuk SMP dia menjadi sibuk dan jarang bermain dengan kami. Dari situlah sifat asli Alan keluar. Alanlah yang membantu penculik untuk menculikku. Dia sengaja membawaku ke rumah kosong, lalu meninggalkanku. Untungnya kak Farhan melihat Alan keluar dari rumah kosong itu dan menemukanku. Tapi saat kami melarikan diri penculiknya datang. Kak Farhan mengorbankan dirinya sementara aku bebas. Masih di daerah komplek rumah aku pingsan dan tidak sadarkan diri lebih dari 1 hari. Jadi orang tuaku terlambat mengetahui kejadian sebenarnya. Mereka hampir saja menyerahkan uang tebusan", jelas Fariz.


"Itu kan masa lalu. Dan itu kalian masih anak-anak. Siapa tahu dia sudah berubah", sahut Sava.


"Berani membantahku?", ucap Fariz mempererat pelukannya.


"Lepaskan aku", lirih Sava seakan sesak napas.


Fariz kembali melonggarkan pelukannya.


"Ada yang ingin aku diskusikan dengannya. Bisakah aku menemuinya?", tanya Sava.


"Mau mendiskusikan apa lagi?", bentak Fariz.


"Masalah kuliahku", jawab Sava.


"Aku akan memanggil seorang ahli jika kamu mau", ucap Fariz kesal.


"Aku gak mau. Aku mau mandiri. Aku mau menentukan pilihanku sendiri. Aku gak mau hidupku diatur. Cukup pernikahanku saja yang sudah diatur", jelas Sava.


Kata-kata Sava cukup menusuk.


"Baik, tapi setiap kali kamu mau menemuinya harus bersamaku", ujar Fariz.


"Tapi aku akan bersama sahabat-sahabatku", balas Sava.


"Ya tuhan. Kenapa selalu ada sahabatmu itu sih. Tapi gak apa-apa. Yang penting kamu gak sendiri. Ingat selalu mengabariku", ucap Fariz.


Sava menganggukkan kepalanya.


"Aku ingin tahu bagaimana kalian bertemu?", tanya Fariz.


"Kami bertemu gak sengaja. Dia pelangganku. Aku melakukan kesalahan jadi dia minta pertanggungjawaban", jawab Sava.


"Pertanggungjawaban apa?", balas Fariz.


"Katanya dia ketinggalan pesawat jadi dia gak punya uang. Dia memintaku untuk mencarikannya kos-kosan. Sampai menemani membelikan keperluannya", jelas Sava.


"Tapi anehnya. Dia itu bukan seperti orang miskin. Dia gak tau apa-apa. Aku harus mengajarinya untuk bertahan hidup", lanjut Sava.


"Lalu?", ucap Fariz.


"Dia juga memintaku mencarikannya pekerjaan. Aku saja sedang mencari pekerjaan yang layak bagaimana aku mau membantunya. Tapi dia hebat juga. Dia bisa mendapatkan pekerjaan dalam waktu singkat. Dan pekerjaannya itu menjanjikan. Dia bahkan sudah memiliki mobil", jelas Sava.


"Mulus sekali rencananya", batin Fariz.


"Bukannya sewaktu di bandara kak Farhan juga melihatnya?", tanya Sava.


"Dia gak melihatnya dengan jelas", jawab Fariz.


"Oh begitu. Lalu kak Farhan mau ke mana? Kenapa katanya aku menyalamatkan hidupnya?", tanya Sava lagi.


"Melarikan diri", jawab Fariz cuek.


"Kenapa melarikan diri?", balas Sava.


"Jangan banyak tanya. Sebaiknya jaga jarak juga dengan kak Farhan. Jangan terlalu dekat dengannya", jawab Fariz.


"Kamu curang. Aku selalu menjawab pertanyaanmu. Tapi kamu selalu menyuruhku untuk diam", kata Sava lalu memukul-mukul dada Fariz pelan.


"Hei. Kau sedang mengodaku?", ucap Fariz.


**********************************


Visual Pemain The Beauty Of Marriage


Yoo Seung Ho as Rafif (Kakak Sava)



Kakaknya Sava ganteng juga kan? Author pilih karena Yoo Seung Ho bisa menggoda wanita dengan senyum manisnya serta suka menggoda ke adiknya.


Nam Da Reum as Azzam (Adi Sava)


__ADS_1


Author kurang banyak tau artis cilik. Taunya cuma Nam Da Reum.


__ADS_2