The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 66


__ADS_3

Flashback


Fariz mendapat pesan dari pacarnya yang mengajak untuk bertemu hari ini. Ternyata mereka tidak berjumpa selama lebih dari 2 minggu. Fariz merasa bersalah telah mengacuhkan pacarnya karena sibuk dengan urusan rumah tangganya. Fariz pun mengiyakan ajakan pacarnya di saat ia merasa kesal istrinya pergi menemui pria lain.


Saat Fariz ingin menganti pakaian ponselnya berbunyi pertanda ada pesan masuk. Ia pun menunda aktivitasnya setelah membaca isi pesan itu.


Grup '*Pria Idaman 😎'


Kenzie


"Aku barusan melihat sosial media Tika"


"Mereka sedang berada di bioskop"


"Di foto itu ada seorang cowok yang duduk di samping Sava"


"Menurut kalian itu suaminya?"


Shadiq


"Waw"


"Kirim ke sini"


"Aku mau lihat"


Kenzie


*Mengirim foto**


Fariz memperbesar foto kiriman Kenzie. Ia mengerutkan kening dan mempertajam penglihatannya. Betapa terkejutnya Fariz melihat pria yang berada di samping Sava.


Beberapa kali Fariz terus memperbesar dan memperkecil foto kiriman Kenzie untuk memastikan pria yang ada di samping Sava.


"Bagaimana mereka bisa saling mengenal? Itu benar dia kan?", gumam Fariz.


Fariz memutar otak memikirkannya kemudian terbersit suatu ingatan mengenai pria yang sedang dekat dengan Sava.


"Ha. Apakah dia pria yang mereka sebut-sebut si Al itu?", ucapnya sambil membuang napas kasar.


"Itu artinya mereka sudah saling mengenal sebelum kami menikah?", lanjutnya.


"Bagaimana ini bisa terjadi?", ucap Fariz sambil mengacak-acak rambutnya.


Tidak ingin mati penasaran Fariz akhirnya menghubungi Hamdan untuk mencari tahu soal pria di samping Sava.


Karena sibuk memikirkan pria itu Fariz melupakannya janjinya dengan Amel pacarnya.


Amel menghubungi Fariz dalam keadaan kesal karena Fariz tak kunjung datang.


Fariz lebih memilih menunggu kabar Hamdan dibanding ia harus pergi menemui Amel. Akhirnya Fariz membatalkan janji bertemu dengan Amel. Walau ia tahu Amel akan marah


padanya.


"Maaf aku ada masalah di rumah. Kita bertemu lain kali saja", hanya kalimat itu balasan yang dikirim Fariz dan tidak peduli dengan balasan yang Amel kirim.


Entah sudah berapa kali Fariz menatap ke luar rumah menunggu kepulangan Sava.


"Kenapa dia belum pulang? Ini sudah jam 6 dan sebentar lagi akan turun hujan", ucapnya disela-sela menunggu Sava.


1 jam kemudian


"Kalau jam 8 malam dia belum pulang juga aku akan memberlakukan jam malam. Tidak adil jika hanya ada jam malam untukku", ucap Fariz menatap arah jendela yang telah terbuka lebar-lebar, jendela yang menghadap langsung ke pintu gerbang rumahnya.


Fariz mengintip saat melihat ada cahaya lampu mobil di depan gerbang. Tak lama kemudian terlihat Sava berlari menuju rumah. Fariz duduk di sofa menunggu Sava masuk kemudian menginterogasinya.


Fariz menarik napas dalam dan menghembuskannya. Mengulangnya kembali sampai Sava masuk ke rumah.


"Aku harus tenang. Jangan sampai aku lepas kendali dan hubungan kami semakin memburuk", batinnya.

__ADS_1


Dari mana saja kamu baru pulang jam segini?", ucap Fariz.


"Aku pergi bersama temanku", jawab Sava.


"Kamu harus ingat kamu itu seorang istri sekarang. Sepertinya aku harus memberlakukan jam malam buatmu. Kamu harus ada di rumah sebelum jam 7 malam. Ini perintahku sebagai suami dan sebagai kepala keluarga di sini", ucap Fariz dengan menekan setiap katanya.


"Oke. Lain kali aku gak akan pulang telat", sahut Sava lalu pergi ke kamarnya.


"Hari ini kamu kulepaskan. Tidak untuk lain kali", gumam Fariz.


///


Minggu pagi tidak biasanya Sava dan Fariz sarapan bersama.


"Kamu mau ke mana hari ini?", tanya Fariz di tengah keheningan.


"Di rumah saja", jawab Sava cuek.


"Gak pergi dengan temanmu lagi?", lanjut Fariz.


Sava menggeleng kepala.


"Atau kita pergi berbelanja?", tanya Fariz tidak menyerah.


"Masih banyak bahan makanan di kulkas", jawab Sava.


"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi?", ucap Fariz dengan nada rendah sekaan mulai menyerah.


"Kamu kenapa seperti ingin mengusirku? Apa seseorang akan datang? Baiklah aku akan pergi", ucap Sava kesal.


"Bukan begitu", sahut Fariz.


"Apa aku salah bicara? Kenapa dia terus marah-marah. Aku ingin berbaikan dan memastikan siapa pria itu", batin Fariz.


"Sudah lah. Aku akan pergi. Pastikan tamumu pulang sebelum jam 6", ucap Sava lalu berdiri hendak pergi.


"Ke mana saja. Bukan urusanmu", jawab Sava cuek.


"Aku bukannya mengusirmu ataupun seseorang akan datang. Tapi aku hanya ingin tahu ke mana saja kamu pergi dan apa yang kamu lakukan", ujar Fariz.


"Jangan salah paham. Aku hanya memastikan keadaanmu aman. Itu karena kamu pergi sendiri dan gak ada Deshi yang mengawasimu", lanjut Fariz lalu melepaskan tangan Sava.


"Kamu mencurigaiku lagi?", balas Sava.


"Bu. Bukan. Bukan. Aku percaya padamu", jawab Fariz.


"Hmm. Aku pergi nonton bioskop semalam. Tentu saja dengan sahabat-sahabatku", jelas Sava.


"Sebenarnya aku melihat foto kalian di sosial media Tika. Kalian bersama seorang pria", ucap Fariz.


"Oh itu kenalanku", sahut Sava.


"Kenalan dari mana? Bagaimana kalian bertemu? Apa hubungan kalian? Kenapa dia sampai ikut menonton bersama kalian?", ucap Fariz dengan berbagai pertanyaan.


"Katamu kamu percaya padaku. Pertanyaanmu barusan menunjukkan kamu sama sekali tidak percaya padaku", kata Sava lalu benar-benar pergi meninggalkan Fariz di meja makan.


"Ah sial!", ucap Fariz marah.


Fariz kembali menghubungi Hamdan.


"Belum juga? Cari segera. 1 hal lagi yang perlu kamu selidiki. Cari tahu bagaimana dia bertemu Sava dan bagaimana hubungan mereka", kata Fariz.


"Atau kamu bisa menyadap ponsel Sava?", tanya Fariz.


.....


"Bagus datang ke rumah sekarang", ucap Fariz menutup panggilannya.


///

__ADS_1


Setelah Hamdan datang ia meminta semua rekap aktivitas Sava dimulai 2 bulan sebelum mereka menikah. Tetapi hanya bisa mendengar percakapan telepon saat ponsel Sava berganti dengan yang baru di beli Fariz.


Fariz akhirnya yakin bahwa yang menghubungi Sava sewaktu di pantai itu adalah Al. Jadi jelas orang yang pergi menonton dengan Sava dan sahabatnya adalah Al, orang yang dalam foto yang ditebak Fariz merupakannya orang yang dikenalnya. Artinya Fariz sedikit telah mendapatkan jawaban yang ingin diketahuinya.


"Saya baru mendapat info bahwa nona Sava baru saja berbicara di telepon dengan sahabatnya Kanaya", ucap Hamdan.


"Aku gak tertarik mendengarkan gosip mereka berdua", balas Fariz.


"Sepertinya Tuan harus mendengarkannya. Mereka membahas soal suami nona Sava", kata Hamdan dengan mengucapkan kata suami lebih lambat.


Akhirnya Fariz mendengarkan percakapan Sava dan Kanaya.


Sava


"Kamu sedang apa? Sibuk?"


Kanaya


"Gak. Ada apa? Gak biasanya kamu menelepon basa-basi seperti ini"


Sava


"Aku mau curhat. Diantara kalian kamu yang paling dewasa dan paling bisa diajak bicara yang aku yakini gak akan menyebarkan apapun yang akan aku katakan"


Kanaya


"Ceritalah. Akan aku dengarkan. Dan kalau kamu butuh pendapatanku akan ku katakan"


Sava


"Ini masalah rumah tanggaku. Aku membenci suamiku. Dia terus saja gak percaya padaku. Dia menuduhku berselingkuh. Hatiku sakit mendengar setiap tuduhannya"


Kanaya


"Memangnya apa yang dikatakannya?"


Sava


"Setiap kali aku ke luar rumah ia menuduhku bertemu pria lain. Seminggu yang lalu juga Al menghubungiku dan aku sudah menjelaskan padanya Al hanya kenalanku. Saat itu dia percaya. Dan tadi pagi dia kembali menanyakan soal Al padaku. Aku membencinya. Dia benar-benar tidak mempercayaiku"


Kanaya


"Kamu membencinya atau kamu mencintainya?"


Sava


"A. Apa yang kamu katakan? Jelas-jelas aku mengucapkan aku membencinya"


Kanaya


"Hatimu sakit bukan karena kamu membencinya. Tapi karena dia tidak mempercayaimu. Kamu sudah memberikan hatimu padanya tapi suamimu tidak menyadarinya. Jadi sebenarnya itu adalah hal yang kamu benci"


Sava


"Jadi aku mencintainya? Tapi aku gak merasakan apapun"


Kanaya


"Aku lihat belakangan ini setiap kita membahas suamimu kamu senyum-senyum, wajahmu blushing, dan yang paling penting kamu membelanya bahkan memuji-mujinya. Artinya kamu menyukai suamimu"


Sava


"Hah. Kamu salah. A. Aku hanya senang melihatnya mulai bersikap baik padaku dan juga keluargaku. Sudahlah. Kita bicara lain kali. Aku tutup teleponnya"


Deg!


Jantung Fariz bagai berhenti berdetak, beberapa saat kemudian keras menyesakkan napasnya. Tubuhnya tegak kaku di bangkunya


matanya berputar cepat, memandang arah pintu kamar Sava dengan perasaan campur aduk cemas, gelisah, juga penasaran. Sejenak muncul keraguan di hatinya, tak percaya yang barusan didengarnya.

__ADS_1


__ADS_2