The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 120


__ADS_3

Sava dan melihat Fariz memeluknya. Ia tersenyum gemas melihat suaminya sedang tidur.


"Tadi malam tidur memunggunggiku. Setelah aku tidur malah memeluknya seperti ini. Huh. Dasar," batin Sava. Ia mencubit gemas hidung Fariz yang membuat sang empunya terbangun.


Fariz mengerjap-ngerjapkan matanya lalu menutup matanya kembali. Melihat hal itu membuat Sava kembali gemas. Dicubitnya lagi hidung Fariz.


"Jangan memancingku," lirih Fariz.


"Memangnya kamu ikan dipancing?" ejek Sava.


"Pergilah bersiap untuk bekerja. Atau kamu tidak bisa bangun dari tempat tidur ini," ancam Fariz.


"Aku boleh pergi bekerja? Serius? Jadi pengunduran diriku bisa dibatalkan?"


Akhirnya kesadaran Fariz terkumpul. Ia membuka mata lalu menatap tajam Sava.


"Tidak," ucap Fariz.


Sava mengerutkan keningnya.


"Maksudku bekerja itu ya memasak. Mengerjakan pekerjaan rumah."


"Huh. Padahal aku sudah senang." Sava memukul dada Fariz lalu ia beranjak dari tempat tidur.


"Kamu bangun dan bersiaplah," kata Sava lalu meninggalkan Fariz dalam kamar.


Tanpa sengaja Sava menginjak benda berkemasan berwarna merah muda yang dibelinya di mini market tergeletak di lantai dapur.


"Ke-kenapa ini ada di lantai?" batin Sava. Ia was-was Fariz adalah pelakunya. Sava mengambilnya lalu ia menuju kantong belanjaan kemarin. Pupil Sava membesar melihat sebagian makanan sudah tersusun.


"Ja-jadi dia sudah membukanya?"


Sava terduduk lalu mengacak-acak rambutnya. Tatapannya tertuju ke kemasan berwarna merah muda yang ada di hadapannya.


Kemasannya terlihat kusut dan juga robek seperti bekas kuku yang menembus kemasannya.


"Fariz, Dia?" lirih Sava.


"Jadi benar dia pelakunya? Dan ini sebabnya dia mendiamkan aku tadi malam?" Sava mulai emosi mengingat Fariz mendiamkannya, Fariz pulang larut malam hingga tidur memunggunginya.


"Di-dia mau melakukannya?" Pipi Sava memerah memikirkan hal yang tidak-tidak.


"Tidak. Pikiranku terlalu jauh. Kemarin saja tidak terjadi apa-apa," batin Sava sambil menggelengkan kepalanya.


"Tapi... Aku harus mempersiapkan diri. Jangan sampai Fariz tiba-tiba menyerangku, aku malah cegukan seperti kemarin," kata Sava memantapkan diri.


Setelah Sava membereskan jajanan, ia memasak tetapi setelah 1 jam ia memasak Fariz tak kunjung turun.


"Lama sekali dia? Apa dia tidur lagi?" gumam Sava.


Setelah Sava menyelesaikan masakannya ia kembali ke kamar untuk memanggil Fariz.


Ternyata benar, Fariz tidur kembali.


"Fariz, bangun." Sava menepuk-nepuk pipi Fariz.


"Kamu gak ke kantor? Bangun. Sarapan sudah siap," kata Sava.


"Aku masih mengantuk," gumam Fariz.


"Perasaan tadi malam kita gak tidur terlalu larut," sahut Sava.


"Siapa bilang? Aku tidur setelah menghitung sejuta domba," gumam Fariz.


"Untuk apa kamu menghitung domba?" tanya Sava heran.


Fariz membuka mata, ia baru sadar apa yang barusan diucapkannya.


"Apa katamu? Domba? Aku hanya sedang mengigau. Aku mandi dulu," kata Fariz lalu ia menuju kamar mandi.


"Haa... Hampir keceplosan. Bisa-bisa Sava mengatai aku pria mesum lagi," batin Fariz.


Setelah Fariz mandi dan berpakaian, ia menyusul Sava ke dapur.

__ADS_1


Dilihat Sava dasi menggantung di leher Fariz tetapi tidak dipasang.


"Tumben pakai dasi? Tapi kenapa dasinya tidak dipakai dengan benar? Cuma di gantung begitu," ujar Sava.


"Aku ada meeting hari ini. Aku sengaja biar kamu yang pakaikan," jawab Fariz dengan senyum devilnya.


Sava mendekat lalu memasang dasi Fariz.


"Kamu nanti sendirian di rumah? Gak apa-apa? Kamu kenapa menyuruh bi Ijah tidak masuk sampai kita masuk kuliah sih? Bi Ijah harusnya bisa menjadi temanmu di sini, kan?" kata Fariz.


"Gak apa-apa. Biarkan bi Ijah pulang kampung dan berkumpul dengan keluarganya. Aku bisa ke rumah bunda atau menyuruh teman-temanku datang ke sini," jawab Sava.


"Baiklah. Kalau kamu bosan bisa menghubungiku. Aku bisa pulang nanti."


"Tidak apa-apa. Bekerjalah yang rajin."


"Sudah. Makanlah. Aku mau mandi," kata Sava setelah dasi di leher Fariz terpasang rapi.


"Kamu mau membiarkan aku makan sendirian?" Fariz mengerutkan keningnya.


"Iya aku temani. Ayo makan." Sava mengambil nasi untuk Fariz beserta lauknya.


"Hamdan mana? Kenapa belum datang? Kamu berangkat sendiri?" tanya Sava disela menyantap makanannya.


"Iya aku berangkat sendiri. Dia ada urusan," jawab Fariz.


"Kamu gak telat? Gak biasanya berangkat agak siangan begini."


"Aku bosnya. Suka-suka mau datang jam berapa," jawab Fariz sombong.


"Tetap saja tidak boleh seenaknya. Harusnya kamu bisa memberi contoh yang baik untuk pegawaimu. Tapi tadi kamu bilang mau meeting. Jam berapa?" tanya Sava ingin tahu.


"Saat makan siang. Aku meeting di luar."


"Oh begitu," sahut Sava mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Aku sudah selesai makan. Berangkat dulu ya. Kamu baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa hubungi aku," kata Fariz.


///


Shinee Frameworks


Pengumuman


Kepada pegawai Shinee Frameworks, demi menjaga nama baik perusahaan. Terhitung hari ini, Dewi Adela bukan lagi pegawai dari Shinee Frameworks.


Mohon yang bersangkutan menjumpai pihak HRD secepatnya.


Terimakasih.


"Dewi mana? Dia sudah lihat pengumuman ini belum? Dia benar-benar dipecat," ujar salah satu pegawai Shinee Frameworks yang ikut acara perpisahan Sava.


"Iyaa. Wahh. Ternyata suami Sava orang yang berpengaruh juga ya," sahut yang lain.


"Dari penampilannya sudah jelas, kamu gak ingat kata manajer restoran? Suami Sava anak pemilik restoran. Restoran itu merupakan restoran mewah yang memiliki berbagai cabang di seluruh penjuru negeri," kata yang lainnya.


Tak berapa lama orang yang dibicarakan muncul.


"Dewi. Sini cepat. Baca pengumuman," teriak mereka.


Semua orang yang ada di lobi menatap Dewi.


"Apaan sih kalian teriak-teriak. Orang-orang jadi menatap aneh kearahku," sahut Dewi.


"Baca ini." Salah satu mereka menarik Dewi ke depan papan pengumuman.


"Kepada pegawai Shinee Frameworks, demi menjaga nama baik perusahaan. Terhitung hari ini, Dewi Adela bukan lagi pegawai dari Shinee Frameworks," kata Dewi membaca pengumuman.


Mata Dewi membulat sempurna.


"Dewi Adela bukan lagi pegawai dari Shinee Frameworks," ulangnya.


"Apa-apaan ini? Atas dasar apa aku dipecat?" teriak Dewi histeris.

__ADS_1


"Dewi, tenang. Sepertinya suami Sava tidak main-main dengan ucapannya," kata seseorang menenangkan Dewi.


Beberapa orang di lobi berusaha mendekat.


"Tenanglah Dewi. Orang-orang melihat ke sini semua," bisik yang lain.


"Apa? Sava? Jadi ini benar-benar ulah suaminya?" Dewi mengepal tangannya lalu pergi menjumpai HRD meminta keterangan.


"Hallo Pak. Saya Dewi. Kenapa saya dipecat?" tanya Dewi menahan emosi.


"Duduklah. Saya sedang membereskan proses pemecatanmu," sahut HRD Shinee Frameworks.


"Saya butuh penjelasan Pak. Kenapa saya dipecat?" tanya Dewi tidak sabaran.


"Kamu sudah mencoreng nama baik perusahaan. Kami mendapat laporan kamu sudah menuduh atau lebih tepatnya menfitnah teman kerjamu. Jadi pihak keluarga akan melaporkan ke pihak berwajib, kami tidak mau nama perusahaan dibawa-bawa. Jadi kamu, kami pecat," jelas HRD perusahaan Shinee Frameworks.


"Apa buktinya? Kenapa bapak mempercayai hal itu? Itu hanya omong kosong," bela Dewi.


"Mereka sudah memberikan rekaman CCTV juga perekam suara yang didapat dari restoran tempat kejadian. Perwakilan mereka ke sini membawa pengacara. Jadi kami tidak bisa membelamu. Silahkan kamu panggil pengacara atau apapun yang bisa membela dirimu sendiri."


"Ta-tapi pak?"


"Silahkan bereskan barang-barangmu. Sebelum satpam yang membereskan dan membuangnya ke tong sampah. Ini surat pemecatanmu."


Dewi merampas kertas yang ada ditangan HRD dengan kasar lalu ke luar dengan membanting pintu dengan keras.


Dewi terus menggerutu. Ia membereskan barang-barangnya dengan penuh amarah. Membanting sana, membanting sini.


Para pegawai di ruangan itu hanya bisa menatap Dewi sambil berbisik-bisik.


"Tadi pagi ketika aku ke kantor, aku berpapasan dengan pak Hamdan. Aku yakin pak Hamdan yang melapor pihak atas tentang kejadian ini," kata salah satu pekerja Shinee Frameworks.


"Kenapa pak Hamdan yang datang? Bukan suami Sava?" sahut yang lain.


"Aku mendengar kalau pak Hamdan itu asisten direktur perusahaan Monang Grup. Dan aku yakin suami Sava direktur Monang Grup."


"Apaa?" sahut yang lain bersamaan.


"Kalian gak curiga melihat pak Hamdan begitu menuruti suami Sava? Ia melayani suami Sava layaknya atasan."


"Benar juga sih. Tapi aku pikir mereka berteman."


"Berteman? Kamu lihat gak perbedaan umur mereka? Suami Sava sangat muda."


"Iya benar. Lagi pula kalau sampai Dewi dipecat begini tentu saja orang yang membuatnya dipecat merupakan orang yang sangat berpengaruh."


"Iya yah. Kalau aku suami Sava juga emosi mendengar istriku dihina bahkan difitnah seperti itu. Tapi karena aku bukan orang yang berpengaruh aku tidak bisa bertindak apa-apa."


"Wahh. Sava beruntung kalau begitu. Punya suami tampan, kaya, perhatian dan sangat menyayanginya."


"Iya. Beruntung sekali. Tetapi aku juga tak menyangka mereka dijodohkan suaminya bisa sampai sangat menyayangi Sava."


"Sava cantik. Baik. Pekerja keras. Kamu gak lihat banyak pegawai pria yang memperhatikannya saat kita ke kantin?"


"Oh pantas saja. Sewaktu kami berjumpa suami Sava dilobi, atasan kita bilang kalau suami Sava yang membuat Sava mengundurkan diri. Artinya, suami Sava pencemburu. Dia takut istrinya diganggu orang lain."


"Aku juga pernah melihat Sava berbicara dengan pak Alan. Mereka terlihat begitu akrab. Pak Alan bahkan sampai menahan tangan Sava sewaktu Sava akan pergi."


"Wah. Wah. Pantas saja."


"Tapi mereka serasi. Suaminya tampan, Sava cantik. Sava itu cantik cuma tidak suka berdandan berlebihan. Jadi terlihat sederhana. Dewi malah menghina-hina Sava. Dewi jelas benar-benar salah di sini."


"Dewi itu cemburu. Melihat suami Sava tampan dan kaya. Jadi menuduh Sava yang tidak-tidak."


Dewi mendengar percakapan yang sedang membahas siapa suami Sava dan juga dirinya. Ia sedikit khawatir. Kalau memang benar bagaimana nasibnya kalau sampai dilaporkan ke pihak berwajib.


"Haa... Biarkan saja. Itu hanya gertakan saja. Baguslah aku ke luar dari perusahaan ini. Masih banyak perusahaan yang menerimaku," batin Dewi.


Ia telah selesai membereskan barang-barangnya. Ia pergi melalui para mantan rekan kerjanya tanpa sepatah katapun.


Di depan pintu perusahaan Dewi berbalik dan menatap lekat bekas perusahaan tempat ia bekerja.


"Lihat saja. Aku akan balas perbuatan kalian," batin Dewi.

__ADS_1


__ADS_2