The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 69


__ADS_3

"Aku menerima perjodohan ini karena tantangan ayah dan juga aku ingin kebebasan", ucap Fariz.


"Pantas saja kamu membawa mobil sendiri dan kakak gak melihat Hamdan di sini", sahut Farhan.


Fariz mengangguk lalu melanjutkan ceritanya, "Aku juga meminta agar pernikahan ini dirahasiakan. Sedangkan dia meminta kami untuk pisah kamar".


Farhan tertawa lirih sambil menganggukkan kepalanya.


"Setelah kami menikah aku masih berpacaran dengan pacarku", lanjutnya.


Farhan terkejut, "Gila lo. Gimana kalau ketahuan?".


"Aku yakin dia tahu itu. Dia beberapa kali pernah melihat kami bersama", sahut Fariz.


Farhan semakin terkejut. Matanya membulat sempurna.


"Tapi dia juga memiliki lelaki lain. Walau dia menyangkalnya", lanjutnya.


"Apa yang kalian pikirkan tentang pernikahan ini? Pernikahan bukan hal untuk dipermainkan. Kenapa kamu gak menolaknya saja sejak awal?, ucap Farhan.


"Aku tahu. Di awal pernikahan hubungan kami seperti orang asing yang tinggal 1 atap. Dalam 1 hari bisa kami tidak saling bertemu apalagi berbicara", jelas Fariz.


"Biarkan saja kehidupan penikahan kami berjalan seperti ini. Tapi sekarang ada yang sedang aku khawatirkan. Kakak ingat Alan? Kapan terakhir kali kakak bertemu dengannya?", tanya Fariz.


"Alan anak om Martua? Bukannya mereka tinggal di luar negeri?", sahut Farhan.


"Aku sudah memeriksanya, dia ke Indonesia 1 minggu sebelum kakak kabur. Dia juga memiliki penerbangan kembali ke luar negeri di hari yang sama dengan kakak. Tapi dibatalkan. Jadi sampai sekarang dia ada di Indonesia. Dan kakak tahu siapa pria dari istriku? Alan", jelas Fariz.


"Hah? Serius? Lalu? Lanjutkan ceritamu", ucap Farhan.


"Aku menyelidiki kedekatan mereka. Sepertinya mereka pertama kali bertemu saat dibandara. Alan mengunakan nama Al. Aku masih belum mengetahui pertemuan mereka itu kebetulan atau memang di sengaja. Kakak masih ingat kan bagaimana keluarganya bisa pergi ke luar negeri? Jadi aku khawatir kalau Alan benar-benar mendekati Sava karena ada maksud tersembunyi", jelas Fariz.


"Oh begitu. Sekarang kakak mengerti", ucap Farhan.


"Kenapa kamu gak tanya langsung istrimu?", lanjutnya.


"Aku sudah menanyakannya. Katanya mereka gak punya hubungan apa-apa. Hanya sebatas kenalan saja. Sebenarnya aku sudah tahu mereka dekat sebelum kami menikah. Tapi aku gak curiga karena Alan menggunakan nama Al. Saat salah seorang teman Sava membagi foto mereka sedang di bioskop dari situ aku tahu kalau Alanlah yang sedang mendekati istriku", kata Fariz.


"Semoga saja mereka memang bertemu karena suatu kebetulan dan Alan sudah berubah. Tapi kalau dia merencanakan semua ini lebih baik kalian waspada", ucap Farhan.


"Sava gak tahu siapa Alan sebenarnya. Bahkan dia akan mengikuti workshop yang diadakan perusahaan Alan. Pasti Sava akan membenciku kalau aku melarangnya mengikuti workshop itu. Aku juga gak bisa mengatakan alasan sebenarnya karena belum adanya bukti", ucap Fariz.


"Dia istrimu. Walau bagaimanapun dia itu tanggung jawabmu. Jaga dia. Tidak ada salahnya kalau saat ini kamu berburuk sangka demi melindungi istrimu. Kamu juga harus selidiki Alan lebih dalam", sahut Farhan.


"Iya kak", balas Fariz.


///


Setelah Farhan kembali Fariz mencoba membujuk Sava agar tidak mengikuti workshop perusahaan Al.


"Aku dengar ada workshop. Apa kamu ikut?", tanya Fariz.

__ADS_1


"Tentu saja", jawab Sava santai.


"Sebaiknya kamu gak usah ikut. Aku bisa mendatangkan pembimbing khusus untukmu", ucap Fariz.


Sava mengerutkan keningnya serta menatap kesal Fariz.


"Aku berhak menentukan jalan hidupku", ujar Sava.


"Aku juga berhak ikut serta dalam memutuskan jalan hidupmu", sahut Fariz.


"Kenapa akhir-akhir ini kamu bersikap seolah-olah menjadi seorang suami yang bertanggung jawab?", ucap Sava lalu pergi meninggalkan Fariz.


"Itu karena lokasi workshop cukup jauh. Dan pasti tidak ada yang mengawasimu", teriak Fariz.


"Ah sial. Apa yang harus aku lakukan", gumam Fariz.


"Siapa yang bisa aku suruh untuk terus mengawasinya", batin Fariz.


///


Hari H Workshop


Fariz terus memperhatikan gerak gerik Sava.


"Kenapa kamu terus menatapku?", tanya Sava heran.


"Aku antar kamu", jawab Fariz.


"Kamu mau naik apa ke sana? Lokasinya cukup jauh", balas Fariz.


"Kami berkumpul di sekolah. Ada bus yang disediakan untuk kami", jelas Sava.


"Lalu ke sekolah naik apa? Kamu gak meminta Deshi untuk datang menjemput mu?", tanya Fariz.


"Aku akan naik taksi", jawab Sava.


"Aku antar ke sekolah", kata Fariz dengan menaikkan nada suaranya.


"Gak perlu. Pasti kamu gak mengantarku ke sekolah tapi kamu akan menculikku. Aku yakin kamu sedang merencanakan sesuatu agar aku gak pergi", ucap Sava.


"Kenapa? Kenapa kamu melarang-larangku pergi?", lanjutnya.


"Aku gak melarangmu. Pergilah tapi aku akan mengantarmu. Oke?", kata Fariz membujuk.


Sava menatap Fariz lekat mencari kebenaran dalam diri Fariz.


"Oke", sahut Sava.


///


Sava bersiap-siap akan turun saat mobil Fariz mendekati halte dekat sekolahnya.

__ADS_1


"Aku katakan tadi aku mengantarmu sampai sekolah", ucap Fariz tiba-tiba.


"Jangan gila. Bagaimana kalau ada yang melihat kita", sahut Sava.


"Sekolah sedang sepi. Jadi gak akan ketahuan", ucap Fariz.


Sava pasrah saja. Sampai mereka berhenti di parkiran sekolah.


Fariz menahan tangan Sava sebelum Sava ke luar mobil.


"Mana ponselmu", ucap Fariz.


"Mau apa lagi?", tanya Sava.


"Ada yang mau aku periksa", jawab Fariz.


Sava memberikan ponselnya kemudian berkata, "Aku gak menganti namamu. Itu kan yang mau kamu lihat?".


Ternyata Fariz sedang menghubungkan lokasi Sava agar dapat dipantau oleh Fariz.


"Kalau terjadi sesuatu hubungi aku. Kalau kamu merasa dalam bahaya cepat hubungi aku. Aku sudah mengatur angka 1 panggilan cepat untuk menghubungi ku", kata Fariz sambil mengembalikan ponsel Sava.


Sava tidak menjawab Fariz, ia hanya berdehem tanda mengerti dan ia pun ke luar dari mobil Fariz.


"Kenapa kamu ke luar? Sana masuk", ucap Sava heran sambil menatap sekelilingnya.


"Aku ada urusan", jawab Fariz.


"Terserah kamu mau apa. Aku pergi", kata Sava lalu berlari meninggalkan Fariz.


///


Sava telah tiba di lokasi workshop bersama rombongan sekolahnya.


Mereka sudah diberikan daftar teman sekamar. Ternyata Tika, Kanaya dan Rania mendapatkan kamar yang sama. Hanya Sava yang berbeda. Setelah selesai istirahat dan makan siang workshop pun di mulai.


Pukul 6 workshop hari ini selesai. Semua kembali ke kamar masing-masing.


Sava baru menyadari bahwa ia sedang datang bulan dan tidak membawa pembalut sama sekali karena jauh dari prediksinya.


Sava menghubungi sahabatnya tetapi mereka tidak ada yang membawa pembalut. Mereka malah menyarankan Sava mengajak Al untuk pergi membelinya.


Karena tidak ada pilihan lain Sava pun mengajak Al.


"Makasih ya Al dan maaf sudah merepotkan", ucap Sava.


"Gak masalah. Hubungi aku kalau kamu membutuhkan sesuatu", sahut Al.


Sava dan Al berbincang-bincang sambil berjalan menuju gedung tempat peserta workshop menginap.


Langkah Sava tiba-tiba terhenti. Al pun menatap Sava heran dan mengikuti arah pandangan Sava.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu ada di sini?', tanya Sava panik melihat Fariz tiba-tiba ada di hadapannya.


__ADS_2