
Setelah mengantar mama papa Sava pergi mereka masuk dan makan siang.
Dari gerak gerik Sava dan Fariz mereka terlihat sedang habis bertengkar. Hal itu jelas dapat dibaca oleh Rafif.
"Apa lagi yang terjadi? Kenapa tiba-tiba suasana menjadi tegang begini", kata Rafif dalam hati.
"Siang ini kita ke mana kak? Sore nanti kita ke tempat yang Azzam minta. Jadi sekarang mau ke mana?", tanya Azzam.
"Kakak gak tahu, cuma ada pantai. Paling kita keliling pantai itu lalu kalau sudah sore kita main motor ATV", jawab Fariz.
"Lebih baik dari pada kita hanya di villa", ucap Azzam.
"Kita istirahat sebentar dulu. Kamu gak capek? Kita juga baru makan siang", ujar Rafif.
"Kalian pergi sana. Aku mau tidur", ucap Sava.
"Gak bisa. Kamu harus ikut. Di sini gak ada orang. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Mama sudah pesan gak boleh sendiri-sendiri", jelas Rafif.
"Huh. Ya sudah", kata Sava cuek.
///
Sava terus menjaga jarak dengan Fariz. Sedangkan Fariz kembali bersikap dingin.
Rafif terus berusaha menyatukan mereka. Tetapi tidak berhasil.
"Pasangan gila ini kenapa keras kepala sekali. Gak ada yang mau mengalah. Sepertinya mereka harus dibiarkan berdua saja agar bisa bicara satu sama lain", batin Rafif.
"Motornya 2 saja. Kakak gak bisa mengendarainya. Sava juga kan. Biarkan kami dibelakang. Sava dengan Fariz, kakak dengan Azzam", ucap Rafif.
"Kakak norak ih. Tinggal gas doang", ujar Azzam.
"Nanti kamu ajarin kakak. Lagian gak adil Fariz harus membonceng Sava saat balapan. Jadi adilkan kalau keduanya membawa penumpang", jelas Rafif.
"Baiklah. Aku setuju", kata Azzam.
"Kita latihan 10 menit, setelah itu kita balapan. Setuju?", lanjut Azzam.
Fariz mengganggukkan kepalanya.
Azzam dan Rafif sudah pergi dengan mengendari motor ATV mereka. Tinggallah Sava dan Fariz yang masih saling mengacuhkan.
"Naiklah", ujar Fariz.
Dengan terpaksa Sava duduk dibelakang Fariz.
"Pegangan", ucap Fariz.
Tiba-tiba Fariz memutar badan, ia menghadap belakang ke arah Sava lalu ia berkata, "Aku bilang pegangan. Nanti kamu jatuh".
"Aku sudah pegang. Ini", ucap Sava memperlihatkan tangannya memegang besi yang ada dibelakangnya.
Fariz menarik tangan Sava lalu melingkarkannya diperutnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan", ucap Sava menarik kembali tangannya.
"Aku gak mau kamu jatuh nantinya", ucap Fariz kembali menarik tangan Sava lalu menjalankan motor.
Sava menurut bahkan ia sekarang menyenderkan kepalanya ke punggung Fariz.
Entah apa yang dipikirkan Sava tiba-tiba saja air matanya menetes. Semakin lama tetesan air matanya membasahi baju Fariz.
Fariz merasakan sesuatu yang basah pada punggungnya. Ia menghentikan motornya dan saat Fariz ingin balik badan Sava menahannya.
"Jangan lihat ke belakang", kata Sava.
"Kenapa? Hei. Punggungku kenapa basah?", sahut Fariz berusaha membalikkan badannya.
Sava buru-buru menghapus air matanya tetapi tetap saja dapat dilihat Fariz kalau Sava habis menangis.
"Kamu nangis? Kenapa kamu menangis?", ucap Fariz.
Mendengar ucapan Fariz Sava tangis Sava semakin menjadi jadi.
Fariz mulai panik. Ia melihat sekitarnya yang menatap heran ke arah mereka.
"Diamlah. Orang-orang melihat kita", kata Fariz.
Sava tetap menangis. Karena tidak tahu harus berbuat apa agar Sava diam akhirnya Fariz memeluk Sava dengan posisi miring karena Fariz masih duduk mengahadap depan.
"Kau jahat", kata yang keluar dari mulut Sava disela tangisannya.
"Iya. Iya maaf", kata Fariz sambil mengusap-usap rambut Sava.
"Maaf karena menuduhmu. Aku gak akan mengulanginya", jawab Fariz.
Sava kembali menangis histeris. Bukan itu jawaban yang diinginkan Sava.
"Diam lah. Mau aku belikan es krim?", ucap Fariz.
Sava melepas pelukan Fariz dan menatapnya tajam, setelah itu Sava turun dari motor ATV Fariz.
Fariz ingin mengejar Sava tapi ia bingung dengan mau mengkemanakan motor yang ia sewa. Ia mulai menatap sekelilingnya mencari Azzam dan Rafif.
Ternyata Rafif dan Azzam menyaksikan adegan tangis-tangisan serta peluk-pelukan Sava dan Fariz dari jarak yang cukup jauh.
Saat Fariz terlihat mencari seseorang mereka pun berpura-pura sedang berbincang-bincang.
Akhirnya Fariz datang menghampiri Azzam dan Rafif.
"Kak Rafif titip motornya", kata Fariz lalu pergi mencari Sava.
///
Waktu penyewaan motor ATV telah habis, Rafif dan Azzam menghampiri Fariz yang sedang berjalan di sekitar pantai.
"Belum ketemu Sava?", tanya Rafif.
__ADS_1
Fariz menggeleng.
"Sudah telepon kak Sava belum?", tanya Azzam.
"Gak diangkat", jawab Fariz.
Azzam mencoba menghubungi Sava dan ternyata berhasil.
"Hallo. Kak Sava di mana?"
....
"Di villa? Kakak sudah balik? Naik apa?"
Panggilan pun di putus oleh Sava.
"Kak Sava di villa. Cuma itu yang keluar dari mulutnya. Kita susul saja kak", kata Azzam.
Mereka langsung pergi menuju villa.
Sesampai di villa mereka langsung menuju kamar tempat Fariz dan Sava tidur semalam. Ternyata Sava tidak ada, dan malah barang-barang Sava menghilang.
"Ke mana dia? Cepat cari sekitar Villa", ucap Rafif.
Akhirnya Rafif menemukan Sava. Ia berada di kamar tempat orang tuanya tidur karena Rafif mendengar arah suara dering ponsel Sava.
"Biarin saja dia. Besok juga baikan", kata Rafif.
Sava terus mengurung diri sampai pagi menjelang.
Tiba-tiba saja sarapan sudah siap.
"Sava bangun jam berapa?", batin Rafif.
"Sepertinya Sava masih mengurung diri. Jadi kita saja yang beres-beres untuk pulang. Kalau sudah selesai nanti kakak panggil Sava", jelas Rafif.
Rafif akhirnya memanggil Sava dan Sava pun keluar.
Sava mengambil posisi duduk di belakang. Tanpa banyak komentar Rafif duduk di samping Fariz.
Dalam perjalanan ponsel Fariz berbunyi tetapi Fariz mengabaikannya lalu mematikan ponselnya.
"Angkat saja. Gak ganggu kok", ujar Rafif.
"Lagi nyetir kak", sahut Fariz.
Rafif mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah sampai di depan rumah Sava, semua turun kecuali Sava. Sava tertidur pulas. Fariz melarang untuk membangunkannya.
"Gak usah di bangun kan kak, biar kami langsung pulang saja. Fariz masuk dulu mau ambil barang", ucap Fariz.
"Kalau begitu pamit ke mama papa saja sekalian", balas Rafif.
__ADS_1
"Iya kak", jawab Fariz.