
Beberapa hari kemudian
Fariz, Kenzie dan Shadiq sedang duduk di sebuah kafe. Kenzie dan Shadiq saling berbisik-bisik membicarakan sesuatu yang ada di ponsel Kenzie. Tak lama kemudian Shadiq membuka suara.
"Fariz, lo sama Amel gimana?", tanya Shadiq.
"Gak gimana-gimana", jawab Fariz cuek tanpa melihat ke arah Shadiq.
"Kalian baik-baik saja?", tanya Shadiq lagi.
"Kenapa? Tumben menyakan hubungan kami?", sahut Fariz menatap kedua sahabatnya.
Shadiq dan Kenzie saling menatap.
Mata Fariz tertuju pada ponsel yang digenggam Kenzie lalu ia merampas ponsel itu. Fariz memperhatikan apa yang ada di ponsel Kenzie. Setelah itu ia mengembalikannya dengan melemparkannya ke arah Kenzie seolah sedang mengoper bola.
"Gosip doang", ujar Fariz sambil melanjutkan aktivitas bermain gamenya.
"Walau cuma gosip, lo gak minta penjelasan dari Amel? Lo gak cemburu sama sekali?", tanya Kenzie.
"Fariz percaya Amel. Dia yakin itu cuma gosip", sahut Shadiq.
"Percaya? Atau lo gak peduli? Gue aja yang dengar tentang suami Sava masih ada rasa cemburu. Itu jelas-jelas Sava sudah punya suami dan gue gak berhak buat cemburu. Gue berusaha buat gak peduli. Tapi tetap saja hati gue mendorong buat cari tahu", kata Kenzie.
Deg.
Fariz mematung mendengar ucapan Shadiq dan Kenzie. Fariz sedang berpikir apakah ia memang mempercayai Amel atau memang gak peduli sampai tidak muncul rasa cemburu di hatinya.
"Jadi lo mengakui masih cemburuan ke Sava? Tapi gue lihat semalam lo jalan sama cewek baru. Sudah move on bro?", sahut Shadiq.
"Itu. Tentu saja. Kita harus mencari pengganti untuk melupakan seseorang", jawab Kenzie santai.
Ponsel Fariz berdering. Tetapi ia tidak menyadarinya.
Shadiq mengintip layar ponsel Fariz.
"Tuh lihat. Amel nelpon Fariz kan. Gue bilang juga apa. Fariz mempercayai Amel. Iya kan?", kata Shadiq sambil menyentuh bahu Fariz yang akhirnya menyadarkannya.
Ponsel Fariz berhenti berdering.
"Kenapa gak diangkat?", tanya Kenzie.
"Aku balik duluan ya", kata Fariz lalu pergi meninggalkan Kenzie dan Shadiq.
///
Saat Fariz akan masuk rumah ia mendengar suara tertawa seseorang dari taman belakang. Karena penasaran Fariz mengintip siapa yang sedang berada di taman.
Keningnya berkerut begitu mengetahui kakak dan istrinya sedang tertawa bersama di tamat.
Fariz akhirnya masuk ke rumah kemudian berteriak memanggil Sava.
"Sava. Sava. Sava", teriak Fariz. Ia sengaja berteriak dekat arah jendela yang menghadap langsung ke taman.
Fariz terus berteriak hingga Sava muncul.
__ADS_1
"Ada apa?", sahut Sava begitu membuka pintu rumah.
"Kamu dari mana? Kamu gak les?", tanya Fariz.
"Aku cuti sampai selesai ujian akhir. Aku mau fokus ke ujian dan tugas proyek kelulusan", jawab Sava.
"Lalu kenapa kamu gak belajar atau mengerjakan tugasmu? Malah asyik tertawa di belakang sana", ucap Fariz.
"Aku sedang mencari inspirasi. Jadi kenapa kamu memanggilku?", jawab Sava.
"Kamu mau cari inspirasi? Ikut aku", kata Fariz lalu menarik tangan Sava.
Fariz membawa Sava ke taman komplek rumahnya.
"Wahhh. Aku baru tahu di sini ada taman sebagus ini di sini", kata Sava takjub memandang taman komplek rumah.
Yang membuat istimewa taman ini adalah adanya bukit kecil serta danau kecil buatan yang dikelilingi rumput halus. Pemandangan yang dapat menyegarkan pikiran.
Fariz menarik tangan Sava ke arah pinggir danau yang terdapat kursi taman menghadap danau.
Sava memotret pemandangan sekitarnya dan tak lupa ia untuk berselfie.
Sedang asyik memotret dirinya sendiri tiba-tiba Fariz merampas ponselnya lalu merangkul bahunya.
Ternyata Fariz ingin berfoto selfie dengan Sava.
Setelah itu suasana mendadak canggung.
"Aku mau jalan-jalan dulu. Kamu tunggu aku di sini", ucap Sava lalu pergi meninggalkan Fariz.
Ponsel Sava masih dalam genggaman Fariz.
Ternyata Al beberapa kali menghubungi Sava tetapi diabaikan Sava.
"Bagus", gumam Fariz.
Fariz beralih ke sosial media Sava.
"Ternyata banyak juga pengikutnya," lirihnya.
"Apa-apaan ini. Isi pesannya semua meminta kenalan, nomor, dan ketemu. Apa lagi ini? I love you? Perlu aku kerjain nih", ucap Fariz.
Sedang asyik mengotak-atik ponsel Sava tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari Al.
Tentu saja Fariz menyahutnya.
"Mau apa lagi? Sudah aku bilang jauhi Sava"
.....
"Coba saja kalau berani"
Tutup Fariz.
"Awas saja dia", kata Fariz.
__ADS_1
"Gadis itu di mana?", gumam Fariz sambil menatap sekelilingnya mencari Sava.
Mata Fariz tertuju ke sekumpulan anak-anak kecil yang sedang bermain di wahana bermain taman. Ternyata Sava ada diantara para anak-anak kecil itu.
Fariz menghampiri Sava dan memperhatikan apa yang dilakukannya.
"Makasih ya kakak cantik sudah menemani kita bermain", ujar salah seorang anak.
"Kita pulang dulu. Sampai jumpa lagi", sahut anak yang lain.
"Kakak cantik sini deh. Tama mau bisikin sesuatu", ucap anak bernama Tama yang berumur sekitar 5 tahun.
Sava berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka. Anak itu bukannya membisikkan sesuatu malah mencium pipi Sava. Sava tersenyum lalu mencubit gemas pipi Tama, sedangkan Fariz mempelototi anak kecil yang barusan mencium pipi istrinya.
"Itu pacar kakak ya? Sepertinya pacar kakak gak suka Tama. Lihatlah kakak itu mempelototi Tama. Apa dia marah karena Tama mencium kakak? ", ucap Tama sambil mencoba bersembunyi dari tatapan Fariz.
Sava mengikuti arah pandangan Tama dan ternyata Fariz berada dibelakangnya.
"Bukan", jawab Sava.
"Baguslah kak. Sepertinya kakak itu bukan anak laki-laki yang baik. Mending kakak pacaran sama kakaknya Tama saja", kata Tama.
"Hei bocah. Aku itu suaminya", sahut Fariz.
"Suami itu apa kak?", tanya Tama bingung.
"Aduuh anak zaman sekarang ya ngaku-ngaku suami istri. Panggil mamah papah juga gak? Masih SMA saja begitu gimana nantinya. Pusing", bisik ibu-ibu sekitar yang ternyata sedang memperhatikan mereka yang saat itu Fariz masih memakai seragam sekolahnya.
"Sialan. Aku dikira anak alay", batin Fariz.
"Kakak pulang dulu ya. Kapan-kapan main lagi", kata Sava lalu menarik tangan Fariz.
"Kamu ngapain sih ngelawan anak kecil", ucap Sava melepas tangannya.
"Kamu tidak terlihat keren hanya karena cemburu kepada anak kecil. Ups. Maaf. Aku tarik kembali kata-kataku. Kamu tidak mungkin akan cemburu", lanjut Sava berjalan meninggalkan Fariz.
Fariz terdiam. Ia berkutat dengan pikirannya.
"Aku cemburu? Hah? Pada anak kecil? Tidak. Tidak. Tapi kenapa aku kesal", batinnya.
Sava kembali menghampiri Fariz kemudian menarik tangannya.
"Aku bercanda. Oke. Jangan marah-marah terus ayo kita pulang", ujar Sava.
Fariz melepas genggaman Sava.
"Cemburu? Jangan bercanda", ucap Fariz.
"Huft. Aku salah bicara lagi", kata Sava menghembuskan napas kasar.
********************************************
Kemarin ada pembaca yang minta visual pemeran.
Ada yang setuju author buat visual pemeran?
__ADS_1
Kasih komentar kalian siapa sosok yang cocok dengan pemeran novel The Beauty Of Marriage
👇👇👇👇👇