The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 96


__ADS_3

Dokter memeriksa Sava kembali. Lalu Fariz berbicara dengan dokter sambil mengantarnya ke luar. Kenzie dan Shadiq mengikuti tetapi ditahan oleh Tika.


"Kalian di sini dulu", ujar Tika.


"Kalian mau gak bantuin kita ngerjain Fariz?", lanjutnya.


"Gimana maksudnya?", sahut Shadiq.


"Kenzie pura-pura dekatin Sava. Fariz kan terpaksa menikah jadi kita ngetest dia cemburu atau tidak. Kalau cemburu artinya dia cinta", jelas Tika.


"Gak mau. Nanti aku di hajar Fariz. Aku juga gak mau persahabatan kami rusak", jawab Kenzie.


"Tapi kan pura-pura", balas Tika.


"Gak mau. Sudah ah kita mau ke luar", jawab Kenzie.


Tika mendegus kesal.


"Kalian punya teman cowok yang bisa diajak kerja sama?", tanya Tika.


Rania dan Kayana menggerakkan bahu.


"Gimana kalau Al saja?", ucap Rania.


"Hah? Jangan. Al itu", kata Sava lalu bercerita tentang Al. Siapa Al sebenarnya sampai Al menyatakan cinta ke Sava.


Setelah mendengar cerita Sava, Tika tertawa.


"Lo kenapa ketawa?", tanya Kanaya.


"Jadi gue ingat sewaktu workshop. Ada mobil Fariz dibelakang bus kita. Ternyata dia sedang mengawasi Sava. Karena tahu itu acara kantornya Al", kata Tika sambil tertawa.


"Fariz cemburu ke Al, artinya Fariz menyukai Sava", ucap Kanaya.


"Gak. Itu pasti karena masa lalu Al", sahut Sava.


"Itukan masa lalu Va. Apa lagi mereka masih anak-anak. Selama ini apa pernah Al menyakitimu? Dia pria yang baik dan pekerja keras", ucap Kanaya.


"Makanya kita minta dia bantuin lo buat cemburuin Fariz", balas Tika.


"Jangan. Itu sama saja mempermainkan perasaan orang lain. Jelas-jelas Al menyukai Sava. Hubungan Sava dan Al saja memburuk karena Al mengungkapkan perasaannya", jelas Kanaya.


"Benar juga sih. Apa gak ada cara lain?", sahut Rania.


"Aku ada lihat lowongan di perusahaan Al. Kita melamar saja. Kalau kita semua diterima syukur. Kalau salah satu diantara kita dan Sava diterima tetap lanjutkan. Tetapi kalau hanya Sava sebaiknya tolak. Kasih tahu Fariz kalau sudah diterima saja. Jangan kasih tahu Al kita melamar. Belum tentukan juga kita bisa ketemu Al di kantor. Cukup Fariz tahu Sava sekantor dengan Al", jelas Kanaya.


"Boleh juga tuh idenya", ucap Tika.


"Kita pulang yuk. Sudah lewat jam pulang sekolah ini", ucap Kanaya.


"Lo ah. Pulang tepat waktu mulu. Apa yang lo kejar di rumah? Lo punya suami juga di rumah? Lo jangan main rahasia-rahasiaan ya ke kita", balas Tika.


"Apaan sih Tika. Gue kan dari dulu emang gini", jawab Kanaya.


"Gue pulang duluan saja ya?", kata Kanaya memelas.


"Ya sudah", jawab Tika.

__ADS_1


Kanaya pamit pulang lebih dulu.


"Lo cerita yang lengkap dong ke kita gimana kehidupan lo dan Fariz", ujar Rania.


"Gak ada yang mau gue ceritakan. Kehidupan kami biasa saja. Kalian tahu gimana Fariz. Kami bahkan jarang berbicara", jelas Sava.


"Pasti ada. Ayolah", bujuk Tika dan Rania.


Mereka bertiga asyik bercerita sambil bercanda gurau sampai tak terasa hari sudah sore.


"Sudah jam 4 ternyata", ujar Tika.


"Eh infus Sava sudah habis ya? Ya gak sih? Gue gak ngerti", ucap Rania.


"Kalau sudah kosong gitu artinya habislah", jawab Tika.


"Ini harus diganti atau gimana? Lo tanyain Fariz sana", ucap Rania.


"Penakut", ucap Tika menggertak Rania.


"Fariz. Fariz", teriak Tika.


"Ada apa? Apa yang terjadi?", sahut Fariz. Fariz langsung beranjak mendekati kamar Sava yang sebelumnya sedang duduk di sofa depan kamar mereka. Dan ternyata Shadiq dan Kenzie juga sudah pulang.


"Infus Sava sudah habis. Itu bagaimana?", tanya Tika.


"Tunggu aku tanya dokter",jawab Fariz.


Setelah Fariz menghubungi dokter, ia masuk ke kamar Sava sambil membawa beberapa keperluan untuk melepas infus Sava.


"Kata dokter bisa dilepas sendiri. Kalian pelajari caranya. Dokternya sedang praktek. Gak bisa ke sini", ucap Fariz.


"Gue pegangin Sava. Ngilu gue lihat begituan", jawab Fariz.


"Oke lo peganganin Sava ya. Sava lo jangan lasak. Kita amatiran ini. Jadi perlu kerja sama", ucap Rania.


Sava mengangguk. Fariz mendekap Sava erat sambil menutup wajah Sava agar tidak melihat apa yang dikerjakan Tika dan Rania. Sedangkan Fariz memejamkan matanya walau sekali-sekali mengintip.


"Auw", rintih Sava.


"Hah? Kenapa? Sakit? Kalian bisa gak sih? Kalau gak bisa bilang dari tadi jangan buat istriku kesakitan seperti ini", teriak Fariz. Fariz panik mendengar rintihan istrinya.


Tika dan Rania terdiam mendengar bentakan Fariz. Mereka menatap satu sama lain. Lalu tertawa terbahak-bahak.


"Belum juga kita diapa-apain Sava sudah kesakitan", ujar Tika.


Fariz mengerutkan keningnya lalu menatap Sava.


"Kamu mendekapku terlalu erat. Kamu bahkan gak sadar sudah meremas lenganku", ucap Sava.


Fariz malu. Ia salah tingkah. Sedangkan Tika dan Rania tertawa sambil berbisik-bisik.


"Cepat lakukan. Kenapa lama sekali", kata Fariz gugup.


Fariz kembali mendekap Sava lalu bertanya, "Apa begini terlalu erat?".


Sava menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sava menahan sakit dan akhirnya infus terlepas. Tika dan Rania permisi ke luar untuk membuang bekas infus dan membersihkan diri.


"Apa sakit? Kenapa raut wajahmu kecut begitu?", ucap Fariz.


"Tentu saja sakit", balas Sava kesal.


Fariz meraih tangan Sava lalu menciumnya.


Pipi Sava memerah.


"Masih sakit?", tanya Fariz.


"Kamu masih demam? Tadi kata dokter demammu sudah turun. Aku harus minta dia kembali ke sini nanti", lanjut Fariz.


"Aku sudah sembuh. Menjauh dariku. Kamu membuatku sakit", ucap Sava.


"Apa? Kenapa menyalahkan aku?", balas Fariz.


"Kamu yang sebelumnya flu, sekarang aku jadi tertular. Itu akibatnya kamu terus menempel padaku. Memaksa untuk tidur sekamar. Jadi sekarang aku gak mau tidur denganmu", jelas Sava.


"Gak bisa begitu. Suami istri itu gak boleh dipisahkan. Harus selalu bersama. Aku gak apa-apa kalau harus flu kembali asalkan kamu sehat", sahut Fariz.


"Sini dekat-dekat denganku", kata Fariz menarik tubuh Sava dalam dekapannya.


"Apa yang kamu lakukan. Menjauhlah. Masih ada Tika dan Rania di sini", ucap Sava mendorong tubuh Fariz menjauh.


"Memangnya kenapa? Kita suami istri. Berpelukan seperti ini merupakan hal biasa", balas Fariz semakin mempererat pelukannya.


"Auw", rintih Sava.


Fariz panik dan langsung melepas pelukannya.


"Mana yang sakit?", tanya Fariz.


Sava mengambil kesempatan untuk kabur dari Fariz. Ia berlari ke arah pintu.


Sava terkejut melihat Tika dan Rania di depan kamar. Mereka terlihat gugup dan mencoba untuk kabur.


"Eh Sava. Kenapa ke luar kamar? Di dalam saja. Kan masih sakit", ucap Tika gugup.


"Kalian mau ke mana?", tanya Sava.


"Kita baru saja mau masuk ke kamarmu", jawab Tika.


"Kenapa itu belum dibuang?", ucap Sava menunjuk arah tangan Tika dan Rania.


"Hah? Iya ini", kata Tika sambil menyikut Rania.


"Ini mau dibuang", sahut Rania lalu menarik tangan Tika sambil berlari. Mereka kabur ke arah dapur.


"Kalian menguping ya", teriak Sava.


******************************


Makasih sudah terus mendukung novel ini.


Author akan up gila-gilaan senin nanti.

__ADS_1


Terus kasih votenya ya 🙏


Jangan lupa kasih ucapan selamat tahun barunya juga 😊😊😊


__ADS_2