
Sampai kamar Sava melepas genggaman Fariz lalu berkata, "Apa yang kamu lakukan? Kita sudah sepakat pisah kamar".
"Jadi kamu mau menunjukkan kalau kehidupan rumah tangga kita gak harmonis? Kamu mau orang tuamu sedih bahkan menyesal telah menjodohkan anaknya?", balas Fariz.
"Tapi gak harus tidur 1 kamar. Kita bisa cari solusi lain. Kamu tidur di kamar kakak dan adikku atau apapun itu", ujar Sava.
"Kita cuma tidur dalam 1 ruangan yang sama. Kenapa dipermasalahkan sekali? Orang tuamu saja tidak melarang", balas Fariz.
"Ah aku tahu. Kamu mengira kita akan melakukan itu?", lanjut Fariz dengan sedikit mengangkat satu sudut bibirnya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kita hanya akan tidur dalam 1 ruangan yang sama. Aku hanya akan melakukan hal itu dengan wanita yang ku cintai", kata Fariz lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Sava.
"A a aku hanya waspada pada pria berengsek sepertimu. Turunlah. Kamu tidur di bawah", ucap Sava.
"Apa? Aku di bawah? Hei aku ini tamu di sini. Tamu adalah raja. Jadi silahkan tidur di bawah", balas Fariz.
"Ini kasurku. Kasur yang sudah bersamaku hampir 17 tahun. Aku juga merindukan kasurku ini", jelas Sava.
__ADS_1
"Terserah apa katamu. Aku tidak akan turun. Coba saja rebut", ucap Fariz.
"Oke. Kamu kira aku takut", balas Sava lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping Fariz.
Mereka saling adu punggung. Karena tenaga Fariz lebih besar dari Sava akibatnya Sava terhimpit ke dinding. Tetapi tetap tidak mau menyerah.
Setelah kelelahan bersama akhirnya mereka ketiduran dalam keadaan saling memunggungi di atas ranjang single milik Sava.
///
"Astagfirullah. Sungguh sesat diriku. Apa aku, aku menerkamnya? Bisakah hal ini disebut aku menerkamnya? Gak, gak, aku hanya memeluknya. Hanya memeluk bukan berpelukan. Apa aku cewek agresif? Gila aku gila. Aku harus berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Aku hanya perlu segera pergi dari sini", batin Sava lalu segera pergi dari kamarnya.
///
Sava membantu orang tuanya setelah itu ia mandi. Kamar mandi di rumah orang tua Sava hanya ada 2. 1 di kamar utama yaitu kamar orang tua Sava. 1 lagi di dekat dapur. Sava bersama kakak dan adiknya selalu memakai kamar mandi luar di dekat dapur, hanya jika saat ada yang sedang memakai kamar dan terburu-buru barulah mereka memakai kamar
mandi di kamar orang tuanya. Handuk sudah tergantung di sebelah kamar mandi jadi Sava langsung masuk ke kamar mandi tanpa membawa baju ganti atau seragamnya.
__ADS_1
Setelah selesai mandi Sava hanya melilitkan handuk di tubuhnya dan handuk kecil membalut rambutnya.
Cekrek.
Pintu kamar terbuka. Fariz sudah bangun dan sekarang sedang berbaring sambil memainkan ponselnya menatap arah pintu. Tampaklah Sava baru selesai mandi.
"Ah aku lupa dia sedang di rumahku. Kalau aku langsung keluar akan terlihat aneh. Bersikap biasa saja Sava. Dia tidak akan menerkammu, dia hanya akan melakukannya dengan wanita yang dicintainya", batin Sava dan mulai mencari pakaiannya.
Fariz masih bertahan menatap Sava sejak tadi. Entah dorongan dari mana sampai ia tidak bisa melepas tatapannya dari Sava.
Sava sesekali berbalik melirik Fariz. Ia jadi tidak fokus karena ada yang memperhatikannya. "Kenapa dia terus melihat arah sini. Seragamku di mana lagi. Mama menyimpannya di mana sih. Jangan-jangan sudah dibuang", batinnya.
"Mau ke mana?", tanya Fariz melihat Sava berjalan ke arah pintu.
"Ha apa yang barusan ku katakan? Seolah aku gak memperbolehkannya ke luar kamar ini. Kau mulai gila Fariz", batin Fariz.
"Aku gak menemukan seragamku. Jadi mau bertanya ke mama", jawab Sava.
__ADS_1