The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 103


__ADS_3

Setelah Fariz menurunkan Sava, Sava langsung berlari ke ranjang. Menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Fariz mengikuti Sava berbaring di ranjang. Masuk ke dalam selimut Sava. Lalu melingkarkan tangannya ke perut Sava.


Sava menahan napas begitu Fariz memeluknya. Tak tahan ia lalu menghempaskan tangan Fariz menyingkir dari perutnya.


Tak terima dengan perlakuan Sava Fariz membuka selimut lalu menarik tubuh Sava menghadapnya.


Mereka saling beradu pandang. Tak ada suara ke luar dari mulut mereka.


"Bangun", ucap Sava tiba-tiba.


"Aku mengantuk. Ayo tidur", jawab Fariz lalu mendekap tubuh Sava.


Sava meronta. Tetapi tak berhasil lepas.


"Kamu hutang penjelasan", ujar Sava.


"Gak ada yang mau aku jelaskan", balas Fariz.


"Ke mana kamu selama ini?", tanya Sava dengan mendongakkan kepalanya menatap Fariz.


"Gak ke mana-mana", jawab Fariz santai.

__ADS_1


Tiba-tiba Sava mencubit perut Fariz.


"Ah. Sakit. Kenapa kamu jadi suka mencubit", ucap Fariz.


"Makanya cerita. Aku harusnya tidur dengan bunda. Aku mau pergi saja. Tidur dengan bunda kalau kamu gak mau cerita", ucap Sava lalu berusaha bangun.


Fariz menahan Sava. Menarik tubuh Sava kembali dalam pelukannya.


"Iya iya. Apa yang mau kamu ketahui", ujar Fariz.


"Kamu pergi tengah malam saat aku sakit. Ke mana kamu?", tanya Sava.


"Ayah sakit. Aku pergi ke rumah sakit. Lalu aku mendengar ada masalah di perusahaan jadi aku mengurusnya. Aku jarang pulang. Aku tinggal di kantor. Beberapa hari ayah di rumah sakit akhirnya ayah dibawa ke luar negeri. Aku gak ikut karena mengurus perusahaan", jelas Fariz.


"Lalu waktu aku pulang kenapa kamu menghilang?", balas Sava.


"Iya aku kan tinggal di rumah Rania. Ketika aku pulang, aku melihatmu di rumah ini. Aku tinggal kamu untuk membereskan rumah. Lalu keluargaku datang. Kamu malah menghilang", jawab Sava.


"Aku gak melihatmu pulang", ucap Fariz.


"Ah. Iya. Dia kan sedang mengigau kemarin", batin Sava.


"Oke. Jadi kamu tahu aku pulang?", tanya Sava.

__ADS_1


"Tahu. Kak Rafif yang mengabariku", jawab Fariz.


"Di mana kamu sewaktu kak Rafif mengabarimu?", balas Sava.


"Di bandara sini atau sana ya. Aku lupa. Yang jelas kak Rafif bilang kamu pulang dari rumah Rania. Dia juga mengatakan dia bersama keluarga yang lain tinggal di sini menemanimu", jelas Fariz.


"Jadi kamu menyusul bunda dan ayah?", tanya Sava.


"Iya. Aku mendengar kabar ayah sudah membaik. Sedang dalam masa pemulihan saja dan beberapa hari bisa pulang ke indonesia. Masalah di sini juga sudah mulai beres. Aku sudah serahkan ke kepercayaan ayah dan pengacara. Jadi aku rasa itu waktu yang tepat untuk aku menyusul ke sana", ucap Fariz.


"Kenapa gak mengajakku? Kenapa gak memberi kabar padaku? Kenapa kamu seperti menghindariku?", sahut Sava.


Fariz terdiam. Lalu menelan salivanya.


"Kalau ada kamu di sisiku mungkin aku gak bisa fokus. Biarkan aku menyelesaikan masalah ini. Aku gak mau kamu terlibat. Aku gak mau kamu sakit", kata Fariz dalam hati.


"Kenapa diam?", tanya Sava.


"Sudahlah. Ayo tidur", kata Fariz mempererat pelukannya.


Seketika hening. Tak ada yang bersuara.


"Amel bagaimana?", ucap Sava tiba-tiba.

__ADS_1


"Biarkan hukum yang memproses", jawab Fariz cuek.


Sava merasa takut. Berbagai hal muncul di benaknya. Ia membalas pelukan Fariz. Sava memeluk Fariz erat.


__ADS_2