The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 85


__ADS_3

Fariz terus memperhatikan Sava yang sedang sibuk memasak bubur.


"Kenapa kamu di sini tanya Sava?", tanya Sava.


"Aku kan ditugaskan menjaga kalian. Jadi aku sedang menjagamu", jawab Fariz.


"Aku sedang masak. Buat apa di jaga? Kamu itu cocoknya di depan pintu sana. Jadi satpam", balas Sava mengejek Fariz.


"Kamu sedang mengejekku kan? Awas saja kamu tunggu pembalasanku", jawab Fariz.


"Kamu mau apa? Yang aku bicarakan tadi batal. Aku harus menjaga Tika nanti", sahut Sava.


Mendadak Fariz menjadi kesal.


"Pembohong", kata Fariz lalu meninggalkan Sava di dapur.


Sava merasa lega Fariz pergi meninggalkannya.


Sambil mengaduk-aduk bubur Sava merasa lapar.


"Apa ada bahan-bahan yang bisa dibuat cemilan ya", gumam Sava sambil memeriksa bahan makanan yang ada di dapur.


Akhirnya Sava memutuskan untuk membuat panekuk sederhana.


Setelah selesai memasak bubur Sava menghampiri Fariz di ruang tamu.


"Antar buburnya. Aku masih memasak", ucap Sava.


Fariz tidak bergerak sama sekali.


Sava menghela napas kasar.


"Apa aku kembalikan saja ya balok Tika yang sudah ku simpan", kata Sava pura-pura berbicara sendiri lalu meninggalkan Fariz.


Fariz dengan sigap menahan Sava.


"Katamu mau menjaga Tika nanti malam. Bagaimana bisa kita bermain", ucap Fariz memelas.


"Kalau situasinya memungkinkan kita bermain. Kalau gak bisa kita bisa bermain di rumah", jelas Sava.


"Jadi balok si Tika itu kita bawa pulang?", tanya Fariz semangat.


"Kita beli yang baru saja. Kita bisa tulis hukumannya sendiri", jawab Sava.


"Jadi hukumannya bisa aku tulis apa saja?", sahut Fariz antusias.


Sava mengangguk.


"Kalau begitu kita main di rumah saja. Sini buburnya aku antar", kata Fariz.


"Hanya karena balok suasana hatinya langsung berubah", batin Sava.


Sava kembali memasak dan tak lama kemudian Fariz menyusul Sava ke dapur.


"Kenapa ke sini lagi?", tanya Sava.


"Kenapa? Aku gak boleh ke dapur? Apa yang kamu kerjakan sampai aku gak boleh ke sini?", sahut Fariz.


"Aku cuma sedang memasak", jawab Sava.


"Aku kan gak mengganggu mu. Aku hanya duduk di sini", balas Fariz.


"Itu mengganggu ku. Pergi sana", ucap Sava.


Tiba-tiba Fariz mendekat. Sava panik, ia menjauh Fariz dengan mendorong pipinya. Wajah Fariz bertepung karena Sava menyentuhnya.


Sava tertawa.


"Apa yang kamu lakukan? Aku mau membersihkan tepung di wajahmu tapi kamu malah melumuri ku tepung", kata Fariz kesal.


Sava mundur perlahan menjauhi Fariz lalu ia berlari. Tetapi berhasil ditangkap Fariz.

__ADS_1


Fariz menahan tubuh Sava dengan memeluknya dari belakang.


"Mau ke mana kamu? Rasakan pembalasanku", kata Fariz melumuri wajah Sava dengan tepung.


Mereka tertawa bersama.


"Apa yang kalian lakukan", kata seseorang.


Sava dan Fariz berbalik melihat asal suara. Suasana mendadak menjadi canggung.


"Bagaimana keadaan Tika?", tanya Shadiq.


"Terakhir kali aku ke atas mengantar bubur. Mungkin sekarang dia sudah tertidur", jawab Fariz.


"Kami sedang memasak cemilan", lanjut Fariz.


Kenzie mengerutkan keningnya menatap Fariz dan Sava, lalu ia pergi.


"Ingat nasehatku", bisik Shadiq ke Fariz lalu pergi mengikuti Kenzie.


"Bagaimana ini? Apa mereka salah paham? Apa kita akan ketahuan?", ucap Sava.


"Biarkan saja. Lanjutkan memasakmu", sahut Fariz.


///


"Kalian turunlah. Aku memasak panekuk. Biar aku yang menjaga Tika di sini", ucap Sava.


Tinggallah Sava yang menjaga Tika.


Rania, Kanaya, Kenzie dan Shadiq menghampiri Fariz yang sedang menyantap panekuk.


"Wanginya enak", ujar Rania.


"Sava pandai masak ya?", tanya Shadiq.


"Iya lumayan. Dia itu anak yang mandiri. Hampir semua pekerjaan bisa dikerjakannya", jawab Rania.


"Tadi katanya lo bantuin masak. Bantuin apaan?", tanya Rania ke Fariz.


"Bantuin buang tepung", sahut Kenzie.


"Loh kenapa di buang? Jadi ini masaknya tepung dari mana?", tanya Rania heran.


"Aku cuma bantu aduk adunan", jawab Fariz sambil melirik Kenzie.


"Oh gitu", ucap Rania.


"Kalau Tika sudah bangun dan keadaannya gak membaik dia minum obat kan?", ucap Shadiq di sela-sela menyantap kuenya.


"Iya. Tapi sebaiknya kita pulang lebih cepat", jawab Kanaya.


"Kita pulang besok pagi atau malam ini?", tanya Shadiq.


"Kita lihat kondisi dari Tika. Kalau memungkinkan kita pulang malam ini", jawab Kanaya.


Shadiq mengangguk.


Mereka akhirnya kembali ke kamar Tika.


"Belum bangun juga?", tanya Kanaya ke Sava.


Sava menggeleng kepala.


"Ini sudah sore. Sepertinya Tika juga kelelahan dan kurang tidur", jelas Kanaya.


Tiba-tiba Tika terbangun.


"Kalian semua kenapa di sini?", tanya Tika.


"Lo pikir ngapain hah?", balas Rania.

__ADS_1


"Apa kamu masih pusing?", tanya Kanaya.


"Sudah mendingan. Tapi kepalaku terasa berat. Kepalaku kembali pusing kalau aku duduk", jawab Tika.


"Kalau begitu minum obat ini. Kalau masih sakit terpaksa kita pulang malam ini", kata Kanaya.


"Maaf ya karena aku liburannya jadi rusak", ucap Tika.


"Kalau gak ada lo emang gak seru. Makanya lo harus sehat ya", sahut Sava.


Tika mengangguk.


"Mending kalian ke luar. Terlalu banyak orang ruangannya menjadi pengap", kata Kanaya ke Fariz dan kawan-kawan.


Setelah Fariz, Kenzie dan Shadiq ke luar, para gadis itu berdiskusi bagaimana menjaga Tika.


"Kita jadinya pulang kapan?", tanya Rania.


"Tika baru minum obat. Bisa jadi dia bangun 3 jam lagi. Dan itu sudah jam 8 malam. Kita sebaiknya kembali besok pagi. Keluarga kita juga pasti khawatir kalau kita tiba-tiba pulang saat sudah larut", jelas Kanaya.


"Iya juga ya. Jadi kita akan terus menjaga Tika sampai pagi?", sahut Rania.


"Bagaimana kalau kita menjaganya bergantian?", ucap Sava.


"Boleh juga. Kebetulan kita berenam. Jadi setiap 2 jam kita berganti. Tapi sebaiknya yang laki-laki biarkan istirahat di kamar ini kita yang menjaga. Yang penting mereka ada saat dibutuhkan. Besok mereka juga harus menyetir", jawab Kanaya.


"Iya aku setuju", sahut Rania.


"Tapi aku gak mau berpasangan dengan Fariz", kata Rania.


"Lo saja ya Va dengan Fariz. Kan tadi kalian masak kue bareng", lanjutnya.


"Aku gak mau dengan Kenzie", ucap Kanaya.


"Kalau begitu Rania dengan Kenzie dan Kanaya dengan Shadiq. Bagaimana?", kata Sava.


Rania dan Kanaya mengangguk.


"Nanti malam makan apa kita?", tanya Rania.


"Baru juga lo makan kue sekarang mikirin makan malam", jawab Kanaya.


"Iya kan kita gak tahu di sini ada apa. Jadi sebelum gelap mending mencari makanan", sahut Rania.


"Iya juga sih. Kita suruh mereka cari makanan saja", jawab Sava.


Rania mengangguk semangat.


Rania dan Sava menghampiri Fariz dan kawan-kawan.


"Kalian mending cari makanan untuk nanti malam. Takutnya nanti akan susah mencari makanan", ujar Sava.


"Kata Kanaya kita akan pulang besok pagi. Karena gak bagus kalau kita pulang terlalu larut. Tika juga sudah agak mendingan", sahut Rania.


"Kami setuju saja", jawab Shadiq.


"Nanti kita akan menjaga Tika bergantian. Jadwalnya dimulai jam 10 nanti. Jadi kita akan bergantian setiap 2 jam", jelas Sava.


"Berpasangan?", sahut Kenzie.


"Iya. Lo pasangan gue", jawab Rania.


Kenzie menunjukkan wajah tak senang.


"Oke. Ayo Kenzie kita cari makanan", ujar Shadiq.


"Gak mau. Gue mulu", balas Kenzie.


"Gue saja", sahut Fariz.


"Cari yang enak ya", teriak Rania.

__ADS_1


__ADS_2