
Fariz berangkat kerja dengan perasaan tak karuan. Iya ingin mengeluarkan isi hatinya, tetapi seperti ada yang menganjal.
Sesampainya di kantor, Fariz tak fokus bekerja. Pikirannya entah di mana. Ia membaca beberapa berkas lalu menutupnya kembali, hal itu dilakukannya berulang kali.
"Ha... Aku akan ditinggal seminggu," katanya sambil menghela napas kasar.
"Kalau tidak ku izinkan, Sava akan sedih. Dia sangat bersemangat sekali mendengar ajakan bunda."
"Aku juga selalu pulang malam karena aku sedang menghindarinya. Coba aku cari tahu berapa lama wanita datang bulan." Fariz bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia bertanya, ia sendiri yang menjawab.
Fariz meraih ponsel di sakunya, kemudian ia mencari jawaban yang menjadi pertanyaannya tadi.
"Seminggu," gumam Fariz.
"Bagus juga Sava pergi selama seminggu, jadi aku tidak perlu menghindarinya."
"Tetapi, bagaimana kalau aku merindukannya. Haa... Belum juga dia pergi, aku sudah merindukannya."
"Kapan mereka berangkat ya? Kenapa aku merasa seolah Sava berangkat hari ini. Aku merasa ketika aku pulang nanti, aku tidak menemukan Sava di rumah."
Untuk menjawab rasa penasarannya, Fariz menghubungi kakaknya, Farhan. Karena kalau dia menghubungi bunda atau ayahnya, Fariz merasa malu. Pasti ayah atau bundannya akan mengejeknya nanti.
"Hallo,Kak."
"Iya. Ada apa Fariz?"
"Kakak ikut ke Medan?"
"Hm. Iya."
"Berangkatnya kapan?"
"Besok atau lusa."
"Apa? Besok? Kenapa secepat itu?"
"Buat apa diperlama? Tidak ada yang mau ditunggu, kan? Harus disegerakan. Jadi, pulangnya bisa lebih cepat."
"Bagitu ya. Baiklah. Terimakasih kak."
Panggilan terputus.
Fariz kembali bekerja. Ia ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya. Agar ia dapat segera pulang.
Tetapi, sayangnya Fariz malah semakin tidak fokus. Ia menutup laptopnya lalu bergegas pergi membiarkan berkas-berkas berserakan di atas meja.
Fariz berpapasan dengan Hamdan saat di depan lift. Hamdan heran ke mana atasannya itu akan pergi. Ia harus segera mencegahnya karena ada berkas yang harus Fariz tanda tangani.
"Anda mau ke mana?" tanya Hamdan.
"Pulang," jawab Fariz cuek.
"Ini masih siang. Kenapa anda ingin pulang? Apa terjadi sesuatu di rumah?" tanya Hamdan penasaran.
"Iya. Ada masalah. Istriku akan pergi meninggalkanku."
Mata Hamdan membulat sempurna mendengar ucapan atasannya. Ia berfikir benar-benar terjadi sesuatu dengan Sava.
"Nona Sava menggugat cerai anda?" teriak Hamdan.
Emosi Fariz sedang meledak-ledak, ditambah Hamdan malah memancingnya. Fariz menarik kerah baju Hamdan.
"Apa maksudmu, hah?"
"Ti-tidak. Saya hanya menebak, karena anda mengatakan nona Sava akan meninggalkan anda, " jawab Hamdan takut.
Setelah pintu lift terbuka, Fariz melepas Hamdan. Lalu, ia masuk ke dalam lift.
"Bereskan pekerjaanku," kata Fariz.
Fariz bergegas pulang ke rumah untuk menemui sang istri tercinta.
Sesampainya di rumah, Fariz tak menemukan Sava. Ia mencari ke setiap sudut ruangan. Perasaan was-was mulai merasukinya. Ia berteriak memanggil Sava, tetapi tak kunjung ada jawaban.
Akhirnya, Fariz tersadar bahwa Sava sedang berada di rumah orang tuanya sendiri. Ia segera pergi ke rumah orang tuanya.
Belum sampai Fariz di ujung pintu, sosok Sava muncul dari balik pintu.
"Fariz?" Sava terkejut melihat sang suami.
"Kenapa kamu sudah di rumah? Ini masih pukul..." Sava mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding. Tetapi, Fariz malah menarik tengkuk Sava.
Cup
Fariz mencium paksa Sava. Salah satu tangan Sava memukul dada bidang Fariz, sedangkan tangan satunya sedang memegang kotak makanan berisi lauk masakan ibu mertuanya. Fariz semakin memperdalam ciumannya, ditariknya lengan Sava agar memeluk lehernya.
Pak
Kotak makanannya jatuh dan mengenai kaki Fariz. Kaki Fariz memar di bagian pinggir kuku ibu jarinya.
Fariz melepas ciumannya lalu merintih kesakitan. Untung saja lauk dalam kotak tidak tumpah ataupun bocor.
"Apa isinya? Batu? Kenapa keras sekali mengenai kakiku," ujar Fariz.
Sava masih membatu dengan tindakan Fariz barusan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali. Ia tersadar setelah Fariz memungut kotak makanan lalu menyerahkannya ke tangan Sava.
Untuk menghindari situasi menegangkan, Fariz memilih masuk ke kamar walau berjalan dengan sedikit terseok-seok.
Sava ke dapur untuk memindahkan lauk ke piring, lalu mengambil kotak obat. Kemudian, Sava menyusul Fariz ke kamar.
Fariz sedang duduk di atas ranjang sambil memijit-mijit kakinya.
"Berdarah!" seru Sava panik melihat luka Fariz.
Sava mengambil handuk kecil, kemudian, ia masuk ke kamar mandi untuk membasahi handuk kecil yang dibawanya dengan air panas.
"Kakinya dikompres dulu, lalu diberi obat," kata Sava. Ia mengompes kaki Fariz. Setelah beberapa menit, Sava memberi salep.
"Kamu diam di sini. Jangan banyak bergerak. Biarkan obatnya menyerap dengan baik," kata Sava.
Sava beranjak dari ranjang. Ia masih berdiri, tetapi Fariz sudah mencegahnya untuk pergi, ia tak rela Sava meninggalkannya sendiri.
"Mau ke mana?" tanya Fariz.
"Berkemas. Besok kami berangkat," jawab Sava.
"Berkemas, tetapi kenapa kamu ke luar? Bukankah bajumu ada di sini?" sela Fariz.
"Aku mau mengambil koper. Aku akan kembali lagi. Tetap di situ," balas Sava.
Selama Sava pergi, Fariz terus menggerutu. Mulutnya tak henti berkomat-kamit tak jelas.
"Lihatlah, dia sangat bersemangat. Apa dia tidak menghiraukanku? Apa dia tidak merindukanku? Buat apa bersenang-senang di sana tidak ada aku."
"Oke. Sava tidak merindukanku. Tapi, apa dia tidak berfikir bagaimana kalau aku merindukannya? Aku kesepian? Tidak ada yang mengurusku? Bi Ijah saja sedang libur."
"Hah, aku kesal."
Ceklek
Sava telah kembali dengan membawa koper ditangannya.
Fariz mengerucutkan bibirnya selama Sava berkemas. Beberapa kali ia memutar bola matanya, serta menghentak-hentakkan kaki ke kasur.
Fariz berniat membungkam mulutnya, tak ingin berbicara dengan Sava. Aksinya gagal saat melihat Sava membawa baju yang sedikit terbuka. Bagi Fariz baju yang dibawa Sava sedikit terbuka. Padahal, hanya dress tanpa lengan.
__ADS_1
"Kalian mau ke Berastagi. Di sana itu dingin. Bawa pakaian yang hangat, jangan yang terbuka," cetus Fariz.
Sava menurut saja apa yang disarankan suaminya. Ia mengganti pakaian yang dibawanya tadi dengan pakaian yang lebih tertutup.
Cukup lama Sava berkemas. Ia lupa waktu, bahkan Fariz sampai tertidur menonton aktivitas Sava mengemasi barang-barangnya.
"Fariz. Fariz bangun."
"Kamu belum makan. Setelah makan, tidur kembali," kata Sava membangunkan Fariz.
Fariz mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak lalu menutupnya kembali. Sava kesal Fariz tidak mau bangun. Ia menyerah membangunkannya.
"Ya, sudah. Aku pergi saja," kata Sava.
Bagaikan disiram air, Fariz langsung beranjak dari tempat tidur. Ia panik mendengar kata 'pergi'. Saat ini ia sedang sensitif dengan kata 'pergi'.
"Kenapa tidak membangunkanku? Sudah mau berangkat? Memangnya jam berapa? Jam 6? Hah? Kenapa kamu tidak membangunkanku." Fariz mondar-mandir ke sana ke mari.
"Berangkat ke mana?" tanya Sava heran.
"Kamu gak jadi pergi ke Medan?" Fariz balik bertanya dengan ekspresi wajah sedikit ceria.
"Besok, Fariz. Aku mengajakmu untuk makan malam," sahut Sava.
Ekspresi wajah Fariz kembali sedih, lesu tak bergairah. Ia berjalan gontai tak bersemangat menuju meja makan.
Diperhatikannya Sava yang sedang menyiapkan makan malam. Ingin rasanya ia memberontak, merencanakan sesuatu agar Sava tidak pergi.
"Kenapa diam saja? Makanlah," ujar Sava.
"Suapin," sahut Fariz.
Sava mengerutkan keningnya, lalu melirik ke bawah meja. Mengecek kondisi kaki Fariz.
"Yang sedang sakit itu kakimu, sedangkan tanganmu baik-baik saja. Kenapa minta disuapin," sindir Sava.
"Memangnya salah seorang suami meminta disuapin istrinya? Aku kan juga pengen dimanja-manja!" seru Fariz.
Fariz tak sadar akan kata-kata yang ke luar dari mulutnya. Ia sadar setelah melihat reaksi kikuk Sava. Perlahan-lahan Sava melirik Fariz, tetapi ia menundukkan kepalanya saat mata mereka bertemu.
Karena situasi mendadak hening dan mencengang, Fariz menyuap nasinya sendiri ke mulutnya. Ia tak meminta untuk disuap Sava lagi hingga nasi di piringnya habis.
"Kamu masih ngantuk, kan? Tidur lagi sana," sindir Sava.
Fariz tidak bergerak sama sekali. Ia menunggu Sava siap membereskan meja makan dan mencuci piring.
Tak sabar menunggui Sava menyelesaikan pekerjaannya, Fariz mendekati Sava. Tangannya melingkari perut Sava.
Sava terdiam, aktivitas mencuci piringnya terhenti. Diliriknya sosok orang yang sedang memeluknya, Fariz malah membenamkan wajahnya di bahu kiri Sava.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya Sava.
Fariz tak menjawab, ia semakin mempererat pelukannya. Sava merasa sesak. Ia mencoba melepaskan diri dari Fariz.
"Diamlah, hanya sebentar," kata Fariz.
Sava menuruti Fariz, ia diam tanpa penolakan. Setelah puas Fariz memeluk Sava, ia melepas pelukannya. Diputarnya tubuh Sava menghadapnya.
"Ka-kamu kenapa?" tanya Sava gugup karena Fariz menatapnya sangat dalam. Sava tak pernah melihat cara memandang Fariz seperti ini sebelumnya.
Sava memberanikan diri mengangkat tangannya, lalu menempelkannya ke dahi Fariz. Ia mengecek suhu tubuh Fariz, apakah Fariz sedang demam atau tidak.
"Normal," kata Sava.
Sava beralih ke pipi Fariz, didekapnya kedua pipi Fariz dengan kedua telapak tangannya.
"Kamu kenapa, hmm?" tanya Sava.
Tatapan Fariz berubah menjadi tatapan tajam. Sava tak mengerti perasaannya, cinta Sava ke padanya tak sebesar cintanya, Sava lebih memilih liburan dibanding tetap bersamanya.
"Ayo kita tidur."
Sesampainya di kamar, Sava naik ke ranjang lebih dulu. Setelah ia merebahkan tubuhnya, ia menepuk-nepuknya kasur di sisi sebelah kirinya. Sava menginstruksi Fariz untuk bergabung dengannya.
Bak sedang dihipnotis, Fariz menuruti Sava merebahkan tubuhnya di samping Sava. Sava tersenyum sambil membuka lebar lengannya, Fariz segera melingkarkan tangannya di tubuh Sava. Jadilah mereka sedang berpelukan.
Sava memeluk leher Fariz sambil mengusap-usap kepalanya.
"Kamu tidak ingin aku pergi?" tanya Sava memecah keheningan.
Fariz tersentuh dengan sikap Sava karena ia tahu Fariz sedang mencoba menahannya. Sava tidak marah, ia lebih mencoba menenangkan Fariz.
Fariz menjadi bimbang. Disatu sisi ia merasa bersalah akan sikap keegoisannya menahan Sava, ia sibuk sementara Sava di rumah saja tak diizinkan untuk bekerja. Disisi lain ia tak rela Sava meninggalkannya, ia tak ingin pulang ke rumah di mana Sava tak ada.
"Selama di sana kamu harus jaga diri, jaga kesehatan, tetap memakai pakaian hangat, jangan berpergian sendiri, jangan menyusahkan bunda dan ayah. Ingat untuk selalu menghubungiku, mengabariku ke mana saja kamu pergi," kata Fariz panjang lebar.
"Kamu benar-benar mengizinkan aku untuk pergi?" sahut Sava.
Fariz menghela napas kasar lalu menganggukkan kepalanya. Ia mencoba untuk mengambil keputusan dari sisi Sava, bukan hanya dari keinginannya semata.
Sava sangat bahagia mendengarnya, ia memperat pelukannya. Wajah Fariz semakin terbenam didekapan Sava.
"Aku tidak bisa bernapas," lirih Fariz.
Savapun, melepas pelukannya.
Fariz membalik tubuh Sava agar membelakanginya, lalu ia memeluk Sava dari belakang. Lalu membenampakan wajahnya di tengkuk Sava.
"Kamu mau tidur seperti ini?" tanya Sava.
Fariz mengangguk dan tetap pada posisinya.
Sava akhirnya terlelap. Berbeda dengan Sava, Fariz tak bisa tidur. Tak bisa tidur karena ia sudah tidur sebelumnya atau karena ada alasan lain.
Ia terbuai akan aroma tubuh Sava, ia menghirupnya seakan aroma itu habis dibuatnya.
Fariz tersenyum karena ia meninggalkan tanda merah di tubuh Sava. Padahal sebelumnya ia sangat panik. Tetapi, kali ini ia sangat senang melihat tanda itu. Seakan ia memberi tanda bahwa Sava miliknya.
Tak puas sampai di situ, Fariz melakukannya lagi. Sampai ia tak sadar sudah meninggalkan tanda begitu banyak.
Tak mau ambil pusing, Fariz tidur dengan perasaan bahagia.
Pagi hari, Sava bangun lebih dulu. Ia menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Padahal, ia berniat untuk membereskan rumah tadi malam. Niatnya batal karena sikap Fariz yang tiba-tiba bersikap aneh.
Akhirnya, pekerjaan Sava selesai. Ia pun bergegas untuk mandi. Sava berkaca diri sebelum ia masuk ke kamar mandi. Ia terkejut melihat banyak bekas gigitan nyamuk di sekitar lehernya. Tak tahu apa yang bisa dilakukannya, Sava membangunkan Fariz dengan perasaan panik.
"Fariz, Fariz!" teriak Sava membangunkan Fariz.
"Ayo bangun. Sepertinya di rumah kita ada banyak nyamuk, atau sejenisnya. Apa kamu terkena gigitan juga?" kata Sava mengecek leher Fariz.
Fariz tersenyum melihat kepolosan sang istri. Disingkirkannya rambut Sava yang tergerai ke belakang. Fariz tak menyangka tanda yang ditinggalkannya menyebar ke sekitaran leher Sava. Ia sampai tersentak melihatnya.
"Kompres. Kompres," kata Fariz panik.
Fariz segera mengambil 2 handuk kecil lalu membawanya ke kamar mandi untuk disiram air hangat.
Ketika kembali dari kamar mandi, Fariz melihat Sava mengotak-atik ponselnya. Diliriknya Sava sedang membuka mencari sesuatu di internet.
"Kamu mencari apa?" tanya Fariz.
"Cara mengobati bekas gigitan nyamuk dan cara membasminya," jawab Sava polos.
Dirampasnya ponsel Sava, lalu melilitkan handuk hangat di leher Sava.
"Diam saja. Di kompres juga akan segera hilang," ujar Fariz.
__ADS_1
"Aku mau mandi dan sarapan. Pukul 10 aku sudah harus berangkat," balas Sava.
Fariz melirik jam dinding sekilas, waktu sudah menunjukkan hampir pukul 8 pagi.
"Tetap di sini, kita sarapan dalam kamar saja. Aku akan ambilkan sebentar."
Fariz berjalan menuju pintu, ia berbalik saat akan menutup pintu. Ia melihat Sava membuka sedikit handuknya di depan cermin.
"Tetap duduk di atas kasur, jangan coba-coba membuka handuknya," perintah Fariz lalu ia pergi.
Tak berapa lama Fariz kembali dengan membawa piring di tangan kanannya dan gelas di tangan kirinya. Sava mengerutkan kening menyambut kedatangan Fariz.
"Kenapa kamu hanya membawa sarapanku? Kamu kenapa gak ikut makan? Dan apa lagi ini? Kenapa banyak sekali? Aku gak mau makan. Kamu saja yang makan," kata Sava protes.
"Kita makan bersama. Kamu pasti kesulitan karena handuk di lehermu, jadi lebih baik aku suapi saja," jelas Fariz.
Sebelum menyuapi Sava, Fariz menyentuh handuk yang melilit di leher Sava. Dilepaskannya handuknya, lalu disiramnya kembali dengan air hangat. Setelah itu, kembali dililitkan Fariz ke leher Sava.
"Apa cara ini ampuh?" tanya Sava di sela mengunyah makanannya.
"Iya walaupun tidak langsung hilang. Kamu harus sering mengompresnya," jawab Fariz.
"Kenapa hanya aku yang digigit, kamu tidak ada bekas sama sekali," gerutu Sava.
Fariz tersenyum menahan tawa. Syukurlah istri polosnya ini tidak mengerti. Ia awalnya takut melakukannya lagi, tetapi karena melihat reaksi polos sang istri kemarin ia semakin menjadi-jadi. Bekas yang ditinggalkannya tak tanggung-tanggung banyaknya.
"Barangmu sudah beres? Apa ada yang kamu perlukan lagi? Sebaiknya, kamu mandi saat akan berangkat saja. Biarkan lehermu dikompres. Kalau kamu mandi lalu mengkompresnya kembali, pakaianmu bisa basah," ujar Fariz.
"Sudah beres semua," jawab Sava.
"Aku antar kamu ke bandara. Biarkan aku mandi lebih dulu," kata Fariz.
"Deshi ikut bersamaku," balas Sava.
"Baiklah, aku akan panggil Hamdan." Fariz menghubungi Hamdan, setelah itu ia mandi.
Sava kesal, lehernya tak kembali seperti semula. Padahal ia sudah menggosok-gosok lehernya dengan sabun berulang kali. Ia menatap kesal lehernya di depan cermin.
"Kalau kamu malu, kasih bedak ke lehermu. Apa namanya itu yang katanya sampai bisa menutupi jerawat, wajahnya bisa mulus," kata Fariz.
"Apa? Aku gak punya," balas Sava.
"Apa saja yang bisa menutupinya!" seru Fariz.
Sava mengikuti saran Fariz, ia mengoleskan bedak yang ia punya ke lehernya. Hasilnya sedikit memuaskan.
"Olehkan lebih banyak," kata Fariz.
Sava menurut saja. Sampai akhirnya, warna kulit wajah dan Sava berbeda jauh.
Hamdan dan Deshi sudah menunggu Sava dan Fariz di ruang tamu. Mereka tidak menyadari ada yang aneh di leher Sava, tetapi berbeda setelah mereka ke luar, Deshi mengerutkan kening menatap leher Sava.
Fariz menyadari Deshi mulai curiga dengan leher Sava. Fariz menghalangi pandangan Deshi.
"Kamu gak punya sesuatu untuk menutupi lehermu? Seperti syal atau jaket?" bisik Fariz.
"Bawa. Ini." Sava menunjukkan syal yang dililitkannya di gagang kopernya.
Fariz mengambil syal Sava, lalu dililitkannya ke leher Sava. Sava sedikit protes mengingat cuaca sangat panas. Sava melepas syalnya saat mereka sudah dalam mobil. Fariz diam saja karena Deshi duduk di depan.
Ayah, bunda dan kakak Fariz sudah sampai di bandara lebih dulu. Mereka mengabari Deshi untuk datang lebih cepat. Mereka menunggu kedatangan Sava dan Deshi.
Sava kesal karena Fariz memintanya untuk mengoleskan bedak lebih banyak di lehernya, akibatnya keluarga Fariz menunggu kedatangan mereka.
Sesampainya di bandara, Sava berlari-lari menghampiri keluarga suaminya. Ada Fariz dibelakang Sava mengejar dengan syal ditangannya.
"Bunda, ayah sudah lama menunggu?" ujar Sava dengan napas terengah-engah akibat berlari.
Fariz menghalangi keluarganya untuk menatap Sava. Ia segera melilitkan syal ke leher Sava. Sava semakin kesal dengan ketidak sopanan Fariz. Fariz tetap memaksakan Sava memakai syalnya.
"Ada apa? Sava tidak enak badan? Kenapa memakai syal?" tanya bunda Fariz penasaran.
"Sava digigit nyamuk lagi bunda. Sepertinya saran bunda kemarin bagus. Kami harus mendatangkan ahli pengusir nyamuk, serangga atau sejenisnya," jawab Sava polos.
Bunda Fariz tertawa terbahak-bahak. Ia menepuk keras pundak anaknya yang sedang memunggunginya.
"Menurut bunda, nyamuk di rumah kalian itu sangat besar. Memang harus mendatangkan ahli untuk membasminya," sindir bunda.
"Kamu dengar itu," kata Sava ke Fariz.
Fariz hanya merespon dengan menggaruk-garuk kepalanya.
Setelah proses check in selesai, Fariz menarik lengan Sava sedikit menjauh dari keluarganya.
"Jangan lama-lama perpisahannya, Sava hanya pergi seminggu, bukan selamanya," sindir Farhan.
Fariz tak perduli dengan ejekan sang kakak, sedangkan Sava menunduk malu.
Fariz memeluk Sava erat, membuat orang-orang di sekitar menatap mereka. Sava merasa risih dengan tatapan-tatapan orang sekitar, ia mencoba melepas pelukan Fariz.
"Diamlah, hanya sebentar," kata Fariz menahan Sava.
Setelah puas memeluk Sava, Fariz melepas pelukannya lalu berkata, "Kita akan terpisah selama seminggu. Kamu tidak mau memberikanku kenang-kenangan agar aku tidak merindukanmu?"
Sava menggeleng.
"Baiklah, kalau begitu aku yang akan mengambilnya darimu."
Cup
Fariz mencium bibir Sava.
Pupil Sava membesar. Jantungnya berdegup kencang. Ia tak menyangka sikap Fariz senekat ini sampai menciumnya di depan umum.
Telinga Sava mendadak tuli, ia tak mendengar suara ricuh apapun. Perlahan ia menutup matanya, menerima ciuman Fariz.
Fariz tersenyum setelah ciuman mereka berakhir. Dipeluknya Sava sebentar, lalu menitipkan sang istri ke orang tuanya.
Bunda Fariz tak henti-hentinya tersenyum melihat dua sejoli dimabuk cinta sedang bermesraan di muka umum.
"Fariz buat malu saja. Apa tidak ada tempat lain untuk bermesraan? Aduh Farhan malu. Farhan masuk saja ya," kata kakak Fariz.
Moan, ayah Fariz tertawa terbahak-bahak melihat anak dan menantunya sedang bermesraan.
"Kalau sudah cinta bisa berbuat apa saja. Tidak perduli apapun," gumam Moan.
"Sepertinya, sebentar lagi kita akan meminang cucu," gumam bunda Fariz.
Wajah ayah Fariz langsung berseri mendengar kata cucu. Ia memang sangat menantikan cucu dari anak-anaknya. Tetapi, ia tak memaksanakan anaknya untuk memberikannya cucu.
"Bunda, Fariz titip Sava ya," kata Fariz menghampiri keluarganya.
"Iya. Tenang saja sayang," sahut bundanya.
Sava masih menunduk malu. Ia terus menatap tangan Fariz yang masih menggenggam tangannya, semakin lama Fariz semakin meremas tangan Sava dalam genggamannya.
"Ya, sudah. Ayo masuk," kata ayah Fariz.
Tangan Sava satunya menyentuh tangan Fariz yang sedang menggenggamnya, meminta agar Fariz melepaskan genggamannya.
"Aku pergi dulu. Kamu baik-baik di sini," kata Sava.
Dengan berat hati, akhirnya Fariz melepas genggamannya.
"Kamu juga ingat pesanku," kata Fariz lalu mengelus puncak kepala Sava.
__ADS_1
Ayah, bunda dan istrinya melambaikan tangan ke Fariz. Fariz terus menatap mereka hingga menghilang dari pandangannya, lalu akhirnya ia kembali pulang.