The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 33


__ADS_3

Mereka akhirnya pulang. Mendengar suara mobil nenek Fariz keluar. Ternyata benar ompung menunggu mereka. Bukan menunggu karena khawatir tapi menunggu untuk melihat kedekatan cucunya dengan sang istri. Nenek Fariz begitu senang mendengar Fariz membawa Sava pergi jalan-jalan.


Sava menghampiri dan mencium punggung tangan nenek suaminya itu kemudian ia berkata, "Nenek menunggu kami? Maaf ya kami pulang kemalaman".


"Nenek senang kalian pergi bersama seperti ini. Apa kau menikmatinya?", jawab nenek Fariz.


Sava hanya mengganggukkan kepala lalu tersenyum. Setelah itu ia pamit masuk ke kamar.


Fariz mendekati sang nenek dan mangajaknya masuk ke dalam rumah.


///


"Bagaimana perkembangannya? ", ujar Fariz.


"Belum ada kabar terbaru tuan. Bagitu sampai nanti saya akan mencari tau informasi apa saja yang sudah diterima tuan besar", jawab Hamdan.


Sava telah pulang dan dibelakangnya para pengawal mengikuti Sava membawa belanjaan.


"Letakkan saja di sini. Setelah saya susun bawa kembali ke mobil untuk dibawa ke bandara", titah Sava.

__ADS_1


Sava menyusun barang belanjaannya. Ia memisah-misahkan untuk siapa akan diberikan oleh-oleh itu. Sava bahkan menuliskan nama pemilik masing-masing.


Setelah selesai Sava ke dapur mencari kardus besar untuk menyatukan semua oleh-olehnya.


Hamdan menghampiri barang-barang yang sudah tersusun itu. Ia membaca nama-nama yang Sava tulis.


"Tuan Fariz. Tidak ada nama tuan di sini", ujar Hamdan.


"Itu oleh-oleh. Aku di sini. Jelas tidak ada oleh-oleh untukku", balas Fariz.


"Eh ada!", seru Hamdan.


Fariz akhirnya mendekat. Menatap oleh-oleh yang dibeli Sava.


"Dia mau memberikan ini untuk temanku? Atau dia ingin memberikannya ke Kenzie? Sudah sedekat apa mereka sampai mendapatkan oleh-oleh", batin Fariz.


"Walaupun sedang kesal nona Sava tetap perhatian ke tuan", ucap Hamdan.


"Kesal? Kesal padaku? Tapi kenapa? ", tanya Fariz.

__ADS_1


"Jadi sampai sekarang tuan tidak sadar akan sikap nona Sava? ", balas Hamdan.


"Nona tidak berbicara pada tuan, nona bahkan tidak mau duduk di samping tuan dan tidak menerima suapan dari tuan. Dan sekarang nona tidak mengajak tuan membeli oleh-oleh", lanjutnya.


"Alasan dia apa? ", tanya Fariz.


"Waktu di mobil semalam nona Sava terus berbicara ke tuan. Nona menanyakan banyak hal. Tuan lihat kan awalnya nona sangat bersemangat tiba-tiba jadi pendiam. Itu karena tuan mengacuhkannya. Tuan malah asyik bermain game", jelas Hamdan.


"Dia berbicara padaku? Aku tidak mendengarnya. Dia mengatakan apa padaku?", balas Fariz.


"Sudahlah. Sudah berlalu. Sudah dijawab Deshi", jawab Hamdan.


"Kalau tuan terus seperti ini, Saya yakin nona akan pergi ke pria lain", lirih Hamdan tetapi masih bisa didengar Fariz. Dan Fariz tidak menghiraukan kan ucapan Hamdan.


///


Mobil sudah menunggu di depan pintu. Barang-barang sudah masuk bagasi mobil.


Ompung Fariz masuk ke dalam mobil. Disusul Fariz masuk ke mobil lain. Pintu sebelah Fariz masih terbuka menunggu Sava masuk. Pintu itu ditutup Hamdan lalu ia duduk di kursi samping supir.

__ADS_1


Fariz menatap tempat Sava kosong dan mengerutkan keningnya saat mobil sudah berjalan.


"Nona Sava masuk ke mobil nyonya Duma. Nona menolak untuk 1 mobil dengan tuan. Nona Sava terang-terangan sekali menjauhi tuan seperti ini", jelas Hamdan sambil tertawa lirih.


__ADS_2