The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 114


__ADS_3

"Kita cuma bertiga saja? Sava gak ikut?" tanya Kanaya.


"Sepertinya akan susah mengajak Sava ke luar. Fariz menempelinya terus. Apalagi sejak kejadian penculikan," jawab Tika.


"Apa yang terjadi saat aku pulang kemarin?" Tanya Kanaya sambil menyeruput minumannya.


Kanaya, Tika dan Rania sedang berkumpul bersama disebuah kafe langganan mereka tanpa kehadiran Sava.


"Kami bermain game susun balok," sahut Rania.


"Apa? Balok mesum itu?" seru Kanaya.


"Hahaha. Bukan. Balok yang lain," jawab Tika.


Tika tertawa melihat reaksi Kanaya. Jelas saja itu balok mesum. Terlalu berisok jika mereka benar-benar memainkan.


Kanaya menghembus napas lega. "Haa. Aku kira kalian bermain itu. Jadi kalian bermain apa?"


"Balok biasa. Tapi sigila ini membuat hukuman memakan kripik pedas," sindir Rania ke pada Tika.


"Lalu bagaimana? Kalian memakannya? Siapa yang paling sering kalah?" tanya Kanaya.


"Mau tidak mau ya dimakan. Tika sengaja karena dia yang paling sering kalah jadi mencari hukuman yang menguntungkannya," jelas Rania.


"Apaan sih nyalahin aku terus. Karena aku pasangan suami istri itu jadi makin mesra ya," sahut Tika.


"Mesra bagaimana?" tanya Kanya.


"Kamu masih ingat hukuman yang tertulis di balok?"


"Peluk? Cium?" tebak Kanaya.


"Iya Fariz memeluk dan mencium Sava."


"Di depan kami," teriak Tika dan Rania sambil saling merangkul.


"Hah? Serius?"


"Aku penasaran ini. Cerita yang lengkap dong," pinta Kanaya.


"Jadi kami menanyakan tentang balok mesum itu. Kata Fariz mereka pernah memainkannya. Dia malah membuktikannya sendiri. Fariz memeluk dan mencium Sava di depan kami," jelas Tika.


"Aduh. Kalau kamu lihat, matamu ikutan gak suci lagi seperti mataku," sahut Rania sambil menutup wajahnya membayangkan adegan mesra Sava dan Fariz.


"Sok suci deh!" sindir Tika.


"Jadi hubungan mereka sudah ada kemajuan?" tanya Kanaya.


"Sepertinya begitu. Tapi apa Sava akan tetap akan bekerja? Setelah kejadian penculikan ini aku yakin Sava tidak akan diberi izin untuk bekerja. Gagal deh rencana kita buat Fariz cemburu," balas Tika.


"Sepertinya sudah berhasil," sahut Kanaya sambil menahan tawa.


Tika dan Rania menatap bingung Kanaya.


"Beberapa hari setelah Sava bekerja, Fariz menungguin Sava di depan kantor. Kata Fariz dia kebetulan lewat jadi menjemput Sava. Tapi Fariz sudah ada di depan kantor saat jam istirahat. Sava melihatnya ketika Sava ke luar kantor. Gak mungkin cuma kebetulan lewat, kan?" jelas Kanaya.


"Jadi dia mengawasi Sava? Sepertinya itu hari yang sama saat mereka ke rumahku untuk mengambil ponsel Sava. Aku memanas-manisi Fariz. Kalau saja Sava tidak diculik mungkin kita bisa melihat Fariz sedang cemburu," kata Tika sambil tertawa.


"Kenapa hubungan mereka lambat sekali? Apa perlu kita mengerjai mereka? Buat mereka tinggal 1 ruangan," bisik Kanaya.


"Percuma. Mereka sekarang tinggal dalam 1 kamar. Bahkan tidur seranjang," sahut Tika.


"What? Sumpah?"


"Iya benar. Kami menemukan mereka ke luar dari kamar yang sama. Sedangkan kamar Sava sudah menjadi ruang kerja," jawab Tika.


"Tapi Fariz berani memeluk dan mencium Sava di depan kita. Bisa saja dibelakang kita mereka lebih dari itu? Bagaimana kalau Sava hamil muda? Kita bahkan belum mulai masuk kuliah," sela Rania.


"Yang penting sudah lulus SMA. Banyak di luar sana sudah menikah bahkan sedang hamil masuk kuliah," ucap Kanaya.


"Hubungan mereka seperti kura-kura berjalan. Sangat lambat. Sava harus pandai-pandai mengikat Fariz. Bisa saja nanti akan hadir Amel kedua ketiga dan seterusnya" sahut Tika.


"Tapi Fariz rela memakan kripik pedas hukuman Sava. Aku yakin Sava mulai menjerat Fariz," sahut Rania.


"Iya juga sih. Kita tunggu saja. Kita lihat bagaimana nantinya saat kita sudah masuk kuliah. Aku dengar Fariz masuk ke kampus swasta dan mengambil jurusan bisnis. Dia mau meneruskan perusahaan ayahnya. Artinya Fariz dan Sava akan semakin jarang bertemu," jelas Kanaya.


"Iya benar. Kalau Sava membutuhkan bantuan segera kita bertindak," sahut Tika.


"Eh aku mau mesan lagi ini. Kalian lapar gak? Pesan lagi saja," tawar Tika.


"Kalau dibayarin gak apa-apa," sindir Rania.


"Tenang. Pesan saja. Pesan," sahut Tika.


"Awas ya kalau bohong. Kita gak mau disuruh cuci piring," ejek Kanaya.


Tika memutar bola matanya lalu memanggil pelayan.


Pelayan datang membawa buku menu dan membersihkan meja mereka.


Rania dan Kanaya akhirnya memesan makanan dan minuman lagi.


Saat menunggu pesanan seseorang tak terduga terlihat memasuki kafe.


"Shadiq!" seru Kanaya dan Rania bersamaan.


"Kenapa dia ada di sini?" tanya Rania.


"Dia mengajak bertemu. Ya sudah aku suruh ke sini saja," jawab Tika cuek.

__ADS_1


Rania dan Kanaya saling menatap sambil senyum-senyum dan menggerakkan alis.


Shadiq berjalan menghampiri meja di mana Tika, Rania dan Kanaya berada.


"Kalian juga di sini?" sapa Shadiq.


"Kita emang dari tadi di sini," sahut Tika.


"Sepertinya keberadaan kita mengganggu ya," sindir Rania.


"Eh, bukan seperti itu," lirih Shadiq.


"Kita baru mesan makanan. Kamu mau makan apa?" tanya Tika.


"Apa saja deh," jawab Shadiq malu-malu.


"Aku pesanin ya." Tika kembali memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman untuk Shadiq.


"Kamu kenapa datang ke sini?" tanya Rania menyelidiki.


"Itu. Aku menanyakan keberadaan Tika dan ingin mengajaknya ke luar. Tapi dia bilang dia sedang di sini, jadi aku samperin. Ternyata kalian sedang berkumpul," jawab Shadiq.


"Jadi dia gak tahu kita ada di sini?" bisik Rania ke Kanaya.


"Ekhem. Kenapa mengajak Tika?" tanya Kanaya ke Shadiq.


"Eh Kenzie di mana? Gak ikut?" potong Tika.


"Hah? Itu." Shadiq mulai panik, ia bingung mau menjawab apa. Shadiq berpura-pura memeriksa isi ponselnya.


Rania mimicingkan matanya. Mencari sesuatu yang mengganjal dari Shadiq dan Tika.


"Apaan sih Rania. Lihatnya kok gitu," ucap Tika.


"Kalian pacaran?"


Pakk


Ponsel Shadiq terjatuh ke lantai.


"Sayang banget ponselnya jatuh. Jangan dibuang-buang dong. Kalau sudah bosan kasih ke kita. Kita siap menampung," sindir Rania.


Shadiq menunduk untuk mengambil ponselnya yang terjatuh. Tika mengambil kesempatan untuk mencubit lengan Rania.


"Aw," rintih Rania.


Mulut Tika komat-kamit tanpa mengeluarkan suara.


Kanaya tersenyum menahan tawa melihat tingkah Rania, Tika dan Shadiq.


"Jadi gimana?" ujar Rania. Rania kembali menyidik Shadiq setelah Shadiq kembali ke posisi duduknya.


"Kalian pacaran?"


Tika menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kami gak pacaran. Aku hanya mengajak Tika ke luar. Aku mengajak Kenzie tapi dia sedang sibuk jadi aku mengajak Tika," jawab Shadiq.


"Oh begitu. Bukan memang berniat mau berdua-duaan dengan Tika, kan?"


Shadiq langsung merespon dengan menggelengkan kepalanya.


"Tapi tadi kamu gak menyangka kami juga ada di sini," seka Kanaya.


"Itu karena Tika gak memberi tahu aku dia dengan siapa," jawab Shadiq.


"Ya sudahlah," balas Rania.


Seketika hening.


Rania dan Kanaya berbisik-bisik membahas Tika dan Shadiq.


"Aku curiga," ucap Rania.


"Iya, sama. Ada yang gak beres," balas Kanaya.


"Awas saja kalau berani bersembunyi di belakang kita. Cukup Sava saja yang menyembunyikan hubungannya dengan Fariz," jelas Rania.


"Kalian berdua ngapain?" tanya Tika.


"Gak ada."


"Makanannya datang," sela Kanaya.


Mereka berempat menyantap hidangan masing-masing.


"Sava kenapa gak ikut?" tanya Shadiq memecah kecanggungan.


"Wanita bersuami susah diajak nongkrong," sahut Rania.


Mereka berempat akhirnya sibuk membahas masalah masa depan. Masalah kuliah dan pekerjaan.


"Jadi benar Fariz mengambil jurusan bisnis?" tanya Tika ke Shadiq.


"Iya katanya begitu. Padahal dia sudah lulus di jurusan yang sama dengan kami. Tapi karena kondisi ayahnya, Fariz takut ayahnya terlalu lelah bekerja penyakitnya kambuh. Jadi Fariz mencoba untuk mulai bekerja di perusahaan sambil ia kuliah bisnis," jelas Shadiq.


"Benar juga sih. Lagi pula Fariz sudah menikah dengan Sava. Sudah waktunya mencari nafkah sendiri. Jangan selalu mengharapkan orang tua. Sava juga pasti tidak nyaman terus-menurus memakai uang mertuanya," sahut Kanaya.


"Bagaimana lagi kalau mereka punya anak? Aduh, masih belum bisa aku bayangkan apa yang akan terjadi nanti. Itu sebabnya aku katakan mereka menunda untuk punya anak dulu" kata Rania.

__ADS_1


"Punya anak itu tidak boleh menunda, kalau tuhan sudah memberi ya terima. Tuhan pasti tahu kapan waktu yang tepat buat Sava dan Fariz memiliki anak," seka Kanaya.


"Kanaya dewasa banget sih. Cocok kamu yang menikah dini dibanding Sava," lirih Rania.


"Sudah-sudah, jadi kalian masuk di Universitas mana?" tanya Tika.


"Universitas Seni Indonesia," jawab Shadiq.


"Hah? Serius?" sahut Tika, Rania dan Kanaya bersaman.


Shadiq mengangguk.


"Haha. Kita akan bertemu lagi kalau begitu," kata Tika sambil tertawa.


Wajah Shadiq langsung berseri.


"Kita berempat," sambung Rania.


"Suatu keberuntungan bisa bersama lagi ya," ucap Shadiq.


"Oh iya, aku dengar kalian melamar magang di Shinee Frameworks?"


Rania dan Kanaya langsung menatap ke arah Tika.


"Hanya Sava dan Kanaya yang diterima. Aku dan Rania gagal," jawab Tika.


"Begitu ya? Seru sih bisa magang. Aku juga sedang mencoba melamar magang di perusahaan swasta," balas Shadiq.


"Kenapa gak kerja di perusahaan orang tuamu," sela Rania.


"Aku merasa terbebani. Aku mau cari pengalaman dulu. Kalau di perusahaan orang tuaku nanti aku malah dianak emaskan. Padahal aku ingin belajar," jelas Shadiq.


"Hmm. Boleh juga. Diantara geng mereka memang Shadiq yang paling waras. Aku setuju kalau Shadiq mendekati Tika, tapi jadi kasihan di Shadiqnya," batin Kanaya.


///


Fariz membaringkan tubuhnya di samping Sava lalu memeluknya. Fariz juga mencoba untuk tidur di samping Sava.


Saat Fariz mulai masuk ke alam bawah sadar, Sava bergerak. Posisi Sava berubah menjadi tidur menghadap Fariz.


Karena rasa ngantuk yang cukup berat, Fariz tetap pada posisinya.


"Dasar mesum!" bisik Sava.


Fariz langsung tersadar. Ia membuka mata dan bertemu wajah sembab Sava.


"Apa katamu?" tanya Fariz.


Sava mengubah posisinya menjadi memunggunggi Fariz.


Fariz malah mendekat memeluk Sava lalu mencium bahu Sava.


"Kenapa wajahmu sembab? Siapa yang membuatmu menangis?" tanya Fariz.


"Pria mesum yang mengintipku sedang berpakaian!" sindir Sava.


"Oh jadi kamu menangis karena aku melihat tubuh polosmu?"


Sava sudah menahan emosinya sejak tadi, tiba saatnya emosi Sava meluap dan akan meledak.


Sava bangun. Ia duduk menghadap Fariz.


"Kenapa kamu mengintipku? Dasar mesum!" seru Sava.


Fariz ikut bangun dan duduk menghadap Sava.


"Kalau aku mengintip pasti aku melakukannya sembunyi-sembunyi. Aku hanya berdiri di situ. Tapi kamu tidak menyadarinya," sahut Fariz.


"Lagi pula, aku tidak melihat semuanya. Kamu memakai pakaian di depan lemari. Jadi tertutup oleh pintu lemari."


Fariz melirik arah lemari dan mengamati pintu lemari pakaian mereka apakah memang bisa menutupi tubuh Sava.


Sava mengikuti arah pandangan Fariz. Sava menatap ke arah lemari dan posisi Fariz saat mengamatinya bergantian. Sava mengamati apakah benar saat ia sedang berpakaian Fariz tidak dapat melihatnya.


"Tapi kamu diam saja. Dan menikmati tontonan aku sedang berpakaian," sergah Sava.


"Apanya yang dapat ditonton. Tubuh datar begitu," gumam Fariz.


Sava membulatnya matanya dan tiba-tiba ia merasa sedih.


Antara sedih Fariz melihat tubuh polosnya atau sedih karena Fariz kecewa tubuhnya tidak mengiurkan.


"Jadi kamu benar melihatnya kan? Katakan kamu melihatnya. Kamu jahat. Mesum."


Sava kesal. Ia memukul-mukul dada Fariz. Fariz tersenyum lalu menahan kedua tangan Sava.


Aktivitas memukul Sava terhenti. Tatapan mereka beradu.


"Memangnya kenapa kalau aku melihat semuanya?" Kata Fariz lalu mendekatkan tubuh Sava. Fariz mendorong punggung Sava agar lebih mendekat ke Fariz.


Kemudian Fariz mendekatkan bibirnya ke telinga Sava lalu berbisik, "Kamu milikku."


Sava membatu, perlahan ia menelan salivanya. Bibirnya gemetar.


"Apa ini waktunya?" batin Sava.


************************************


Jangan lupa votenya

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2