
"Kenapa?", tanya Kenzie.
"Hah?", sahut Sava.
Kenzie menunjuk ke arah ponsel Sava.
"Gak apa-apa", jawab Sava.
"Suamimu? Gak apa. Kamu angkat saja", ucap Kenzie.
Sava diam saja.
Mereka akhirnya sampai villa.
"Makasih sudah mengantar. Aku naik dulu", kata Sava.
"Iya aku juga mau tidur", sahut Kenzie.
Saat Sava berjalan menuju kamar, Fariz menarik lengan Sava lalu membawa Sava masuk ke kamarnya.
Fariz mengunci pintu serta menyudutkan Sava ke dinding.
"Dari mana saja kamu dengan Kenzie?", tanya Fariz dengan tatapan tajam.
"Aku tadi tersesat lalu bertemu Kenzie jadi dia mengantarku pulang", jawab Sava.
"Kenapa kamu bisa tersesat? Dan kenapa kamu masih keluyuran padahal sudah malam?", balas Fariz.
"Bunda meneleponku. Jadi aku ke luar. Asyik berbicara dengan bunda aku gak tahu aku berada di mana", jawab Sava.
Fariz menunjukkan ekspresi tidak percaya.
Sava mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkannya ke Fariz.
"Bicara apa bunda?", tanya Fariz.
"Hanya pembicaraan menantu dan mertua", jawab Sava sambil mendorong tubuh Fariz.
Fariz mengalangi pintu dengan tubuhnya dan Sava mengerutkan keningnya.
"Sudah selesaikan? Aku mau tidur", ujar Sava.
"Aku gak mau tidur sendiri", sahut Fariz.
"Bukannya tadi kamu yang minta kamar sendiri?", ucap Sava.
"Iya. Dan kamu menemaniku", sahut Fariz.
"Pergi panggil Shadiq atau Kenzie. Nanti Tika curiga aku gak ada di kamar", jawab Sava.
"Dia pasti sudah tidur", kata Fariz menarik Sava ke kamar mandi.
"Cuci kaki dan tanganmu. Setelah itu kita tidur", ujar Fariz.
"Aku gak mau tidur denganmu", jawab Sava.
"Aku gak bisa tidur kalau gak di kasurku sendiri. Jadi temani aku agar aku bisa tidur", jelas Fariz.
"Aku temani sampai kamu tertidur lalu aku kembali ke kamarku", ucap Sava.
"Tapi aku tidur sukanya meluk guling. Lihatlah gak ada guling di sini", kata Fariz memelas.
"Jadi?", tanya Sava mengerutkan keningnya.
"Aku harus memelukmu", jawab Fariz santai.
"Gak mau. Panggil saja pacarmu buat menidurkanmu", ujar Sava kesal.
__ADS_1
Raut wajah Fariz berubah serius.
"Jadi kamu mendukungku dengan Amel?", tanya Fariz.
Sava tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya.
"Kamu sadar gak siapa kamu?", tanya Fariz lagi.
Sava masih diam tetapi ia mulai menatap Fariz kembali dengan tatapan sendu.
"Jawab aku hubungan antara aku dan kamu itu apa?", ujar Fariz mulai menunjukkan sebentar lagi amarahnya meledak.
Sava kabur ke kamar mandi.
Ia membersihkan diri lalu kembali. Terlihat Fariz sudah berada di atas ranjang.
Dengan perasaan takut Sava menaiki ranjang lalu tidur di sebelah Fariz dan memunggunginya.
Sava terkejut saat Fariz memeluknya dari belakang. Jantungnya berdegup kencang.
"Kalau kamu terus bersikap seperti ini, bagaimana aku bisa menahan hatiku untuk tidak menyukaimu. Jangan membuatku menyukaimu kalau akhirnya aku akan tersakiti", kata Sava dalam hati sambil memejamkan matanya.
"Kamu sudah tidur?", tanya Fariz memecah keheningan karena tidak ada penolakan dari Sava.
Sava tidak menjawab. Ia memejamkan matanya berpura-pura tertidur.
Fariz membalikkan tubuh Sava.
"Cobaan apa lagi ini", batin Sava masih tetap memejamkan mata.
"Aku tahu kamu pasti belum tidur. Buka matamu", ujar Fariz.
"Apa lagi? Aku mengantuk", sahut Sava tanpa membuka mata.
"Ayo bermain game tadi", ucap Fariz.
"Ada di bawah. Biar aku ambilkan", jelas Fariz.
"Kamu mau tidur gak sih? Kalau gak aku kembali ke kamarku", sahut Sava.
"Coba saja kalau berani", jawab Fariz.
Sava membuka matanya lalu menatap arah pintu dan ternyata kunci kamar sudah tidak ada tergantung.
"Tidurlah", kata Sava lalu kembali memunggungi Fariz.
"Kalau begitu lalukan sekali lagi", ucap Fariz
"Lakukan apa?", tanya Sava.
"Hukumanmu tadi", jawab Fariz.
"Jangan buat aku tambah gila Fariz", balas Sava.
Fariz menarik tubuh Sava agar terduduk.
"Aku akan tidur setelah ini. Serius. Aku gak akan mengganggu mu lagi", kata Fariz.
"Gak mau", sahut Sava.
"Ayolah. Sava. Istriku. Hmm", kata Fariz membujuk.
"Kalau ada maunya baru menyebutku istri. Awas aku kerjain", batin Sava.
"Oke", jawab Sava cuek.
"Benarkah? Ayo mulai saja", ucap Fariz semangat.
__ADS_1
Sava tidak menunjukkan ekspresi menggoda, ia malah menunjukkan ekspresi lucu, muka jelek serta muka konyolnya.
Fariz tertawa terbahak-bahak. Sava sampai terheran-heran melihat Fariz tertawa seperti ini. Kemudian Sava malu sendiri, ia kembali berbaring memunggungi Fariz serta menutup kepalanya dengan bantal.
"Aku gak tahu kalau kamu bisa selucu ini", ujar Fariz dengan sisa tawanya sambil memeluk Sava.
"Minggir. Katamu gak akan mengganggu ku", ucap Sava melepas bantal yang menutup kepalanya.
"Aku gak mengganggu. Aku sudah bilang gak bisa tidur tanpa memeluk guling", jawab Fariz.
Sava mendengus kesal lalu memejamkan matanya.
Tak beberapa lama mereka akhirnya terlelap.
///
Pagi hari Sava terbangun. Ia ingin kembali ke kamarnya tetapi pintu kamar Fariz terkunci dan kuncinya entah di mana.
Sava mendekati Fariz. Mencoba meraba kantong Fariz apakah kunci ada di dalam kantong.
Fariz terbangun dan melihat Sava ada di depannya.
Fariz menyilangkan tangan di dadanya, setiap tangannya meraih pundak yang berlawanan membentuk huruf X, dan berkata, “Mau apa?”.
"Kunci kamarnya di mana? Aku harus kembali", jawab Sava.
Dengan sigan Fariz mencari kunci kamarnya lalu memberikan ke Sava.
"Kamu pikir aku akan menerkammu", kata Sava lalu membenamkan wajah Fariz dengan bantal.
"Tentu saja. Kamu tiba-tiba ada di hadapanku", sahut Fariz gugup setelah melepas bantalnya.
Sava mendekati Fariz lalu mencubit dagunya.
"Suamiku ternyata sangat polos. Ah iya. Bibirnya bahkan masih perawan", kata Sava mengedipkan salah satu matanya serta menggigit bibirnya.
Fariz membulatkan matanya. Lalu menarik tubuh Sava sehingga posisi mereka bertukar.
"Kamu sedang menggodaku? Perlu aku ingatkan siapa yang membuka perawan bibirku?", kata Fariz sambil menaikkan alisnya.
"Kamu yang menciumku. Kenapa kamu bicara seolah aku yang menciummu", balas Sava.
Fariz tersenyum licik. Lalu semakin mendekatkan wajahnya dengan Sava.
"Jangan memutar balikkan fakta. Kamulah yang mencium paksa aku. Seharusnya aku yang berkata begitu", lanjut Sava untuk menahan Fariz agar tidak semakin mendekat.
Fariz mengerutkan keningnya lalu mencerna ucapan Sava. Seketika raut wajah Fariz berubah berseri.
"Oh jadi maksud kamu aku merebut keperawanan bibirmu?", tanya Fariz menggoda Sava.
"Bukan", jawab Sava memalingkan wajahnya.
Fariz mendadak emosi, ia mencubit dagu Sava lalu memutarkan wajah Sava menghadapnya.
"Siapa first kiss mu?", tanya Fariz penasaran.
"Ada seseorang", jawab Sava sambil menatap dalam mata Fariz.
"Siapa?", tanya Fariz geram.
"Yang jelas bukan kamu", jawab Sava cuek tak takut akan amukan Fariz.
Mereka masih saling bertatapan.
Tiba-tiba ponsel Sava bergetar.
"Minggir. Mereka sudah mencariku", kata Sava mendorong tubuh Fariz.
__ADS_1
Lalu Sava berlari ke arah pintu.