
Sava menatap Al lekat mencari kebenaran dalam diri Al.
"Aku akan jujur padamu. Apapun yang dikatakan Fariz itu benar tapi itu masa lalu. Masa sewaktu kami masih anak-anak. Kamu lihat aku sekarang, apa aku pernah melukaimu? Aku yakin pasti Fariz berpikir buruk soal aku dekat denganmu", kata Al.
"Aku gak mengenalmu sebelumnya. Kita bertemu kebetulan. Aku datang ke Indonesia untuk menjenguk nenek kami yang sedang sakit tapi aku gak bisa menemuinya karena dijaga ketat oleh pengawal. Saat aku akan kembali ibuku memberitahuku kalau nenek kami ingin melangsungkan perjodohan. Dan saat itu aku tahu Farhanlah yang dijodohkan denganmu", lanjutnya.
"Apa?", sahut Sava percaya.
"Kamu gak tahu Farhan? Kakaknya Fariz. Dia yang seharusnya dijodohkan denganmu. Saat di bandara ibuku menyuruhku untuk tetap tinggal dan mengabarkan kalau Farhan kabur karena menolak perjodohan ini. Ibuku menyuruhku untuk mendekatimu siapa tahu kita bisa menikah karena kami berpikir dengan begitu hubungan keluarga kami kembali akur. Aku menerimanya dan disitulah aku memintamu untuk membantuku mencari tempat tinggal. Jujur saat itu aku sama sekali tidak mengenalmu tapi saat kamu membawaku ke kafe tempatmu bekerja aku mengingat informasi yang diberikan ibuku bahwa gadis yang akan dijodohkan itu bekerja di kafe tempatmu bekerja. Aku semakin gencar untuk membuatmu lebih dekat denganku. Memintamu ini dan itu. Lalu aku mendengar kabar bahwa kamu dijodohkan dengan Fariz. Aku hampir putus asa, aku menjauh untuk beberapa saat kemudian aku menyadari perasaanku tulus padamu. Aku gak bisa melihatmu bersama orang lain. Tapi aku sudah terlambat. Aku terus datang mencarimu ke tempatmu bekerja. Aku bahkan datang ke rumahmu tapi kalian semua sudah pergi ke medan untuk mengadakan resepsi pernikahan. Aku menghubungimu tapi ponselmu gak aktif. Aku mulai menyerah. Setelah kalian menikah aku mendapat kabar kalian gak seperti pasangan suami istri biasa. Kalian bahkan pisah kamar. Jadi ku pikir aku bisa merebutmu kembali", jelas Al panjang lebar.
Sava membisu tak bisa berkata-kata. Ingin rasanya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Akhirnya ia mendengar penjelasan dari kedua pihak tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau Fariz menyakitimu kasih tahu aku. Aku bisa membawamu pergi ke manapun kamu mau. Aku mencintaimu Sava. Sungguh. Percaya padaku", kata Al mengungkapkan isi hatinya.
"Al. Aku dan Fariz sudah menikah. Kamu tahu itu kan? Kamu gak seharusnya ngomong seperti itu padaku. Kenyataan aku menikah dengan Fariz gak bisa dibantah. Aku Wanita yang sudah bersuami Al. Carilah wanita yang lebih baik dan lebih pantas untukmu", sahut Sava.
"Aku akan anggap apa yang terakhir kamu katakan gak pernah ku dengar", lanjut Sava.
Dan akhirnya Tika dan Rania pun datang. Mereka menghabiskan makanan mereka lalu Al menawarkan untuk mengantar pulang. Sava menolak dengan alasan suaminya akan menjemput.
Setelah Al, Tika dan Rania pergi, Sava masuk ke dalam mobil Fariz. Raut wajah Sava sangat tidak bersahabat. Tak ada senyum di wajah Sava.
"Kenapa lama sekali? Ponsel mu di mana? Kenapa gak mengangkat teleponku?", ujar Fariz.
Sava tidak menjawab, ia terus menatap arah depan.
"Jawab aku", kata Fariz setelah menarik dagu Sava menghadapnya.
"Aku capek. Mengantuk. Aku mau pulang", sahut Sava dengan mata senduh.
Tak ada penolakan dari Fariz setelah melihat ekspresi Sava.
///
Sava terus menghindari Fariz. Ia mengurung dirinya dalam kamar setelah pulang bertemu Al.
"Kenapa dia terus di dalam kamarnya? Sejak kemarin aku gak melihatnya. Apa terjadi sesuatu?", gumam Fariz.
Fariz mengetuk pintu kamar Sava.
"Sava. Sava", teriak Fariz.
Sava ke luar dengan raut wajah khas baru bangun.
__ADS_1
"Mau apa?", sahut Sava.
"Kamu baru bangun?", tanya Fariz.
"Kalau gak ada yang mau kamu katakan aku mau lanjut tidur", ucap Sava.
"Hmm itu", ucap Fariz sambil menggaruk kepalanya.
"Apa yang harus aku katakan? Gak mungkin aku memanggilnya cuma mau melihatnya", batin Fariz.
"Ayo kita pergi membeli balok mainan seperti punya Tika", kata Fariz.
"Ha. Untung saja terpikir hal ini", batinnya.
"Besok-besok saja", sahut Sava.
"Gak bisa. Kamu kan sudah janji", jawab Fariz.
"Baiklah. Tapi hanya membelinya. Mainnya besok-besok", kata Sava.
Fariz mengangguk.
Setelah mereka bersiap Fariz membawa Sava ke mall.
"Kita ke mall? Di minimarket juga ada", ujar Sava.
"Terserah mu saja", jawab Sava malas berdebat.
Mereka memasuki mall dengan Fariz berjalan di depan Sava. Sava terlihat kesulitan untuk mengikuti langkah kaki Fariz. Saat Fariz sudah masuk dalam lift, tanpa ia sadari Sava tidak ada di sisinya. Fariz panik. Ia membuka pintu lift kembali dan Sava muncul dengan napas tengah-engah lalu menatap tajam Fariz.
Sava masuk ke dalam lift dan berdiri di sudut. Jarak Fariz dan Sava sangat jauh. Setelah Sava masuk beberapa pria ikut masuk ke dalam lift. Para pria itu terus melirik-lirik Sava sambil saling berbisik.
Fariz ternyata memperhatikan gerak-gerik para pria itu. Tetapi ia tak bisa menghampiri Sava karena jarak mereka jauh serta lift penuh.
Setelah pintu lift terbuka Fariz ke luar lebih dulu karena posisinya di dekat pintu. Lalu Fariz memanggil Sava.
"Sayang, ayo ke luar", teriak Fariz.
"Permisi mas, pacar saya mau lewat", ucap Fariz ke sekumpulan pria tadi.
Sava mengerutkan kening menatap Fariz lalu tersipu malu karena semua orang menatapnya.
Fariz mengampiri Sava lalu menggenggam tangannya. Para pria yang menatap Sava tadi terlihat kecewa.
__ADS_1
Setelah Sava dan Fariz ke luar lift, Sava menjauhkan diri dari Fariz.
"Jangan jauh-jauh. Kamu itu seperti anak hilang. Aku panik saat kamu gak ada", ujar Fariz.
"Yang meninggalkan ku memangnya siapa? Aku gak hilang. Tapi kamu meninggalkanku", balas Sava kesal.
Sava merajuk. Ia tak mau menatap Fariz. Ia malah berjalan lebih dulu di depan Fariz. Fariz mendekat lalu menggenggam tangan Sava.
"Maaf. Aku terlalu bersemangat", ucap Fariz. Sava mencoba melepas genggaman Fariz.
"Kita harus berpegangan tangan seperti ini kalau gak kamu bisa hilang", kata Fariz membujuk.
"Sekali lagi kamu ngomong aku hilang aku benaran bakalan hilang", balas Sava.
Fariz terkejut dengan ucapan Sava. Fariz takut apa yang Sava katakan akan terjadi. Ia menarik tubuh Sava dalam dekapannya.
"Apa yang kamu lakukan. Ini di tempat umum", kata Sava sambil mendorong tubuh Fariz.
"Kamu gak boleh hilang", ucap Fariz melepas pelukannya lalu kembali menggenggam tangan Sava.
Sava menunduk malu menghindari tatapan orang sekitar.
Fariz membawa Sava ke toko perhiasan. Sava menatap heran kenapa mereka datang ke toko perhiasaan untuk mencari sebuah mainan.
"Boleh lihat yang itu dan ini", ujar Fariz ke pegawai toko.
Fariz mendekatkan kedua kalung yang dipengangnya ke arah Sava. Menilai mana yang cocok untuk Sava.
"Menurut mbak lebih bagus kalung yang mana untuk pacar saya?", tanya Fariz.
Sava menyikut Fariz.
"Apa yang kamu lakukan? Untuk apa kamu membeli kalung? Dan kenapa kamu terus menyebut aku pacarmu?", bisik Sava.
"Kamu mau aku dikira anak alay lagi menyebutmu istriku di depan umum?", sahut Fariz.
Sava langsung tertawa. Kening Fariz berkerut melihat Sava tertawa diatas penderitaannya.
"Dan lagi, aku gak tahu kalau kamu kemarin ulang tahun. Kado kemarin itu dari bunda. Jadi aku sekarang sedang membelikanmu kado ulang tahun", ucap Fariz.
Sava tidak tahu harus merasa senang atau sedih saat ini. Tapi suasana hatinya mulai membaik dibanding tadi.
***********************************
__ADS_1
Jangan lupa vote The Beauty Of Marriage
🙏🙏🙏🙏🙏