The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 54


__ADS_3

"Itu mobil Fariz ya kan?", ucap Rania.


"Eh iya. Tumben masih di sekolah. Mungkin lagi ada ekskul", balas Tika karena melihat tidak ada orang di dalam mobil.


"Apa dia sedang menungguku? Itu sebabnya menanyakan keberadaanku tadi?", batin Sava.


Mereka menuju halte. Biasanya Sava selalu keluar sekolah lebih cepat dari sahabatnya karena takut ketahuan dijemput Dhesi. Berhubung sekarang sedang ada ekskul jadi sekolah sepi tidak ada kesempatan buat Sava kabur.


"Itu bus lo Va", ujar Kanaya.


"Kenapa cepat sekali busnya datang", batinnya.


"Gue nunggu yang berikutnya saja. Gak ada bangku kosong", ucap Sava.


"Eh tunggu. Emang lo tinggal di mana?", tanya Rania.


"Hah? Di rumah suami gue lah", jawab Sava.


"Busnya sama arah rumah lo", tanya Rania lagi.


"Iya searah", jawab Sava.


"Oh", ucap Rania menganggukkan kepalanya.


Setelah ketiga sahabat Sava pergi ia menghubungi Fariz.


"Hallo. Kamu di mana?"


.....


"Aku kan gak minta ditungguin. Kenapa marah-marah"

__ADS_1


.....


"Aku di halte"


.....


"Tadi aku bersama sahabatku"


.....


Panggilan terputus.


"Huh. Seenaknya saja. Aku akan membalas dendam. Aku akan buat dia merasa terasing saat di rumah nanti", batin Sava.


///


Fariz memutuskan menunggu Sava sampai selesai ekskul. Tak disangka ternyata Fariz sampai ketiduran. Karena Sava meneleponnya Fariz pun terbangun.


.....


"Kalau aku pulang sendiri keluargamu akan heran. Kamu mau mereka curiga? Di mana kamu sekarang?"


.....


"Halte? Aku sudah menunggumu kamu malah mau pergi meninggalkanku?"


.....


"Jangan ke mana-mana. Diam di situ"


Fariz memutus panggilan telepon Sava. Ia mengacak-acak rambutnya kemudian berkata, "Kenapa susah sekali menghadapi gadis ini. Aku sudah berusaha baik padanya".

__ADS_1


Fariz sudah tiba di halte tempat Sava menunggu. Setelah Sava masuk Fariz langsung meneriakinya, "Kamu segitu sukanya naik bus? Kamu lebih memilih naik bus dari pada naik mobilku? Apa enaknya naik bus panas berdesak-desakan".


"Iya aku lebih suka panas-panasan, desak-desakan dari pada harus duduk berdua bersamamu dalam 1 mobil tapi seperti kuburan", balas Sava.


"Apa? Kuburan? Apa maksudmu mobilku seperti kuburan?", ucap Fariz.


"Kamu itu terus saja diam. Aku ajak ngomong kamu diam. Jelas saja mobilmu ini seperti kuburan. Kamu itu seakan malaikat yang sedang membawa aku ke neraka", jelas Sava.


"Jadi apa maumu hah? Aku harus ngerocos terus seperti Kenzie gitu? Jangan bilang kamu menyukainya? Jadi kamu marah padaku karena aku memberitahu mereka kau sudah bersuami?", kata Fariz penuh emosi.


"Berengsek. Turunkan aku", ujar Sava.


Fariz malah menaikkan kecepatannya.


Dengan setengah takut setengah sedih Sava berpegangan dan bendungan air mata yang tak tertahankan.


Fariz menyadari Sava menangis, ia pun menghentikan mobilnya di depan minimarket dan meninggalkan Sava dalam mobil.


"Sial. Aku malah membuatnya menangis. Apa semua wanita seperti itu, menyelesaikan masalah dengan menangis", batin Fariz.


Sedangkan Sava menangis sejadi-jadinya setelah Fariz pergi.


Fariz kembali dengan membawa beberapa kantongan berisikan banyak makanan ringan.


2 kantongan diletakkannya ke pangkuan Sava. 1 kantongan berisi makanan dan 1 kantongan lagi berisi es krim. Sisanya Fariz letakkan di bangku belakang.


"Diamlah. Makan es krimnya", ucap Fariz.


Sava masih diam dengan sisa isakannya. Fariz meraih salah satu es krim lalu membukakannya setelah itu menyodorkannya ke Sava, "Makan".


Sava menerimanya lalu memakan es krim itu. Fariz meraih 1 es krim lagi untuk dimakannya.

__ADS_1


Setelah es krim Fariz habis ia kembali melajukan mobil.


__ADS_2