
Saat sarapan Sava disuguhin ceramah pagi mamanya.
"Sava jangan makan es krim lagi. Es krim dalam kulkas biar kasih ke Azzam atau Rafif saja. Di sekolah juga jangan makan sembarangan. Jaga kesehatan. Sebentar lagi kamu mau ujian. Kamu gak kerja lagi kan? Syukurlah kalau begitu. Belajar yang rajin. Walau begitu tetap perhatikan suamimu, ingat kamu sudah punya suami. Harus bisa jaga diri. Jangan keikut teman-teman kamu yang masih lajang main ke sana ke mari. Mama tahu kalian menikah terlalu muda, mama gak larang untuk bergaul tapi ingat batasannya".
Sava hanya bisa menundukkan kepalanya. Ceramah berhenti saat Fariz menghampiri mereka.
Mama Sava memberi isyarat ke Sava untuk melayani Fariz.
Sava mengambil piring lalu berkata, "Mau makan apa? Nasinya segini cukup? Mau ini?".
Fariz heran dengan sikap Sava, ia hanya menggangguk dan menggelengkan kepalanya saat Sava bertanya.
///
"Aku akan turunkan kamu di halte dekat sekolah", ucap Fariz tiba-tiba saat mereka dalam perjalanan menuju sekolah.
Sava mengganggukkan kepalanya.
"Nanti ada ekskul lagi?", tanya Fariz.
"Gak ada", jawab Sava singkat.
"Kalau gitu tunggu aku di gerbang sekolah", ucap Fariz.
"Gak bisa. Nanti ada yang melihat. Aku naik bus saja. Tunggu aku di halte dekat rumah", balas Sava.
"Kamu lebih suka aku menyeretmu masuk mobilku atau kamu masuk sendiri?", ancam Fariz.
"Kalau begitu kita pulang masing-masing", jawab Sava dengan tegas tidak takut ancaman Fariz.
"Oh begitu. Nanti kalau mama nanya kamu di mana aku jawab kamu gak mau pulang bareng aku. Tadi pagi sepertinya aku mendengar mama sebut-sebut namaku", ucap Fariz.
"Laporin aja. Aku gak takut. Paling nanti di ceramahin", balas Sava.
__ADS_1
"Kamu berani membantahku? Awas saja kau", ujar Fariz emosi.
Sava malah asyik mengunyak cemilan.
"Dari kamu mendapatkannya?", tanya Fariz.
Sava menunjuk ke arah belakang.
"Siapa bilang kamu boleh memakannya? Itu milikku", lanjut Fariz.
"Dasar pelit", ucap Sava.
"Masih pagi jangan makan jajanan", kata Fariz.
Sava langsung memalingkan wajahnya menghadap jendela sampingnya.
"Kenapa kamu gak bawa bontot lagi?", tanya Fariz.
"Itu. Aku di gosipin gak ada uang makanya gak pernah jajan. Jadi sahabatku mengira suamiku gak kasih aku uang", jawab Sava.
"Si. Siapa yang ngomong gitu? Awas saja mereka. Mereka gak tahu Fariz siapa. Jajanan ini kamu bawa semuanya. Bagi-bagi ke teman kamu. Jangan lupa bilang kalau itu dari suamimu", ucap Fariz.
Sava tertawa lirih masih menghadap jendela.
Mobil akhirnya berhenti di dekat halte sekolah. Fariz langsung meletakkan jajanan ke atas paha Sava. Lalu menarik telapak tangan Sava dan memberikan sesuatu, "Pakai ini untuk memenuhi kebutuhan rumah juga kebutuhan mu. Pin nya hari pernikahan kita".
Hati Sava terenyuh mendengar ucapan Fariz. Ia tidak menyangka Fariz akan membuat pin dengan tanggal pernikahan mereka.
"Kamu mau ikut aku ke sekolah?", ucap Fariz.
"Gak. Gak. Aku turun", ucap Sava.
///
__ADS_1
"Bawa apaan lo?", ujar Tika.
"Buset. Banyak banget jajanannya. Minta 1 ya", ucap Rania.
"Ambil saja. Habisin. Bagi ke anak-anak sekalian", balas Sava.
"Hah? Jadi ini buat kita-kita? Dalam rangka apa bawa jajanan banyak gini?", tanya Kanaya heran.
"Dari suamiku", jawab Sava singkat.
"Itu karena kalian menuduhnya gak memberikanku nafkah", lanjutnya.
"Jadi lo cerita?", ucap Kanaya.
Sava mengangguk.
"Gue jadi penasaran sama suami lo", ujar Tika.
"Ingat ya kalian jangan mencari tahu siapa suamiku. Itu artinya kalian gak mempercayaiku. Tunggu sampai aku mengenalkannya", jelas Sava.
"Iya deh", balas Tika cuek.
"Tapi suamimu benaran baikkan? Dia tidak menyiksamu kan?", lanjut Tika.
"Siapa yang ngomong aku di siksa? Memangnya kalian melihat wajah atau badanku memar-memar?", jelas Sava.
"Itu Tika dan Kenzie mengira kamu gak bahagia. Jadi mereka berpikir yang tidak-tidak", ucap Rania.
"Kami itu baru menikah. Wajar saja banyak hal yang gak cocok dari kami. Kalian juga tahu kami itu pisah kamar. Jadi waktu untuk saling berbincang-bincang itu sangat sedikit. Dalam 1 hari saja aku bisa tidak melihatnya", jelas Sava.
"Kamu bahagia dengan pernikahanmu?", tanya Kanaya.
"Saat ini aku cukup bahagia. Awalnya aku mengira dia itu pria dingin yang tidak peduli padaku, pada keluargaku. Sibuk dengan dunianya sendiri. Tapi ternyata dia pria yang cukup hangat. Dan sekarang dia sudah mulai banyak bicara", ucap Sava tersenyum malu.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu. Kami ikut bahagia mendengarnya", kata Kanaya.