The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 40


__ADS_3

Hubungan asmara Fariz dan pacarnya berjalan lancar berkat kesepakatan dengan Ayahnya. Ia sering bertemu pacarnya dilokasi syuting walau hanya bertemu di dalam mobil. Dan sesekali bertemu di luar walau pacarnya dengan gaya menyamar.


Hari ini mereka janji bertemu di sebuah kafe. Mereka datang terpisah. Pacar Fariz diantar oleh manajernya. Dan sekarang Fariz sedang menunggunya.


Terdengar suara pintu kafe terbuka, Fariz menoleh ke arah pintu berharap orang yang ditunggunya datang.


Fariz menajamkan penglihatannya saat melihat orang yang masuk ke kafe.


Fariz terkejut saat mengetahui kebenaran yang ia temui. Ia melihat istrinya. Awalnya Fariz ragu karena Sava berdandan, kemudian ia yakin saat melihat salah satu sahabat Sava. Hal yang paling mengejutkan lagi Sava dan sahabatnya duduk di meja yang terdapat 3 orang pria dan seorang wanita. Sepertinya orang-orang itu menunggu Sava dan sahabatnya.


Ketiga pria itu terus menatap Sava. Duduk mereka berhadap-hadapan. Wanita duduk berjejer begitu juga pria. Jadi pria dan wanita saling berhadap-hadapan.


Fariz meyakini ini adalah kencan buta.

__ADS_1


"Hah sekarang ia menghadiri kencan buta. Bagaimana dengan pacarnya si Al Al itu. Sebenarnya ada berapa pria yang ada di sekitarmu. Kau bahkan menerima perjodohan ini karena keluargaku bersedia membayar hutang keluargamu. Dasar wanita matre", batin Fariz.


Hampir 1 jam Fariz menunggu Amel akhirnya datang. Saat ini Amel bergaya ala anak kutu buku. Lengkap dengan kaca matanya.


Walau Amel berdandan seperti itu Sava tetap mengenalinya.


Sava menatap wanita yang baru masuk ke kafe. Sava mengingat kalau wanita itu pacar Fariz suaminya. Sava takut salah orang sebab banyak orang yang ditemuinya. Mungkin saja hanya mirip. Tatapan mata Sava mengikuti wanita itu dan benar wanita itu bersama suaminya. Cepat-cepat Sava mengalihkan pandangannya.


Dalam perjalanan Sava meminta pria itu untuk menurunkannya di sebuah halte karena ada urusan mendadak. Pria itu menolak dan memaksa untuk mengantarnya pulang.


Fariz tidak sadar ternyata Sava dan salah satu pria di meja mereka sudah meninggalkan kafe.


Saat di rumah Fariz tidak menyadari bahwa Sava sudah di rumah. Fariz masuk ke rumah dalam keadaan gelap. Ia bahkan tidak berniat menghidupkan lampu-lampu itu dan berjalan dalam kegelapan yang akibatnya kakinya tersandung. Fariz mengerang kesakitan. Kesal akan sesuatu menyandung kakinya akhirnya ia menendang kuat benda itu.

__ADS_1


Sava berada dalam kamarnya, setelah pulang tadi ia langsung tertidur dan lupa waktu. Sava terkejut mendengar ada suara berat khas pria dan suara benda terjatuh. Sava panik. Sava keluar kamarnya dengan penggaris besi ditangannya.


Sava mengintip dari pintu kamar sangat gelap. "Hah? Kenapa gelap sekali. Apa tadi itu maling? ", batin Sava.


Sava memberanikan diri untuk keluar. Sava panik saat melihat ada bayangan pria kekar dari arah dapur. Bagaimana caranya ia memanggil satpam. Tiba-tiba saja penggaris ditangannya terjatuh. Mungkin karena sangkin paniknya ia tidak kuasa menggenggamnya. Suara penggaris jatuh itu cukup nyaring sampai terdengar oleh Fariz. Ia menghidupkan salah satu lampu yang berada di dekat tangga.


Sava berteriak. Itu satu-satunya cara yang terlintas di otaknya.


Mendengar teriakan Sava Fariz mendekat.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu berteriak?", ucap Fariz.


"Kau? Jadi itu kau? Kenapa tidak menyalakan lampu. Apa yang kau lakukan dalam kegelapan di bawah sana?", ucap Sava dengan nada sedikit marah.

__ADS_1


__ADS_2