The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 121


__ADS_3

"Jadi kamu sendirian di rumah?" tanya Tika.


"Iya. Aku sudah berhenti bekerja," jawab Sava.


"Aku sudah duga itu. Pasti Fariz menyuruhmu berhenti bekerja setelah kejadian penculikan itu," sahut Rania.


"Dari awal Fariz tidak mengizinkan aku bekerja di sana. Aku melamar kerja juga diam-diam, kan?" balas Sava.


"Iya benar juga sih. Jadi bagaimana? Berhasil gak buat Fariz cemburu? Kanaya cerita kemarin kalau Fariz datang ke kantor kalian berpura-pura sedang lewat lalu menjemputmu," kata Tika.


"Sepertinya berhasil." Sava senyum-senyum mengingat tingkah Fariz.


"Cieee. Senyum-senyum. Cerita dong ke kita."


"Ekhem. Ekhem. Fariz awalnya terima-terima saja kalau aku magang. Tapi, setelah tahu aku magang di Shinee Frameworks dia langsung menolak keras. Kami negosiasi, dan akhirnya dia menerima aku magang sampai mau masuk kuliah nanti. Aku katakan kalau divisi tempat aku kerja dengan Al itu berbeda jauh, tapi dia jadi berlebihan setelah bertemu Tika. Dia takut aku benar-benar bertemu dengan Al. Dia mengirim Deshi untuk mengawasiku lagi," jelas Sava.


"Jadi kamu sama sekali tidak pernah bertemu dengan Al?" tanya Tika.


"Selama aku magang kami tidak pernah bertemu. Tapi, kami malah bertemu saat aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri. Itu juga karena Fariz bertemu dengannya," jawab Sava.


"Apa? Fariz bertemu Al? Bagaimana bisa?"


"Aku berjanji menemani Fariz ke rumah sakit untuk melepas gips ditangannya. Kami berjanji jam 11 di kantorku. Tapi dia malah datang 1 jam lebih cepat. Saat itu aku sedang berada di luar kantor. Dia menungguku di lobi perusahaan. Saat aku datang Fariz sedang berbicara dengan Al. Al terkejut melihatku, lebih terkejut lagi saat dia tahu aku mengundurkan diri. Dia membujukku untuk tidak berhenti. Ya tentu saja aku tolak," jelas Sava.


"Fariz ke kantormu? Sepertinya Fariz benar-benar sangat takut kehilanganmu nih." Goda Tika sambil menyentil dagu Sava, Tika juga menggerakkan alisnya naik turun.


"Apaan sih. Gak ah. Fariz memang terlalu berlebihan." Sava mengelak sampai pipinya memerah.


"Eh, belum cerita nih ke kita soal kalian tidur sekamar," kata Tika sambil tertawa.


"Itu... Kapan ya? Bagaimana kami bisa tidur sekamar ya?" kata Sava berfikir.


"Yah dia lupa."


"Jangan pura-pura lupa ya karena gak mau cerita," sindir Tika.


"Iya. Iya. Itu sepertinya setelah kita pulang dari villa Shadiq. Eh, salah. Kapan ya."


Tika dan Rania menanti-nanti Sava untuk bercerita. Ekspresi mereka terlihat tak sabaran.


"Sepertinya setelah kami bertemu mendiang Amel di sebuah restoran dan aku dijambret. Seseorang yang berbaik hati mengantarku pulang. Fariz mengira aku bertemu Al," jelas Sava.


"Kalian pernah bertemu Amel?"


Sava menganggukkan kepalanya.


"Kapan? Lalu bagaimana?" sahut Tika.


"Pantas saja kalian bertengkar saat di sekolah. Harusnya kita sudah curiga Amel tahu siapa Sava sebenarnya," sahut Rania.


"Kalian bertemu Amel setelah pulang dari villa Shadiq, kan?"


"Iya. Saat itu Amel menatapku heran. Lalu Fariz menyuruhku untuk menunggu di parkiran. Karena aku kesal aku pulang saja. Akunya malah dijambret," jelas Sava.


"Setelah itu seseorang mengantarmu dan Fariz malah marah-marah? Hahahah... Artinya Fariz cemburu." Tika dan Rania tertawa terbahak-bahak, Tika tertawa sampai memukul Rania disampingnya.


"Fariz gak langsung menerkammu, kan? Karena api cemburu," sindir Rania.


"Dia malah memberiku map," sahut Sava.


Tawa Tika dan Rania langsung terhenti, lalu mereka serentak berkata, "Map?"


"Iya map yang isinya 40 tugas seorang istri," sahut Sava.


Mata Rania membesar, lalu ia mutup mulutnya dengan telapak tangannya. Sedangkan Tika, suara tawanya langsung pecah kembali.


"Kalian jangan mengejekku. Aku malu ih. Kalian ini." Sava menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Perutku sakit. Aduhh. Kalian lucu sekali," kata Tika.


"Lalu bagaimana? Lanjut. Seru," kata Rania.


"Memangnya aku sedang mendongeng. Sudah ah." Sava masih malu dan enggan untuk lanjut bercerita.


Rania menyikut Tika yang masih terus tertawa.


"Jangan tertawa. Sava jadi gak mau cerita nih," bisik Rania.


"Ekhem. Lanjut dong Va," bujuk Tika.


"Sudah, kan? Kalian tadi hanya bertanya bagaimana kami bisa tidur sekamar," balas Sava.


"Iya tapi lanjutin ceritanya. Setelah Fariz memberikan map apa kelanjutannya?"


"Ya sudah. Kami tidur sekamar. Tapi, saat itu kami tidur di kamarku. Karena dia mau merenovasi kamarnya. Setelah itu, terjadilah insiden di sekolah. Aku tinggal di rumah Rania," jelas Sava.


"Jadi... Kalian melakukannya?" tanya Tika penasaran.


"Me-melakukan apa?" kata Sava gugup.


"Enak tidak?"


"Tika!" teriak Sava sambil menutup telinganya.


"Sepertinya belum. Kenapa kalian belum melakukannya?" selidik Tika.


"Kami akan melakukannya perlahan. Tidak mau terburu-buru. Kalau kami sudah merasa sama-sama siap", jawab Sava.


"Apa tandanya kalau kalian sama-sama siap? Apa kalian akan tahu satu sama lain kalau kalian sama-sama siap?"


Sava menggeleng dengan raut wajah khawatir.


"Apa Fariz tidak memberikan kode?" tanya Rania.


"Kode? Aku mengira dia memberiku kode tapi ternyata akunya saja yang terlalu berfikir ke situ," jawab Sava.


"Memangnya dia memberi kode seperti apa?"


Tiba-tiba tubuh Sava memanas, pipinya memerah mengingat kejadian sewaktu mereka berebut balok mainan.


"Wah. Wah. Wajah Sava memerah. Sepertinya terjadi sesuatu," goda Rania.


"Dia berbisik kalau aku itu miliknya," jawab Sava malu-malu.


"Lalu?"


"Itu saja, aku jadi mengira dia mau melakukannya."


"Yang jelas. Kenapa sampai Fariz berkata seperti itu. Tidak mungkin Fariz tiba-tiba berkata kamu itu miliknya." Tika mulai tidak sabaran. Ia memaksa Sava untuk terus cerita lebih lengkap.


"Hmm. Itu. Fariz tidak sengaja melihatku berganti pakaian. Jadi aku marah-marah. Lalu dia berkata kalau aku itu miliknya."


"Mesum. Fariz mesum," ujar Rania.


"Artinya Fariz sudah tidak tahan. Dia sampai mengintip Sava," sahut Tika.


"Tidak sengaja Tika. Bukan mengintip," bela Sava.


"Huh. Bela saja suami tercinta," sindir Tika.


"Kalau memang Fariz menginginkannya, kenapa kalian tidak melakukan?" tanya Rania.


"Tiba-tiba perutnya berbunyi," jawab Sava santai.


"Hahahah." Tika dan Rania kompak tertawa.


"Tadi malam juga aku mengira Fariz ingin melakukannya," lirih Sava.

__ADS_1


Raut wajah Tika dan Rania berubah serius. Mereka antusias mendengar cerita rumah tangga pasangan muda ini. Tawa yang tadinya menggelegar tiba-tiba hening. Mereka mendekatkan diri ke Sava ingin mendengar cerita Sava lebih jelas.


"Kemarin rekan kerjaku mengadakan acara perpisahan untukku, dan Fariz datang menyusul. Ada salah satu rekan kerjaku menghinaku, jadi Fariz marah. Aku berusaha membujuknya. Dia memintaku untuk memeluknya, sementara waktu itu kami masih di mobil. Hamdan juga ada di sana. Fariz terus berkata akan menghukumku di rumah, kalau di rumah kami bisa melakukan apapun sepuasnya bahkan mengancam menciumku saat itu juga."


Tika tersenyum menahan tawa. Sedangkan Rania sudah menutup mulut dengan telapak tangannya.


Sava menunduk malu, lalu melirik Tika dan Rania, dan akhirnya melanjutkan ceritanya.


"Aku minta untuk singgah di mini market, aku membeli pembalut. Setelah sampai rumah, aku langsung masuk ke kamar. Sedangkan Fariz sangat lama masuk kamar. Pagi harinya aku menemukan pembalutku tergeletak di lantai seperti habis diremas lalu dibuang begitu saja."


"Hahaha." Suara tawa ke luar dari mulut Tika dan Rania. Mereka sudah tidak tahan menahan tawa lebih lama lagi.


"Kalian diamlah. Bisa-bisa suara tawa kalian terdengar sampai ke rumah mertuaku!" seru Sava.


"Jadi sekarang kamu sedang datang bulan?" tanya Rania.


Sava menganggukkan kepalanya lalu menunduk malu.


"Aku yakin sekarang Fariz sedang berusaha menghindarimu dalam seminggu ini," sahut Tika.


"Kenapa?" Sava mengangkat kepalanya dengan raut wajah khawatir.


"Kalau sampai Fariz kesal saat tahu kamu sedang datang bulan, itu artinya dia benar-benar, sungguh, sangat, amat menginginkannya," jelas Tika.


"Jadi kenapa menghindariku?" tanya Sava bingung.


"Kalau pria sudah menginginkannya, ia sulit untuk menahannya. Jadi, lebih baik dia menghindar daripada harus tersiksa menahan diri saat bertemu denganmu," jelas Tika.


"Begitu ya," balas Sava tak bersemangat.


"Kamu juga menginginkannya ya," goda Tika.


"Hah? Ti-dak," jawab Sava gugup.


"Aku yakin hasrat dalam dirimu juga sedang bergejolak," sindir Tika.


"Tapi, kamu juga harus hati-hati. Jangan memancing Fariz. Jangan tiba-tiba melakukan skinship seperti memeluknya tiba-tiba ataupun bersikap manja padanya," sahut Rania.


"Kamu tahu banyak juga ya," sindir Tika.


"Ekhem. Aku juga banyak membaca novel atau menonton film romantis," kata Rania membanggakan diri.


Ponsel Sava tiba-tiba berbunyi.


"Siapa?" tanya Rania.


"Fariz," jawab Sava.


"Hallo."


"Dimana?"


"Di rumah."


"Sendiri?"


"Bersama Tika dan Rania."


"Sudah makan?"


"Memangnya sudah jam berapa?"


"Ini sudah jam 3 Sava. Kenapa kamu belum makan. Apa saja yang kalian lakukan sampai lupa waktu?"


"Hah? Tidak ada. Hanya berbincang-bincang."


"Bergosip?"


"Tidak!"


"Hm. Baiklah. Aku hanya memastikan kamu aman di sana. Kalau ada apa-apa hubungi aku."


"Makan. Awas kalau tidak."


Panggilan berakhir.


Saat Sava sedang berbicara dengan Fariz ditelepon, Tika juga asyik mengutak-atik ponselnya.


"Ini sudah jam 3. Kita makan yuk. Kalian mau makan apa? Aku masakin atau mau pesan?" tanya Sava.


"Masakin saja. Aku rindu masakanmu," jawab Rania.


"Baiklah. Ayo ke dapur," ajak Sava.


Sava memasak dan dibantu oleh Rania. Sedangkan Tika asik dengan ponselnya.


Baru 30 menit berlalu sejak Fariz menghubungi Sava, ia sudah menghubungi Sava kembali. Tetapi, kali ini panggilan video.


"Ada apa?"


"Sudah makan belum?"


"Kami sedang memasak."


"Bagus. Makan yang banyak."


Panggilan terputus.


"Seenaknya saja menelepon lalu memutus panggilannya," gerutu Sava.


"Artinya dia perhatian," sahut Rania.


Sava kesal sekaligus senang dengan sikap Fariz. Ia melanjutkan kegiatan memasaknya sambil mulut komat-kamit tidak jelas dan tanpa mengeluarkan suara.


Rania mendadak kesepian saat Fariz menghubungi Sava dan Tika asyik bermain ponsel. Ia juga tak terima Tika duduk manis bermain ponsel sedangkan ia dan Sava memasak.


"Hei Tika, kamu chattingan dengan siapa sih? Dari tadi main ponsel terus!" seru Rania.


"Aku tidak bisa membantu. Kamu tahu aku tidak bisa memasak, kan?" jawab Tika.


"Kamu pasti sedang chattingan dengan Shadiq, kan?" selidik Rania.


"Tentu saja tidak. Kenapa sebut-sebut namanya sih," sahut Tika.


"Ada apa antara Tika dan Shadiq?" tanya Sava.


"Gak tahu tuh. Tanya Tika. Minggu lalu Shadiq datang menghampiri kami dan membayar semua makanan yang kami makan," jawab Rania.


"Shadiq sedang mendekati Tika?"


"Lebih tepatnya memanfaatkan Shadiq."


"Gak. Ih, Rania. Nuduh-nuduh. Kamu dengar sendiri Shadiq yang tanya aku di mana. Ya sudah dia datang. Sewaktu membayar makanan juga dia yang menawarkan diri. Aku sih senang-senang saja dibayarin," sahut Tika.


"Kamu kenapa menyuruh kami memesan makanan lagi? Karena tahu Shadiq mau datang, kan? Sampai-sampai menawarkan akan mentraktir kami," sela Rania.


Tika akhirnya tertawa.


"Tuh, kan. Kamu tertawa."


"Iya. Aku mengaku saat itu aku memanfaatkannya. Tapi, bukan berarti dia sedang mendekatiku. Dia menanyakan aku di mana. Saat aku tahu dia akan datang, aku merencanakannya. Merencanakan agar dia membayar makanan kita," jelas Tika.


"Kamu jangan begitu. Bagaimana kalau Shadiq benar-benar menyukaimu?" kata Sava.


"Gak mungkin. Apa buktinya dia menyukaiku? Hanya karena dia datang dan membayar makanan kita? Hal itu tidak bisa dinilai kalau dia menyukaiku. Biasa juga kalau kita berkumpul bersama mereka, kita tidak pernah mengeluarkan uang. Karena hubungan Sava dan Fariz, hubungan pertemanan kita juga semakin akrab," jelas Tika.


"Benar juga. Tapi kalau Shadiq benar-benar menyukaimu, bagaimana?" balas Sava.

__ADS_1


"Ya bagus dong. Aku dapat cowok kaya," jawab Sava cuek.


"Tika!" teriak Sava dan Rania bersamaan.


"Apa? Jangan teriak-teriak."


"Jangan mempermainkannya," kata Rania menasihati.


"Iya aku tahu. Dia harus membuatku jatuh cinta padanya. Aku tidak akan semudah itu menerimanya. Aku tahu Shadiq tampan dan kaya, tapi dunia kami berbeda. Tentu saja aku sadar diri," jelas Tika.


"Kenapa suasananya mendadak menjadi sedih sih. Ayo kita makan," kata Rania memecah suasana.


Sava, Tika dan Rania menyantap makanan yang telah mereka masak sambil bersenda gurau.


Tanpa terasa mereka menghabiskan waktu selama 3 jam di dapur. Mereka sadar waktu sudah menunjukkan pukul 6 saat ponsel Sava kembali berdering.


"Fariz lagi?" tanya Rania.


"Bukan. Teman sekantorku dulu," jawab Sava.


"Hallo."


"Sava apa kabar? Kamu baik-baik saja?"


"Iya. Ada apa kak? Kenapa menghubungi Sava?"


"Sava, aku ingin meminta maaf. Mungkin selama kamu magang di Shinee Frameworks aku pernah menyakiti atau menyinggungmu."


"Ah tidak kak. Kenapa kakak berbicara seperti itu?"


"Aku ingat sewaktu kamu pertama kali masuk perusahaan, aku mengerjaimu. Menyuruhmu ini itu. Bahkan menyepelekan pekerjaanmu. Aku bahkan tidak hadir diacara perpisahanmu. Aku takut kamu membenciku dan kamu akan mengadukannya ke suamimu."


"Hah? Tentu saja tidak. Itu hal biasa terjadi di dunia kerja."


"Iya. Aku takut saja nasibku sama seperti Dewi."


"Apa? Dewi? Dewi kenapa?"


"Dia dipecat. Aku mendengar suamimu orang yang sangat berpengaruh. Jadi sebaiknya aku meminta maaf lebih dulu."


"Kalau boleh tahu Dewi dipecat kerena apa?"


"Aku mendengar gosip, kalau Dewi dipecat karena mencoreng nama baik perusahaan. Ia menghina bahkan memfitnah rekan kerjanya. Dan katanya kamulah orangnya. Gosip yang beredar suamimulah dibalik itu semua."


"Itu tidak benar, kak. Jangan mempercayai gosip."


"Baiklah. Aku memang ingin meminta maaf tetapi gengsiku terlalu tinggi. Maaf ya Sava. Semoga kamu bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari Shinee Frameworks."


"Iya kak. Terimakasih."


Panggilan teleponpun berakhir.


Raut wajah Sava menggambarkan sedang menahan emosi. Hidungnya kembang kempis dan tangannya mengepal.


Tika dan Rania saling bertatapan. Rania takut untuk bertanya apa yang terjadi. Ia memberi kode gerakan mulut ke Tika untuk bertanya ke Sava.


"Ada apa? Ada masalah di kantor lama?" tanya Tika.


"Teman sekantorku dulu dipecat. Dia orang yang aku ceritakan tadi, dia menghinaku sampai Fariz marah," jawab Sava.


"Lalu? Kenapa dia dipecat?"


"Gosip yang beredar di kantor suamiku pelakunya. Fariz membuatnya dipecat."


"Memangnya apa yang dikatakannya sampai Fariz marah?" tanya Rania.


"Dia mengatakan kalau kami menikah karena aku hamil. Dia juga mengatakan aku menggoda Fariz, aku pandai dalam memilih pria dan menggoda pria," jawab Sava.


"Apa? Tentu saja Fariz marah. Orang itu pantas mendapatkannya." Tika murka sahabatnya dihina-hina.


"Temanmu itu terlalu kasar. Tentu saja Fariz marah. Kamu tidak menjelaskannya kalau kalian menikah karena dijodohkan? Dia tidak meminta maaf padamu?" sahut Rania.


Rania bertanya dengan sedikit lebih tenang agar Sava tidak ikut-ikutan emosi dan meluapkan emosinya pada Fariz. Rania bermaksud untuk menenangkan Sava.


"Fariz menjelaskannya, tetapi kami langsung pergi setelah Fariz mengancam akan membuatnya dipecat," jelas Sava.


"Dia tidak mengejar atau menghubungimu sampai sekarang?"


"Tidak. Kami langsung pulang. Fariz terlalu emosi. Aku juga tidak bisa menahannya di sana. Bisa-bisa dia melakukan apa saja dengan emosinya yang meledak-ledak itu. Fariz seharusnya tidak bertindak terlalu jauh sampai membuat orang dipecat. Kasihan temanku itu kalau sampai kehilangan pekerjaan."


"Nanti kamu coba bicarakan baik-baik dengan Fariz. Kamu juga tunggu teman kamu itu meminta maaf," kata Rania menenangkan Sava.


"Kalau aku sih setuju dengan tindakan Fariz. Lihatlah, dari kemarin sampai sekarang temanmu itu tidak menghubungimu untuk meminta maaf. Artinya dia tidak merasa bersalah. Biarkan saja dia terima hukumannya dengan dipecat dari perusahaan," sela Tika.


"Iya benar tapi jangan menutup diri atau tidak memberikan kesempatan buatnya meminta maaf. Jangan karena masalah ini membuat kamu dan Fariz bertengkar. Bicarakan baik-baik," kata Rania.


"Fariz kenapa belum pulang? Sudah gelap begini. Dia biasa lembur?" sahut Tika mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah. Akan ku coba. Aku juga tidak tahu pasti jadwal dia bagaimana. Sesukanya saja pergi ke kantor. Tapi, selama aku bekerja dia pulang cepat, bahkan terus menjemputku," jawab Sava.


"Kamu gak apa-apa kami tinggal? Kami mau pulang dulu. Sudah malam," kata Rania.


"Iya. Kalian hati-hati," sahut Sava.


"Ingat. Jangan bertengkar."


Sava tersenyum sambil melambaikan tangan mengantar kepergian para sahabatnya.


Sava membereskan kekacauan yang telah dibuat sahabatnya. Ruang tamu dan dapur berantakan. Di ruang tamu sampah cemilan berserakan, sedangkan di dapur sayur beserta bahan makanan berserakan tidak pada tempatnya.


Setelah pekerjaannya selesai Sava masuk ke kamar dan membersihkan diri, setelah itu ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


Sava melirik jam yang mengantung di dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam, Fariz belum pulang juga.


Sava teringat kalau Fariz mengatakan ia ada meeting, jadi Sava berfikir Fariz sedang banyak pekerjaan.


"Sebaiknya aku menunggunya di ruang tamu saja," kata Sava setelah melalui berbagai pertimbangan dalam pikirannya sendiri.


Sementara Sava sedang menunggu Fariz di ruang tamu, Fariz malah sengaja untuk pulang lebih lama sampai menunggu Sava tidur lebih dulu.


"Ah, aku bosan. Aku mau melakukan apa lagi? Aku harusnya memasang PS di sini. Kalau aku bosan, aku bisa bermain. Apa aku tidur saja? Tapi, kalau aku tidur di sini di rumah malah tidak bisa tidur. Apa aku pulang saja sekarang? Apa Sava sudah tidur ya? Teman-temannya pasti pulang lama. Aku yakin Sava belum tidur. Jadi aku harus bagaimana sekarang?" Fariz sedang bimbang antara ia pulang atau tidak.


"Pulang sajalah. Sampai rumah tunggu di luar dulu. Sava di dalam kamar, tunggu keadaan memungkinkan baru aku masuk," batin Fariz.


Ia akhirnya memutuskan untuk pulang. Di luar, ia bertemu Hamdan. Hamdan hampir tertidur dimeja sekretaris Fariz karena menunggu Fariz pulang.


"Kamu kenapa masih di sini?" tanya Fariz heran.


"Saya menunggu anda pulang," jawab Hamdan.


"Aku mau pulang sendiri," kata Fariz meninggalkan Hamdan.


"Hah? Jadi aku menunggunya sia-sia? Tahu begitu aku pulang. Kenapa aku malah menunggunya. Aku juga kenapa tidak menanyakannya," Hamdan menggerutu dirinya sendiri.


Hati Fariz terenyuh melihat sang istri terlelap di sofa ruang tamu seorang diri menunggu kepulangannya. Diangkatnya tubuh Sava dengan perlahan agar Sava tidak terbangun. Tetapi tidak berhasil. Baru mengangkat tubuh Sava saja, Sava sudah terbangun.


"Kamu sudah pulang?" tanya Sava.


"Kamu kenapa tidur di sini? Ayo masuk kamar," kata Fariz sambil mengelus rambut Sava.


Sava mengangguk lalu mengikuti Fariz menuju kamar mereka.


"Tidurlah, aku mau mandi," kata Fariz begitu sampai di kamar.


Sava merebahkan tubuhnya. Rasa kantuk tak bisa dilawannya, akhirnya Sava kembali terlelap.


Fariz tersenyum melihat Sava kembali tertidur begitu ia ke luar dari kamar mandi. Fariz pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Sava.

__ADS_1


"Selamat tidur."


Fariz mengecup kening Sava lalu menatapnya sampai ia terlelap.


__ADS_2