
Sava terbangun dari tidurnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan berusaha untuk menggerakkan tubuhnya, tetapi ia merasakan tubuh bagian bawahnya nyeri dan ada sedikit sensasi ketidak nyamanan.
Sementara Fariz sedang memperhatikan Sava dengan posisi tubuh berbaring menyamping menghadap Sava dengan tangan menopang kepalanya. Melihat mata Sava terbuka ia pun bertanya, "Kamu gak apa-apa?"
Sava menjawab dengan deheman halus, karena tubuhnya masih merasa lelah dan malas bergerak.
Fariz pun mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, Fariz bangkit dari tempat tidur untuk meraih segelas air minum di atas nakas, kemudian ia berjalan ke arah Sava untuk diberikan padanya. "Kalau masih mengantuk tidur saja lagi. Tubuhmu pasti gak nyaman."
Sava meraih gelas yang diberikan Fariz. Saat hendak bangkit, selimut yang menutupi tubuh Sava sedikit melorot membuat Sava terkejut dan menyadari bahwa tubuhnya tidak berbusana. Dengan sigap ia meraih selimut itu kembali dan melilitkan ke tubuhnya, setelah itu ia mendongak menatap Fariz yang berdiri di hadapannya dengan wajah membatu.
Sava berusaha mencairkan suasana tegang dengan bertanya, "Ini jam berapa?"
Dengan perasaan canggung Fariz mencari ponselnya untuk mengecek saat ini sudah pukul berapa, kemudian ia menjawab Sava, "Ini sudah jam 8 pagi."
"Apa? Aku bangun kesiangan?" sahut Sava.
Sava ingin turun dari tempat tidur, tetapi tubuhnya kembali jatuh ke ranjang karena Fariz menahannya dengan menekan tangannya di bahu Sava dan berkata, "Kamu gak usah bangun. Kita seharian ini di kamar saja."
"Kenapa? Apa kita tidak pulang?" tanya Sava.
Raut wajah Fariz berubah seketika. Ia menatap tajam Sava. "Pulang sendiri saja sana. Aku akan tetap di sini."
Tanpa berkata apapun, Sava bangkit dari tempat tidur. Sedangkan Fariz yang berada di sampingnya menggerutu tak jelas dengan memalingkan wajah kesalnya dari Sava. "Dia itu kenapa minta pulang terus sih. Apa yang mau dikejarkan. Apa setidak nyaman itu dia bersamaku. Lihat saja kalau dia berani melangkahkan kaki ke luar dari kamar ini tanpa persejutuanku, aku akan membuatnya tak bisa berjalan."
"Akh," rintih Sava.
Ketika Sava akan melangkah, ia terduduk kembali di atas ranjang. Ia memejamkan matanya sambil meremas selimut agar dapat menahan nyeri yang teramat dalam perutnya. Ia berusaha menyembunyikan kesakitannya dari Fariz karena tak ingin membuat Fariz khawatir sekaligus menutupi rasa malunya.
Fariz yang mendengar rintihan Sava langsung mengalihkan pandangannya ke arah istri tercintanya itu. "Sayang kau tak apa-apa?" tanya Fariz yang terdengar sangat khawatir.
Sava menggeleng. "Ti-tidak. Tidak apa-apa."
"Sudah ku bilang kita di kamar saja. Kenapa susah sekali menuruti perkataanku?" balas Fariz.
__ADS_1
"Aku bukan ingin pergi, tapi aku tidak ingin terus-terusan bersembunyi di balik selimut ini. Aku ingin memakai pakaianku."
"Diam saja di situ. Aku ambilkan." Fariz berjalan menuju lemari yang ada di kamar hotel tempat mereka menginap. Namun, tak ada satu pun pakaian di dalamnya.
"Di mana pakaian kita? Apa tidak di bawa ke sini?" tanya Fariz heran.
Sava menghela napas melihat suaminya itu. "Kenapa tanya aku? Siapa yang merencanakan ini semua? Sebaiknya kita pulang saja. Ambilkan pakaian yang aku pakai tadi malam."
"Kita habis berbelanja, kan? Mungkin tertinggal dalam mobil," kata Fariz sambil memungut pakaian Sava. Langkah Fariz tiba-tiba terhenti saat melihat pakaian dalam Sava.
Sava merasa heran kenapa tiba-tiba Fariz berhenti. Mata Sava membulat sempurna begitu tahu apa yang membuat Fariz mematung. Ia salah tingkah, tidak tahu harus berbuat apa untuk memecah keheningan ini. Ia ingin berlari dan segera memungut semua pakaiannya, tetapi apalah daya tenaganya tak sampai.
"Aku ingin ke kamar mandi." Hanya itu kalimat yang dapat diucapkan oleh mulut Sava.
Lamunan Fariz pun teralihkan dengan menatap ke arah Sava.
"Aku ingin ke kamar mandi," ucap Sava kembali.
"Silahkan," sahut Fariz.
Tak ada jawaban dari Fariz.
Tak berapa lama Sava merasa tubuhnya melayang, ia mencari sesuatu sebagai penopang agar tidak terjatuh, dan itu adalah leher Fariz.
Jantung Sava berdegup kencang saat wajahnya dan wajah Fariz sangat dekat, sampai-sampai wajahnya memerah.
"Kenapa menggendongku?" tanya Sava.
"Kamu ingin ke kamar mandi, kan? Dari ucapanmu tadi aku simpulkan bahwa kamu tidak bisa berjalan sedangkan kamu ingin ke kamar mandi, jadi solusinya aku menggendongmu ke kamar mandi," jawab Fariz sambil tersenyum khas miliknya.
Tubuh Sava direbahkan Fariz dalam bathtub. Lalu Fariz manarik selimut yang melilit tubuh Sava.
"Kau mau apa?" teriak Sava.
__ADS_1
"Kamu mau mandi, kan? Bagaimana bisa mandi kalau selimut ini masih melilit tubuhmu. Bisa-bisa selimut ini basah. Bagaimana kalau mereka minta ganti rugi?" kata Fariz sambil terus mencoba menarik selimut itu.
Terjadi tarik menarik antara Sava dan Fariz. Lama kelamaan Fariz merasa geram dengan sikap keras kepala Sava.
"Biar saja selimut ini basah. Seharusnya ini waktu yang tepat buatmu untuk menghamburkan uang yang kau banggakan itu. Gunakan kekuasaanmu. Ini hanya selimut. Bukankah kau sanggup menyiapkan pesta untukku di kolam renang?" balas Sava tak mau kalah.
"Katamu tubuhmu tidak bisa digerakkan. Aku sedang berbaik hati memandikanmu," sela Fariz.
"Atau... Jangan-jangan... Kau malu padaku?" lanjutnya sambil tertawa.
"Tidak perlu ditutup-tutupi. Aku kan sudah melihat semuanya." Fariz menaikkan satu sisi alisnya sambil tersenyum licik.
"Ke luarlah!" seru Sava.
Fariz mengerucutkan bibirnya. Ada rasa kekecewaan di wajahnya. Sava pun tak tega melihatnya.
"Aku bisa mandi sendiri, Fariz. Kau ke luarlah. Terimakasih sudah membantuku," ucap Sava untuk membujuk suami mesumnya itu.
"Aku akan ke luar. Tapi, dengan satu syarat." Fariz masih saja mencari kesempatan. Untungnya Sava langsung mengiyakannya.
"Cium aku." Setelah memberikan persyaratannya Fariz memejamkan Sava dengan memajukan bibirnya.
"Kenapa kau selalu saja memberikan persyaratan yang menguntungkanmu." Sava protes dengan syarat yang diberikan Fariz.
Fariz hanya menggoyang-goyangkan kepalanya sambil tetap memejamkan mata dan bibir manyunnya.
Karena tak ingin berdebat lebih lama Sava menuruti Fariz. Ia tersenyum melihat ekspresi wajah Fariz saat ini. Ingin tertawa tetapi ia hanya bisa mendegus.
Cup
Ciuman mendarat di pipi kanan Fariz.
Fariz senang akhirnya Sava menciumnya, tetapi ia kecewa karena bukan itu ciuman yang diinginkannya.
__ADS_1
"Kau sedang menggodaku?" Tak tinggal diam, Fariz ikut masuk ke dalam bathtub.