The Beauty Of Marriage

The Beauty Of Marriage
Episode 110


__ADS_3

Sava melihat Fariz berbalik, ia memperhatikan apa yang terjadi. Tetapi ketika Tika meneriakkan tulisan dalam balok, Sava buru-buru masuk ke kamar.


Sava tak bisa menyembunyikan kegugupannya saat Fariz sudah berada dalam kamar.


Sava uring-uringan. Kadang ia duduk di pinggir ranjang, kadang menatap ke luar jendela, kadang duduk di depan meja rias dan bolak-balik keluar masuk kamar mandi. Sedangkan Fariz berpura-pura tidur.


Tak tahan dengan sikap Fariz, Sava mendekat lalu menepuk punggungnya.


"Apa yang kamu lakukan?", tanya Sava.


Fariz menatap Sava bingung.


"Apa yang terjadi dibawah tadi?", tanya Sava lagi.


"Bukan apa-apa", jawab Fariz lalu memunggungi Sava.


"Mereka masih di bawah. Mereka itu tamu. Kita gak boleh membiarkan mereka", ucap Sava.


"Bukannya kamu yang lebih dulu meninggalkan mereka? Kenapa kamu tiba-tiba masuk kamar?", balas Fariz.


"Hah? Itu. Itu karena aku lelah. Aku akan ke luar menemani mereka", kata Sava lalu pergi meninggalkan Fariz.


"Huh. Katanya lelah. Sekarang malah ke luar. Kamu itu menggemaskan. Bilang saja cemburu. Sebenarnya aku mau menggoda Sava. Tapi karena teman-temannya rencanaku gagal. Apa aku di kamar saja? Atau ikut dia ke luar? Nanti mereka memikirkan hal yang tidak-tidak tentang kami", batin Fariz.


Sava membatu begitu membuka pintu.


Tika sudah berada di depan pintu kamarnya dulu sebelum menjadi ruang kerja atau ruang belajar. Rania berada diujung tangga. Sedangkan Kanaya entah di mana.


Tatapan Sava dan Rania bertemu. Raut wajah Rania terlihat heran.


"Kamu ngapain dari kamar itu?", tanya Rania.


Tika membalik badan menatap ke arah Sava lalu beralih ke pintu kamar Sava. Pintu kamar dibuka Tika.


Pupil Tika membesar memandang isi kamar Sava.


"Kalian sekamar?", teriak Tika.


"Aduuh. Tika. Bisa gak sih kamu gak usah teriak-teriak", balas Rania.


Sava mendekat ke arah Tika dan Rania.


"Kapan-kapan aku ceritakan", bisik Sava.


"Kanaya di mana?", tanya Sava.


"Biasa. Dia pulang", jawab Rania.


"Shadiq dan Kenzie juga?", tanya Sava lagi.


"Di bawah. Kami lapar. Jadi mau memanggil kalian meminta makanan", jawab Tika.


"Ehm iya karena kami dari rumah sakit. Gak ada makanan. Kalian pesan antar saja", kata Sava.


"Tuan rumah dong yang bayar", balas Tika sambil menaik turunkan alisnya.


"Ituuu", ucap Sava sambil melirik ke arah kamar Fariz berada.


Tika berjalan ke kamar Fariz. Lalu mengetuk pintunya.


"Fariz. Fariz", teriak Tika.


Fariz ke luar dengan muka datarnya.


"Sedang ada tamu malah enak-enakan tidur. Tamu dibiarin", ujar Tika.


"Ada apa?", tanya Fariz.


"Kita mau makan", ucap Sava.

__ADS_1


"Ya sudah, makan saja", jawab Fariz santai.


"Tuan rumah harus menyediakan makanan untuk tamu", balas Tika.


"Apa maumu?", sahut Fariz.


"Bayarin", jawab Tika cuek.


Fariz mendegus napas kasar lalu menyerahkan sebuah kartu kredit.


Tika langsung tersenyum kegirangan lalu berlari ke arah Sava dan Rania.


Mereka berenam kembali berkumpul.


"Mau makan apa kalian?", tanya Tika.


"Terserah", sahut Shadiq.


"Benaran ya terserah. Jangan protes ya", balas Tika.


Semua setuju.


Tika asyik mengutak-atik ponselnya.


Sembari menunggu pesanan, mereka mewawancari Fariz dan Sava.


"Kalian tidur sekamar sekarang?", tanya Tika.


Sava menunduk malu.


"Iya", jawab Fariz santai.


Tika dan Rania saling menatap. Sama halnya dengan Shadiq dan Kenzie.


"Bukannya sepasang suami istri itu harus tidur bersama? Memangnya salah kami juga tidur bersama?", lanjut Fariz.


"Tapi kalian menikah terlalu muda", sahut Rania.


Fariz menatap tajam ke Rania. Rania langsung ketakutan.


"Astaga. Sepertinya aku salah bicara", ucap Rania.


"Duh Va, tahan banget kamu hidup bareng dia. Ditatap gitu saja sudah buat aku ketakutan. Kamu yang sabar ya", bisik Rania.


Sava hanya tersenyum paksa membalas ucapan Rania.


"Kenapa balok mainannya kamu bawa? Kita mau main", ujar Kenzie menggoda Fariz.


"Maksudmu apa? Bicara yang jelas", balas Fariz menantang.


"Kita gak boleh memainkannya. Itu hanya permainan sepasang suami istri", sahut Shadiq.


"Kita masih ada balok mainan yang lain kok", ujar Sava.


"Oh ya? Bawa ke sini dong. Tegang banget di sini", balas Rania.


"Yang tadi saja. Sepertinya lebih seru. Lebih menantang", ucap Kenzie sambil tertawa.


"Gak mau. Siapa juga yang mau dipeluk atau di cium kalian", sahut Tika.


"Alaah. Kalian kan memuja-muja kami. Cogan SMK Panca Budi", balas Kanzie membanggakan diri.


"Itu karena kami belum tahu sifat asli kalian. Sekarang kami sudah tahu. Nyesal kita. Andai waktu bisa diputar bakalan jauh-jauh kami sekolah", jawab Tika.


"Tapi ngomong-ngomong kalian pernah memainkannya?", tanya Shadiq penasaran.


"Tentu saja", jawab Fariz santai.


Pupil Sava membesar mendengar jawaban Fariz.

__ADS_1


Tika dan Rania saling menyikut.


"Kenapa? Kalian gak percaya?", tanya Fariz.


Semua terdiam.


"Perlu bukti?", tanya Fariz lagi.


"Perlu", jawab Tika menantang Fariz.


Fariz menarik Sava, lalu memeluknya erat.


Sava membatu. Jantungnya berdegup kencang.


Rania menutup wajah dengan telapak tangannya tetapi jari tidak merapat, sehingga bisa untuk mengintip adegan Sava dan Fariz bermesraan. Sedangkan Tika mencubit-cubit lengan Shadiq yang duduk disampingnya.


Fariz melonggarkan pelukannya, membungkukkan sedikit badannya, lalu, 'Cup'. Fariz mengecup pipi kanan Sava.


Mata Sava membulat sempurna menerima kecupan dari sang suami tercinta.


"Aaakk, mataku ternodai. Apa yang kalian lakukan", teriak Rania masih dengan posisi yang sama yaitu menutup wajahnya dengan telapak tangan dengan jari terbuka.


Tika menepuk-nepuk paha dan bahu Shadiq sambil tertawa tetapi tidak mengeluarkan suara. Tika bahkan mendorong-dorong Shadiq sampai berhimpitan dengan Kenzie.


Kenzie mengerutkan kening menatap Tika. Lalu berdehem.


Fariz menghentikan aksinya.


"Kalian percaya?", ujar Fariz.


Pipi Sava memerah, ia menunduk sambil menutup rapat matanya.


"Ya kami percaya. Bawa mainannya. Kami mau lihat hukuman yang lain", balas Kenzie.


"Oke", jawab Fariz sambil hendak berdiri tetapi ditahan Sava.


Sava menarik lengan Fariz sambil menggelengkan kepalanya dengan raut wajah memohon.


"Jangan. Gak usah. Gak perlu", sahut Tika.


"Kalian itu mau modus saja", ujar Rania.


"Ambilkan yang biasa saja. Jangan yang tadi", ucap Tika.


Sava lekas mengambilkannya.


Ketika Sava pergi mengambil balok mainan, makanan datang.


"Pas banget. Kita makan dulu", ucap Tika.


Sava kembali membawa balok mainan lalu mempersiapkan makanan.


Semua telah duduk di meja makan.


Tiba-tiba ada yang mengantar pesanan lagi.


"Tika, kamu mesan apa saja sih? Ini belum di makan kenapa ada makanan yang lain lagi?", ujar Sava.


"Ini belum seberapa", jawab Tika.


"Masih ada 2 lagi", lanjut Tika sambil tertawa.


"Awas ya kalau gak habis", balas Sava marah.


"Tenang. Yang 2 lagi untung permainan kita", jelas Tika.


Semua menatap Tika bingung.


"Jangan tegang gitu. Habiskan yang ini dulu. Setelah itu kita bertempur", ucap Sava sambil tertawa licik.

__ADS_1


__ADS_2